Ibadah dan Suka Cita

Pagi ini saya bangun pagi-pagi buat antar anak yang mau ikut pelajaran agama di Gereja. Aktivitas rutin mingguan yang mesti saya jalani hingga beberapa bulan ke depan.

Sebagai calon definitif penghuni neraka, aktivitas ini tentu saja bukan favorit saya. Bukan pula kegiatan yg membangkitkan mood di Minggu pagi sebagaimana aktivitas sex harian yang biasa saya lakoni (jomblo dan pejantan paruh baya tetap tabah ya.)

Tapi tentu saja, saya tetap melihat hal yang penting bagi anak-anak saya untuk belajar sejarah agama sebelum menjadi seorang ‘Theistic Rationalist‘ yang paripurna. Kita tidak bisa sepenuhnya memahami masa kini tanpa belajar dari masa lalu.

So, here i am. Duduk depan warung bubur samping gereja. Segelas kopi dan sebungkus rokok menemani penantian saya. Lumayan membangkitkan semangat yang sempat goyah akibat beberapa tegukan wiski semalam.

Berulangkali saya mendaraskan rasa syukur saya kepada Sang Pencipta, yang telah menghadirkan makhluk-makhluk mempesona dan menggairahkan yang lalu lalang di depan saya. Mereka tampil maksimal untuk menghadap Sang Pencipta.

Melihat sebagian raut wajah mereka, keisengan saya muncul. Saya lalu melakukan pengamatan untuk mencermati dampak ibadah terhadap keceriaan orang dewasa. Ibadah mestinya meningkatkan suka cita kita bukan?

Hasilnya, dari 50 orang dewasa yang saya amati, kurang dari 10 orang yang wajahnya menunjukkan aura yang bersih bersinar, bahagia dan penuh suka cita. Sisanya? Wajah-wajah yang muram, kaku, letih, keras. Wajah orang-orang yang kalah.

Sungguh, bertolak belakang dengan dugaan saya. Entah apa yang sedang dialami oleh sebagian besar dari mereka yang saya amati itu.

Mungkin ibadah tidak cukup mengurangi beban psikologis mereka. Mungkin pula sebagian besar dari kita terlahir dengan penampilan suram. Pun kita bahagia dan bersuka cita serta tertawa terbahak-bahak, wajah kita pun tetap muram.

Sayang, saya tidak mengamati perbedaan antara sebelum dengan sesudah ibadah. Celaka kalo sebelumnya ceria dan muram sesudahnya.

“Mas! Tolong rokoknya!”, seru seorang mamah muda membuyarkan perenungan saya. “Oh, silahkan Bu. Ambil saja”, jawab saya spontan sambil menawarkan rokok saya ke beliau yang sepertinya juga habis mengikuti ibadah.

“Tolong matikan rokoknya Mas. Saya mau duduk di sini”, balas beliau dengan tampang yang makin sebel. Saya langsung pengen ngajak si Ibu beribadah lagi.

Advertisements

Kamu Beragama? Kamu “Baik”?

Sejak masih remaja, aku tidak cukup punya keberanian untuk menyebut diri sebagai orang yang beragama. Setiap kali ditanya ama orang, “Apa agamamu?” Bayangan Ibu-ku langsung terlintas di benakku.

Sosok yang tidak saja rajin dan rutin beribadah, tapi juga penuh welas asih, rendah hati dan penuh pengabdian yang tulus kepada keluarga dan masyarakat. Setiap orang yang mengenal Ibu, aku yakin pasti memiliki pandangan yang sangat positif kepada beliau. Demikianlah menurutku semestinya orang beragama.

Bayangan akan Ibu langsung membuat bibirku bergetar karena takut dan malu untuk menyebutkan agamaku. Tentu saja karena aku tahu sikap dan tindakanku masih jauh dari orang yang beragama, dan beriman, seperti Ibuku.

Biasanya aku hanya cukup punya nyali dan keyakinan untuk menjawab: “Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.” Aku tidak tahu apakah jawaban itu bisa diterima oleh malaikat maut saat menjemputku, tapi setidaknya, itu satu-satunya jawaban yang membuatku tidak merasa munafik.

Lebih dari itu, aku juga percaya, bukan agama yang akan menyelamatkanmu dalam kehidupan ini, melainkan tindakanmu. Semua penganut agama yang aku jumpai, akan menjawab bahwa agamanya mengajarkan welas asih, mengajarkan kebaikan.

Tentu saja aku percaya setiap agama semestinya mengajarkan kebaikan. Aku hanya tidak percaya seseorang mengaku beragama jika dia sendiri tidak “mengajarkan” kebaikan.

Dia sebaiknya jadi muridku saja. Siapapun.