Lunturnya Spiritualitas: Energi Maksimal, Hasilnya Minimal

Dadakan saya jadi teringat pernah ikut menyelenggarakan Sarasehan Nasional dan Kopi Darat Spiritualis Indonesia di Surabaya, bulan Oktober tahun 2008. Hampir satu dekade lalu. Waktu itu komunitas Spiritual Indonesia bertemu dan berdiskusi soal Spiritualitas bagi Manusia Modern: Energi Minimal untuk Hasil Maksimal.

Saya beruntung bisa menjadi terlibat sebagai tuan rumah bagi penyelenggaraan sarasehan. Para peserta, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, datang dari seluruh penjuru negeri.

Sebelum aktif di SI, bayangan saya soal seorang spiritualis adalah orang-orang dengan iket kepala, cincin-cincin batu sebesar biji peler, gelang kayu bahar. Suka komat-kamit sendirian engga jelas sambil ngisep rokok klobot. Bayangan yang jauh dari kenyataan.

Setelah gabung SI, saya takjub dengan latar belakang para anggota SI. Mas Leo, founder SI, adalah intelektual alumnus UI dan Amerika. Lalu ada Pak Ben, direktur dari beberapa anak perusahaan salah satu korporat terbesar di Indonesia. Pak Tirta yang guru besar sebuah universitas ternama di Surabaya. Ada Pakde Djoko, pilot yang berdomisili di Papua, dan mba Opik, manajer senior di salah satu perusahaan shipping terbesar asal Prancis, serta Mas Audi, founder lembaga konsultan psikologi dan juga penulis beberapa buku.

Masih banyak anggota SI lainnya dengan berbagai latar belakang yang mencerminkan pribadi yang unggul dan kompetitif di lingkungan masyarakat. Demikianlah tema sarasehan waktu itu menjadi sangat relevan, manfaat spiritualitas dalam meningkatkan kualitas pribadi dan kehidupan sehari-hari.

Relevansi spiritualitas rasanya semakin menguat di tengah situasi yang sangat rentan gesekan dan konflik saat ini. Relevan bukan dalam artian spiritualitas masyarakat semakin menguat, tapi, semakin tingginya gesekan dan konflik hanya menunjukkan satu hal, spiritualitas yang makin rendah.

Saya teringat tema sarasehan SI waktu itu: energi minimal, hasil maksimal. Itu karena saya menggambarkan situasi saat ini seperti mesin motor yang kurang oli. Apa yang akan terjadi? Sebelum mengalami kerusakan, mesin akan sangat panas, karena gesekan yang sangat intens tanpa adanya pelumas yang memadai baik kualitas atau kuantitas.

Kontras dengan esensi spiritualitas, mesin yang kurang oli akan menghabiskan energi yang sangat besar, namun hasilnya tidak maksimal. Tidak saja tidak maksimal, melainkan juga hanya akan menimbulkan kerusakan. Kerusakan mesin, dan kerusakan lingkungan sebagai akibat dari polusi yang yang lebih masif.

Itu kalau bicara mesin.

Sementara kalau bicara manusia. Spiritualitas yang rendah itu akan tercermin dari kecenderungan emosional yang tinggi: mudah tersinggung, marah, takut, kuatir, iri, cemburu, dan atau tidak sabaran, ketidakpercayaan diri. Tanpa spiritualitas yang memadai sebagai pelindung, orang jadi mudah terdampak oleh lingkungannya, oleh apa yang dia lihat dan dengar serta rasakan.

Itulah yang terjadi sekarang ini. Orang jadi semakin lemah dan rentan terhadap rangsangan dari luar. Orang tidak cukup punya daya redam terhadap dampak negatif yang datang dari luar. Dan itu, sekali lagi, karena kebanyakan orang Indonesia hanya sekedar beragama dan beribadah, tapi tanpa atau kurang dalam spiritualitas.

Akhirnya yang terjadi adalah ‘energi maksimal, hasil minimal’. Kita membuang waktu dan tenaga sedemikian besar, namun tidak berdampak pada peningkatan kualitas pribadi, yang unggul dan kompetitif. Pribadi yang patut dijadikan contoh dan teladan.

Saya jadi ingat juga, betapa daya saing manusia Indonesia bahkan kalah dibanding SDM Vietnam yang bahkan secara resmi merupakan negara atheis. Saya jadi semakin berpikir bahwa makin kemari, keyakinan kita terhadap nilai-nilai agama, semakin tidak terkait dan tidak berdampak langsung pada tingkat spiritualitas kita.

Benar-benar kita semakin sering melihat dan diperlihatkan, betapa orang bisa sangat rajin beribadah di satu sisi, namun di sisi lain dia juga mencuri. Sangat keras bicara tentang kemuliaan nilai-nilai yang dianutnya di satu sisi, namun mengingkari nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas di sisi lain.

Iman hanya sekedar di mulut dan penampilan. Dan ini yang semakin sering kita jumpai di hari-hari ini. Kita bergerak mundur, bertentangan dengan arus perkembangan dunia modern.

Perkembangan dunia modern bukanlah sekedar kemajuan teknologi. Tapi lebih dari itu, tersamar di balik itu, ada orang-orang yang fokus pada pengembangan dirinya. Menyalurkan energinya sebagian besar untuk menemukan dan mengembangkan potensi yang terbaik dalam dirinya. Fokus untuk mencapai yang terbaik dengan meminimalkan energi yang terbuang percuma dan juga meminimalkan dampak negatif yang merusak.

Demikianlah mereka yang fokus pada yang terbaik dalam dirinya telah menunjukkan penghargaan yang tinggi kepada kehidupan yang telah mereka terima. Bukankah penghargaan tertinggi terhadap kehidupan adalah menjaga dan merawat kehidupan dan apa-apa yang menjadi pondasi bagi kehidupan itu sendiri? Memastikan keberlangsungan hidup, sekaligus meminimalkan resiko yang mengancam keberlangsungan hidup?

Itu juga menjadi gambaran sejauh mana tingkat spiritualitas seseorang. Makin sering buang-buang energi untuk hal yang tidak meningkatkan kualitas pribadi dan kehidupan, tidak ‘Pro-Life’, makin rendah-lah spiritualitasnya.

Semakin rendah spiritualitasnya, makin dipertanyakan manfaatnya untuk kehidupan dan kemanusiaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s