Jengkel oleh Sikap Orang Lain? Ngaca dulu!

Hari ini aku ketemu ama seorang teman lama. Engga lama-lama banget sih, terakhir ketemu sekitar 2 bulan lalu. Beliau adalah rekan satu timku di Surabaya selama 1 tahun hingga akhir penugasanku akhir 2011 lalu.

Lumayan mengejutkan, dan tidak menyangka akan berjumpa dan bekerjasama lagi. Entah untuk berapa lama lagi, aku akan akan bekerjasama lagi dengan dia.

Aku masih ingat dengan baik, masa-masa kita bekerja sama. Sungguh, butuh usaha ekstra untuk bisa bekerja sama dengan beliau. Sikapnya yang suka ngeyel, ngomong sekenanya atau ketus, benar-benar memancing kesabaranku. Hingga akhirnya, aku punya panggilan khusus yang menunjukkan kejengkelanku terhadap dia: “Doel”. Yup, aku panggil cewek satu itu dengan “Doel”.

Si Doel termasuk satu dari sangat sedikit orang kepada siapa aku pernah berucap dengan nada tinggi + bergetar menahan emosi. Buatku, itu berarti aku sudah menilai yang bersangkutan sudah sangat keterlaluan dan melampaui batas kesabaranku.

Namun kemudian, aku teringat pesan seorang sahabat: “Apa yang kamu lihat, kamu dengar, kamu rasakan dari luar, hanyalah pantulan dari dalam diri sendiri.”

Intinya, ketika aku merasa si Doel itu sikapnya menjengkelkan, sebenarnya aku-pun tidak jauh berbeda. Sedikit banyak, aku juga memiliki sikap yang menjengkelkan bagi beberapa orang.

Kamu perhatikan deh Bro. Ketika kamu jengkel oleh sikap orang lain, apakah kamu yakin kamu tidak memiliki sikap yang sama? Jangan-jangan, sesama bis kota dilarang saling mendahului saja alias sama saja, sami mawon.

Silahkan saja, kalau kamu yakin, kamu tidak memiliki sikap yang serupa dengan sikap orang yang menjengkelkan. Berdasarkan pengalaman, aku menjadi yakin bahwa apa yang aku lihat, dengar dan rasakan dari luar adalah pantulan dari dalam diriku sendiri.

Keyakinan itu pula-lah yang segera menghadirkan rasa malu atas sikapku sebelumnya terhadap si Doel, sekaligus meluruhkan rasa jengkelku kepada dia. Yah, belum sepenuhnya sih, tapi paling tidak, sudah luruh secara signifikan.

Bisa dibilang, orang yang menjengkelkan adalah Guru yang melatih kesabaran. Pun demikian dengan si Doel.

Saat-saat terakhir kerjasamaku dengan si Doel menjelang akhir tahun lalu, komunikasiku sudah jauh lebih baik aku rasa. Kadang-kadang si Doel masih suka mancing emosi, tapi toleransi dan kesabaranku sudah lebih baik. Semoga, aku tidak perlu lagi memanggil dia dengan “Doel” selama kerjasama kami di masa-masa mendatang. Soalnya, aku juga malas kalo diminta bikin syukuran karena ganti nama anak orang.

Sudahkah kamu berkaca hari ini?

2 responses to “Jengkel oleh Sikap Orang Lain? Ngaca dulu!

  1. ‎​​(“―˛―)˚◦°•Ħmmm…•°◦ saia jadi merindukan suara lengkingan si doel itu ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ .. Yaaaa takdir itu namanya mas, artinya mas nanus mesti mencari formula baru utk sabar *kl uda nemu tar bagi2 ya mas wkwkwkk*

  2. Loh Sara, kenapa mesti cari formula baru? Formula-nya ya itu: kesan yang muncul di benak kita akan sikap dan perilaku orang lain sebenarnya hanyalah pantulan dari dalam diri sendiri. Menerima hal itu mestinya memunculkan “pemakluman” akan sikap dan perilaku orang lain, yang akhirnya menjadikan kita sabar. Begitu kira-kira Sara..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s