Keluar dari Penjara

Hai Bro! Gimana rasanya keluar dari penjara dan menghirup udara bebas? Lega donk? Senang donk? Pengen balik ke sana lagi? Atau malah betah di sana? Gila ya?

Emang cuma orang gila kali ya? Orang yang seneng masuk penjara dan bahkan betah tinggal di sana. But you know Bro? Banyak loh di antara kita dan aku mungkin, yang hidup dalam penjara. Tidak merasa nyaman, tapi toh, kita “betah” tinggal di dalamnya.

Photo Courtesy of Dini Savitri at Gili Trawangan.

Pernah donk ngerasain engga nyaman dengan situasi dimana kita berada, tapi toh, kita tetap bertahan di tengah situasi itu untuk waktu yang lama, dan bahkan pada akhirnya, kita menjadi bagian dari ketidaknyamanan itu.

Apa pasalnya kita tidak nyaman tapi tetap betah?

Penyebabnya adalah keluar dari sebuah ketidaknyaman, seringkali membawa kita masuk ke dalam wilayah ketidaknyamanan yang lain. Kita kuatir, ketika kita keluar dari ketidaknyamanan saat ini, kita akan masuk ke dalam situasi yang lebih buruk daripada situasi saat ini.

Kita abai adanya 2 kemungkinan yang akan terjadi. Situasi yang lebih buruk adalah memang salah satunya, namun, selalu ada kemungkinan bahwa situasi yang akan kita temui sesuai atau bahkan melampaui harapan kita.

Kita mungkin pernah mengetahui, mendengar, seorang perempuan yang mampu untuk sekian lamanya mendampingi seorang lelaki pasangannya yang tak segan-segan dan seringkali menyakitinya baik secara fisik maupun batin, melalui ucapan maupun tindakan,

Beberapa orang akan menilai itu sebagai sebuah kesetiaan, ketegaran atau bahkan pengabdian. Namun, sungguh-kah demikian? Jangan-jangan lebih karena ketakutan dan kekuatiran, karena itu tadi: “Jangan-jangan situasinya tidak lebih baik atau bahkan lebih buruk”.

Aku melihatnya lebih karena bagaimana kita melihat diri kita sendiri, bagaimana kita menghargai diri kita. Sejauh mana kepercayaan diri kita akan kemampuan kita mengatasi tantangan kehidupan di luar “penjara”.

Sayangnya kebanyakan dari kita tidak cukup punya kepercayaan diri untuk keluar dari penjara. Kita memilih untuk bertahan di dalamnya, sambil merutuki nasib dan segala sesuatunya yang tidak nyaman bagi kita.

Buatku sederhana saja. Jika kamu tidak nyaman dengan situasi yang kamu hadapi, maka ubahlah situasinya. Kamu tidak mampu mengubahnya, maka keluarlah dari situasi itu.

Tidak mampu atau tidak mau keluar?

Yah, tentu saja selalu ada pilihan ke-3 : beradaptasi dengan ketidaknyamanan sehingga lambat laut suasana batin dan pikiran kita juga akan berubah. Rutukan berubah menjadi rasa syukur penuh suka cita. “Terima kasih Tuhan! Engkau telah menempatkan aku ke dalam penjara ini. Maafkan aku yang membutuhkan waktu yang lama untuk menyadari nikmatnya hidup dalam penjara ini.”

Ketidaknyamanan berubah menjadi kenyamanan.
Itulah saat sesungguhnya kita sudah berubah menjadi bagian dari ketidaknyaman. Kita sudah menyatu dengan penjara itu. Rasanya, itu berari bahwa kita juga telah memutuskan untuk berhenti berkembang.

Setidaknya itu menurut pendapatku yaa.. Bahwa kita akan sulit berkembang di dalam penjara. So, jika kita ingin tetap berkembang, maka hanya ada 2 pilihan: Ubahlah situasinya atau keluarlah dari situasi yang ada. Untuk kedua pilihan itu, kita hanya perlu belajar dan belajar adalah cara kita untuk berkembang.

Cukup sudah aku bicara dan sekarang waktunya untuk keluar dari penjara.

3 responses to “Keluar dari Penjara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s