They Don’t Talk Much, but Endless..

Hai Bro! Sori, kalo dalam beberapa hari terakhir perjalanan ini kita lalui dalam keheningan. Aku masih harus berusaha memulihkan diri sejak dihajar Nyamuk pembawa Demam Berdarah Dengue (DBD).

Sungguh, gara-gara makhluk kecil mungil seiprit satu itu dan entah dimana ia menjumpaiku, seumur-umur, baru kali aku sampai harus menjalani rawat inap di Rumah Sakit. Jadi ingatlah ini: “Janganlah membesar-besarkan masalah, namun, pastikan kita mencermati sebuah masalah sekecil apapun berikut solusinya”.

Pun demikian, momen ini aku maknai sebagai sebuah pertanda bahwa segala sesuatu ada batasnya. Segala sesuatu ada masanya. Keputusan harus ditetapkan, Pilihan harus diambil, Konsekuensi harus dijalankan. Jika aku selalu bicara soal itu, maka sepanjang waktu aku akan dituntut untuk menjalankan apa yang aku bicarakan. That’s it.

Lanjut! Kamu tahu Bro? Pengalaman dirawat inap selama 2 hari di Rumah Sakit cukup menarik bagiku. Pertama kali masuk, aku merasa sangat letih sekali. Seakan-akan aku habis menempuh perjalananan dari Surabaya-Jakarta dengan berlari non stop. Luar biasa bukan?

Begitu berkesempatan berbaring di atas ranjang. Aku langsung merasakan kedamaian. Oh, ternyata rawat inap tidak terlalu buruk juga. Aku masuk di sebuah kamar perawatan bersama 3 orang pasien lainnya. Tak lama kemudian, aku mulai mengantuk dan akhirnya aku mulai tertidur. Saat itu sekitar pk. 18.00 WIB.

Sayup-sayup, aku mulai mendengar orang-orang bercakap-cakap dalam bahasa Jawa. Ah, mimpi membawaku pulang ke Jogja, Tanah 1001 Impian. Lambat-laun suara percakapan makin keras & akhirnya aku tersadar & terbangun. Oh, ternyata itu adalah percakapan antara tamu dengan salah satu pasien.
Hmm.. Baguslah! Biar sakit tapi masih semangat berbicara, batinku bicara. Pastilah Bapak akan lekas sembuh.

Sungguh, mereka bercakap & berbicara dengan penuh semangat. Pun ketika waktu sudah menunjukkan sekitar Pk. 22.00 WIB. Hmm.. Untung Bini dah pulang sekitar 1 jam lalu, kalau tidak bakalan ngamuk dia. Jika Satpam, yang beberapa kali masuk dan menegur agar mereka lebih tenang, tidak berhasil menghentikan percakapan secara permanen, maka Bini akan secara efektif mengakhirinya secara permanen namun dengan cara yang dramatis yang aku yakin tak seorangpun di atas bumi ini yang menghendakinya.

Aku memutuskan untuk membiasakan dan menemukan keheningan di tengah kebisingan suasana malam itu, dan akhirnya, menurut Suster, aku sukses melalui malam itu dengan mengeluarkan dengkuran laksana Semboyan 35 yang biasa diteriakkan Lokomotif.

Malam kedua aku lalui di kamar yang berbeda, karena di kamar sebelumnya, para pasiennya sudah pada pulang di pagi hingga siang harinya yang menjadikan aku sendirian dan akhirnya digabungkan dengan pasien lainnya lagi di kamar yang berbeda.

Sayang sekali, padahal aku dah membayangkan betapa nikmatnya melalui waktu di kamar sendirian sepanjang waktu tanpa kehadiran pasien lain. Bener-bener serasa di Ruang Perawatan Kelas I. Jika Bini bisa ikut menginap malam itu, kayaknya si Kecil boleh berharap bakal dapat adek baru sekitar 9 bulan mendatang. Nama si adek baru yang terbayang adalah: Hospitalita Angela Brahma. Sayangnya, perpindahan kamar meruntuhkan semua konstruksi imaji itu.

Kalau di kamar yang lama aku bergabung dengan pasien Bapak-bapak yang usianya lebih dari 50 tahun, di kamar yang baru ini, aku bersama 3 orang pasien yang usianya relatif sebaya dengan aku sekitar 30 – 35 tahun.

Mereka sudah pada tidur saat aku masuk kamar itu sekitar Pk. 21.30 WIB. Aseekk.. Malam yang indah dan menyenangkan. Sekejap setelah bersih-bersih dan mengheningkan cipta, aku pun mulai membaringkan badan dan menggelar meeting dengan mimpi.

Aih, tak lama kemudian, aku mendengar suara seseorang memasuki ruangan dan menghampiri pasien di sebelahku yang hanya terpisahkan oleh selembar tirai. Ternyata orang yang baru masuk itu adalah teman si pasien yang membawakan pesanan makanan.

Suara orang bercakap-cakap dan kecapan mulut mengunyah makanan segera mengisi atmosfer ruangan rawat dan gendang telingaku. Suara itu, tampaknya juga membangunkan 2 pasien lainnya yang hebatnya lagi segera bergabung merapat di ranjang pasien di sebelahku yang kemudian kuketahui namanya X.

Percakapan semakin berkembang dinamis ketika X bercerita dia sedang kebingungan mengatur jadwal kunjungan 6 orang pacarnya. Oohh.. Aku ikut prihatin mendengarnya. Seandainya aku bisa turut membantu pengaturan jadwalnya. Hmm.. Sebelum pacar 1 pulang, pacar 2 boleh nunggu di ranjangku. Begitu seterusnya. Senang bisa membantu!

Si X, kemudian bercerita dengan penuh antusias satu per satu pacar-pacarnya itu. Aku akhirnya menyimak dengan penuh perhatian kuliah asmara tengah malam itu. Yup! Percakapan itu berlangsung dari sekitar Pk. 21.30 hingga sekitar Pk. 24.00, saat akhirnya keisenganku muncul setelah mendengar si X mengaku sebagai Polisi.
To be honest Bro! Tidak semua Polisi yang bisa membangkitkan simpati, kebanyakan hanya membangkitkan keisengan.

Aku kemudian melangkah ke kamar mandi yang melewati ranjang si X. Usai pipis, aku cuci tangan di depan wastafel kamar mandi yang persis di samping ranjang si X dan kemudian menyapa mereka: “Malam Pak! Apa kabar semuanya” dan segera dibalas satu per satu.
Ada 5 orang, si X dan 2 temannya + 2 orang pasien lainnya.

Aku lalu mengajukan pertanyaan singkat soal pada sakit apa dan sejak kapan kemudian dirawat sebelum kemudian aku menatap si X lekat-lekat dan bertanya: “Oiya, Bapak anggota Polisi ya? Bertugas dimana?”

Si X, dengan wajah yang memang cukup bisa menghanyutkan 6 perawan anak orang, bercambang lebat, bertubuh tambun 155 – 165 cm/ 90 – 100 kg, sejenak terdiam dan balas memperhatikan aku dan kedua tanganku yang bertato. Hehehe.. Aku tahu dia tengah berpikir apakah aku seorang intel polisi yang tengah menyamar ataukah bandit yang punya dendam kesumat dengan polisi.

Hmm.. Belum pernah ada yang sukses mengetahui bahwa aku adalah seorang banci dengan bodi & penampilan yang selalu sukses membuat tikus pada lari.

“Lagi menunggu penempatan Pak, masih non job” jawabnya kemudian sambil tersenyum malu-malu. Aku pun menjawab: “oohh..” sambil memberikan senyumku yang paling manis.

Aku kemudian berpamitan untuk melanjutkan tidur, dan ternyata, mereka pun memutuskan untuk mengakhiri percakapan dan kembali tidur di ranjang masing-masing.
Keheningan-pun kembali menyeruak. Sungguh aku menyukainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s