We Know it, We Just Don’t Care About It..

Adzan Subuh belum juga berkumandang saat Bapak membangunkan dini hari tadi karena genangan air memasuki halaman sekitar pukul 03.00 WIB.

Itu berarti air sudah mencapai ketinggian paha orang dewasa di rumah-rumah tetangga di seberang tempat tinggal kami yang masih termasuk kawasan tepian Kali Pesanggrahan Jakarta.

Aku segera bergegas bangun dan mulai memindahkan kendaraan ke pinggir jalan masuk kampung kami yang lebih tinggi untuk mengantisipasi datangnya banjir sebagaimana Tahun 2007 lalu.

Waduh Bro, aku masih ingat betapa waktu itu, sekitar pukul 02.00 dini hari, ketika kebanyakan warga Jakarta masih terlelap dibuai oleh mimpi, kami harus tergopoh-gopoh memindahkan semua barang-barang ke tempat yang lebih tinggi karena Kali Pesanggrahan meluap dengan cepat. Aku bahkan harus mengungsikan istri dan anak-ku ke tempat Kakak.

Semoga kali ini hanya sekedar peringatan Kali Pesanggrahan kepada kami untuk senantiasa mawas diri. Hujan bahkan hanya mengguyur kawasan tempat tinggal kami sejenak saja tadi malam. Jadi, luapan Kali Pesanggrahan ini jelas akibat curah hujan yang tinggi di kawasan hulu di Bogor.

Sampai kapankah kami harus hidup di bawah ancaman banjir setiap kali musim penghujan? Sudah pasti selama kami memperlakukan alam dengan buruk, selama itu-lah kami harus selalu siap sedia atas datangnya bumerang yang kami lemparkan sendiri.

Setiap orang sudah tahu ini: alam selalu memantulkan kembali setiap perlakuan kita. Jika kita menjaga dan memelihara alam, maka alam akan membalasnya dengan bumi yang ijo royo-royo, panen yang berlimpah, musim yang datang bergantian secara teratur, air yang jernih dan menyehatkan.

Namun sebaliknya, jika kita merusak alam, usah-lah kita kaget dan ketakutan ketika tanah longsor menimbun rumah-rumah kita, ketika air yang coklat dan kotor dengan cepat memasuki rumah-rumah kita laksana serombongan perampok yang haus dan kelaparan.

Usah menangisi Saudara-saudara kita yang dijemput maut oleh karenanya. Air mata buaya! Karena kita tahu dan sadar bahwa kita sendiri yang membunuh mereka. Untuk apa menangisi kebodohan dan ketololan kita sendiri? Hanya supaya orang lain melihat kesedihan kita ditinggal pergi oleh orang-orang yang kita cintai? Kebodohan dan ketololan kita-lah yang membuat mereka pergi selama-lamanya.

Bukan Bro, bukan kebodohan dan ketololan, namun ketidakpedulian. Ya, kita semua tahu apa akibatnya jika kita terus merusak alam, namun kita tetap melakukannya. Pun ketika, alam meminta Saudara-saudara kita sebagai tumbalnya, kita masih terus melakukannya. Kita mungkin akan terus melakukannya sampai manusia terakhir yang hidup di atas muka bumi.

Jadi Bro, lakukanlah apa yang kau sukai, apa saja dan biarkan alam bertindak sesuka hatinya pula. Ketika manusia tak lagi peduli atas bumi yang menghidupinya, kenapa juga bumi harus terus menghidupi manusia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s