The Eagle Flies Alone..

Agak lama belakangan ini, kata-kata yang pernah aku dengar dari Almarhum Dr. Riswandha Imawan (1955-2006) itu, sering melintas di benakku. Pak Riswandha semasa hidupnya adalah pengajar Ilmu Pemerintahan FISIPOL UGM Jogja dan penggiat kegiatan alam bebas. Banyak tulisan beliau yang dimuat di surat kabar baik lokal maupun nasional, dan seringkali pada akhir tulisannya dibubuhi: “Kaki Gunung Merapi” untuk menunjukkan dimana beliau menuliskan artikel tersebut sekaligus kecintaannya terhadap alam pegunungan.

Aku tidak mengenal pak Riswandha dengan baik. Ingatanku pada beliau sebatas pada perjumpaanku beberapa kali dengan sosok sederhana itu di tempat parkir motor kampus ketika beliau baru tiba atau hendak meninggalkan kampus dengan motor bebek Honda-nya. Aku bahkan sudah lupa dengan isi tulisan-tulisannya soal politik yang menggelitik dengan bahasa yang mudah aku pahami dan sering memicu tawa namun mencerahkan itu.

Namun ada sebuah kalimat yang pernah beliau lontarkan belasan tahun lalu dan masih aku ingat dengan baik; “The eagle flies alone..”. Kalimat itu sangat merefleksikan pribadi pak Riswandha yang berani mengambil sikap yang berbeda dengan yang lain demi apa yang beliau yakini sebagai sebuah keyakinan. Sekaligus pemahamanan beliau yang menyeluruh atas sesuatu hal. Seperti seekor burung elang yang terbang tinggi di langit dengan pemandangan yang sangat luas di bawahnya.

Keberanian beliau untuk “terbang sendirian” oleh karenanya bagiku menjadi sangat konseptual. Bukan sekedar sebuah sikap pemberontakan, ataupun perlawanan. Lebih dari itu, terbang sendirian menjadi sebuah ujud pemahaman yang menyeluruh. Ia tidak lagi hitam atau putih, ia meliputinya. Bukan lagi siang atau malam, ia adalah sepanjang waktu.

Sang Elang sekaligus menjadi pengingat bagiku, bahwa tidaklah cukup bagiku untuk sekedar memegang prinsip, berani berbeda demi prinsip, sekaligus jalan sendirian di tengah kesunyian karena prinsip yang aku pegang itu. Kodok-pun jalan sendirian bukan? Aku lebih sering melihat kodok melompat-lompat sendirian ketimbang beramai-ramai. Hehehe.

Aahh.. Hati dan pikiranku masih penuh dengan penghakiman. Aku menganggap diriku berbeda hanya karena aku menolak untuk menjadi sama. Pemahamanku tak lebih luas dari ujung kuku hitamku.

Akulah si kodok itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s