Seberapa Lalat – kah Kamu?

Pagi Bro! Suasana yang indah pagi ini, dan aku mengawalinya dengan melanjutkan membaca buku “Syukur Tiada Akhir: Jejak Langkah Jakob Oetama”. Sebuah buku yang diterbitkan oleh Kompas untuk menyambut Ulang Tahun ke-80 Co-Founder Kompas Gramedia Inc., Bapak Jakob Oetama.

Memasuki lembar halaman ke 381 dari total 659 halaman, pandanganku mulai terganggu oleh kerubungan lalat di lantai teras tempatku membaca buku. Entah apa yang mereka kerubungi, aku tidak melihat sesuatu hal yang mereka kerubungi.

Sejenak kemudian, jiwa algojoku muncul dan akupun mulai mengambil sandal Eiger-ku yang ulet nan berat itu. Sekejap aku mengambil posisi, membidik dan selanjutnya secepat kilat aku melemparkan sandal itu sekuat tenaga. Aku sukses menghadirkan maut bagi 8 ekor lalat diantaranya.

Tak lama kemudian, aku mengulangi lagi hal yang sama setelah lalat-lalat yang semula kabur beterbangan kembali datang dan kali ini mengerubungi bangkai-bangkai sesamanya hasil perbuatanku. Total lebih dari 15 ekor lalat yang aku lepaskan dari penderitaan duniawi pagi ini.

Sejenak aku merenung, merekonstruksi kejadian yang mungkin akan dikenang oleh warga lalat di lingkungan tempat tinggal sebagai hari yang kelam. Ketika untuk pertama kalinya dalam sejarah suku bangsa mereka tinggal di kawasan tempat tinggalku, dalam hitungan menit, belasan warga mereka meregang nyawa. “Black February” mungkin akan jadi sebutan oleh mereka untuk mengenang peristiwa berdarah hari ini.

Aku membantai para lalat itu semata-mata karena gangguan terhadap pandanganku. Pun mereka tak akan menghadirkan gangguan jika aku menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggalku.

Sisi lain, aku mencoba mencermati makhluk segala medan satu itu. Membayangkan berada di posisi mereka di saat-saat akhir kehidupan mereka. Aku sedang bersuka cita berkumpul bersama keluarga dan handai taulan, pesta makanan ringan, ngerumpi, bergosip ria.

Sedemikian asiknya sampai kami tidak sadar Malaikat Maut sembari nyengir happy kegirangan menghampiri kami bersamaan dan menarik kami semua ke dimensi kehidupan yang lain. Sedemikian cepat & tak terduga di tengah-tengah suka cita kami berkumpul.

Pun bagi kami yang selamat, kepergian 8 ekor saudara & handai taulan kami dengan cara yang tragispun tidak terlalu menggoncang iman dan jiwa kami. Sebaliknya malah, kami bersuka cita di atas bangkai saudara-saudara kami. Sungguh, tiada santapan yang lebih nikmat dibanding tubuh saudara-saudara kami.

Keasyikan kami di atas penderitaan saudara-saudara kamipun membuat kami tak sadar jika malaikat maut masih berada di dekat dan mengincar kami. Kami-pun ikut menyusul saudara-saudara kami ke alam baka. Kali ini lebih konyol karena seharusnya musibah yang terjadi pertama kali menjadikan kami lebih mawas diri. Kami menjadi korban dari kelalaian dan ketidakpedulian kami sendiri.

Nah Bro, aku yakin kamu pun akan sepakat dengan-ku, banyak di antara kita yang tidak berbeda jauh dengan lalat-lalat yang naas itu. Kebanyakan dari antara kita terlalu sibuk dan asik dengan dunia kita, dengan diri kita sendiri, serta tidak peduli dengan lingkungan, tidak peduli dengan sesama di sekitar kita.

Musibah yang dialami oleh sesama kita diartikan sebagai: “Ah, itu berarti lebih banyak jatah makanan bagiku, lebih banyak rejeki bagiku. Untunglah kalau begitu!”

Then, sebagaimana lalat, maka orang-orang seperti kita ini Bro, dengan watak yang jauh dari kepekaan dan mawas diri, matinya pun akan mengenaskan. Bukan karena caranya, akan tetapi kita mati seakan-akan kita tidak pernah hidup, karena kita tidak memberi arti bagi kehidupan itu sendiri.

Seberapa banyak orang yang akan mengenangmu, 1 hari? 7 hari? 1 bulan? 1 tahun? 5 tahun? 10 tahun? 20 tahun? 50 tahun? 100 tahun? 1000 tahun? Setelah kematianmu?
Mari kita hidup seperti lalat lagiii…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s