Siap Perang

Siap Perang

Jadi inget wejangannya Eyang Sun Tzu yg kurang lebih berbunyi: “Strategi perang terbaik adalah mengalahkan lawan tanpa peperangan.” Menang melalui diplomasi atau setidaknya dengan gertakan, perang urat saraf.

Soal diplomasi, aku juga jadi inget Toyotomi Hideyoshi, pemimpin besar dalam sejarah Jepang. Kepiawaiannya dalam berdiplomasi membuat lawannya tidak sadar jika sudah ditaklukkan tanpa peperangan.

Tapi lebih dari itu, ada satu prinsip pertama dan utama dalam konteks meraih dan mempertahankan kemenangan dan atau kekuasaan. “Mereka yang ingin menang, harus menunjukkan (dan menyatakan) kesiapan untuk menang, dan berperang.”

Itu kenapa setiap peringatan Hari TNI, Indonesia ‘pamer kekuatan’ dengan melakukan parade militer. Para serdadu yang gagah perkasa berderap melangkah penuh kemegahan diiringi berbagai peralatan perang modern.

Salah satu pesannya: “Kami cinta damai, tapi kami juga sangat siap untuk berjuang, bertempur untuk mempertahankan kedaulatan.” Pesan buat dunia luar dan negara-negara asing untuk jangan macam-macam dengan Indonesia.

Kesiapan itu sangat penting untuk ditunjukkan, dinyatakan, dikokohkan. Salah satunya untuk mengurangi niatan setan untuk mengganggu.

Tidak selamanya kekerasan itu buruk. Para Pandai Besi percaya jika kekerasan itu baik adanya.
Image copyright by Kristo

Advertisements

Ibadah dan Suka Cita

Pagi ini saya bangun pagi-pagi buat antar anak yang mau ikut pelajaran agama di Gereja. Aktivitas rutin mingguan yang mesti saya jalani hingga beberapa bulan ke depan.

Sebagai calon definitif penghuni neraka, aktivitas ini tentu saja bukan favorit saya. Bukan pula kegiatan yg membangkitkan mood di Minggu pagi sebagaimana aktivitas sex harian yang biasa saya lakoni (jomblo dan pejantan paruh baya tetap tabah ya.)

Tapi tentu saja, saya tetap melihat hal yang penting bagi anak-anak saya untuk belajar sejarah agama sebelum menjadi seorang ‘Theistic Rationalist‘ yang paripurna. Kita tidak bisa sepenuhnya memahami masa kini tanpa belajar dari masa lalu.

So, here i am. Duduk depan warung bubur samping gereja. Segelas kopi dan sebungkus rokok menemani penantian saya. Lumayan membangkitkan semangat yang sempat goyah akibat beberapa tegukan wiski semalam.

Berulangkali saya mendaraskan rasa syukur saya kepada Sang Pencipta, yang telah menghadirkan makhluk-makhluk mempesona dan menggairahkan yang lalu lalang di depan saya. Mereka tampil maksimal untuk menghadap Sang Pencipta.

Melihat sebagian raut wajah mereka, keisengan saya muncul. Saya lalu melakukan pengamatan untuk mencermati dampak ibadah terhadap keceriaan orang dewasa. Ibadah mestinya meningkatkan suka cita kita bukan?

Hasilnya, dari 50 orang dewasa yang saya amati, kurang dari 10 orang yang wajahnya menunjukkan aura yang bersih bersinar, bahagia dan penuh suka cita. Sisanya? Wajah-wajah yang muram, kaku, letih, keras. Wajah orang-orang yang kalah.

Sungguh, bertolak belakang dengan dugaan saya. Entah apa yang sedang dialami oleh sebagian besar dari mereka yang saya amati itu.

Mungkin ibadah tidak cukup mengurangi beban psikologis mereka. Mungkin pula sebagian besar dari kita terlahir dengan penampilan suram. Pun kita bahagia dan bersuka cita serta tertawa terbahak-bahak, wajah kita pun tetap muram.

Sayang, saya tidak mengamati perbedaan antara sebelum dengan sesudah ibadah. Celaka kalo sebelumnya ceria dan muram sesudahnya.

“Mas! Tolong rokoknya!”, seru seorang mamah muda membuyarkan perenungan saya. “Oh, silahkan Bu. Ambil saja”, jawab saya spontan sambil menawarkan rokok saya ke beliau yang sepertinya juga habis mengikuti ibadah.

“Tolong matikan rokoknya Mas. Saya mau duduk di sini”, balas beliau dengan tampang yang makin sebel. Saya langsung pengen ngajak si Ibu beribadah lagi.

Kepemimpinan Militer

Banyak orang punya pemikiran bahwa seorang pemimpin berlatar belakang militer akan lebih kuat. Tapi banyak pula yg lupa jika kekuatan seorang pemimpin militer juga amat didukung oleh doktrin komando, kepatuhan yang tinggi oleh anak buah kepada komandan adalah salah satunya.

Lalu bagaimana dengan Prabowo? Saat ini dia adalah masyarakat sipil. Kepemimpinannya di tengah masyarakat sipil belum lagi teruji. Semasa menjabat sebagai Pangkostrad, Prabowo memimpin berapa banyak anggota? Rasanya kurang dari 50 ribu personel, yg semuanya terikat oleh doktrin komando.

Mestinya dia mencoba dulu kapasitasnya sbg pemimpin sipil di negara demokratis utk level bupati/walikota. Bisa mencoba ngerasain gimana caranya mimpin orang dengan berbagai karakter yg tidak terikat dg doktrin komando.

Tapi sebenarnya, kita bisa menilai kualitas kepemimpinannya dari kualitas orang-orang di Partai Gerindra. Apakah secara umum perilaku para pengurus Partai Gerindra sudah sejalan dengan visi dan misi serta nilai-nilai Partai?

Saya rasa kepemimpinan SBY di Partai Demokrat masih jauh lebih menunjukkan kualitasnya sebagai pemimpin sipil.

Itu kenapa saya tidak pernah terkesan dengan calon pemimpin sipil dengan latar belakang militer. Tapi memang saya harus mengakui Prabowo itu jaman mudanya ganteng banget.

Mirip-mirip saya dikit.

Tentang Hukum Moral

Sun Tzu pernah mengatakan, kurang lebih, salah satu faktor penentu kemenangan adalah tegaknya Hukum Moral. Itulah yang akan membuat rakyat sepenuhnya patuh dan selaras dengan penguasanya.

Dengan tegaknya hukum moral, rakyat akan mengikuti penguasanya, tak peduli jika harus mempertaruhkan nyawa menghadapi bahaya.

Jadi jelas ya? Kalau penguasa, pemimpin, tidak bisa menegakkan hukum, moralitas, ya jangan harap akan diikuti. Jangan harap rakyatnya akan berjuang untuk meraih kemenangan.

Collateral Damage

Sekitar 2002 saya pernah meliput kegiatan Dubes Amerika. Waktu itu, saya lihat seorang rekan wartawan dihentikan seorang pengawal Dubes untuk kemudian digeledah badan dan tasnya. Si bule pengawal tidak menggubris komplain si wartawan, kenapa hanya dia yang digeledah.

Iseng, saya minta si bule itu untuk sekalian cek sepatu si teman. “Siapa tahu ada bom di sana”, ujar saya sambil ketawa. Bukannya ketawa, ya iyalah, si bule langsung menatap tajam saya dan membalas: “Saya sedang menjalankan tugas saya. Kamu pikir lucu?”.

Ya, saya tahu dia sekedar menjalankan tugasnya. Saya juga tahu polisi, yang menghentikan seorang santri dengan kotak kardus dan ransel di sebuah terminal di Solo paska teror di Surabaya, juga sekedar menjalankan tugasnya.

Saya hanya merasa tidak nyaman melihat tindakan yang sebenarnya untuk menciptakan rasa aman dan demi kenyamanan bersama. Paradoks.

Sejak serangan 9/11, segalanya tidak pernah sama lagi. Bahkan bagi saya, seorang warga sipil biasa. Saya tidak lagi memakai safety boot kesukaan saya, karena malas harus melepasnya dalam pemeriksaan di bandara-bandara. Itu baru hal yang remeh temeh saja.

Sayangnya, jauh lebih besar daripada itu, radikalisme dan teror telah mengubah tatanan dan perilaku sosial. Cara pandang dan interaksi kita terhadap sesama tidak lagi sama. Kita memasukkan variabel preferensi politik dan agama, yang sifatnya pribadi, dalam persepsi kita terhadap orang lain dan dalam membangun interaksi dengan yang lain.

Dulu, orang mungkin relatif mudah berprasangka buruk ketika melihat saya yang bertato. Tapi kini, sebagian orang jauh lebih mudah dan lebih berprasangka buruk hanya karena melihat perempuan mengenakan niqab dan atau pria dengan jenggot, titik hitam dan celana cingkrang.

Kita memberikan ruang lebih besar lagi terhadap kebencian, kekuatiran, ketakutan dan ketidakpercayaan terhadap orang lain. Kita semua sudah menjadi korban dari radikalisme dan teror di Indonesia.

Ironisnya adalah, kita tidak saja menjadi korban, tapi kemudian tanpa disadari kita mengintegrasikan diri dengan radikalisme dan terorisme itu sendiri. Kita berubah menjadi zombie. Korban yang kemudian berubah menjadi pelaku. Kita berubah menjadi sesuatu yang kita benci.

Jika sudah demikian, apa yang bisa menghentikan radikalisme dan terorisme ketika kita semua sudah menjadi bagian darinya?

Kaum Moderat dalam Perang melawan Radikalisme

Indonesia berkenalan pertama kali dengan bom bunuh diri pada Tragedi Bom Bali I, tahun 2002. Saat melakukan tugas jurnalistik tentang peristiwa itu dan juga berbagai liputan terkait, saya mendapatkan pemahaman bahwa pemerintah sudah menyadari ancaman radikalisme jauh sebelum itu.

Saya masih ingat, salah satu solusi mendasar menghadapi ancaman radikalisme, adalah melibatkan kelompok-kelompok moderat. Ide dasarnya adalah meminimalisir penyebaran dan perkembangan ideologi radikal dengan ‘memasok pasar’ dengan ideologi moderat, dengan kelompok dan organisasi moderat sebagai ujung tombaknya.

Itu disebutkan sebagai solusi yang mendasar, dalam artian jika itu tidak dilakukan atau kurang dilakukan, maka mustahil radikalisme di Indonesia bisa dikikis hanya dengan mengandalkan pencegahan atau penindakan aksi teror oleh aparat penegak hukum. Jadi, saya menilai ujung tombak perlawanan terhadap radikalisme dan terorisme sebenarnya bukan aparat negara penegak hukum, melainkan kelompok dan organisasi moderat.

Kalaupun aparat penegak hukum, satuan-satuan anti teror, terlibat, mestinya fokus hanya pada ‘menebas’ cabang dan ranting-ranting radikalisme yang sudah terlanjur tumbuh. Sementara kelompok-kelompok moderat fokus pada pencegahan bertumbuhnya radikalisme.

Sudah lebih dari 15 tahun berlalu sejak Tragedi Bom I berlalu, kini bahkan terorisme di Indonesia mencapai level baru: melibatkan dan mengorbankan anak-anak. Tindakan yang semakin radikal, hanya dimungkinkan oleh pikiran yang semakin radikal. Radikalisme sudah ‘naik kelas’.

Itu hanya menunjukkan satu hal: upaya-upaya mendasar untuk mencegah radikalisme tidak atau belum dilakukan secara maksimal. Nampaknya pemerintah belum menjadikan isu radikalisme dan terorisme sebagai prioritas, meski nyata-nyata mengancam sendi-sendi kehidupan bangsa.

Badan Nasional Penanggulan Terorisme (BNPT) yang dibentuk tahun 2010, baru melakukan pembahasan secara intensif menyangkut program deradikalisasi dengan belasan kementrian tahun 2016 lalu. Tidak tahu sejauhmana perkembangannya hingga saat ini. Masalah anggaran disebutkan sebagai salah satu kendalanya.

Akhirnya, peran penegakan hukum yang merupakan aktivitas ‘pemadaman kebakaran’ masih terlihat sangat jauh lebih menonjol. Sementara aktivitas yang sama-sama fundamental terkesan terabaikan. Padahal, jika diabaikan radikalisme bisa menjadi api yang membakar markas pemadam kebakaran itu sendiri.

Saya masih ingat obrolan dengan satu saudara yang bertugas di sebuah lembaga negara yang juga berperan dalam pencegahan terorisme. Dia menceritakan beberapa kasus dimana anggota-anggota mereka yang disusupkan dalam kelompok-kelompok radikal itu kemudian sungguh-sungguh berubah menjadi bagian dari kelompok itu. Gambaran kasarnya, niatnya memberantas narkoba, tapi kemudian menjadi pelaku utama penyebaran narkoba setelah menyusup ke jaringan penyebar narkoba.

Tidak tahu, apakah indoktrinasi untuk menjadi anggota lembaga negara itu sangat lemah, ataukah indoktrinasi di lingkungan kelompok radikal itu yang sangat kuat. Sehingga siapapun orang yang bergabung dengan tujuan apapun dengan cepat menjadi bagian dari kelompok itu.

Penyebaran doktrin itulah yang juga mesti jadi fokus. Membersihkan dan membentengi tempat-tempat, media dan sarana yang digunakan untuk penyebaran doktrin ektrem itu, dan kemudian menggantikan aktor-aktor penyebaran doktrin dengan sosok-sosok dari kelompok dan organisasi yang moderat, yang sepenuhnya percaya pada dan ikut menguatkan nilai-nilai kebangsaan Indonesia.

Sementara, yang terjadi saat ini, jika merujuk pada tokoh-tokoh moderat, aktivitas meredam radikalisme baru sebatas inisiatif dari kelompok atau organisasi moderat, dan itu pun masih bersifat mandiri. Sinergi dan dukungan pemerintah samasekali belum maksimal, baru sebatas penandatanganan nota-nota kesepahamanan.

Tidak heran jika kemudian muncul tudingan jika pemerintah ikut memelihara kelompok radikal. Hingga belakangan ini orang masih relatif mudah mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang terkait radikalisme atau intoleransi yang disebarkan melalui berbagai media: mulai dari baliho di persimpangan jalan, kelompok-kelompok aktivitas doa bersama, hingga media-media massa yang menjadi corong bagi kelompok-kelompok radikal.

Membiarkan dan memelihara memang beda tipis.

Kidung Anak Negeri Pengusir Pencuri

Bagaimana lagi jika 2 panutannya pengecut tak punya nyali. Dua-duanya kabur keluar negeri, lari dari proses yustisi. Satu karena kasus Mei, satu lagi karena peli tak terkendali.

Bagi bangsa pencuri, merekalah pemimpin sejati, yang dipuja sampai mati. Diikuti dan dipatuhi, sampai lupa jati diri. Tak peduli busuknya hati dan baunya mulut seperti tai serta tangan yang berlumuran darah anak negeri.

Lalu, kita berharap para pemujanya akan bertindak bak lelaki sejati? Seperti Bruce Lee yang tak jeri berdiri sendiri membela hati nurani dan budi pekerti?

Itu mah mimpi di siang hari. Tak mungkin bakal terjadi.

Hati-hati, Putra-putri sejati Ibu Pertiwi! Tetaplah mawas diri!
Bangsa pencuri yang penuh iri dengki, tidak akan pernah berhenti mengejar ilusi, meski harus mengorbankan keutuhan negeri.

Siapa lagi yang akan mengusir para pencuri di malam hari selain kita para pemilik negeri? Kitalah penjaga Ibu Pertiwi.

Bersatulah sepenuh hati, bercerailah hanya oleh karena mati. Hidup hanya sekali, jadikanlah penuh arti bagi martabat diri, karena sekali lagi, kita bukan bangsa pencuri, apalagi pengecut tak tahu diri.