Tentang Kelahiran

“Ada 2 hari yang paling penting dalam kehidupan manusia. Pertama adalah hari ketika  ia dilahirkan, dan hari saat ia mengetahui untuk apa ia dilahirkan.” 
~ Mark Twain

 Banyak orang yang bertanya-tanya apa hadiah yang akan mereka terima di hari kelahirannya, di hari ulang tahunnya. Banyak juga yang ragu jika mereka akan menerima hadiah ulang tahun.

Namun, seberapa banyakkah di antara kita yang mencari tahu sejauh mana kita menjadi “hadiah” bagi sesama?  Apakah kelahiran kita memberikan manfaat bagi orang lain?  Untuk apa ia dilahirkan?

Sebaliknya, apakah orang berterima kasih  atas kelahiran seseorang? Si A mengucapkan terima kasih kepada si B di hari ulang tahun si B, bahwa kelahiran dan si B telah memberikan arti bagi kehidupan si A.

Ulang tahun seringkali tidak lebih menjadi momen di mana orang yang berulang tahun mendapatkan dan atau mengharapkan ucapan selamat dan hadiah ulang tahun.  Sesuatu yang menurutku tidaklah esensial. Sesuatu yang jauh dari makna kelahiran seseorang.

Oleh karena itu, menyambut hari kelahiran istriku, Dini Savitri, pada hari Sabtu, 4 Oktober 2014 ini, baiklah aku mengucapkan syukur kepada Tuhan yang telah menghadirkan kamu ke dunia ini. Aku juga berterima kasih atas pendampinganmu selama ini. Atas kesediaanmu menemaniku menyusuri jalanan sunyi ini, dalam suka dan duka, dalam tawa dan tangis. 

Terima kasih, terima kasih dan terima kasih, karena kamu sudah berkenan memberikan bertahun-tahun dari kehidupanmu yang sangat berarti dengan melewati waktu bersamaku.

Advertisements

Hampa dan Hambar

Mendadak aku merasakan kehampaan yang teramat sangat. Tak tahu pasti apa penyebabnya. In a suddent, aku merasa sangat letih dan segala hal yang aku lakukan tiada gunanya, tak berarti. Ada perasaan yang kuat bahwa aku sedang mengejar sesuatu yang samasekali tak penting bagiku.

Hampa.
Hambar.

Pernahkah kamu mengalami hal yang sama Bro? Apa yang lalu kamu lakukan?
Sudah sangat lama lalu aku merasakan hal ini. Hal yang selalu membuatku kembali mempertanyakan makna sesungguhnya kehidupan. Hal yang selalu membuatku merasa bahwa sebelum makna sesungguhnya itu aku dapatkan, maka segala sesuatunya adalah sia-sia dan oleh karenanya apa gunanya aku melakukan satu halpun?

Sekedar mengisi dan membuang waktu.

Tidakkah itu yang dilakukan oleh kebanyakan dari kita?
Kita merasa harus melakukan sesuatu demi sesuatu, tapi sesungguhnya kita hanya sekedar mengisi dan membuang waktu.
Aku teringat pada satu masa ketika aku sudah letih mencari, dan kemudian menetapkan hal lain yang jauh lebih sederhana sebagai sesuatu hal yang mesti aku capai agar hidupku menjadi lebih bermakna.

Apakah makna sungguh bisa didapatkan melalui kesederhanaan?
Atau sebaliknya, makna hadir dalam kompleksitas?
Sungguh sebuah absurditas.

TERUS ATAU PUTAR HALUAN?

Aku mendadak teringat pendakian Gunung Sindoro (3.155 mdpl), Temanggung, Jawa Tengah sekitar tahun 1995 lalu. Pendakian itu aku lakukan berdua bersama Sonson Baroto, seorang seniorku di organisasi pecinta alam FISIPOL UGM.

Cuaca yang bersahabat dan menyenangkan saat kami mengawali pendakian, berubah drastis menjadi hujan badai ketika kami mulai mendekati puncak.

Aku masih ingat, betapa angin bertiup sangat kencang. Begitu kencang hingga setiap kali aku pipis, air seni-ku beterbangan kemana-mana.

Hujan dan angin kencang terus menemani kami hingga saat kami mencapai dan meninggalkan puncak Sindoro untuk kembali turun sekitar tengah hari.

Kami memutuskan untuk terus berjalan agar sebelum matahari terbenam, kami sudah tiba di desa awal pendakian. Tidak butuh waktu lama sebelum kekuatan fisik dan mentalku mulai turun drastis.

Baju yang tetap basah kuyup meski aku mengenakan mantel, hawa dingin yang mengerutkan kulit dan jalan tanah setapak yang licin, yang membuatku berulang kali terpeleset jatuh dan terbanting. Samasekali bukan pendakian yang menyenangkanku.

Kami terus berjalan tertatih – tatih dan sesekali mengaduh dan mengumpat saat terpeleset jatuh. Hingga kemudian aku terkaget – kaget ketika kami mendapati diri berada di pinggir tebing yang curam.

Sebentar kemudian kami menyadari kami sudah keluar jalur. Rasanya campur aduk saat aku melihat ke belakang, dan mataku menyusuri jalan setapak yang membawa kami ke tempat itu.

Rasa letih membuat kami tidak menyadari kami keluar jalur untuk kemudian mengikuti jalan setapak atau lebih tepatnya “selokan” air hujan yang curam. Rasa geram, kecewa, letih bercampur jadi satu ketika menyadari pilihannya adalah kembali mendaki ke atas untuk kembali ke jalur yang benar atau nekad menuruni jalur air yang lumayan curam.

Untuk pilihan terakhir pastinya kami mesti “buka jalur”, menyusuri jalur yang belum pernah dilalui dan tidak diketahui kemana ujungnya. Keenggananku untuk kembali ke atas sempat membuat kami berdua berdebat, ketika seniorku beranggapan dalam kondisi tersebut jauh lebih baik dan lebih aman jika kami kembali ke atas untuk menemukan jalur yang benar.

“Halah, nanggung, dah telanjur juga. Mending terusin aja ke bawah, serong ke kiri, paling ketemu lagi ama jalur yang tadi,” demikianlah aku bersikukuh.

Aku ingat, bukan karena pilihanku masuk akal dan lebih baik yang membuat aku ngotot, melainkan karena aku sudah mulai tidak peduli. Aku tidak peduli lagi akan resiko yang jauh lebih besar jika kami meneruskan ketersesatan itu.

Aku sudah merasa sangat letih dan aku terlalu sombong mengakui jika aku sudah lemah, secara mental, untuk kembali mengeluarkan tenaga lagi untuk kembali berjalan ke atas, kembali ke jalur yang benar.

Tidakkah banyak di antara kita yang seperti itu? Kita sudah melakukan banyak hal, menghabiskan banyak waktu, tenaga dan pikiran untuk mencapai sebuah tujuan dengan sebuah cara atau jalan yang kita pilih.

Sedemikian banyak yang sudah dikorbankan, kita menjadi sulit menerima kenyataan bahwa kita telah salah mengambil keputusan atau pilihan.

“Sudah kepalang basah, berenang sekalian,” demikianlah apa yang akan dilakukan oleh kebanyakan dari kita.

Kita lupa bahwa tidak peduli seberapa jauh, seberapa letih kita telah berjalan, tapi jika itu tidak membawa kita ke tujuan,ya kita harus mau putar haluan. Tapi kembali, kebanyakan dari kita mungkin akan terus berjalan. Beberapa karena berkeyakinan akan: banyak jalan menuju ke Roma, beberapa lainnya karena alasan yang absurd.

Hmm.. Jika waktu itu aku tetap ngotot untuk keluar jalur, mungkin saat ini aku tidak bisa lagi mengingatkan kalian untuk: “Demi sebuah tujuan, jika kita sadar bahwa kita telah salah mengambil keputusan, tak peduli seberapa jauh kita sudah melangkah, baiklah kita kembali ke jalur yang benar.”

Puasa? Bebas, Merdeka!

Kalau sudah memasuki bulan puasa seperti ini, aku jadi teringat masa kecilku. Meski seorang nasrani, ibu membiasakan anak – anaknya untuk ikut berpuasa sejak SD selama bulan puasa. Sarapan pagi seluruh keluarga bersamaan dengan waktunya sahur dan mengakhirinya persis ketika Imsak berkumandang di radio. Adzan Maghrib menjadi suara yang paling dinantikan- nantikan sepanjang hari selama bulan puasa.

Aku mengira jika puasa adalah sungguh sebuah kewajiban bagi-ku waktu itu. Berat sekali rasanya. Sungguh, bulan puasa bukanlah masa favoritku, selain bahwa selama bulan puasa, aku dan teman-teman kampung semakin sering melakukan kegiatan yang aku sukai; mandi di kali. Malam harinya, aku juga sering jengkel karena hampir semua teman – temanku menjalankan ibadah tarawih. Itu artinya aku harus menunggu mereka selesai sebelum kita bisa mulai bermain lagi, tapi tidak lama karena sebentar lagi sudah tiba waktunya untuk tidur. Akhirnya, aku mulai ikutan tarawih hanya sekedar untuk bisa selalu bersama dengan teman-teman. Sampai kemudian seorang tetangga, yang menyadari bahwa aku bukan seorang muslim, mengingatkan aku untuk tidak perlu ikut tarawih karena dilarang oleh ajaran agamaku. Tetangga yang baik. Hehehe.

Memasuki masa kuliah, bulan puasa memberikan sensasi tersendiri. Setiap sore berkumpul dengan teman-teman kampus, nongkrong di boulevard UGM atau di pinggir Jalan Kaliurang di samping Gedung Pusat, cuci mata sembari menunggu bedug Maghrib. Bulan puasa selama masa kuliah adalah bulan dimana aku dan beberapa teman di kampus paling sering menyalurkan hasrat akan kekerasan. Kami seringkali menghajar orang-orang yang bermain petasan di lingkungan kampus kami. Alasannya, petasan itu jadi membuat kotor, padahal sebenarnya itu adalah alasan yang dibuat-buat. Mengingat kelakuan itu, aku jadi ingat FPI, yang seringkali memuakkanku. Kami ternyata beda-beda tipis.Tapi itu duluuuu.., ketika aku masih culun.

Selesai kuliah dan meninggalkan Jogja serta pindah ke Jakarta untuk mulai bekerja pada tahun 2001, aku mulai menghentikan kegiatan berpuasa. Bukan karena alasan yang tepat sebenarnya, tapi waktu itu hampir semua rekan-rekanku adalah non muslim dan hanya sedikit yang berpuasa. Plus, ketika pindah ke Jakarta, tidak ada Ibu yang membangunkanku untuk sahur.

Aku mulai berpuasa lagi sejak pindah tugas ke Surabaya pada tahun 2007.Masa – masa penugasanku di Surabaya adalah masa- masa penempaanku sesungguhnya. Penugasan yang menghadirkan tantangan paling berat dalam kehidupanku: mengalahkan diri sendiri. Puasa menjadi kegiatan yang sangat pas. Saat itulah, aku merasa sangat membutuhkan dan sangat menikmati berpuasa. Sebagian besar hari – hari puasa aku lalui tanpa sahur dan tetap terasa mudah, meski sebenarnya setiap kali masa puasa, beban kerjaku di perusahaan media akan mencapai puncaknya. Aku bahkan merasa sedih setiap kali Lebaran tiba. Ada sesuatu hilang selain berat badanku. Hehehe.

Saat itulah aku punya pemahaman, puasa semestinya membebaskan dan bukan sebaliknya, mengekang. Tantangan terbesar puasa bukanlah lapar dan haus, melainkan membebaskan diri dari kekangan hasrat dan keinginan daging. Aku mestinya merasa bebas ketika berpuasa dan bukan sebaliknya, terkekang. Kamu mestinya sudah tahu itu bukan Bro? Jadi, apakah puasa sudah membebaskanmu?

Selamat menjalankan ibadah puasa bagi semuanya saja!

Ngomong Doang..

“Papa kok enggak pake sandal?!” Teriak si bungsu, Bianca, saat melihat aku ada di halaman rumah. Aku segera sadar kalau apa yang aku lakukan berbeda dengan apa yang selalu aku pesankan ke anak-anakku.

My friends, hampir setiap hari kita menjumpai orang yang beda antara ucapan dan tindakan. Kalo kamu adalah orang tua, then you better be careful with that attitude; watch your mouth! Bianca adalah bocah perempuan yang baru berusia 3,5 tahun, tapi sikap kritis bocah itu mengingatkan aku, jika aku terus-terusan tidak konsisten dengan apa yang aku ucapkan, tidak akan butuh waktu lama sebelum dia sekedar mempertanyakan menjadi ikut-ikutan. Well, gimana anakmu adalah gimana kamu sebagai orang tua. Sesederhana itu.

Bianca, bocah 3,5 tahun yang suka protes

Bianca, bocah 3,5 tahun yang suka protes

Buat kamu yang mengaku atau menempati posisi pemimpin, hal yang sama juga berlaku: anak buah adalah cerminan pimpinan. Kurangnya anak buah adalah juga kurangnya pemimpin. Bisa jadi, kurangnya pemimpin karena apa yang diucapkan berbeda dengan apa yang dilakukan. So, jangan kesal kalau anak buahmu cuma pintar ngomong. Mereka belajar untuk cuma pintar ngomong dari guru yang terbaik: KAMU.

Aku sendiri belajar untuk menangkap pesannya, bukan siapa dan bagaimana si penyampai pesan. Sederhananya, ambil yang baik, buang yang buruk. Namun, mengingat kebanyakan dari kita lebih melihat siapa dan bagaimana penyampai pesan, so at least, aku hanya bisa menyampaikan pesan yang aku sendiri bisa jalankan. Aku tidak mungkin melarang orang lain untuk merokok, karena aku sendiri juga merokok. Paling tidak, merokoklah di tempat yang sudah disediakan; merokoklah setelah mampu membeli rokok sendiri; jangan nyesel kalo kena kanker gara-gara rokok.

Kalo aku bisa senantiasa melakukan apa yang aku ucapkan. Aku boleh berharap anak-anakku pun demikian.

Lovely Punishment

Kalau kita dipukul orang, kita selalu punya pilihan: membiarkan karena kita merasa layak untuk mendapatkannya, atau membalas dengan serangan fisik pula atau mengajukan tuntutan hukum atau sekedar ngomel-ngomel saja. Beberapa waktu lalu, si sulung Alicia memukul adiknya, Bianca, karena kesal digangguin. Apa yang akan kamu lakukan Bro?

Dulu waktu kecil hingga remaja, kalo aku lagi bandelnya kumat, Bapak Almarhum juga suka menyabet punggungku dengan selang karet yang berdiameter lebih dari 10 cm. Selang yang biasa dipasang buat pompa air manual jaman dulu. Meski sudah berkali-kali merasakan, aku juga tak terbiasa. Sampai sekarang, mungkin hanya Bapak seorang, manusia yang aku takuti di atas bumi.

Dulu Bapakku mendidik kami anak-anaknya dengan menggunakan kekerasan fisik, sebagaimana umumnya anak-anak yang dibesarkan oleh tentara, agar kami mampu menghadapi kerasnya kehidupan. Sekarang, kehidupan yang akan dihadapi oleh anak-anakku mungkin jauh lebih keras daripada jamanku.

Apakah aku harus lebih keras dalam mendidik anakku ketimbang Bapak Almarhum mendidik anak-anaknya? Menggunakan kekerasan fisik yang lebih sering dan lebih kuat sebagai konsekuensi atas setiap kesalahan dan kelalaian anak-anakku?

Inilah yang akhirnya, aku pilih sebagai konsekuensi atas tindakan kekerasan Alicia kepada adiknya..

Tulisan tangan Sissy: “Sisi Janji Sayang Adik” sebanyak 100 kali karena telah memukul adiknya, Bianca.

 

 

Makin Tua, Makin Jadi..

Seperti baru kemarin saja, aku bergabung dengan Radio Sonora FM 92.0 Jakarta, yang bernaung di bawah Kompas Gramedia. Aku bergabung sejak pertengahan 2002, sementara Radio Sonora Jakarta tepat berulang tahun ke-40 pada tanggal 8 Agustus 2012. Bisa dibilang, hingga saat ini aku hanya mengikuti seperempat perjalanan Radio Sonora Jakarta.

Seperempat perjalanan yang “mudah” karena saat aku bergabung, Radio Sonora Jakarta sudah merupakan induk dari Jaringan Radio yang terkuat di Indonesia, tidak saja dari sebarannya, namun juga dari sisi kekuatan finansialnya. Apalagi kini, jaringan Radio Sonora telah berkembang menjadi 18 radio di 15 kota dan terus berkembang.

Bicara soal Radio Sonora, bagiku tidak akan lepas dari unsur sentimentil. Sonora sudah mewujudkan keinginanku di masa kecil dan masa kuliah. Saat aku masih siswa SMP, aku pernah berkeinginan untuk bisa jalan-jalan ke luar negeri tanpa uang sendiri. Keinginan itu terwujud ketika aku bekerja di Radio Sonora.

Ketika aku kuliah, aku juga berkeinginan untuk sekolah lagi dengan biaya perusahaan karena aku merasa jurusan yang aku pilih waktu itu tidak sepenuhnya sesuai harapanku. Sonora pula yang mewujudkan keinginanku itu. Bukan sebuah perusahaan penanaman modal asing tempatku bekerja sebelumnya dan bukan pula satu perusahaan media sebelumnya lagi.

Sebagian besar dari kita pun pasti juga memiliki unsur-unsur sentimentil. Unsur-unsur yang membuat kita melakukan sesuatu tanpa sekedar memperhitungkan besar-kecilnya gaji, berat-ringannya pekerjaan, lengkap tidaknya fasilitas yang kita terima. Pun demikian denganku.

Sisi lain, unsur-unsur sentimentil itu, membuatku memiliki harapan yang sangat besar. Harapan yang mungkin lebih besar daripada sahabat-sahabatku yang lain, yang tidak atau kurang memiliki unsur-unsur sentimentil sebagaimana aku.

Aku sangat berharap bahwa Sonora akan terus berkembang menjadi radio yang paling berkemampuan untuk memenuhi harapan pendengar dan pengiklan yang menjadi sasaran kami. Namun, sebelum itu, aku rasa sebuah perusahaan hanya dapat terus berkembang jika individu-individu di dalamnya juga terus berkembang, tidak saja dari sisi kuantitas, namun juga dari sisi kualitas.

Kualitas-kualitas individu yang selaras dengan nilai-nilai keutamaan Kompas Gramedia yang menjadi acuan kami, karyawan-karyawan Kompas Gramedia dalam bersikap dan berperilaku.

Adapun Nilai-nilai Keutamaan Kompas Gramedia adalah:
1. Caring, Peduli terhadap sesama manusia
Menghargai manusia, tanggung jawab sosial, cross cultural.

2. Credible, berintegritas.
Jujur, berwatak baik, loyal, bertanggung jawab, transparan dan beretika bersih.

3. Competence, berpengetahuan, berkemampuan dan berkemauan.
Berorientasi pada kinerja yang terbaik dan pengembangan diri, menggunakan sumber daya secara optimal, efisien, efektif, sinergi/teamwork.

4. Competitive, Berdaya Saing
Berani ambil resiko, open mind, inovatif, ikuti perkembangan teknologi, speed, akseleratif.

5. Customer Delight, berorientasi pada Kebahagiaan Pelanggan
Berorientasi pada penyediaan layanan dan produk sesuai kebutuhan pelanggan, fleksibel.

Nilai-nilai keutamaan itu mestinya menjadi “Pancasila”, menjadi pandangan dan pegangan hidup setiap organisasi dan individu di dalam lingkungan Kompas Gramedia. Itulah nilai-nilai yang dikeyakini sebagai alasan keberadaan setiap organisme dalam Kompas Gramedia, termasuk Sonora.

Tanpa nilai-nilai itu, tiada artinya menjadi yang terbesar, yang terkuat. Kita dengan cepat akan menjadi sebuah kapal yang kehilangan arah sebelum kemudian terombang-ambing dan terhempas ke dalam keterpurukan.

Aku percaya bahwa Sonora bisa bertahan hingga 40 tahun adalah karena kepercayaan terhadap kami. Kepercayaan dari pendengar dan pengiklan bahwa kami masih memenuhi kebutuhan mereka. Aku berharap kami masih bisa terus bisa bertahan dan berkembang serta memenuhi dan bahkan melampaui harapan pelanggan kami dengan menjunjung tinggi nilai-nilai keutamaan Kompas Gramedia.

Jika manusia semakin lemah seiring pertambahan usia, maka bolehlah, atas Berkat dan Rahmat Ilahi, Radio Sonora FM 92.0 Jakarta dan jaringan radionya jika semakin tua, justru makin “JADI”.

Selamat Ulang Tahun Radio Sonora FM 92.0 Jakarta! For forty years we have been surfing the sky and will always surf the sky to serve you!