Siap Perang

Siap Perang

Jadi inget wejangannya Eyang Sun Tzu yg kurang lebih berbunyi: “Strategi perangĀ terbaik adalah mengalahkan lawan tanpa peperangan.” Menang melalui diplomasi atau setidaknya dengan gertakan, perang urat saraf.

Soal diplomasi, aku juga jadi inget Toyotomi Hideyoshi, pemimpin besar dalam sejarah Jepang. Kepiawaiannya dalam berdiplomasi membuat lawannya tidak sadar jika sudah ditaklukkan tanpa peperangan.

Tapi lebih dari itu, ada satu prinsip pertama dan utama dalam konteks meraih dan mempertahankan kemenangan dan atau kekuasaan. “Mereka yang ingin menang, harus menunjukkan (dan menyatakan) kesiapan untuk menang, dan berperang.”

Itu kenapa setiap peringatan Hari TNI, Indonesia ‘pamer kekuatan’ dengan melakukan parade militer. Para serdadu yang gagah perkasa berderap melangkah penuh kemegahan diiringi berbagai peralatan perang modern.

Salah satu pesannya: “Kami cinta damai, tapi kami juga sangat siap untuk berjuang, bertempur untuk mempertahankan kedaulatan.” Pesan buat dunia luar dan negara-negara asing untuk jangan macam-macam dengan Indonesia.

Kesiapan itu sangat penting untuk ditunjukkan, dinyatakan, dikokohkan. Salah satunya untuk mengurangi niatan setan untuk mengganggu.

Tidak selamanya kekerasan itu buruk. Para Pandai Besi percaya jika kekerasan itu baik adanya.
Image copyright by Kristo

Advertisements