In Memoriam saudaraku Yoga “Bobby Kebo” Cahyadi

Hingga kini jari telunjuk kananku masih mati rasa dan bekas jahitan luka sepanjang sekitar 4cm masih melintang di pangkal telunjuk jari kanan itu. Bekas luka itu menyisakan kenangan akan sebuah peristiwa pada malam menjelang Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri pada tahun 1995.

Saat itu, aku bersama-sama beberapa teman mahasiswa Fisipol UGM, sedang nongkrong di sekretariat organisasi mahasiswa. Beberapa botol “Topi Miring” tergeletak kosong di dekat kami. Mereka telah menyelesaikan tugasnya dengan baik, sukses mengaburkan pikiran jernih kami masing-masing. Itu mestinya adalah malam yang menyenangkan bagi kami.

Suasana yang menyenangkan itu mulai berubah ketika seorang sahabat, Yoga Cahyadi alias Kebo, berdebat disertai nada suara yang tinggi dengan seorang sahabat yang lain. Perdebatan itu menyangkut organisasi mahasiswa yang sama-sama kami ikutan. Entah gimana,besar kemungkinan karena pengaruh alkohol, aku terganggu oleh perdebatan itu. Mendadak, aku mulai terlibat dalam perdebatan itu, sebelum kemudian emosi kami mencapai puncaknya. Tanpa aku sadari, aku mendadak menarik sebilah pisau belati dari sarungnya dan menghunusnya.

Pandanganku gelap, hanya ada satu niatan dalam benakku malam itu: menusuk Kebo dengan belati itu. Seorang sahabat kemudian berusaha menghentikanku dan mengambil tempat antara aku dan Kebo, meminta aku untuk menusuknya sebelum menusuk Kebo. Pilihan yang tak mungkin aku ambil. Jengkel karena niatku tak kesampaian, aku menancapkan pisau ke atas permukaan meja kayu dan karena saking kerasnya, genggaman tanganku sukses meluncur ke bagian bilah yang kemudian mengiris bagian pangkal telunjukku, memperlihatkan merahnya daging dan putihnya tulang jariku.

Malam itu juga aku baru tahu jika pengaruh minuman alkohol membuat obat bius tidak bekerja dan aku harus merasakan benar bagaimana jarum dan benang masuk dan keluar dari daging saat dokter menjahit luka iris itu sebanyak 7 jahitan.Rasa sakitnya tidak sebanding dengan berubahnya nuansa pertemananku dengan Kebo.

Ya, aku masih minum-minum dengan dia setelah peristiwa itu. Kami masih suka mendaki gunung bersama. Aku beberapa kali menemaninya ke pasar loak untuk menjual barang bekas miliknya ketika kantongnya menipis. Diapun orang yang menepuk bahuku penuh simpati ketika aku mabuk dan menangis karena putus cinta. Namun, kekakuan yang muncul antara kami berdua tetaplah kental mewarnai interaksi kami setelah malam laknat itu. Bahkan setelah kami berdua menghadapi maut di lereng Gn. Merapi pada tahun 1996/1997, aku lupa persisnya.

Pagi itu kami mendengar kabar jika Merapi meletus kembali. Aku dan Kebo memutuskan untuk berangkat melihat situasi di lereng Merapi untuk merencanakan apa-apa yang bisa dilakukan oleh organisasi pecinta alam kami. Berdua kami menunggangi El Diablo, motor kesayanganku, menuju Kinahrejo, desa dimana Legenda Merapi, Mbah Maridjan tinggal. Debu vulanik setinggi mata kaki menutupi kawasan Kinahrejo saat kami tiba di sana.

Satu hal yang tidak kami duga adalah… Merapi kembali menunjukkan kekuatannya saat kami berdua berada di sana. Diawali suara laksana dentuman meriam yang membahana dan memekakkan telinga, Merapi kembali meletupkan gumpalan-gumpalan asap hitam tebal yang segera menutupi cahaya matahari dan membuat kawasan di sekitar kami menjadi gelap seperti menjelang matahari terbenam.

Hal selanjutnya yang merontokkan nyali kami berdua adalah gumpalan awan panas itu dengan cepat laksana air bah menerjang ke bawah menuju ke arah kawasan dimana kami berada. Orang-orang di sekitar kami berteriak dan berlarian ke bawah, Kebo mendesakku untuk segera kembali ke bawah. Namun, aku bilang kepadanya jika itu tidak ada gunanya karena awan panas meluncur dengan cepat tanpa ada penghalang. Saat itu, aku yakin ini adalah hari terakhir aku akan melihat matahari terbit dan yang juga tidak aku duga adalah hidupku akan berakhir bersama Kebo. Kami berdua memanfaatkan waktu yang ada untuk saling memaafkan. Rasanya lega sekali dan tiada lagi rasa takut.

Namun, berkat kuasa Ilahi, aku masih bisa menuliskan kisah ini. Mendadak kami merasakan angin yang sangat kencang bertiup sekaligus menghalau terjangan awan panas dan membawanya ke arah lain dan membuyarkan gumpalan-gumpalan pekat rasanya dan hanya menyisakan hawa yang panas di kawasan sekitar kami. Kami berdua kembali dengan selamat dan menyimpan kisah ini untuk diri kami sendiri. Tapi memang, interaksi kami sedikit lebih cair sejak itu. Sedikit saja. Entah kenapa seperti masih ada tembok yang tebal dan tinggi di antara kami. Namun, salah satu hal yang tidak malu aku akui adalah dia salah satu dari sedikit orang yang aku kagumi karena kepemimpinan dan kecerdasannya. Sungguh mencerminkan karakter alumni pecinta alam Fisipol UGM, dimana aku termasuk di dalamnya. Hehehe!!

Sejak kami lulus kuliah dan masing-masing bekerja, kami hanya beberapa kali berkesempatan bertemu kembali, yaitu ketika aku main ke Jogja atau ketika dia main ke Jakarta dan berkumpul dengan teman-teman alumni. Dua kali kesempatan terakhir kami berjumpa adalah ketika seorang adik angkatan kami, anggota pecinta alam Fisipol UGM mengalami kecelakaan dan gugur saat pendakian Gunung Semeru pada tahun 2010 dan pada saat tempatku bekerja berusaha mengadakan aksi sosial di lereng Merapi pada tahun 2011 paska letusan Merapi yang juga merenggut kehidupan almarhum Mbah Maridjan. Aku mengajak Kebo bekerjasama untuk kegiatan itu terkait bahwa ia saat itu menjalankan usaha penyelenggaraan even-even.

Selepas itu, kami hanya berkomunikasi melalui Facebook. Seringkali kami hanya bercanda mengomentari status satu sama lain atau status sahabat-sahabat kami yang lain.

Hingga hari ini, Minggu, 26 Mei 2013, aku menyadari bahwa aku tidak mungkin lagi menjumpainya dalam kehidupan ini. Yoga “Bobby Kebo” Cahyadi telah berpulang, kembali kepada Sang Khalik, meninggalkan seorang istri dan anaknya yang cantik serta rasa yang tak terperi dalam hatiku saat menerima kabar itu. Selamat jalan Saudaraku! Kiranya derasnya air mataku memperlancar perjalananmu dalam kehidupan selanjutnya. Berbahagialah engkau bersama Bapa di Surga dan kiranya Allah memperkenankan kita berjumpa lagi dalam suasana dan kehidupan yang jauh lebih baik.

20130526-152330.jpg

14 responses to “In Memoriam saudaraku Yoga “Bobby Kebo” Cahyadi

  1. Aku jg kaget mendgr kbr itu.. Terakhir aku ktmu di gereja kota baru, bersama istri dan putri cantiknya.. Sabar memperhatikan gerak lincah putrinya, seperti bukan mas gogo yg aku kenal selama ini. Hy terlihat seorg papa yg sabar penyayang.. Kami sekelg mengucapkan selamat jalan mas gogo… Semua kebaikanmu sdh mengantarkanmu sampai ke dalam surga. Chandra n family…

  2. suka banget bagian ini: (tapi juga sedih)
    “…Kiranya derasnya air mataku memperlancar perjalananmu dalam kehidupan selanjutnya…”

  3. so sad to hear it.. :’(
    aku mengenal mas kebo dari kakak cowokku yg kebetulan sama2 berkecimpung di dunia EO… orangnya baik dan supel..

    lihatlah mas kebo… aku nangis mendengar semuanya…
    apapun yang telah terjadi padamu.., segala kebaikan, jiwa sosial, rasa setia kawan, perjuangan, kerja keras, idealisme dan kontribusimu dalam dunia musik.. adalah nafas yang slalu tetap berhembus.. abadi dalam kenangan kami..

    Rest in peace mas kebo… selamat jalan..
    damai dan tenang dalam pangkuan Tuhan Yesus…

    Semoga keluarga yg ditinggalkan diberikan ketabahan…

  4. so sad to hear it.. :’(
    aku mengenal mas kebo dari kakak cowokku yg kebetulan sama2 berkecimpung di dunia EO… orangnya baik dan supel..

    lihatlah mas kebo… aku nangis mendengar semuanya…
    apapun yang telah terjadi padamu.., segala kebaikan, jiwa sosial, rasa setia kawan, perjuangan, kerja keras, idealisme dan kontribusimu dalam dunia musik.. adalah nafas yang slalu tetap berhembus.. abadi dalam kenangan kami..

    Rest in peace mas kebo… selamat jalan..
    damai dan tenang dalam pangkuan Tuhan Yesus…

    Semoga keluarga yg ditinggalkan diberikan ketabahan…

  5. Turut berduka atas meninggalnya Bobby “KEBO” Yoga (wong Jogja) yang telah berpulang ke rumah Bapa
    aku memang ndak kenal sampeyan, tapi aku turut prihatin dengan kisah sampeyan. Jesus with you

  6. dapet cerita dari kawan yg kenal kebo, kalau beliau pecinta kurt cobain. makanya saya ngecek hari apa kebo memilih mati. benar, ternyata “memilih bertemu tuhan” nya di hari minggu, saya tidak kaget. itulah pecinta kurt cobain. grunge sejati. karena sy pernah punya pengalaman, seorang kawan yg depresi berat, pecinta grunge&cobain, juga lagu “lithium” memilih mengakhiri hidupnya untuk “bertemu tuhan” di hari minggu. smoga sudah bertemu kurt cobain di dimensi lain.. turut berduka cita

  7. Saya vina, saya g knal boby kebo tp sy kecewa knp koq boby bunuh diri. Saya hnya meluruskan sj, bhw orng yg bnuh diri itu ga mgkn masuk surga. Apalagi ada di pangkuan Tuhan Yesus Kristus !

    • Terima kasih atas tanggapannya. Berhubung saya tidak tahu persis seperti apa SESUNGGUHNYA kehidupan setelah kematian, saya memilih untuk mendoakan agar Allah, sebagaimana yang saya yakini: Maha Pengasih & Maha Penyayang, agar berkenan mengampuni dosa-dosa Bobby Yoga, terlepas bagaimana hidupnya berakhir.

      • Anda sangat perduli kepada boby. Alangkah lebih baiknya anda mendoakan orng2 yg masih hdup yg perilakunya tdk sesuai firman Tuhan agar djamah oleh Tuhan Yesus supaya kejadian yg dlakukan boby tdk terulang kmbli.

      • Terima kasih atas apresiasinya.. Saya peduli dengan Bobby, sebagaimana saya juga peduli dengan orang-orang yang bahkan tidak saya kenal.

        Saya berdoa bagi mereka yang sudah tiada, sebagaimana saya berdoa bagi mereka yang masih hidup.

        Saya berdoa bagi mereka yang perilakunya tidak sesuai dengan firman Allah, sebagaimana saya berdoa bagi mereka yang perilakunya sesuai dengan firman Allah.

        Termasuk kamu Vina, semoga Kasih Ilahi senantiasa meliputimu, dan jadilah Kasih bagi sesamamu, dan kiranya Keselamatan, Kesejahteraan dan Kebijaksanaan senantiasa menyertaimu sekeluarga, Amin!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s