Kepemimpinan Militer

Banyak orang punya pemikiran bahwa seorang pemimpin berlatar belakang militer akan lebih kuat. Tapi banyak pula yg lupa jika kekuatan seorang pemimpin militer juga amat didukung oleh doktrin komando, kepatuhan yang tinggi oleh anak buah kepada komandan adalah salah satunya.

Lalu bagaimana dengan Prabowo? Saat ini dia adalah masyarakat sipil. Kepemimpinannya di tengah masyarakat sipil belum lagi teruji. Semasa menjabat sebagai Pangkostrad, Prabowo memimpin berapa banyak anggota? Rasanya kurang dari 50 ribu personel, yg semuanya terikat oleh doktrin komando.

Mestinya dia mencoba dulu kapasitasnya sbg pemimpin sipil di negara demokratis utk level bupati/walikota. Bisa mencoba ngerasain gimana caranya mimpin orang dengan berbagai karakter yg tidak terikat dg doktrin komando.

Tapi sebenarnya, kita bisa menilai kualitas kepemimpinannya dari kualitas orang-orang di Partai Gerindra. Apakah secara umum perilaku para pengurus Partai Gerindra sudah sejalan dengan visi dan misi serta nilai-nilai Partai?

Saya rasa kepemimpinan SBY di Partai Demokrat masih jauh lebih menunjukkan kualitasnya sebagai pemimpin sipil.

Itu kenapa saya tidak pernah terkesan dengan calon pemimpin sipil dengan latar belakang militer. Tapi memang saya harus mengakui Prabowo itu jaman mudanya ganteng banget.

Mirip-mirip saya dikit.

Advertisements

Kidung Anak Negeri Pengusir Pencuri

Bagaimana lagi jika 2 panutannya pengecut tak punya nyali. Dua-duanya kabur keluar negeri, lari dari proses yustisi. Satu karena kasus Mei, satu lagi karena peli tak terkendali.

Bagi bangsa pencuri, merekalah pemimpin sejati, yang dipuja sampai mati. Diikuti dan dipatuhi, sampai lupa jati diri. Tak peduli busuknya hati dan baunya mulut seperti tai serta tangan yang berlumuran darah anak negeri.

Lalu, kita berharap para pemujanya akan bertindak bak lelaki sejati? Seperti Bruce Lee yang tak jeri berdiri sendiri membela hati nurani dan budi pekerti?

Itu mah mimpi di siang hari. Tak mungkin bakal terjadi.

Hati-hati, Putra-putri sejati Ibu Pertiwi! Tetaplah mawas diri!
Bangsa pencuri yang penuh iri dengki, tidak akan pernah berhenti mengejar ilusi, meski harus mengorbankan keutuhan negeri.

Siapa lagi yang akan mengusir para pencuri di malam hari selain kita para pemilik negeri? Kitalah penjaga Ibu Pertiwi.

Bersatulah sepenuh hati, bercerailah hanya oleh karena mati. Hidup hanya sekali, jadikanlah penuh arti bagi martabat diri, karena sekali lagi, kita bukan bangsa pencuri, apalagi pengecut tak tahu diri.

Aku Biarkan Anakku Menempuh Jalan Sunyi

“I do not live for what the heaven thinks of me but for what i think of my self. I shall then live a life of a freeman.”

Anak-anak saya menikmati sepenuhnya “kebebasan beragama” di lingkungan rumah. Ibadah dan belajar agama bukanlah kewajiban yang saya tuntut dari mereka.

Jauh lebih penting bagi saya adalah pendidikan moral dan humanisme bagi anak-anak saya. Itulah pendidikan yang akan membentuk seorang manusia menjadi manusia sesungguhnya, IMHO.

Saya tidak terganggu dengan kemungkinan mereka akan tumbuh menjadi manusia yang beragama sebatas tersebut di KTP. Sebaliknya, saya akan sangat terganggu dan sangat sedih jika mereka tumbuh menjadi manusia yang tidak cukup berkemanusiaan.

Sama seperti yang ditunjukkan oleh sebagian umat manusia saat ini: mengaku beragama tapi tidak cukup berkemanusiaan. Sialnya lagi jika seseorang tidak cukup berkemanusiaan karena mengacu pada apa yang tertulis di kitab sucinya.

Tidak tertutup kemungkinan jika anak-anak saya nantinya akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan dalam diri mereka tentang eksistensi manusia dan tuhan. Itupun saya juga alami dulu.

Dan sebagaimana yang saya jalani, saya akan biarkan anak-anak saya mencari jawabannya sendiri. Toh, pilihan-pilihannya banyak “tersedia di pasaran”. Ada yang jawaban ala agama, ala ilmu pengetahuan, bahkan ada juga juga jawaban ala diri sendiri.

Apapun jawaban yang dipilih, tidak akan menjadi masalah selama anak-anak saya sudah memiliki nalar dan nurani untuk memilih dan memilah jawaban yang paling tepat untuk dirinya. Bahkan termasuk jika dia tidak mendapatkan jawaban yang pas dari yang tersedia di pasaran, atau malah samasekali tidak berusaha mencari.

Saya yang sudah siap menyongsong usia senja-pun belum menemukan jawaban yang paling pas di sanubari. Saya sudah lama lepas dari kegelisahan dalam proses pencarian Tuhan.

Kebebasan dan kemandirian dalam berpikir jauh lebih bernilai ketimbang menemukan jawaban-jawaban yang tidak terlalu relevan dalam peningkatan kualitas kehidupan manusia.

Bahwa dengan kebebasan dan kemandirian dalam berpikir menjadikan anak-anak saya berbeda dengan anak-anak yang lain pada umumnya? Hmmm.. Saya tidak pernah berpikir bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi seragam.

Bagaimanapun juga keberanian sesungguhnya adalah kemauan dan kemampuan untuk menempuh jalan sunyi. Jalan yang jarang dilewati. Bisa jadi dan sangat mungkin, kebenaran Ilahi tersembunyi di jalan sepi itu.

 

Makin Sayang, Makin Garang

Ketika sebagian orang cenderung toleran terhadap orang-orang yang terdekat, saya cenderung sebaliknya. Saya cenderung minim toleran kepada orang-orang yang saya anggap dekat.

Orang-orang yang saya anggap dekat, adalah kepada siapa saya menaruh kepercayaan dan harapan yang relatif lebih tinggi ketimbang orang lain. Jadi, ketika performa orang-orang tersebut tidak sesuai harapan, respon saya kepada yang bersangkutan relatif lebih keras.

Sederhana saja. ‘Ditusuk’ oleh orang yang kita percaya akan terasa lebih menyakitkan ketimbang ditusuk oleh orang yang tidak atau kurang kita percaya bukan?

Jadi aneh, ketika orang cenderung permisif, toleran, terhadap sikap dan perilaku orang-orang terdekat yang tidak sesuai dengan harapan, atau bahkan melanggar kepercayaan. Bukankah mereka justru mestinya lebih merasa dikhianati?

Dalam hal itu juga, para pendukung seorang tokoh mestinya bersikap jauh lebih kritis terhadap tokoh itu ketimbang kaum oposisi. Di mata para pendukung, mestinya bukan “Si Tokoh selalu benar”, tapi mestinya “Si Tokoh tidak boleh salah”. Kesalahan kecil saja tidak boleh, apalagi kesalahan yg besar.

Sedikit saja lalai, lupa, salah, para pendukung mestinya langsung bereaksi negatif. Lebih cepat, lebih keras ketimbang mereka yang tidak mendukungnya, yang tidak mempercayainya. Tujuannya jelas agar si Tokoh tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama, tidak lagi melanggar kepercayaan atau nilai-nilai yang telah disepakati.

Sikap kritis ini juga jadi problem di masyarakat kita. Para pendukung tidak cukup bisa bersikap kritis terhadap sosok yang didukungnya.

Mestinya kita bisa sepakat bahwa kita tidak lagi hidup di jaman kerajaan. Bahwa sebuah jabatan (pemimpin) tidak lagi turun dari langit, melainkan diserahkan sebagai bentuk kepercayaan dari warganya. Bahwa warga pendukung bukanlah budak yang akan berdiam diri atas atau bahkan membela kesalahan-kesalahan majikannya.

Bahwa kritik adalah bagian dari alat kendali agar pemimpin, pemerintah, selalu berada di jalurnya, selalu bisa menjaga kepercayaan. Jangan sedikitpun juga melenceng.

Tak perlu kita berdebat soal memberi dukungan. Jelas para pendukung wajib memberikan dukungan kepada orang yang dipercayainya agar mampu menuntaskan tugas dan tanggung jawab yang telah dipercayakan kepadanya. Membela sikap dan tindakan yang memang sudah sesuai nilai-nilai dan tujuan yang sudah disepakati.

Tapi jelas! Berdiam diri ketika ada kesalahan dan kelalaian bukanlah sikap pendukung, apalagi membela mati-matian sebuah ketidakmampuan. Itu hanyalah bentuk feodalisme yang hanya akan memunculkan dan menguatkan tirani, pemimpin yang ‘semau Gue’.

Kalau sudah begitu, rasa sayangmu akan membunuhmu.