Hidup adalah di Sini & Saat ini

Kita tidak pernah tahu apa sesungguhnya tujuan kehidupan manusia. Kebanyakan berasumsi tujuan kehidupan adalah seperti yang ada tertulis dalam kitab-kitab, yang bahkan penulisnya belum pernah melihat langsung apa yg terjadi setelah kematian.

Ada suatu masa yang sepertinya masih berlangsung hingga kini, dimana manusia terlalu kuatir akan kehidupan setelah kematian. Demikian gagasan akan kehidupan paska kematian menjadi dasar reward & punishment dalam literatur-literatur yang diklaim sebagai pesan dari Ia yang menciptakan dan yang memiliki kehidupan.

Adalah konyol dan menyedihkan, saat ini gagasan akan kehidupan setelah kematian, gagasan akan surga neraka yg semula dimaksudkan untuk mengatur kehidupan manusia, menjadi salah satu penyebab utama kekacauan di atas muka bumi.

Lebih menyedihkan lagi, kebanyakan manusia masih mempertahankan keberadaan sumber kekacauan itu.

Tidakkah manusia menyadari tiada yang lebih mendekati kebenaran bahwa salah satu tujuan keberadaan manusia adalah menjaga keberlangsungan eksistensi manusia itu sendiri?

Itu berarti apa-apa yang dilakukan oleh manusia mesti selaras dengan tujuan itu: menjaga dan merawat lingkungan hidup yang menjadi sumber penghidupan, menjaga keharmonisan dan ketertiban masyarakat, mendidik dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia serta kemampuan untuk menghadapi dan mengatasi tantangan dengan tetap berorientasi pada kelangsungan eksistensi manusia.

Jika kita sungguh peduli pada kehidupan dan eksistensi manusia, maka bangunlah, dan hiduplah “saat ini” dan “di sini”.

Itu adalah tindakan nyata kita sebagai rasa syukur dan puja kita kepada Ia yg telah menciptakan manusia. Sesederhana jika kita menerima pemberian dari seseorang, tidak ada yang lebih mencerminkan rasa terima kasih kita selain dengan merawat pemberian itu.

Selamat menghidupi kehidupan ini.

Kamu Beragama? Kamu “Baik”?

Sejak masih remaja, aku tidak cukup punya keberanian untuk menyebut diri sebagai orang yang beragama. Setiap kali ditanya ama orang, “Apa agamamu?” Bayangan Ibu-ku langsung terlintas di benakku.

Sosok yang tidak saja rajin dan rutin beribadah, tapi juga penuh welas asih, rendah hati dan penuh pengabdian yang tulus kepada keluarga dan masyarakat. Setiap orang yang mengenal Ibu, aku yakin pasti memiliki pandangan yang sangat positif kepada beliau. Demikianlah menurutku semestinya orang beragama.

Bayangan akan Ibu langsung membuat bibirku bergetar karena takut dan malu untuk menyebutkan agamaku. Tentu saja karena aku tahu sikap dan tindakanku masih jauh dari orang yang beragama, dan beriman, seperti Ibuku.

Biasanya aku hanya cukup punya nyali dan keyakinan untuk menjawab: “Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.” Aku tidak tahu apakah jawaban itu bisa diterima oleh malaikat maut saat menjemputku, tapi setidaknya, itu satu-satunya jawaban yang membuatku tidak merasa munafik.

Lebih dari itu, aku juga percaya, bukan agama yang akan menyelamatkanmu dalam kehidupan ini, melainkan tindakanmu. Semua penganut agama yang aku jumpai, akan menjawab bahwa agamanya mengajarkan welas asih, mengajarkan kebaikan.

Tentu saja aku percaya setiap agama semestinya mengajarkan kebaikan. Aku hanya tidak percaya seseorang mengaku beragama jika dia sendiri tidak “mengajarkan” kebaikan.

Dia sebaiknya jadi muridku saja. Siapapun.

Apa Tujuan Hidup-mu?

My friends, banyak loh diantara kita yang belum tau untuk apa tujuan hidup ini? Pun aku pernah mengalaminya. Belasan tahun aku menjalani meditasi, berpuasa dan berpantang, ziarah ke makam leluhur, berendam di telaga selepas tengah malam hingga dini hari demi mencari jati diri dan tujuan hidup sejati.

Pun akhirnya, kutetapkan bahwa tujuan hidupku adalah memastikan kemandirian anak-anakku sebagai pribadi-pribadi yang sehat, kuat, cerdas, ceria, pemberani dan berbudi luhur dengan menjalankan sebaik-baiknya peranku sebagai orang tua, karyawan serta warga masyarakat dan bangsa Indonesia.

Samasekali mungkin bukanlah tujuan hidup yang aku harapkan akan aku dapatkan melalui serangkaian lelaku di masa lalu. Pun kalau aku menunggu dari hasil lelaku, bisa jadi hingga saat ini aku takkan jua mendapatkan petunjuk akan tujuan hidupku, dan itu berarti aku sama saja dengan sekian tahun jalan mondar-mandir tak tahu hendak kemana.

Banyak orang yang tidak tahu apa tujuan hidupnya, atau sebaliknya menetapkan tujuan hidup yang fantastis. Aku pribadi lebih baik punya tujuan hidup yang fantastis ketimbang tidak punya tujuan hidup samasekali.

Imagine a Life without A Purpose, bayangkan hidup tanpa tujuan. Samasaja dengan kita berdiri di sebuah terminal bis, tapi kita hanya bisa melihat bis-bis hilir mudik di hadapan kita dan tak tahu mana yang hendak kita pilih. Begitu menyedihkan..

Jika menetapkan sebuah tujuan menjadi hal yang sangat sulit bagimu, mulai-lah dengan menyadari peran yang bisa kamu jalankan saat ini dengan menyadari pengetahuan dan kemampuanmu. Inilah yang akhirnya aku lakukan.

Sebagai orang tua, aku berperan dan bertanggung jawab mendidik dan mengembangkan anak-anakku agar di kemudian hari, anak-anakku dapat secara mandiri menghadapi dan mengatasi tantangan kehidupan.

Sebagai seorang profesional, aku berperan mengoptimalkan pengetahuan dan kemampuanku untuk mendorong perkembangan perusahaan dimana aku bekerja. Menjadi solusi dan bukannya permasalahan. Memastikan tumbuh kembangnya perusahaan yang menghidupi aku dan keluargaku.

Sebagai seorang warga masyarakat dan warga negara, pun aku berperan untuk tumbuh kembangnya masyarakat dan negara-ku. Mendarmabaktikan pengetahuan dan kemampuanku bagi masyarakat, bangsa dan negaraku. Kembali, menjadi solusi dan bukannya masalah apalagi sampah masyarakat.

Apalagi? Tidak usah banyak-banyak.. Tiga hal tersebut di atas pun belum pula aku jalankan secara maksimal, tapi paling tidak, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Bagaimana dengan kamu?

My friends, ketika setiap orang sudah menetapkan tujuan hidup, selanjutnya yang dibutuhkan adalah tuntunan hidup. Semacam panduan bagaimana kita bisa menjalani hidup sehari-hari untuk mencapai tujuan hidup yang sudah kita tetapkan.

Beberapa orang menggunakan agama sebagai tuntunan moral dan perilaku. Bagaimana dengan aku? Well, to be honest, aku menjadikan Nilai-nilai Keutamaan perusahaan tempatku bekerja sebagai tuntunan hidupku, yaitu:

1. Caring, Peduli terhadap Sesama.
2. Credible, Jujur dan terpercaya
3. Competent, ber-Pengetahuan, ber-Kemampuan, ber-Kemauan.
4. Competitive, ber-Daya Saing, lebih baik dari waktu ke waktu
5. Customer Delight, peduli dan mewujudkan Kebahagiaan Pelanggan.

Sederhana sekali bukan? But trust me, aku-pun belum maksimal dalam menjalankan, pun demikian dengan sebagian besar orang-orang di lingkungan pekerjaanku.
Boleh percaya, boleh tidak, masih banyak juga yang belum hapal Nilai-nilai Keutamaan tersebut. Buatku sederhana, kalau tahu saja tidak, bagaimana akan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari?

Lain jika aku sudah memahami dan menyadari, namun tak jua menerapkannya, maka itu sama saja dengan manusia bebal.
Aku punya pemahaman, jika nilai-nilai keutamaan itu mampu sepenuhnya menjiwai Sikapku, setiap pikiran, ucapan, tindakanku, maka aku rasa pencapaian tujuan hidupku hanya masalah waktu semata.

Jadi, sadari peran yang bisa kamu jalankan dan tetapkanlah tujuan hidupmu. Tetapkanlah pula, acuan-acuan yang akan menjadi peganganmu dalam mencapai tujuanmu. Apapun peganganmu, tak jadi masalah, selama kamu bisa memastikan keselarasan antara acuan-acuan tersebut dengan tujuan hidupmu.