Islamisasi Majapahit & Ancaman Pembodohan

Belakangan sering bermunculan lelucon tentang “Gaj Ahmada”, yang ternyata besar kemungkinan dipicu oleh buku “Majapahit Kerajaan Islam.” Ketimbang sebagai lelucon, saya cenderung menilai klaim Majapahit adalah Kerajaan Islam sebagai ancaman yang serius bagi literasi sejarah bangsa, khususnya jika klaim tersebut tidak didukung oleh data dan informasi yang valid serta bukti yang otentik.
 
Ditengah kecerdasan literasi orang Indonesia yang relatif rendah, informasi yang tidak valid atau palsu dan atau menyesatkan bisa diyakini sebagai sebuah kebenaran. Keyakinan itu bisa mengaburkan sejarah, khususnya jika diyakini secara luas.
 
Cermati saja G30S/PKI. Kesaksian para pelaku sejarah cenderung mengesankan bahwa pembunuhan para jendral lebih merupakan tindakan ekstra yudisial sekelompok tentara loyalis Soekarno ketimbang sebuah pemberontakan oleh PKI. Akan tetapi, kita semua tahu apa yang diyakini masyarakat luas kini terhadap G30S/PKI.
 
Bagi saya, penikmat literatur sejarah bangsa, sejarah itu tidak lebih dari pengalaman yang bisa jadi bahan pembelajaran. Tidak terlalu penting sebenarnya. Akan tetapi, pemalsuan atau pembelokkan sejarah bisa jadi masalah besar, ancaman yang sangat serius, jika ternyata memiliki tujuan penciptaan sebuah ideologi atau pemaksaan akan sebuah ide yang tunggal bagi masyarakat yang sangat majemuk seperti Indonesia.
 
Saya tidak tahu sejauh mana motivasi penulis buku “Majapahit Kerajaan Islam”. Jika memang ada hal-hal yang belum atau tidak dilakukan untuk memastikan validitas data dan bukti yang menjadi dasar penulisannya, penulis harus menyampaikan hal tersebut untuk kemudian menyatakan bahwa apa yang dituliskannya tidak lebih dari sebuah ide, bukan literatur sejarah dan tidak dapat dijadikan sebagai sebuah referensi.
 
Saya akan lebih menghargai jika judul bukunya berbunyi “Mungkinkah Majapahit adalah Sebuah Kerajaan Islam?”.
 
Satu hal yang harus diingat jika kita bicara kemungkinan adalah, kita tetap harus mendasarkan proyeksi atau asumsi kita pada data dan fakta serta bukti otentik.
 
Kita bisa melakukan rekayasa untuk mewujudkan ide di masa depan. Tentu saja, rekayasa sejarah bukan termasuk di dalamnya kecuali ide dasarnya adalah pembodohan masyarakat.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s