Puasa? Bebas, Merdeka!

Kalau sudah memasuki bulan puasa seperti ini, aku jadi teringat masa kecilku. Meski seorang nasrani, ibu membiasakan anak – anaknya untuk ikut berpuasa sejak SD selama bulan puasa. Sarapan pagi seluruh keluarga bersamaan dengan waktunya sahur dan mengakhirinya persis ketika Imsak berkumandang di radio. Adzan Maghrib menjadi suara yang paling dinantikan- nantikan sepanjang hari selama bulan puasa.

Aku mengira jika puasa adalah sungguh sebuah kewajiban bagi-ku waktu itu. Berat sekali rasanya. Sungguh, bulan puasa bukanlah masa favoritku, selain bahwa selama bulan puasa, aku dan teman-teman kampung semakin sering melakukan kegiatan yang aku sukai; mandi di kali. Malam harinya, aku juga sering jengkel karena hampir semua teman – temanku menjalankan ibadah tarawih. Itu artinya aku harus menunggu mereka selesai sebelum kita bisa mulai bermain lagi, tapi tidak lama karena sebentar lagi sudah tiba waktunya untuk tidur. Akhirnya, aku mulai ikutan tarawih hanya sekedar untuk bisa selalu bersama dengan teman-teman. Sampai kemudian seorang tetangga, yang menyadari bahwa aku bukan seorang muslim, mengingatkan aku untuk tidak perlu ikut tarawih karena dilarang oleh ajaran agamaku. Tetangga yang baik. Hehehe.

Memasuki masa kuliah, bulan puasa memberikan sensasi tersendiri. Setiap sore berkumpul dengan teman-teman kampus, nongkrong di boulevard UGM atau di pinggir Jalan Kaliurang di samping Gedung Pusat, cuci mata sembari menunggu bedug Maghrib. Bulan puasa selama masa kuliah adalah bulan dimana aku dan beberapa teman di kampus paling sering menyalurkan hasrat akan kekerasan. Kami seringkali menghajar orang-orang yang bermain petasan di lingkungan kampus kami. Alasannya, petasan itu jadi membuat kotor, padahal sebenarnya itu adalah alasan yang dibuat-buat. Mengingat kelakuan itu, aku jadi ingat FPI, yang seringkali memuakkanku. Kami ternyata beda-beda tipis.Tapi itu duluuuu.., ketika aku masih culun.

Selesai kuliah dan meninggalkan Jogja serta pindah ke Jakarta untuk mulai bekerja pada tahun 2001, aku mulai menghentikan kegiatan berpuasa. Bukan karena alasan yang tepat sebenarnya, tapi waktu itu hampir semua rekan-rekanku adalah non muslim dan hanya sedikit yang berpuasa. Plus, ketika pindah ke Jakarta, tidak ada Ibu yang membangunkanku untuk sahur.

Aku mulai berpuasa lagi sejak pindah tugas ke Surabaya pada tahun 2007.Masa – masa penugasanku di Surabaya adalah masa- masa penempaanku sesungguhnya. Penugasan yang menghadirkan tantangan paling berat dalam kehidupanku: mengalahkan diri sendiri. Puasa menjadi kegiatan yang sangat pas. Saat itulah, aku merasa sangat membutuhkan dan sangat menikmati berpuasa. Sebagian besar hari – hari puasa aku lalui tanpa sahur dan tetap terasa mudah, meski sebenarnya setiap kali masa puasa, beban kerjaku di perusahaan media akan mencapai puncaknya. Aku bahkan merasa sedih setiap kali Lebaran tiba. Ada sesuatu hilang selain berat badanku. Hehehe.

Saat itulah aku punya pemahaman, puasa semestinya membebaskan dan bukan sebaliknya, mengekang. Tantangan terbesar puasa bukanlah lapar dan haus, melainkan membebaskan diri dari kekangan hasrat dan keinginan daging. Aku mestinya merasa bebas ketika berpuasa dan bukan sebaliknya, terkekang. Kamu mestinya sudah tahu itu bukan Bro? Jadi, apakah puasa sudah membebaskanmu?

Selamat menjalankan ibadah puasa bagi semuanya saja!

2 responses to “Puasa? Bebas, Merdeka!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s