Aku Biarkan Anakku Menempuh Jalan Sunyi

“I do not live for what the heaven thinks of me but for what i think of my self. I shall then live a life of a freeman.”

Anak-anak saya menikmati sepenuhnya “kebebasan beragama” di lingkungan rumah. Ibadah dan belajar agama bukanlah kewajiban yang saya tuntut dari mereka.

Jauh lebih penting bagi saya adalah pendidikan moral dan humanisme bagi anak-anak saya. Itulah pendidikan yang akan membentuk seorang manusia menjadi manusia sesungguhnya, IMHO.

Saya tidak terganggu dengan kemungkinan mereka akan tumbuh menjadi manusia yang beragama sebatas tersebut di KTP. Sebaliknya, saya akan sangat terganggu dan sangat sedih jika mereka tumbuh menjadi manusia yang tidak cukup berkemanusiaan.

Sama seperti yang ditunjukkan oleh sebagian umat manusia saat ini: mengaku beragama tapi tidak cukup berkemanusiaan. Sialnya lagi jika seseorang tidak cukup berkemanusiaan karena mengacu pada apa yang tertulis di kitab sucinya.

Tidak tertutup kemungkinan jika anak-anak saya nantinya akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan dalam diri mereka tentang eksistensi manusia dan tuhan. Itupun saya juga alami dulu.

Dan sebagaimana yang saya jalani, saya akan biarkan anak-anak saya mencari jawabannya sendiri. Toh, pilihan-pilihannya banyak “tersedia di pasaran”. Ada yang jawaban ala agama, ala ilmu pengetahuan, bahkan ada juga juga jawaban ala diri sendiri.

Apapun jawaban yang dipilih, tidak akan menjadi masalah selama anak-anak saya sudah memiliki nalar dan nurani untuk memilih dan memilah jawaban yang paling tepat untuk dirinya. Bahkan termasuk jika dia tidak mendapatkan jawaban yang pas dari yang tersedia di pasaran, atau malah samasekali tidak berusaha mencari.

Saya yang sudah siap menyongsong usia senja-pun belum menemukan jawaban yang paling pas di sanubari. Saya sudah lama lepas dari kegelisahan dalam proses pencarian Tuhan.

Kebebasan dan kemandirian dalam berpikir jauh lebih bernilai ketimbang menemukan jawaban-jawaban yang tidak terlalu relevan dalam peningkatan kualitas kehidupan manusia.

Bahwa dengan kebebasan dan kemandirian dalam berpikir menjadikan anak-anak saya berbeda dengan anak-anak yang lain pada umumnya? Hmmm.. Saya tidak pernah berpikir bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi seragam.

Bagaimanapun juga keberanian sesungguhnya adalah kemauan dan kemampuan untuk menempuh jalan sunyi. Jalan yang jarang dilewati. Bisa jadi dan sangat mungkin, kebenaran Ilahi tersembunyi di jalan sepi itu.

 

Advertisements

Kamu Beragama? Kamu “Baik”?

Sejak masih remaja, aku tidak cukup punya keberanian untuk menyebut diri sebagai orang yang beragama. Setiap kali ditanya ama orang, “Apa agamamu?” Bayangan Ibu-ku langsung terlintas di benakku.

Sosok yang tidak saja rajin dan rutin beribadah, tapi juga penuh welas asih, rendah hati dan penuh pengabdian yang tulus kepada keluarga dan masyarakat. Setiap orang yang mengenal Ibu, aku yakin pasti memiliki pandangan yang sangat positif kepada beliau. Demikianlah menurutku semestinya orang beragama.

Bayangan akan Ibu langsung membuat bibirku bergetar karena takut dan malu untuk menyebutkan agamaku. Tentu saja karena aku tahu sikap dan tindakanku masih jauh dari orang yang beragama, dan beriman, seperti Ibuku.

Biasanya aku hanya cukup punya nyali dan keyakinan untuk menjawab: “Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.” Aku tidak tahu apakah jawaban itu bisa diterima oleh malaikat maut saat menjemputku, tapi setidaknya, itu satu-satunya jawaban yang membuatku tidak merasa munafik.

Lebih dari itu, aku juga percaya, bukan agama yang akan menyelamatkanmu dalam kehidupan ini, melainkan tindakanmu. Semua penganut agama yang aku jumpai, akan menjawab bahwa agamanya mengajarkan welas asih, mengajarkan kebaikan.

Tentu saja aku percaya setiap agama semestinya mengajarkan kebaikan. Aku hanya tidak percaya seseorang mengaku beragama jika dia sendiri tidak “mengajarkan” kebaikan.

Dia sebaiknya jadi muridku saja. Siapapun.