Kamu Beragama? Kamu “Baik”?

Sejak masih remaja, aku tidak cukup punya keberanian untuk menyebut diri sebagai orang yang beragama. Setiap kali ditanya ama orang, “Apa agamamu?” Bayangan Ibu-ku langsung terlintas di benakku.

Sosok yang tidak saja rajin dan rutin beribadah, tapi juga penuh welas asih, rendah hati dan penuh pengabdian yang tulus kepada keluarga dan masyarakat. Setiap orang yang mengenal Ibu, aku yakin pasti memiliki pandangan yang sangat positif kepada beliau. Demikianlah menurutku semestinya orang beragama.

Bayangan akan Ibu langsung membuat bibirku bergetar karena takut dan malu untuk menyebutkan agamaku. Tentu saja karena aku tahu sikap dan tindakanku masih jauh dari orang yang beragama, dan beriman, seperti Ibuku.

Biasanya aku hanya cukup punya nyali dan keyakinan untuk menjawab: “Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.” Aku tidak tahu apakah jawaban itu bisa diterima oleh malaikat maut saat menjemputku, tapi setidaknya, itu satu-satunya jawaban yang membuatku tidak merasa munafik.

Lebih dari itu, aku juga percaya, bukan agama yang akan menyelamatkanmu dalam kehidupan ini, melainkan tindakanmu. Semua penganut agama yang aku jumpai, akan menjawab bahwa agamanya mengajarkan welas asih, mengajarkan kebaikan.

Tentu saja aku percaya setiap agama semestinya mengajarkan kebaikan. Aku hanya tidak percaya seseorang mengaku beragama jika dia sendiri tidak “mengajarkan” kebaikan.

Dia sebaiknya jadi muridku saja. Siapapun.

Gajah itu Bulat..

Beruntung sekali waktu konser Guns N Roses tanggal 16 Desember lalu kita dapat posisi di Tribun. Meski tentu saja mengingat tiket yang aku dan istriku pegang adalah tiket kelas Festival B yang harganya paling rendah, lokasi kami paling jauh dari panggung, tapi penonton kelas itu mendapatkan kursi. Berbeda dengan kelas VIP dan kelas Festival A yang penontonnya sangat berdesak-desakan dan harus terus berdiri (atau keluar dari kerumunan dan duduk di atas lantai), kami, para penonton kelas Kambing, bisa duduk di atas kursi yang nyaman.

Lebih dari itu, kami bisa mengamati panggung secara keseluruhan, dari sudut ke sudut, keseluruhan tata pencahayaannya, keramaian penontonnya dan performance masing-masing personil GNR dengan sangat jelas melalui layar lebar di atas kami. Permainan piano Axl Rose saat menyanyikan lagu “November Rain” pun terlihat dengan jelas melalui layar itu. Aku jadi merasa sangat menikmati konser GNR itu karena aku bisa melihat konser itu secara keseluruhan.

"From A Distance" Seorang penonton tengah mengamati panggung konser GNR di Ancol, Jakarta, 16 Desember 2012.

“From A Distance” Seorang penonton tengah mengamati panggung konser GNR di Ancol, Jakarta, 16 Desember 2012.

Aku tidak ingin cerita lebih panjang soal konser GNR. Konser itu hanya mengingatkan aku bahwasannya untuk memahami sesuatu aku harus memahami keseluruhan faktor-faktor yang terkait. Aku jadi ingat ketika menjalani penugasan dan harus mencapai target. Ketika kami harus memahami kenapa sebuah target bisa tercapai atau sebaliknya, tidak tercapai.

Sebuah pencapaian target menuntut terpenuhinya beberapa faktor; internal dan eksternal, yang masing-masing-masing bisa saling berpengaruh satu sama lain. Dari sisi internal, bagaimana kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusianya, timing? Bagaimana produknya itu sendiri; Kualitasnya, cita rasa, harga, penyajian, kemasannya, distribusinya, promosinya, paska penjualannya? Sementara dari kondisi eksternal, bagaimana dengan pasarnya, persaingannya, kondisi industri, kondisi perekonomian nasional dan atau global? Mungkin masih banyak lagi faktor-faktor yang harus dicermati untuk mengevaluasi pencapaian sebuah target.

Keberhasilan untuk mencermati keseluruhan faktor-faktor yang berperan dalam sebuah peristiwa akan menghadirkan pemahaman kenapa sebuah hal bisa terjadi, sekaligus apa-apa saja yang harus kita lakukan untuk menyikapinya.  Sebaliknya, kegagalan untuk mencermati keseluruhan faktor tersebut besar kemungkinan akan menyebabkan kekeliruan dalam memahami sebuah peristiwa sekaligus kekeliruan dalam menyikapinya.

Sama seperti beberapa orang yang berusaha memahami bentuk dan ukuran gajah tanpa melihat dan hanya memegang bagian-bagian tertentu dari gajah itu saja. Jangan heran ada yang bilang gajah itu bulat karena yang dipegang adalah buah zakar-nya.

Cak Basuki yang Menyebalkan & Mengagumkan

Sudah sekitar 2 bulan aku meninggalkan Surabaya, tempatku bertugas selama sekitar 4,5 tahun. Salah satu hal yang sangat mengesankan dan aku syukuri dari penugasan itu adalah aku berkesempatan untuk mengenal secara pribadi dan bekerjasama dengan pribadi-pribadi yang istimewa di lingkungan Sonora FM Surabaya.

Salah satunya adalah Florianus Untung Basuki, atau akrab dipanggil Cak Bas. Aku sendiri biasa memanggil beliau dengan “Mas Ukky”. Usianya sekitar 40 tahunan, bertubuh tambun dengan tinggi sekitar 160-165 cm, berkulit hitam dan berjambang. Kalau kulitnya lebih putih, aku pasti akan menduganya sebagai Saudara-nya Elvis Presley.

Selain rekan kerja, Mas Ukky adalah teman sesama perokok (aku sering ngurangin rokoknya), teman berdiskusi dan berdebat serta bertengkar. Yup! Bertengkar. Teman-teman di Sonora Surabaya sudah terbiasa melihat pertengkaran kami, beradu mulut dengan nada tinggi seakan-akan sudah siap menghajar satu sama lain. Bisa dibilang tiada hari tanpa kami saling meledek dan beradu mulut. Apalagi kalau sudah menjelang pelaksanaan event dimana kami harus berkomunikasi secara intens. Ada saja perbedaan pandangan dan pendapat yang berujung pada adu mulut. Waah.. Beneran kayak anjing sama kucing.

Tapi Bro.. Jangan salah. Aku tidak tahu dengan beliau, tapi aku sendiri selalu berasa ada yang hilang jika satu hari tidak ketemu ama orang satu itu. Selain, pasangan debat, aku harus juga akui beliau adalah teman yang diskusi yang menyenangkan. Pengetahuan dan cara pandangnya seringkali mengejutkanku dan membuatku kagum.

Selain itu, jika kami berdebat hebat dan beradu mulut sengit, semua itu kami, mas Ukky dan aku, sadari sebagai sebuah proses untuk mendapatkan solusi dengan menguji sedemikian rupa setiap alternatifnya. Perdebatan semata-mata hanyalah untuk menguji kelayakan setiap alternatif solusi yang kami masing-masing kemukakan. So, setelah solusi ditemukan, kedamaian segera meliputi kami dan kami kembali bercanda seperti biasa.

Mas Ukky hanyalah lulusan SMA, namun, sejak mengenal beliau dan beberapa teman di Surabaya yang juga hanya lulusan SMA & STM, insyaallah, latar belakang pendidikan seseorang menjadi hal yang tidak signifikan bagiku. Oiya Bro, sebaliknya malah, kamu akan kecewa jika mengharapkan sesuatu dari seseorang mengacu pada latar belakang pendidikannya semata.

Mas Ukky awalnya bertugas di bagian rumah tangga Sonora Surabaya. Awalnya, tugas-tugas sehari-hari Mas Ukky adalah membersihkan ruangan kantor, menyiapkan minuman, menerima tamu, mengantar surat dan tugas-tugas umum rumah tangga lainnya. Oiya, kalau ada kerusakan infrastruktur dan peralatan kantor: atap bocor, AC dan genset ngadat, air mampet, keramik lantai pecah, beliau juga-lah yang juga akan membantu mengatasi.

Kecanduan kami pada rokok menjadikan kami sering bertemu di waktu senggang pada jam istirahat atau selepas jam kantor. Biasanya kita merokok bareng di sebuah meja bundar di halaman parkir belakang Sonora Surabaya. Dalam kesempatan itu, kita sering bercerita dan berdiskusi satu sama lain menyangkut bermacam-macam hal. Mulai dari pengalaman masa kecil hingga soal pekerjaan.  Salah satu hal yang sering diceritakan Mas Ukky adalah pengalamannya di organisasi kepemudaan keagamaan tempat dia berkiprah di luar kantor. Hal-hal yang dia jumpai, masalah-masalah yang dia temui dan coba atasi, orang-orang dengan siapa dia bekerjasama dan sebagainya.

Tidak butuh waktu lama bagiku untuk menyadari kemampuannya di bidang organisasi, dan akhirnya, dengan pertimbangan matang, aku mempercayakan penyelenggaraan Sarasehan Nasional Spiritual Indonesia di Surabaya menjelang akhir tahun 2009. Sebuah kegiatan yang mempertemukan anggota sebuah milis yang menaruh perhatian dan minat pada spiritualitas dan datang dari “Sabang hingga Merauke”. Jelas, sebuah kegiatan yang skalanya jauh lebih besar daripada pertemuan RT dan organisasi kepemudaan keagamaan yang biasa diikuti.

Aku masih ingat ada salah satu teman yang mempertanyakan sekaligus mencibir keputusanku untuk menunjuk Mas Ukky sebagai Ketua Panitia Sarasehan Nasional tersebut. But you know what Bro? Sesuai dengan dugaan dan harapanku, kegiatan berlangsung dengan baik dan lancar. Salah satunya berkat kemampuan Mas Ukky mengkoordinir rekan-rekan satu timnya dalam mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan.

Sejak saat itu, tidak terhitung lagi kegiatan-kegiatan Sonora Surabaya yang berlangsung dengan lancar dibawah kordinasi Mas Ukky, hingga kemudian, beliau dalam hubungan eksternal Sonora Surabaya bertindak sebagai Event Coordinator. Event terakhir yang menjadi tanggung jawabnya (saat tulisan ini dibuat) adalah nonton bareng Final Sepakbola Indonesia VS Malaysia akhir November 2011 lalu.

Aku ingat waktu itu, sekitar jam makan siang, aku kembali lagi ngobrol santai dengan Mas Ukky di Meja Bundar, bicara soal bagaimana Timnas Indonesia berhasil masuk ke babak final Sepakbola di arena Sea Games. Semula kita tidak, dan terutama aku, tidak menduga kalau Indonesia bakal lolos. Diskusi itu akhirnya memunculkan gagasan untuk menyelenggarakan even Nonton Bareng yang AKAN BERLANGSUNG SEKITAR 6 JAM LAGI (sekitar 4 jam efektif). Akhirnya, even itu menjadi even yang terselenggara dengan baik dengan persiapan yang teramat singkat dan dihadiri oleh lebih dari 1000 penonton.

Keberhasilan penyelenggaraan even tersebut dan even-even Sonora Surabaya sebelumnya jelas merupakan keberhasilan tim. Tapi Bro, kamu juga mesti pahami, keberhasilan itu berawal dari kesediaan Mas Ukky untuk menerima tantangan dan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya. Semua keberhasilan, selalu berawal dari kesediaan bagi kita untuk menerima sebuah tantangan dan tanggung jawab serta memenuhinya sebaik mungkin.

Aku tidak tahu apakah aku akan berkesempatan untuk berjumpa dan bekerja sama lagi dengan Mas Ukky.  Tuhan tahu aku akan selalu mengingat dan merindukannya. Semoga Tuhan selalu melimpahkan Keselamatan, Kesejahteraan dan Kebijaksanaan baginya sekeluarga. Amin!

Cak Basuki : Jangan pernah menilai seseorang dari penampilannya