PASKAH: KONSISTENSI & PENERIMAAN

Bicara tentang Yesus wafat di kayu salib dan kemudian bangkit dari kematian, selalu mengingatkan aku akan 2 pesan penting: konsistensi & penerimaan.

Sama sekali tidaklah penting bagiku, apakah Yesus bangkit kembali dari kematian ataukah tidak. Toh, sepanjang perjalanan hidupnya sudah cukup menjadi alasan bagiku untuk meneladani beliau.

Konsistensi.
Pernahkah kita menyesali masa lalu kita?  Pernahkah kita menyesali hal – hal yang sudah kita lakukan? Ataukah lebih parah lagi, kita menyangkal masa lalu kita dan hal – hal yang pernah kita perbuat?

Aku penasaran ketika mulai dari lecutan pertama cambuk prajurit Romawi hingga terakhir mendera tubuh Yesus, apa yang ada di benaknya?

Ataukah ketika Yesus mulai memanggul kayu salib hingga puncak bukit Golgota, ataukah ketika paku mulai menancap di kedua tangan dan kakinya, apa yang ada di benaknya?

Pernahkah terlintas di benak beliau, sedikitpun, penyesalan atas hal-hal yang pernah ia ucapkan? Atas hal-hal yang pernah ia lakukan? Atas nilai – nilai yang Yesus yakini yang berujung pada penyaliban itu?

Kita tidak akan pernah tahu apa yang ada di isi kepala Yesus, tapi penyesalan dan penyangkalan bukanlah hal – hal yang terucap dari mulutnya sejak mahkota duri terpasang di kepala hingga nafas terakhir Yesus di kayu salib.

Konsisten sampai mati Bro!
Demikianlah pesan pertama Yesus dalam momen penyalibannya. Lakukan apa yang kamu pikirkan dan ucapkan apapun konsekuensinya.

Lalu kenapa sih kita harus konsisten?
Bukan sekedar jika kita tidak konsisten itu artinya kita berbohong dan oleh karenanya kita berdosa untuk kemudian kalau kita mati, kita bakal masuk neraka.

Hehehe… Aku pribadi tidak pernah kepikiran apakah jika aku mati aku akan masuk surga atau neraka.

Bayangkan jika setiap orang yang kamu temui tindakannya tidak pernah sesuai dengan apa yang mereka ucapkan dan janji-kan. Itu membuat kita tidak akan bisa menaruh kepercayaan kepada sesama. Bayangkan jika tidak ada satu orangpun yang bisa kita percayai.

Satu hal yang pasti, kita tidak bisa mengharapkan orang lain untuk bisa dipercaya jika kita sendiri tidak bisa dipercaya.

Maka, konsisten-lah. Hanya jika kita bersikap konsisten-lah, kita boleh berharap orang lain akan konsisten.

Bagaimana jika kita sudah konsisten, namun orang lain tidak konsisten. Well, kita lihat Yesus-pun bersedia disalib hingga mati demi konsistensinya, demi keyakinannya. Oleh karena itu, konsistensi selalu diikuti oleh penerimaan.

Penerimaan
Konsisten adalah juga “ketetapan” dengan segala konsekuensinya. Jika kita konsisten, artinya sikap dan tindakan kita akan tetap mengacu pada nilai-nilai yang sama apapun konsekuensi dan resiko yang timbul dari sikap dan tindakan kita.

Oleh karena itu, konsistensi bukanlah konsistensi tanpa adanya penerimaan. Termasuk jika kita sudah konsisten namun tidak demikian halnya dengan orang lain. Kita mesti menerima inkonsistensi orang lain sebagai satu resiko yang muncul. Dan jika kita menerima, maka kita mengampuni.

Demikianlah Yesus konsisten dengan nilai – nilai yang ia yakini, dan oleh karenanya Yesus mengampuni orang – orang yang menyiksa dan membunuhnya.

Lagipula, jika benar Yesus bangkit dari kematiannya, maka aku sangat yakin Yesus tidak saja mengampuni bahkan berterima kasih kepada para pembunuhnya. Dengan Yesus terbunuh terlebih dulu, ia dapat menunjukkan ke-Ilahi-annya.

Selamat merayakan Paskah bagi seluruh Saudara – saudariku yang merayakannya. Selamat konsisten dan menerima segala konsekuensinya!

2 responses to “PASKAH: KONSISTENSI & PENERIMAAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s