Tentang Kelahiran

“Ada 2 hari yang paling penting dalam kehidupan manusia. Pertama adalah hari ketika  ia dilahirkan, dan hari saat ia mengetahui untuk apa ia dilahirkan.” 
~ Mark Twain

 Banyak orang yang bertanya-tanya apa hadiah yang akan mereka terima di hari kelahirannya, di hari ulang tahunnya. Banyak juga yang ragu jika mereka akan menerima hadiah ulang tahun.

Namun, seberapa banyakkah di antara kita yang mencari tahu sejauh mana kita menjadi “hadiah” bagi sesama?  Apakah kelahiran kita memberikan manfaat bagi orang lain?  Untuk apa ia dilahirkan?

Sebaliknya, apakah orang berterima kasih  atas kelahiran seseorang? Si A mengucapkan terima kasih kepada si B di hari ulang tahun si B, bahwa kelahiran dan si B telah memberikan arti bagi kehidupan si A.

Ulang tahun seringkali tidak lebih menjadi momen di mana orang yang berulang tahun mendapatkan dan atau mengharapkan ucapan selamat dan hadiah ulang tahun.  Sesuatu yang menurutku tidaklah esensial. Sesuatu yang jauh dari makna kelahiran seseorang.

Oleh karena itu, menyambut hari kelahiran istriku, Dini Savitri, pada hari Sabtu, 4 Oktober 2014 ini, baiklah aku mengucapkan syukur kepada Tuhan yang telah menghadirkan kamu ke dunia ini. Aku juga berterima kasih atas pendampinganmu selama ini. Atas kesediaanmu menemaniku menyusuri jalanan sunyi ini, dalam suka dan duka, dalam tawa dan tangis. 

Terima kasih, terima kasih dan terima kasih, karena kamu sudah berkenan memberikan bertahun-tahun dari kehidupanmu yang sangat berarti dengan melewati waktu bersamaku.

The Eagle Flies Alone..

Agak lama belakangan ini, kata-kata yang pernah aku dengar dari Almarhum Dr. Riswandha Imawan (1955-2006) itu, sering melintas di benakku. Pak Riswandha semasa hidupnya adalah pengajar Ilmu Pemerintahan FISIPOL UGM Jogja dan penggiat kegiatan alam bebas. Banyak tulisan beliau yang dimuat di surat kabar baik lokal maupun nasional, dan seringkali pada akhir tulisannya dibubuhi: “Kaki Gunung Merapi” untuk menunjukkan dimana beliau menuliskan artikel tersebut sekaligus kecintaannya terhadap alam pegunungan.

Aku tidak mengenal pak Riswandha dengan baik. Ingatanku pada beliau sebatas pada perjumpaanku beberapa kali dengan sosok sederhana itu di tempat parkir motor kampus ketika beliau baru tiba atau hendak meninggalkan kampus dengan motor bebek Honda-nya. Aku bahkan sudah lupa dengan isi tulisan-tulisannya soal politik yang menggelitik dengan bahasa yang mudah aku pahami dan sering memicu tawa namun mencerahkan itu.

Namun ada sebuah kalimat yang pernah beliau lontarkan belasan tahun lalu dan masih aku ingat dengan baik; “The eagle flies alone..”. Kalimat itu sangat merefleksikan pribadi pak Riswandha yang berani mengambil sikap yang berbeda dengan yang lain demi apa yang beliau yakini sebagai sebuah keyakinan. Sekaligus pemahamanan beliau yang menyeluruh atas sesuatu hal. Seperti seekor burung elang yang terbang tinggi di langit dengan pemandangan yang sangat luas di bawahnya.

Keberanian beliau untuk “terbang sendirian” oleh karenanya bagiku menjadi sangat konseptual. Bukan sekedar sebuah sikap pemberontakan, ataupun perlawanan. Lebih dari itu, terbang sendirian menjadi sebuah ujud pemahaman yang menyeluruh. Ia tidak lagi hitam atau putih, ia meliputinya. Bukan lagi siang atau malam, ia adalah sepanjang waktu.

Sang Elang sekaligus menjadi pengingat bagiku, bahwa tidaklah cukup bagiku untuk sekedar memegang prinsip, berani berbeda demi prinsip, sekaligus jalan sendirian di tengah kesunyian karena prinsip yang aku pegang itu. Kodok-pun jalan sendirian bukan? Aku lebih sering melihat kodok melompat-lompat sendirian ketimbang beramai-ramai. Hehehe.

Aahh.. Hati dan pikiranku masih penuh dengan penghakiman. Aku menganggap diriku berbeda hanya karena aku menolak untuk menjadi sama. Pemahamanku tak lebih luas dari ujung kuku hitamku.

Akulah si kodok itu.

Save Your Shit for Yourself

Aku sedang menikmati kesendirianku di sebuah tempat nongkrong ketika kemudian suara bising orang menggeser meja dan kursi menggusur ketenangan. Kulihat seorang pramuniaga tak mau repot-repot mengangkat meja dan kursi kayu, yang enteng, untuk memindahkannya.

Entah apa yang ada di pikirannya. Tidakkah ia menyadari suara yang sangat bising ketika ia hanya sekedar menarik dan mendorong meja dan kursi itu?Apakah dia terlalu tolol? Ataukah dia tidak peduli dan tidak punya empati?

Ataukah ia sengaja melakukannya, untuk mengganggu orang-orang di sekelilingnya? Kenapa? Dia tidak menyukai pekerjaannya? Dia tidak menyukai orang-orang di sekelilingnya?

Ataukah dia sedang ada masalah, dan kemudian mencari pelampiasan dengan menggeser barang-barang sekenanya? Banyak di antara kita yang melakukannya?

Aku menjentikkan batang rokokku di asbak di depanku. Sejenak pandanganku beralih dari asbak ke pramuniaga. Terlintas pikiran yang menggoda untuk melemparkan asbak itu ke si pramuniaga.

Hari ini sudah cukup menguras pikiranku. Kenapa tidak sekalian saja? Ia tidak peduli denganku, kenapa aku harus peduli dengannya? Emang siapa dia? Sedikit keributan sepertinya akan membantu mengalihkan pikiran-pikiran sampah dalam benakku.

Hmmm..

“Mas!”
Aku memanggil si pramuniaga yang segera menoleh ke arahku. “Boleh aku bantu angkat meja dan kursinya? Biar engga berisik”, kataku. Si pramuniaga sejenak terlihat bingung sebelum kemudian dia menyadari alasan aku menawarkan bantuan dan kemudian meminta maaf.

Ketenangan pun kembali menguasai suasana sekelilingku.

Aku kembali sibuk dengan pikiran-pikiranku sendiri. Rasanya semua pikiran itu lebih baik untukku sendiri. Sepenuhnya menyingkirkannya. Aku yang menciptakannya dan aku yang akan menyingkirkannya.

Kebanyakan dari kita mungkin lebih suka menyebar sampah. Masalah atau pikiran yang tidak nyaman hinggap di benak kita dan lalu mempengaruhi sikap dan tindakan kita pada orang lain. Kita menjadi teramat sensitif atau kemudian suka melampiaskan ketidaknyamanan kepada orang lain.

Kita yang bermasalah, orang lain kena getah. Kebayang engga sih? Kamu lagi kesel, trus kamu nyeret-nyeret meja kursi atau banting pintu sekeras mungkin dan sebising mungkin, atau segala bentuk pelampiasan lainnya?

Cari perhatian banget sih?
Mau dilempar asbak?

Hampa dan Hambar

Mendadak aku merasakan kehampaan yang teramat sangat. Tak tahu pasti apa penyebabnya. In a suddent, aku merasa sangat letih dan segala hal yang aku lakukan tiada gunanya, tak berarti. Ada perasaan yang kuat bahwa aku sedang mengejar sesuatu yang samasekali tak penting bagiku.

Hampa.
Hambar.

Pernahkah kamu mengalami hal yang sama Bro? Apa yang lalu kamu lakukan?
Sudah sangat lama lalu aku merasakan hal ini. Hal yang selalu membuatku kembali mempertanyakan makna sesungguhnya kehidupan. Hal yang selalu membuatku merasa bahwa sebelum makna sesungguhnya itu aku dapatkan, maka segala sesuatunya adalah sia-sia dan oleh karenanya apa gunanya aku melakukan satu halpun?

Sekedar mengisi dan membuang waktu.

Tidakkah itu yang dilakukan oleh kebanyakan dari kita?
Kita merasa harus melakukan sesuatu demi sesuatu, tapi sesungguhnya kita hanya sekedar mengisi dan membuang waktu.
Aku teringat pada satu masa ketika aku sudah letih mencari, dan kemudian menetapkan hal lain yang jauh lebih sederhana sebagai sesuatu hal yang mesti aku capai agar hidupku menjadi lebih bermakna.

Apakah makna sungguh bisa didapatkan melalui kesederhanaan?
Atau sebaliknya, makna hadir dalam kompleksitas?
Sungguh sebuah absurditas.

TERUS ATAU PUTAR HALUAN?

Aku mendadak teringat pendakian Gunung Sindoro (3.155 mdpl), Temanggung, Jawa Tengah sekitar tahun 1995 lalu. Pendakian itu aku lakukan berdua bersama Sonson Baroto, seorang seniorku di organisasi pecinta alam FISIPOL UGM.

Cuaca yang bersahabat dan menyenangkan saat kami mengawali pendakian, berubah drastis menjadi hujan badai ketika kami mulai mendekati puncak.

Aku masih ingat, betapa angin bertiup sangat kencang. Begitu kencang hingga setiap kali aku pipis, air seni-ku beterbangan kemana-mana.

Hujan dan angin kencang terus menemani kami hingga saat kami mencapai dan meninggalkan puncak Sindoro untuk kembali turun sekitar tengah hari.

Kami memutuskan untuk terus berjalan agar sebelum matahari terbenam, kami sudah tiba di desa awal pendakian. Tidak butuh waktu lama sebelum kekuatan fisik dan mentalku mulai turun drastis.

Baju yang tetap basah kuyup meski aku mengenakan mantel, hawa dingin yang mengerutkan kulit dan jalan tanah setapak yang licin, yang membuatku berulang kali terpeleset jatuh dan terbanting. Samasekali bukan pendakian yang menyenangkanku.

Kami terus berjalan tertatih – tatih dan sesekali mengaduh dan mengumpat saat terpeleset jatuh. Hingga kemudian aku terkaget – kaget ketika kami mendapati diri berada di pinggir tebing yang curam.

Sebentar kemudian kami menyadari kami sudah keluar jalur. Rasanya campur aduk saat aku melihat ke belakang, dan mataku menyusuri jalan setapak yang membawa kami ke tempat itu.

Rasa letih membuat kami tidak menyadari kami keluar jalur untuk kemudian mengikuti jalan setapak atau lebih tepatnya “selokan” air hujan yang curam. Rasa geram, kecewa, letih bercampur jadi satu ketika menyadari pilihannya adalah kembali mendaki ke atas untuk kembali ke jalur yang benar atau nekad menuruni jalur air yang lumayan curam.

Untuk pilihan terakhir pastinya kami mesti “buka jalur”, menyusuri jalur yang belum pernah dilalui dan tidak diketahui kemana ujungnya. Keenggananku untuk kembali ke atas sempat membuat kami berdua berdebat, ketika seniorku beranggapan dalam kondisi tersebut jauh lebih baik dan lebih aman jika kami kembali ke atas untuk menemukan jalur yang benar.

“Halah, nanggung, dah telanjur juga. Mending terusin aja ke bawah, serong ke kiri, paling ketemu lagi ama jalur yang tadi,” demikianlah aku bersikukuh.

Aku ingat, bukan karena pilihanku masuk akal dan lebih baik yang membuat aku ngotot, melainkan karena aku sudah mulai tidak peduli. Aku tidak peduli lagi akan resiko yang jauh lebih besar jika kami meneruskan ketersesatan itu.

Aku sudah merasa sangat letih dan aku terlalu sombong mengakui jika aku sudah lemah, secara mental, untuk kembali mengeluarkan tenaga lagi untuk kembali berjalan ke atas, kembali ke jalur yang benar.

Tidakkah banyak di antara kita yang seperti itu? Kita sudah melakukan banyak hal, menghabiskan banyak waktu, tenaga dan pikiran untuk mencapai sebuah tujuan dengan sebuah cara atau jalan yang kita pilih.

Sedemikian banyak yang sudah dikorbankan, kita menjadi sulit menerima kenyataan bahwa kita telah salah mengambil keputusan atau pilihan.

“Sudah kepalang basah, berenang sekalian,” demikianlah apa yang akan dilakukan oleh kebanyakan dari kita.

Kita lupa bahwa tidak peduli seberapa jauh, seberapa letih kita telah berjalan, tapi jika itu tidak membawa kita ke tujuan,ya kita harus mau putar haluan. Tapi kembali, kebanyakan dari kita mungkin akan terus berjalan. Beberapa karena berkeyakinan akan: banyak jalan menuju ke Roma, beberapa lainnya karena alasan yang absurd.

Hmm.. Jika waktu itu aku tetap ngotot untuk keluar jalur, mungkin saat ini aku tidak bisa lagi mengingatkan kalian untuk: “Demi sebuah tujuan, jika kita sadar bahwa kita telah salah mengambil keputusan, tak peduli seberapa jauh kita sudah melangkah, baiklah kita kembali ke jalur yang benar.”

Saya bukanlah Pemimpin yang Baik

Saya bukanlah pemimpin yang baik, karena:

1. Saya tidak tahu apa tujuan yang ingin dicapai. Itu seperti nahkoda kapal yang tidak tahu hendak kemana.

2. Saya tidak tahu apa- apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, siapa yang harus saya libatkan dan apa-apa saja peran mereka, serta dalam jangka berapa lama setiap tahapan yang harus dilalui untuk mencapai sebuah tujuan.

3. Pun saya tahu, tapi saya tidak cukup kemauan untuk mewujudkan dan menjalankan hal – hal yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan itu.

4. Saya tidak cukup punya integritas; kesatuan dan keselarasan antara pikiran, ucapan dan tindakan.

Saya bukan orang yang jujur, dan oleh karenanya, orang tidak bisa mengharapkan saya akan melakukan apa yang persis seperti yang saya ucapkan.

5. Saya bukan orang yang bisa menjadi teladan yang baik bagi orang lain. Dunia akan semakin kacau jika setiap orang melakukan apa yang saya lakukan. Saya hanya bisa menyuruh dan memerintah.

6. Saya tidak peduli dengan orang lain, dan saya juga tidak memiliki empati terhadap orang lain.

Hal terpenting bagi saya adalah mendapatkan apa yang saya mau dengan cara apapun, termasuk jika saya harus melangkahi hak – hak orang lain.

Oleh karenanya, saya juga bukan pendengar yang baik. Orang lain yang harus mendengarkan saya. Bukan sebaliknya!

7. Saya tidak bisa membuat orang lain melakukan apa yang saya inginkan selain karena kekuatan dan kekuasaan yang saya miliki. Saya tidak cukup komunikatif dan inspiratif untuk membuat orang lain antusias mengusung nilai – nilai yang sama dan melakukan hal – hal yang saya kehendaki.

8. Saya tidak bisa meyakinkan orang lain untuk mencapai sebuah tujuan; kenapa mereka harus mencapai tujuan itu,untuk kemudian bersama – sama, secara selaras bersinergi mencapai sebuah tujuan.

9. Saya tidak tahu siapa yang sebaiknya melakukan apa untuk mencapai sebuah tujuan.

10. Saya juga tidak bisa memberikan motivasi dan semangat bagi yang lain agar tetap optimal dalam pencapaian sebuah tujuan. Saya tidak cukup bisa mengapresiasi pencapaian orang lain.

11. Saya menolak untuk turut bertanggung jawab atas kesalahan dan atau kegagalan orang – orang yang saya pimpin. Saya juga enggan terlibat dalam atau mengikuti sebuah proses untuk meminimalisir terjadinya kesalahan atau kegagalan.

Dengan demikian, jika terjadi kesalahan atau kegagalan, itu bukanlah tanggung jawab saya.

Saya juga hanya bisa menyalahkan orang lain tanpa kemudian mencarikan jalan pemecahan atas sebuah permasalahan.

12. Saya tidak cukup peduli dengan perkembangan orang lain. Perkembangan pengetahuan, kemampuan serta kemauan orang lain bisa menjadi ancaman bagi saya.
Selama mereka mau tunduk pada kehendak saya, tak masalah jika selamanya mereka bodoh.

13. Saya menolak tanggung jawab seorang pemimpin untuk menyiapkan pemimpin selanjutnya. Jika penerus saya gagal, itu semata – mata karena ketidakmampuannya.

Kebisingan Dalam Diri

Kemarin dalam perjalanan menuju kantor seorang klien, mobil yang aku tumpangi nyaris ditabrak mobil lain. Salah kami benernya. Waktu itu di Bundaran Hotel Indonesia aku kurang jelas menunjukkan arah pada teman yang nyetir mobil. Dia lalu salah ambil lajur hingga harus dadakan berpindah lajur dan lalu mengagetkan pengemudi mobil di belakang kami. Si pengemudi yang jengkel kemudian menyalip dan memepet kami. Aku lalu membuka jendela dan melambaikan tangan sembari meminta maaf.

Tampak jelas si pengemudi itu sangat marah. Dibalik jendela yang tertutup rapat, wajah yang menegang, mata terlihat melotot, jarinya menuding-nuding ke arah kami, mulutnya terlihat komat – kamit.

Mulutnya komat – kamit? Aku tahu dia sedang berteriak – teriak. Penuh caci maki dan angkara murka mungkin. Namun, tidak sedikitpun suara yang terdengar dari balik jendela mobil yang tertutup rapat itu. Aku samasekali tidak menangkap pesan yang ia sampaikan selain dari ekspresi yang ia tunjukkan. Kenapa dia tidak membuka jendelanya untuk menyampaikan pesannya? Tidakkah ia ditelan kebisingannya sendiri?

Sejenak aku dalam situasi yang canggung antara merasa menyesal tapi juga ingin tertawa melihatnya. Aku seperti melihat adegan film bisu dimana para pemirsa hanya bisa menangkap pesan dari bahasa tubuh dan ekspresi wajah para pemainnya atau seperti ikan dalam akuarium dengan mulut yang komat – kamit.

Hal yang terjadi berikutnya setelah si pengemudi melanjutkan perjalanannya adalah kami menjadikan peristiwa dan khususnya tindakan dan ekspresi si pengemudi yang marah marah di balik jendela yang tertutup rapat sebagai bahan candaan dan bahan tertawaan.

Rasa menyesal berubah dalam sekejap menjadi rasa suka cita penuh kegirangan. Kami mengulangi ekspresi si pengemudi, menggerak – gerakkan bibir kami, seperti ikan di dalam akuarium; komat – kamit dalam kebisuan. Kami-pun tertawa terbahak – bahak melihat ekspresi kami masing – masing. Akupun langsung lupa bahwa saat itu aku nyaris membuat celaka orang.

Pagi ini aku mengenang kembali peristiwa itu. Selain mengingatkan diri untuk lebih berhati – hati dalam mengemudi dan lebih berempati, aku juga bertanya pada diri sendiri; seberapa seringkah aku “berteriak – teriak di balik jendela mobil yang tertutup rapat?”

Seberapa seringkah aku menjadi si pengemudi yang diliputi amarah itu?
Seberapa sering aku memilih untuk berteriak – teriak di dalam diri, membiarkan semua sel dalam diriku merasakan dan merekam semua kemarahanku?

Dalam hal itu, jika aku tidak bisa menetralisir emosi negatif, aku akan memilih untuk melepaskannya keluar ketimbang membiarkan emosi negatif itu menciptakan kebisingan dalam diri.