Aku Biarkan Anakku Menempuh Jalan Sunyi

“I do not live for what the heaven thinks of me but for what i think of my self. I shall then live a life of a freeman.”

Anak-anak saya menikmati sepenuhnya “kebebasan beragama” di lingkungan rumah. Ibadah dan belajar agama bukanlah kewajiban yang saya tuntut dari mereka.

Jauh lebih penting bagi saya adalah pendidikan moral dan humanisme bagi anak-anak saya. Itulah pendidikan yang akan membentuk seorang manusia menjadi manusia sesungguhnya, IMHO.

Saya tidak terganggu dengan kemungkinan mereka akan tumbuh menjadi manusia yang beragama sebatas tersebut di KTP. Sebaliknya, saya akan sangat terganggu dan sangat sedih jika mereka tumbuh menjadi manusia yang tidak cukup berkemanusiaan.

Sama seperti yang ditunjukkan oleh sebagian umat manusia saat ini: mengaku beragama tapi tidak cukup berkemanusiaan. Sialnya lagi jika seseorang tidak cukup berkemanusiaan karena mengacu pada apa yang tertulis di kitab sucinya.

Tidak tertutup kemungkinan jika anak-anak saya nantinya akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan dalam diri mereka tentang eksistensi manusia dan tuhan. Itupun saya juga alami dulu.

Dan sebagaimana yang saya jalani, saya akan biarkan anak-anak saya mencari jawabannya sendiri. Toh, pilihan-pilihannya banyak “tersedia di pasaran”. Ada yang jawaban ala agama, ala ilmu pengetahuan, bahkan ada juga juga jawaban ala diri sendiri.

Apapun jawaban yang dipilih, tidak akan menjadi masalah selama anak-anak saya sudah memiliki nalar dan nurani untuk memilih dan memilah jawaban yang paling tepat untuk dirinya. Bahkan termasuk jika dia tidak mendapatkan jawaban yang pas dari yang tersedia di pasaran, atau malah samasekali tidak berusaha mencari.

Saya yang sudah siap menyongsong usia senja-pun belum menemukan jawaban yang paling pas di sanubari. Saya sudah lama lepas dari kegelisahan dalam proses pencarian Tuhan.

Kebebasan dan kemandirian dalam berpikir jauh lebih bernilai ketimbang menemukan jawaban-jawaban yang tidak terlalu relevan dalam peningkatan kualitas kehidupan manusia.

Bahwa dengan kebebasan dan kemandirian dalam berpikir menjadikan anak-anak saya berbeda dengan anak-anak yang lain pada umumnya? Hmmm.. Saya tidak pernah berpikir bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi seragam.

Bagaimanapun juga keberanian sesungguhnya adalah kemauan dan kemampuan untuk menempuh jalan sunyi. Jalan yang jarang dilewati. Bisa jadi dan sangat mungkin, kebenaran Ilahi tersembunyi di jalan sepi itu.

 

Advertisements

Surabaya, Spiritualitas Indonesia

Mengingat perkembangan situasi dan kondisi Jakarta belakangan ini, saya mulai cari-cari kesempatan untuk bisa keluar dan pindah ke kota lain. Saya berharap spiritualitas saya makin berkembang di lingkungan yang lebih kondusif.

Sebenarnya Jakarta adalah kota yang tepat untuk mengolah dan menguji spiritualitas kita. Tapi sayangnya, ‘benteng pertahanan’ saya masih rendah. Saya masih mudah terdampak secara negatif oleh berita dan situasi yang terjadi di seputaran Jakarta. Pertanda jika saya mesti banyak belajar mengolah rasa di lingkungan yang lebih kondusif.

Benak saya langsung melayang ke Surabaya, kota dimana saya pernah menjalani penugasan selama sekitar 6 tahun. Kota yang sangat mengesankan dibanding kota-kota lainnya yang pernah saya singgahi ataupun dimana saya pernah bekerja.

Saya beruntung mengalami masa-masa transformasi sebelum dan sesudah Ibu Tri Rismaharini memimpin Surabaya. Saya merasakan perubahan pesat Surabaya dari kota yang panas dan cenderung semrawut menjadi kota yang lebih tertata, rapih, bersih dan adem.

Ibarat manusia, Surabaya adalah sosok yang telah mengalami perkembangan spiritualitas. Tidak saja lebih modern, melainkan juga lebih berorientasi pada keberlangsungan lingkungan hidup. Itu juga menurut saya adalah satu ciri utama perkembangan spiritualitas.

Kita tidak bisa mengaku sebagai seorang spiritualis, jika masih mempunyai perilaku yang merusak dan mengancam keberlangsungan lingkungan hidup dan segala isinya. Tidak ada gunanya kita rajin beribadah, bermeditasi, mendaraskan ayat-ayat suci, jika kita masih menjadi ancaman terhadap ekosistem di atas muka bumi. Itu hanya akan menunjukkan kemunafikan kita, ketidakselarasan antara perasaan, pikiran, ucapan dan tindakan kita.

Sosok yang spiritual oleh karenanya adalah sosok yang di satu sisi adalah maju dan modern. Oleh karena keterbukaan pikirannya, menerima perkembangan jaman dan teknologi. Sisi lain, adalah sosok yang merawat dan menjaga ekosistem serta meminimalisir ancaman terhadapnya akibat konflik dan kerakusan serta ketidakpedulian manusia.

Berangkat dari itulah, saya merasa Surabaya adalah kota yang mengalami perkembangan spiritual paling pesat di Indonesia. Jika bicara ketidaksempurnaan, tentu saja banyak yang harus dikerjakan, diperbaiki dan ditingkatkan. Namun kembali, Surabaya terus berkembang. Bukannya mandeg atau malah mundur, sebagaimana yang dialami Jakarta.

Saya berharap kota-kota lain di Indonesia juga akan terus berkembang seperti Surabaya. Ujud nyata perkembangan spiritualitas orang Indonesia. Sebelum itu terjadi, sepertinya mesti pindah dulu ke Surabaya.

 

Lunturnya Spiritualitas: Energi Maksimal, Hasilnya Minimal

Dadakan saya jadi teringat pernah ikut menyelenggarakan Sarasehan Nasional dan Kopi Darat Spiritualis Indonesia di Surabaya, bulan Oktober tahun 2008. Hampir satu dekade lalu. Waktu itu komunitas Spiritual Indonesia bertemu dan berdiskusi soal Spiritualitas bagi Manusia Modern: Energi Minimal untuk Hasil Maksimal.

Saya beruntung bisa menjadi terlibat sebagai tuan rumah bagi penyelenggaraan sarasehan. Para peserta, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, datang dari seluruh penjuru negeri.

Sebelum aktif di SI, bayangan saya soal seorang spiritualis adalah orang-orang dengan iket kepala, cincin-cincin batu sebesar biji peler, gelang kayu bahar. Suka komat-kamit sendirian engga jelas sambil ngisep rokok klobot. Bayangan yang jauh dari kenyataan.

Setelah gabung SI, saya takjub dengan latar belakang para anggota SI. Mas Leo, founder SI, adalah intelektual alumnus UI dan Amerika. Lalu ada Pak Ben, direktur dari beberapa anak perusahaan salah satu korporat terbesar di Indonesia. Pak Tirta yang guru besar sebuah universitas ternama di Surabaya. Ada Pakde Djoko, pilot yang berdomisili di Papua, dan mba Opik, manajer senior di salah satu perusahaan shipping terbesar asal Prancis, serta Mas Audi, founder lembaga konsultan psikologi dan juga penulis beberapa buku.

Masih banyak anggota SI lainnya dengan berbagai latar belakang yang mencerminkan pribadi yang unggul dan kompetitif di lingkungan masyarakat. Demikianlah tema sarasehan waktu itu menjadi sangat relevan, manfaat spiritualitas dalam meningkatkan kualitas pribadi dan kehidupan sehari-hari.

Relevansi spiritualitas rasanya semakin menguat di tengah situasi yang sangat rentan gesekan dan konflik saat ini. Relevan bukan dalam artian spiritualitas masyarakat semakin menguat, tapi, semakin tingginya gesekan dan konflik hanya menunjukkan satu hal, spiritualitas yang makin rendah.

Saya teringat tema sarasehan SI waktu itu: energi minimal, hasil maksimal. Itu karena saya menggambarkan situasi saat ini seperti mesin motor yang kurang oli. Apa yang akan terjadi? Sebelum mengalami kerusakan, mesin akan sangat panas, karena gesekan yang sangat intens tanpa adanya pelumas yang memadai baik kualitas atau kuantitas.

Kontras dengan esensi spiritualitas, mesin yang kurang oli akan menghabiskan energi yang sangat besar, namun hasilnya tidak maksimal. Tidak saja tidak maksimal, melainkan juga hanya akan menimbulkan kerusakan. Kerusakan mesin, dan kerusakan lingkungan sebagai akibat dari polusi yang yang lebih masif.

Itu kalau bicara mesin.

Sementara kalau bicara manusia. Spiritualitas yang rendah itu akan tercermin dari kecenderungan emosional yang tinggi: mudah tersinggung, marah, takut, kuatir, iri, cemburu, dan atau tidak sabaran, ketidakpercayaan diri. Tanpa spiritualitas yang memadai sebagai pelindung, orang jadi mudah terdampak oleh lingkungannya, oleh apa yang dia lihat dan dengar serta rasakan.

Itulah yang terjadi sekarang ini. Orang jadi semakin lemah dan rentan terhadap rangsangan dari luar. Orang tidak cukup punya daya redam terhadap dampak negatif yang datang dari luar. Dan itu, sekali lagi, karena kebanyakan orang Indonesia hanya sekedar beragama dan beribadah, tapi tanpa atau kurang dalam spiritualitas.

Akhirnya yang terjadi adalah ‘energi maksimal, hasil minimal’. Kita membuang waktu dan tenaga sedemikian besar, namun tidak berdampak pada peningkatan kualitas pribadi, yang unggul dan kompetitif. Pribadi yang patut dijadikan contoh dan teladan.

Saya jadi ingat juga, betapa daya saing manusia Indonesia bahkan kalah dibanding SDM Vietnam yang bahkan secara resmi merupakan negara atheis. Saya jadi semakin berpikir bahwa makin kemari, keyakinan kita terhadap nilai-nilai agama, semakin tidak terkait dan tidak berdampak langsung pada tingkat spiritualitas kita.

Benar-benar kita semakin sering melihat dan diperlihatkan, betapa orang bisa sangat rajin beribadah di satu sisi, namun di sisi lain dia juga mencuri. Sangat keras bicara tentang kemuliaan nilai-nilai yang dianutnya di satu sisi, namun mengingkari nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas di sisi lain.

Iman hanya sekedar di mulut dan penampilan. Dan ini yang semakin sering kita jumpai di hari-hari ini. Kita bergerak mundur, bertentangan dengan arus perkembangan dunia modern.

Perkembangan dunia modern bukanlah sekedar kemajuan teknologi. Tapi lebih dari itu, tersamar di balik itu, ada orang-orang yang fokus pada pengembangan dirinya. Menyalurkan energinya sebagian besar untuk menemukan dan mengembangkan potensi yang terbaik dalam dirinya. Fokus untuk mencapai yang terbaik dengan meminimalkan energi yang terbuang percuma dan juga meminimalkan dampak negatif yang merusak.

Demikianlah mereka yang fokus pada yang terbaik dalam dirinya telah menunjukkan penghargaan yang tinggi kepada kehidupan yang telah mereka terima. Bukankah penghargaan tertinggi terhadap kehidupan adalah menjaga dan merawat kehidupan dan apa-apa yang menjadi pondasi bagi kehidupan itu sendiri? Memastikan keberlangsungan hidup, sekaligus meminimalkan resiko yang mengancam keberlangsungan hidup?

Itu juga menjadi gambaran sejauh mana tingkat spiritualitas seseorang. Makin sering buang-buang energi untuk hal yang tidak meningkatkan kualitas pribadi dan kehidupan, tidak ‘Pro-Life’, makin rendah-lah spiritualitasnya.

Semakin rendah spiritualitasnya, makin dipertanyakan manfaatnya untuk kehidupan dan kemanusiaan.

Pemimpin di Jalan Sunyi

Menjadi Pemimpin yang membawa idealisme untuk perubahan itu mesti siap jalan sendirian, dimusuhi, sebelum kemudian jika gagal, disingkirkan dan diasingkan. Dimanapun juga, jauh lebih banyak cerita yang memilukan ketimbang yang menyenangkan bagi orang yang membawa perubahan demi idealisme.

Selalu ada resistensi dan perlawanan terhadap perubahan, karena perubahan seringkali menghadirkan ketidaknyamanan. Pragmatisme, apatisme, skeptisme, bahkan antipati adalah hal biasa dan mesti siap dihadapi dalam perubahan itu. Setiap orang pernah atau mencoba melakukan perubahan di lingkungannya, yang melibatkan banyak orang, pasti merasakannya.

Termasuk jika kita bicara pemimpin negeri ini, siapapun dia! Bahkan ketika dia memimpin karena meraih dukungan 100% suara. Penolakan, keengganan, ketidaksukaan, perlawanan akan tetap dia jumpai dan harus dia atasi jika dia memang menghendaki perubahan, sekali lagi, demi idealisme.

Itu adalah realita yang mesti disadari dan diterima. Lalu, jika resistensi sedemikian kuat, haruskah dia menyerah? Atau tetap lanjut dengan penyesuaian? Jawabannya adalah tergantung sejauh mana komitmen yang bersangkutan. Tergantung pula sejauh mana perubahan yang hendak diciptakan, sepenting apa perubahan itu.

Saya pernah mendengar kutipan: “In a matter of style, go with the flow. In the matter of principles, stand like a rock!”. Penyesuaian mungkin perlu dilakukan demi mencapai tujuan yang lebih besar, karena memang banyak jalan menuju Roma. Namun mestinya penyesuaian bukanlah pilihan untuk hal-hal yang bersifat prinsip, yang seringkali merupakan pondasi utama bagi tujuan yang jauh lebih besar.

Keteguhan dalam menjalankan prinsip, oleh karenanya adalah tantangan bagi setiap pemimpin yang ingin membawa perubahan. Adalah konyol, jika kemudian seorang pemimpin ditinggalkan justru karena ia tidak cukup teguh memegang prinsip. Ia menanggalkan idealismenya sendiri, agar dapat ‘beradaptasi’ dengan situasi yang ada.

Padahal, perubahan tidak akan pernah sungguh-sungguh terjadi, jika kita beradaptasi dengan situasi. Kita menyesuaikan diri dan toleran hampir dalam segala hal, termasuk hal-hal yang prinsip. Perubahan oleh karenanya hanya sekedar harapan, yang jauh dari kenyataan.

Demikianlah, kita membutuhkan pemimpin yang teguh pada komitmen perubahan, meski harus menyusuri jalan yang sepi nan sunyi.

Makin Sayang, Makin Garang

Ketika sebagian orang cenderung toleran terhadap orang-orang yang terdekat, saya cenderung sebaliknya. Saya cenderung minim toleran kepada orang-orang yang saya anggap dekat.

Orang-orang yang saya anggap dekat, adalah kepada siapa saya menaruh kepercayaan dan harapan yang relatif lebih tinggi ketimbang orang lain. Jadi, ketika performa orang-orang tersebut tidak sesuai harapan, respon saya kepada yang bersangkutan relatif lebih keras.

Sederhana saja. ‘Ditusuk’ oleh orang yang kita percaya akan terasa lebih menyakitkan ketimbang ditusuk oleh orang yang tidak atau kurang kita percaya bukan?

Jadi aneh, ketika orang cenderung permisif, toleran, terhadap sikap dan perilaku orang-orang terdekat yang tidak sesuai dengan harapan, atau bahkan melanggar kepercayaan. Bukankah mereka justru mestinya lebih merasa dikhianati?

Dalam hal itu juga, para pendukung seorang tokoh mestinya bersikap jauh lebih kritis terhadap tokoh itu ketimbang kaum oposisi. Di mata para pendukung, mestinya bukan “Si Tokoh selalu benar”, tapi mestinya “Si Tokoh tidak boleh salah”. Kesalahan kecil saja tidak boleh, apalagi kesalahan yg besar.

Sedikit saja lalai, lupa, salah, para pendukung mestinya langsung bereaksi negatif. Lebih cepat, lebih keras ketimbang mereka yang tidak mendukungnya, yang tidak mempercayainya. Tujuannya jelas agar si Tokoh tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama, tidak lagi melanggar kepercayaan atau nilai-nilai yang telah disepakati.

Sikap kritis ini juga jadi problem di masyarakat kita. Para pendukung tidak cukup bisa bersikap kritis terhadap sosok yang didukungnya.

Mestinya kita bisa sepakat bahwa kita tidak lagi hidup di jaman kerajaan. Bahwa sebuah jabatan (pemimpin) tidak lagi turun dari langit, melainkan diserahkan sebagai bentuk kepercayaan dari warganya. Bahwa warga pendukung bukanlah budak yang akan berdiam diri atas atau bahkan membela kesalahan-kesalahan majikannya.

Bahwa kritik adalah bagian dari alat kendali agar pemimpin, pemerintah, selalu berada di jalurnya, selalu bisa menjaga kepercayaan. Jangan sedikitpun juga melenceng.

Tak perlu kita berdebat soal memberi dukungan. Jelas para pendukung wajib memberikan dukungan kepada orang yang dipercayainya agar mampu menuntaskan tugas dan tanggung jawab yang telah dipercayakan kepadanya. Membela sikap dan tindakan yang memang sudah sesuai nilai-nilai dan tujuan yang sudah disepakati.

Tapi jelas! Berdiam diri ketika ada kesalahan dan kelalaian bukanlah sikap pendukung, apalagi membela mati-matian sebuah ketidakmampuan. Itu hanyalah bentuk feodalisme yang hanya akan memunculkan dan menguatkan tirani, pemimpin yang ‘semau Gue’.

Kalau sudah begitu, rasa sayangmu akan membunuhmu.

Islamisasi Majapahit & Ancaman Pembodohan

Belakangan sering bermunculan lelucon tentang “Gaj Ahmada”, yang ternyata besar kemungkinan dipicu oleh buku “Majapahit Kerajaan Islam.” Ketimbang sebagai lelucon, saya cenderung menilai klaim Majapahit adalah Kerajaan Islam sebagai ancaman yang serius bagi literasi sejarah bangsa, khususnya jika klaim tersebut tidak didukung oleh data dan informasi yang valid serta bukti yang otentik.
 
Ditengah kecerdasan literasi orang Indonesia yang relatif rendah, informasi yang tidak valid atau palsu dan atau menyesatkan bisa diyakini sebagai sebuah kebenaran. Keyakinan itu bisa mengaburkan sejarah, khususnya jika diyakini secara luas.
 
Cermati saja G30S/PKI. Kesaksian para pelaku sejarah cenderung mengesankan bahwa pembunuhan para jendral lebih merupakan tindakan ekstra yudisial sekelompok tentara loyalis Soekarno ketimbang sebuah pemberontakan oleh PKI. Akan tetapi, kita semua tahu apa yang diyakini masyarakat luas kini terhadap G30S/PKI.
 
Bagi saya, penikmat literatur sejarah bangsa, sejarah itu tidak lebih dari pengalaman yang bisa jadi bahan pembelajaran. Tidak terlalu penting sebenarnya. Akan tetapi, pemalsuan atau pembelokkan sejarah bisa jadi masalah besar, ancaman yang sangat serius, jika ternyata memiliki tujuan penciptaan sebuah ideologi atau pemaksaan akan sebuah ide yang tunggal bagi masyarakat yang sangat majemuk seperti Indonesia.
 
Saya tidak tahu sejauh mana motivasi penulis buku “Majapahit Kerajaan Islam”. Jika memang ada hal-hal yang belum atau tidak dilakukan untuk memastikan validitas data dan bukti yang menjadi dasar penulisannya, penulis harus menyampaikan hal tersebut untuk kemudian menyatakan bahwa apa yang dituliskannya tidak lebih dari sebuah ide, bukan literatur sejarah dan tidak dapat dijadikan sebagai sebuah referensi.
 
Saya akan lebih menghargai jika judul bukunya berbunyi “Mungkinkah Majapahit adalah Sebuah Kerajaan Islam?”.
 
Satu hal yang harus diingat jika kita bicara kemungkinan adalah, kita tetap harus mendasarkan proyeksi atau asumsi kita pada data dan fakta serta bukti otentik.
 
Kita bisa melakukan rekayasa untuk mewujudkan ide di masa depan. Tentu saja, rekayasa sejarah bukan termasuk di dalamnya kecuali ide dasarnya adalah pembodohan masyarakat.

Kiamat dan Indonesia yang Usang

Ada satu topik yang dulu sering jadi bahan obrolan dengan teman-teman yang menaruh minat pada spiritualitas. Topik itu adalah “Kiamat”, kapan dan bagaimana terjadinya, apa tanda-tandanya, siapa saja yang bertahan dan siapa yang tidak.

Semakin mendekati tahun 2012, Kiamat semakin sering jadi bahan obrolan. Ya, kiamat dipercaya oleh sebagian orang akan terjadi pada tahun 2012. Setiap ada peristiwa yang menonjol, sebagian dari kami langsung mengaitkan dengan tanda-tanda kiamat. Film Amerika yang berjudul “2012” adalah satu film yang paling ditunggu-tunggu oleh kalangan pemerhati Kiamat. Beberapa teman selepas menonton film itu semakin rajin berdoa dan atau bermeditasi, setidaknya untuk beberapa waktu setelah film itu beredar.

Lima tahun berlalu sudah, dan kiamat yang konon menjadi akhir peradaban manusia, tak kunjung tiba. Siapa yang tahu jika kiamat batal terjadi, tinggal sebentar lagi, atau mungkin baru akan terjadi pada generasi cucu kita atau setelahnya? Pastinya akupun tidak tahu.

Agak berbeda dengan beberapa teman waktu itu, aku tidak kuatir dengan kiamat. Setiap orang pada akhirnya akan mati juga bukan? Aku malah bertanya-tanya jika ada orang yang berharap bisa bertahan hidup setelah kiamat. Yakin?? Jika kiamat memang seperti yang digambarkan dalam 2012, aku pribadi tidak ada hasrat samasekali untuk bisa bertahan darinya. Apes banget bisa bertahan hidup ketika yang lain pada mati.

Tapi memang, tak jarang aku berpikir dan berharap akan tibanya kiamat. Bagiku kiamat adalah keniscayaan dalam proses restorasi, diperlukan dalam sebuah pembenahan, perkembangan.

Bayangkan sebuah rumah yang sudah rapuh. Dindinganya sudah retak, pilar sudah goyah, kerangka atap sudah lapuk. Atau bayangkan jika desain arsitektur rumah jauh dari harapan kita atau kita mengharapkan sebuah rumah yang sangat jauh berbeda dengan rumah yang ada saat ini. Merombak total rumah itu dengan merobohkannya terlebih dahulu adalah sebuah kewajaran. Sangat wajar.

Pikiran akan kiamat semakin sering terlintas di benakku belakangan ini jika melihat situasi dan kondisi Indonesia. Aku melihat Indonesia seperti sebuah rumah yang pondasi, pilar dan dindingnya keropos nan rapuh. Tinggal menunggu waktu sebelum akhirnya roboh. Dan itu bukanlah pengalaman pertama bagi Indonesia.

Sejarah nusantara telah mencatat betapa berbagai kerajaan silih berganti lahir, berkembang dan runtuh. Sebagian besar melalui pemberontakan. Paska kemerdekaan, kita juga telah mengetahui, tidak hanya sekali dua kali saja, pemberontakan terjadi di negeri ini. Melihat situasi dan kondisi saat ini, aku rasa kita kembali tinggal menghitung waktu sebelum kemudian rumah bernama Indonesia ini rubuh sebagaimana kerajaan-kerajaan yang sudah mendahuluinya.

Dalam usianya yang mencapai 72 tahun di tahun 2017 ini, tidak ada keyakinan sedikitpun dalam diriku bahwa Indonesia akan tumbuh menjadi negara yang besar dan kokoh tanpa melewati kiamat, tanpa melewati perombakan yang fundamental, yang mendasar dan besar-besaran. Sama seperti kita tidak mungkin mengharapkan sebuah rumah dapat berdiri kokoh di atas pondasi, dinding dan pilar yang keropos dan rapuh.

Ya, Indonesia telah menjadi rumah yang usang di usianya yang masih belia.

Para pendiri negara ini telah memiliki cita-cita mulia akan Indonesia sebagai sebuah negara yang besar dan kokoh. Mereka menjadi arsitek yang handal yang telah merancang bagaimana rumah yang bernama Indonesia ini berdiri menjadi rumah yang megah dan kokoh bagi seluruh anak bangsa yang sangat beragam, baik dari suku, ras maupun agama dan yang tersebar di ribuan pulau dari Sumatera hingga Papua.

Namun sayangnya, pemimpin Indonesia mulai dari Soekarno dan setelahnya, gagal membangun pondasi yang kokoh bagi rumah Indonesia. Pondasi yang hanya akan kokoh dengan penegakan hukum dan perundang-undangan yang menjamin persamaan hak dan kewajiban bagi setiap anak bangsa, apapun suku, agama dan rasnya serta dimanapun mereka berada. Para pemimpin terlalu toleran dan melakukan pembiaran terhadap tikus, rayap dan jamur yang menggerogoti dan merapuhkan pondasi, dinding dan pilar rumah Indonesia, dalam bentuk korupsi, diskriminasi SARA serta fundamentalisme dan radikalisme.

Pancasila dan UUD 1945 yang mestinya menjadi dasar dan konstitusi negara yang menjiwai kehidupan sehari-hari anak bangsa hanya menjadi slogan semata, yang nyaris tidak ada gaungnya. Mereka seperti plakat visi dan misi yang menempel di dinding-dinding utama perkantoran, terlihat jelas, mudah dibaca, namun hanya sebagai hiasan.

Ya, Indonesia telah menjadi rumah yang usang di usianya yang masih belia.

Ketika masih banyak orang melihat pentingnya memperkuat rasa kebangsaan di tengah situasi dan kondisi yang memprihatinkan saat ini, aku melihatnya tidak ada cara lain untuk sungguh-sungguh memperkuat rasa kebangsaan ini tanpa mempertanyakan kembali konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dan jika perlu, mengubahnya. 

Sederhana saja, jika kita tidak bisa menjalankan suatu aturan secara konsisten, ya sudah, tidak masalah. Ubah saja aturannya menjadi aturan yang bisa kita jalankan secara konsisten.

Apa gunanya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 jika Papua yang kaya raya sumber daya alamnya masih tertinggal dibanding wilayah lainnya di Indonesia? Apa gunanya jika suku, dan atau agama, dan atau ras seorang anak bangsa menjadi pertimbangan apakah ia layak atau tidak layak menjadi seorang pemimpin? Apa gunanya jika pembangunan tempat ibadah dipersulit, lebih sulit ketimbang membangun tempat hiburan dan maksiat? Apa gunanya jika kebencian terhadap anak bangsa yang lain, karena suku atau agama atau ras-nya, dianggap sebagai sebuah kewajaran?

Apa gunanya selain menjadi pembenaran bagi negara untuk memeras sumber daya sebuah wilayah dan atau semua penduduknya?  Adalah kewajiban setiap anak bangsa untuk bersedia diperas sumber dayanya namun  negara tidak berkewajiban untuk memenuhi dan menjamin persamaan hak setiap anak bangsa? Tidakkah itu bentuk penjajahan juga?

Teman-teman..
Kita tidak mungkin bicara tentang rumah yang kokoh tanpa pondasi yang kokoh. Dan kita jangan bicara soal negara yang besar dan kokoh tanpa bicara penegakan hukum, tanpa bicara persamaan hak dan kewajiban seluruh anak bangsa.

Oleh karena itu, bicara Indonesia yang kuat dan kokoh, tidaklah berguna tanpa merestorasi dan jika perlu mendesain ulang Indonesia.

Wilayah Indonesia sepertinya terlalu luas dan penduduknya terlalu beragam bagi konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita juga terlalu luas dan terlalu beragam bagi konsistensi dalam penegakan hukum serta persamaan dalam pemenuhan hak dan kewajiban seluruh anak bangsanya.  

Semakin kemari, semakin kuat kesan bahwa konsep NKRI terlalu dipaksakan.

Kita mengabaikan fakta bahwa kita adalah negara dengan banyak kepulauan dan bahwa kita terlalu beragam.  Kita juga mengabaikan fakta bahwa kita tidak mampu konsisten menerapkan dasar dan konstitusi negara serta menjamin persamaan hak dan kewajiban setiap anak bangsanya.

Apa yang terjadi ketika kita terlalu memaksakan? Kiamat.