Belajar Dari Dini Sejak Dini

Baru saja aku nyampe rumah dan mendapat kabar dari istriku, Dini Savitri, kalau dia baru saja mendapatkan penugasan baru di tempatnya bekerja. Saat ini dia bertugas sebagai Asisten Produser di Trans 7 untuk program Laptop Si Unyil dan program Buku Harian Si Unyil. Dalam waktu dekat, Dini akan mendapatkan penugasan sebagai Kordinator Liputan Redaksi Trans 7. Tugas yang tidak sepenuhnya baru sih. Sepanjang karirnya, ini adalah kali ke-3 Dini bertugas sebagai Kordinator Liputan.

Aku cerita sedikit, yah, agak panjang lebar deh soal si Dini satu itu. Aku pertama kali mengenal dia saat aku mendapatkan tugas peliputan Bom Bali I sekitar bulan Oktober 2002. Saat itu, aku adalah reporter Radio Sonora Jakarta, sementara Dini adalah reporter TV 7, sekarang Trans 7. Dia juga mendapat penugasan yang sama untuk meliput kasus Bom Bali I.

Kebetulan waktu itu kita menginap di hotel yang sama, Santika, Denpasar, Bali. Jadinya, waktu sarapan ketemu, liputan ketemu dan malam hari ketika kembali ke hotel juga ketemu.

Dalam kesempatan-kesempatan pertemuan, kita sering ngobrol bareng dan dengan cepat karena keluwesan, keceriwisan dan keceriaannya, kami menjadi akrab. Keakraban itu berlanjut ketika kita kembali ke Jakarta, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk menikahinya dan menjadikannya Ibu bagi anak-anakku.

Kalau kamu dah pernah ketemu Dini, kamu akan melihatnya sebagai sosok yang mungil, lincah dan ceriwis. Besar kemungkinan, kamu tidak akan menduga kalau dia adalah juga Ibu dari 2 anak perempuan yang tomboy. Besar kemungkinan juga, kamu tidak akan menduga dibalik kemungilan tubuhnya, tersimpan enerji yang luar biasa. Kamu bisa menangkap enerji itu di tulisan-tulisan yang dia muat di webblog pribadinya: dinisavitri.net.

Enerji yang juga tercermin saat dia menjalani tugasnya dengan mobilitas yang tinggi, tak pandang situasi dan kondisi. Aku masih ingat ketika dia sudah hamil tua anak pertama kami, dia masih berlarian penuh semangat mengejar narasumber, dan meliput peristiwa kriminal. Aku jadi paham kenapa 2 anak perempuan kami jadi tomboy.

Oiya, Dini adalah juga Video Journalist (VJ) perempuan pertama di Trans 7. Untuk jadi VJ, kamu harus punya kemampuan yang OK sebagai reporter dan juru kamera. Tidak terlalu banyak rasanya orang yang punya kemampuan itu.

Dini mampu menjalankan tugasnya dengan baik sebelum kemudian dia menjalani berbagai penugasan di lingkungan Trans 7. Rasa-rasanya, dia termasuk salah satu dari sedikit orang yang berkesempatan menjalani berbagai penugasan.

Dalam kurun waktu sekitar 10 tahun kariernya, Dini sudah pernah merasakan tugas sebagai Reporter, VJ, Korlip, Pemangku Program Kriminalitas “TKP”. Setelah itu, balik lagi jadi Korlip di Redaksi Trans 7, sebelum kemudian jadi salah satu Pemangku Program “Jejak Petualang” selama sekitar 1,5 tahun.

Selanjutnya, Dini mendapatkan tanggung jawab memangku program “Peri Gigi” dan “Geony Si Kembara”. Baru aja mulai menikmati, eh, setelah 1 bulan berjalan, Dini sudah harus pindah ke program “Dunia Air” dan “Dunia Binatang” selama sekitar 2,5 bulan sebelum akhirnya pindah lagi ke Program “Laptop Si Unyil” dan “Buku Harian Si Unyil” selama sekitar 9 bulan hingga sekarang menerima penugasan sebagai Kordinator Liputan. Sungguh kaya pengalamannya.

Kamu tau Bro? Perjalanan karir si Dini memberikan gambaran yang sangat jelas akan kehidupan ini, bahwa Kehidupan ini sangatlah dinamis. Hari ini berbeda dengan kemarin, dan jangan terlalu berharap esok akan sama dengan hari ini.

Pun sebaiknya kamu mawas diri dan introspeksi ketika kamu merasa bahwa “hidup hanyalah begini-begini saja”. Sudah pasti ada cara pandang, dan sikap yang mesti dikoreksi ketika kehidupan sangat dinamis, tapi kamu mengeluhkan kebosanan akibat rutinitas sehari-hari.

Ah ya, kebanyakan dari kita hanya bisa mengeluh dan mengeluh, tanpa mau berusaha mengubah situasi dan kondisi yang memicu keluhan-keluhan itu.

Aku sendiri berusaha menikmati dan mensyukuri kehidupan ini karena tiga alasan utama. Pertama, karena kehidupan ini memang luar biasa. Menegangkan sekaligus mengasyikkan karena kita tahu tidak semua keinginan kita terpenuhi, dan tidak semuanya berjalan sesuai keinginan kita. Bahwa kita harus berjuang untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Kedua, sebelum mengeluh, aku berusaha untuk menyadari bahwa masih banyak orang yang tidak seberuntung aku. Malu donk kalo mengeluh.

Ketiga, kalau kamu punya istri seperti istriku. Kamu juga akan kehilangan alasan untuk mengeluh. Oh iya, aku belum cerita ya, aku sempet menjalani Long Distance Relationship selama 4,5 tahun dengan Dini. Kita harus menjalani kehidupan terpisah saat aku bertugas di Surabaya, sementara Dini dan anak-anak tetap tinggal di Jakarta.

Selama 4,5 tahun Dini harus menjalani peran laksana Single Parent. Mengerjakan segala-galanya nyaris tanpa kehadiranku, yang hanya bisa pulang ke rumah selama 2 – 3 bulan sekali.. Menjaga dan merawat 2 anak perempuan yang tomboy dan sangat aktif serta masih harus menjalani tugas sehari-hari sebagai seorang karyawan, yang berdedikasi dan memiliki integritas yang tinggi.

Dimana aku harus menaruh muka-ku, ketika aku melihat contoh akan sebuah perjuangan hidup seorang manusia yang secara fisik lebih lemah daripada aku, dan aku masih juga mengeluh?

Pun jika kamu tidak mempunyai istri seperti Dini, kamu akan selalu dengan mudah menjumpai contoh-contoh serupa. Puji Tuhan, kita masih bisa menjumpai orang-orang Indonesia yang bisa menjadi teladan, meski jumlahnya mungkin tidak seberapa banyak.

Pun jika kamu merasa tidak menemukan atau menjumpai satu-pun contoh untuk dijadikan teladan, aku percaya setiap orang masih punya hati nurani untuk jadi pemandu. So, ketika hanya ada contoh buruk di sekeliling kamu, kamu tetap punya pilihan untuk tidak mengikutinya.

Dini Savitri: Istri, Ibu dan Jurnalis

Advertisements