Benar-benar Berani..

Harian Kompas hari ini (30/1/12) memberitakan 5 Tahanan Rutan Bima, Nusa Tenggara Barat, kembali menyerahkan diri. Sebelumnya, mereka bersama-sama 50 tahanan Rutan Bima lainnya dikeluarkan warga dan kabur dalam kerusuhan dan pembakaran kantor Bupati Bima, Kamis (26/01/12).Salah satu diantara tahanan itu, Langda, menyerahkan diri untuk mendapatkan kepastian hukum. Menurut kakaknya, Langda tidak berniat kabur saat kerusuhan, namun kemudian, jika para tahanan tidak keluar, rutan akan dibakar.

Kalau kita berada di posisi tahanan yang kabur, khususnya jika kita terjerat kasus dengan ancaman hukuman bertahun-tahun, akankah kita melakukan hal yang sama. Aku mungkin lebih akan berpikir bagaimana caranya agar tidak tertangkap kembali. Menyerahkan diri jelas akan berada di pilihan terakhir dalam daftarku. Menyerahkan diri & masuk bui selama bertahun-tahun? Aku masih pengen bercinta dan menikmati tubuh biniku Bro! Anakku juga lagi gemes-gemesinnya.

Well, pandanganku itu sangat mungkin mencerminkan pandangan sebagian besar orang Indonesia. Pandangan seorang pengecut. Yup! Pengecut! Orang yang tidak berani menjalani konsekuensi dari pilihan yang sudah kita ambil, dari tindakan yang sudah kita lakukan. Tak perlu-lah kita panjang lebar bicara baik-buruk, salah-benar. Setiap orang selalu mendapatkan pembenaran atas setiap sikap dan tindakannya. Benar menjadi salah, salah menjadi benar.

Paling penting mungkin adalah seberapa jauh aku berani untuk mengambil satu pilihan, satu keputusan, satu tindakan sekaligus menanggung segala resiko dan konsekuensinya. Itu menjadi acuan bagiku menyangkut apa yang disebut dengan keberanian sesungguhnya. Bukan sekedar berani “mau makan nangka, enggak mau kena getahnya”.

Untuk hal ini, aku jadi inget satu kutipan di salah satu novel favoritku: “Musashi” yang ditulis oleh Eiji Yoshikawa. Kamu belum baca bukunya? Terlalu.. Sekedar info aja, aku baca novel yang setebel gaban itu sejak masih SD ketika masih terdiri dari 10 jilid yang terpisah. Sedemikian banyak kutipan dan jalan cerita yang bisa menjadi pembelajaran bagi kita.

Salah satunya berbunyi kurang lebih: “Jangan sesali hal-hal yang telah kamu lakukan, dan jangan lakukan hal-hal yang akan kamu sesali.” Acuan perilaku yang sangat sederhana, sesederhana kehidupan ini Bro. Kita sendiri aja yang suka bikin rumit.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s