Nikmatnya Kripik Pedas..

Adoh, adoh, adoooohhh.. Ini kripik apa cabe rawit yak?! Buset dah! Mulutku berasa kebakar gara-gara makan kripik pedes bawaan kawanku.

Hmm.. Benernya kawanku bawain ini kripik super pedes emang atas pesenanku, cuma aku gak nyangka kalo pedesnya bahkan lebih pedes daripada mulutmu Bro! Hah! Minum dulu..

Bicara soal mulut pedes. Aku pernah ikutan jejaring fotografer di dunia maya. Di sana kita bisa upload foto dan melihat foto yang diupload oleh anggota yang lain untuk kemudian saling memberikan nilai dan komentar, masukan serta kritikan.

Penilaian yang diberikan terdiri dari 6 pilihan: 1, 2, dan 3 jempol merah ke bawah yang artinya lebih baik buat dokumentasi pribadi alias engga OK banget buat ditampilin di jejaring itu, serta 1 jempol hijau yang artinya masih banyak yang perlu diperbaiki, sampai dengan 3 jempol hijau ke atas yang artinya sempurna.

Dulu banget, waktu aku masih aktif di jejaring tersebut, aku sendiri cukup beruntung. Dari puluhan foto yang aku upload, aku hanya sekali aja dapat jempol merah, tepatnya 2 jempol merah, sementara sisanya, 1 jempol hijau (Sumpah deh, elo tuh mesti belajar banyak!), 2 Jempol hijau (Belajar lagi gih!) dan 3 jempol (Gue bener-bener suka foto lo! Teknis dan Non Teknis).

Yang menarik adalah, tidak semua penilaian berdasarkan obyektivitas. Ada yang kasih 3 jempol hijau bukan karena fotonya secara teknis tanpa cacat dan bener-bener indah, melainkan karena kedekatan personal terhadap si pembuat foto. Sungkan kalau ngasih nilai rendah gitu ceritanya.
Atau.., si pemberi nilai juga berharap komentar yang bagus dan nilai yang tinggi atas hasil karyanya sendiri. Pamrih nih yee…

Ada pula yang kasih nilai minus, bukan karena ada aspek dari satu hasil karya yang memang perlu ditingkatkan, melainkan karena.. Balas dendam! Yak! Balas Dendam.

Gambarannya begini Bro, kau lebih dulu ngasih komentar dan nilai minus ke hasil karyaku, maka, laksana bumerang, aku akan membalas dengan komentar dan nilai yang serupa atau bahkan lebih buruk. Tidak peduli meski hasil karyamu sempurna seperti apapun jua.

Secara umum aku menyimpulkan kalau kebanyakan dari kita tidaklah siap memberikan kritik ataupun sebaliknya, menerima kritik. Tidak siap kasih kritik karena tidak cukup punya pengetahuan yang memadai akan mana yang “baik” dan mana yang “buruk”. Jadinya asal ngritik, apalagi kalau sejak awal sudah ada ketidaksukaan.

Selain itu, banyak juga yang tidak siap kasih kritik karena sungkan dan kekuatiran. “Yah, dia kan temen baik-ku”, “Masih saudara sendiri lah..” atau “Wah, entar dia balas kasih nilai lebih jelek pula!”

Sebaliknya, kebanyakan dari kita juga tidak siap menerima kritik. Jadi engga heran, kalau kemudian kita sering dituding hanya bisa kasih kritik.

Kita tidak bisa terima kritik karena kita merasa orang yang kasih kritik tidak punya kapasitas untuk memberikan penilaian, atau kita merasa kritiknya tidak benar.

Sesungguhnya, seringkali ketika kita dikritik, ego kita-lah yang pertama kali “diserang”. Jadinya, kita tidak lagi peduli akan isi kritikan, tapi lebih bagaimana mengamankan dan memenangkan ego kita sendiri.

Pada akhirnya, kita tidak siap memberikan kritikan karena kita tahu kebanyakan orang tidak siap menerima kritikan. Kita lebih siap memberi dan menerima kripik pedas, yang jelas jauh lebih beresiko terhadap kesehatan.

One response to “Nikmatnya Kripik Pedas..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s