Accept The Unacceptable..

Akhirnya banjir itu datang juga. Sejak sekitar pukul 01.00 dini hari tadi (Selasa, 3/4/12), air dari luapan Kali Pesanggrahan, dengan perlahan namun pasti, merambat memasuki halaman, teras dan ruangan di kediaman kami di wilayah Ulujami, Jakarta Selatan. Genangan air sukses mencapai ketinggian pantat orang dewasa saat tulisan ini aku buat, hampir 12 jam setelah air memasuki rumah.

Kami patut bersyukur, kami masih sempat menyelamatkan sebagian besar barang-barang kami. Berbeda dengan musibah banjir tahun 2007, air masuk dengan cepat dan hanya dalam waktu kurang dari 4 jam, air mencapai ketinggian pantatnya Hulk. Sekitar 2 meteran lah yaa.., dan mencapai ketinggian maksimal sekitar 3 meter pada musim banjir tahun 2007 itu.

Listrik yang padam saat kami baru memulai untuk memindahkan barang-barang. Istri dan anak harus mengungsi. Buang Air Besar harus berenang dulu ke mulut gang dan lanjut ke SPBU terdekat. Wah! Sungguh pengalaman yang mengesankan, namun semoga cukup sekali saja kami alami.

Semoga banjir kali ini segera berlalu. Air segera surut, dan kami bisa segera membersihkan dan membereskan rumah sebelum kemudian beraktivitas seperti sedia kala. Anak-anak bisa bermain bebas kembali. Selain itu, aku juga belum bisa membayangkan seberapa lama aku bisa menahan sakit perut ini. Hehehe. Oh Nooo!! Sungguh bukan bayangan ideal akan situasi dan kondisi yang aku harapkan.

My friends, seringkali aku harus menghadapi situasi dan kondisi yang tidak sesuai dengan harapanku. Bukankah kebanyakan dari kita pun demikian? Bukankah demikianlah kehidupan?

Setiap orang tahu bahwa kehidupan tidak selalu dan bahkan mungkin samasekali tidak berjalan sesuai harapan, namun, mengetahui dan menerima adalah 2 hal yang samasekali berbeda, Kebanyakan kita tahu namun banyak pula yang sulit untuk menerima kenyataan yang tak sesuai bayangan kita.

Banjir, diputus pacar, dipecat dari pekerjaan, kehilangan barang, ditimpa musibah adalah hal-hal yang berbeda, namun sama-sama tidak diharapkan. Apa sikapmu jika satu atau beberapa hal itu menimpamu Bro?

Kebanyakan bergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi. Buat beberapa orang, kehilangan barang kesayangan lebih buruk daripada diputus pacar. Ada pula yang memilih sakit gigi daripada “sakit hati”. Aku sih lebih memilih sakit hati daripada sakit gigi. Sakit gigi bisa membuatku sedemikian emosional ketimbang sakit hati, tapi banyak orang yang mengalami sebaliknya.

Intinya, penerimaan orang akan satu hal bisa berbeda-beda, tapi tidakkah itu membuat kita berpikir: “Jika dia bisa, kenapa aku tidak?” Lagipula toh, menolak sebuah fakta sama dengan memalingkan muka ketika banjir bandang menerjang persis ke arah kita? Apakah itu membantu? Kita tetap di tempat dan tetap berkutat dengan masalah.

Banyak di antara kita yang sekedar “memalingkan muka” ketika menghadapi situasi dan kondisi yang tidak sesuai harapan: kita mengeluh, mengumpat, murka dan kehilangan semangat. Mungkin membuat kita merasa lebih baik, namun, jelas tidak membuat segalanya menjadi lebih baik.

Dulu waktu masih aktif mendaki gunung, aku ingat sebuah pesan jika kita tersesat yaitu: STOP; Sit, Think, Observe and Plan. Duduk/Diam, Pikirkan, Amati, dan Rencanakan.

Segala hal yang tidak berujung pada pikiran dan pengamatan jernih serta perencanaan yang matang berikut pelaksanaannya, jelas tidak akan membuat segalanya lebih baik. Termasuk dalam hal ini adalah: kebingungan, kemarahan, kesedihan, kegelisahan dan segala bentuk emosi negatif lainnya.

Untuk itulah, kenapa duduk/diam menjadi hal yang penting untuk mengawali langkah keluar dari “ketersesatan”. Diam tidak saja menyangkut tubuh fisikal yang tidak bergerak, namun juga pikiran yang berkecamuk saat menghadapi situasi atau kondisi yang tidak diharapkan.

Pikiran yang “diam” menjadi kaca yang bersih nan bening yang membantu kita mengamati segala hal lebih jelas. Perencanaan yang matang jelas membutuhkan pengamatan yang jernih.
Awal yang tepat untuk keluar dengan selamat dari segala permasalahan yang kita hadapi.

Tapi Bro! Tapi.. Untuk keluar dari ketersesatan saat menjelajah rimba gunung, terutama sekali aku harus menyadari kalau aku tersesat. Aku tak mungkin bisa menemukan jalan yang benar keluar dari ketersesatan, jika aku tidak menyadari kalau aku tersesat. Tanpa kesadaran itu, aku justru mungkin akan tetap menyusuri sebuah jalan yang semakin menyesatkanku.

Persis itulah yang aku alami belasan tahun lalu saat mendaki Gunung Sindoro di Jawa Tengah, berdua dengan seorang Sahabat. Kami berdua baru tersadar jika kami telah tersesat setelah di depan kami terbentang jurang yang curam dan dalam, yang mestinya tidak kami jumpai jika menempuh jalur yang benar.

Menyadari dan menerima fakta bahwa kami telah keluar jalur, untuk kemudian istirahat sejenak dan berpikir untuk menyusun rencana menemukan kembali jalur yang benar adalah hal yang kami lakukan. Well, itu adalah prosedur yang sudah terbukti sahih untuk keluar dari permasalahan.

Jadi Bro, untuk setiap situasi dan kondisi yang tidak nyaman, yang tidak sesuai harapan, awal dari segala awal yang harus kita lakukan adalah menerimanya sebagai sebuah fakta: “OK, jadi inilah situasi yang harus aku hadapi dan atasi”.

Seperti yang aku hadapi saat ini: “OK, rumah sudah direndam air, dan aku tidak bisa kemana-mana. Well, ini jadi salah satu cara untuk berkumpul bersama istri dan anak. Asiiikk..”

image

Tiga Anjing yang Terkepung Banjir. Ada yang mengamati dan meratapi, namun ada pula yang mencari jalan keluar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s