CEMEN

Aku paling engga tahan dikerokin.
Rasanya jauh lebih sakit ketimbang ditato.
Selama dikerokin bini, aku pasti bolak-balik merintih dan mengerang.
Kesakitan Cuk!

Kalo dah gitu, Bini juga pasti komentar: “Halah! Gitu aja!”
Kata-kata yang tidak terucapkan adalah “Cemet banget seehh..!”
Trus aku curiga dia semakin kasih tekanan.
Aku pun semakin kesakitan. Eh, semakin ditekan.

Begitulah nasib orang “cemen”.
Makin gampang ngeluh, makin dilecehkan, ditekan dan atau tertekan.

“Modaro wae Su!”, gitu pesannya orang Jogja buat orang cemen.
Kesannya, hidupnya orang cemen engga bawa manfaat, dan malah lebih bermanfaat kalo engga hidup.

Mungkin karena orang cemen dianggap bertentangan dengan kodrat manusia yang mestinya makhluk pejuang. Kita makhluk pejuang bukan? Hampir segala sesuatu yang kita lakukan berangkat dari hasrat untuk bertahan hidup bukan?

Oleh karenanya pula, kecenderungan manusia untuk lakuin segala hal untuk survive mungkin bikin kita relatif lebih gampang nerima mereka yang “kurang” tapi mampu atasi “kekurangannya”.

Kita relatif lebih gampang kagum dan atau naruh hormat ke orang yang tidak memiliki tangan tapi mampu berkarya hanya dengan kakinya atau manusia-manusia lainnya, yang mampu mengatasi kekurangan atau ketidakmampuan fisiknya. Ya, mereka sungguh mencerminkan karakter manusia sesungguhnya yang makhluk pejuang.

Sebaliknya, sebagian dari kita jadi lebih gampang kesel, gemes & gregetan atau bahkan jijik kalo liat orang ngeluh inilah, itulah. Seakan-akan hidup engga ada nikmatnya samasekali dan berharap orang lain ngerasain penderitaannya. Enak aja! Giliran susah aja ngajak-ajak.

Buat aku sih, yaahh.. selama Bini masih mau ngerokin, engga masalah dibilang cemen. “Aduh, aduh, aduh.. Sakiiit.. Jangan keras-keras”. Hmm.. Masih untung engga dikerokin pake clurit.

Gajah itu Bulat..

Beruntung sekali waktu konser Guns N Roses tanggal 16 Desember lalu kita dapat posisi di Tribun. Meski tentu saja mengingat tiket yang aku dan istriku pegang adalah tiket kelas Festival B yang harganya paling rendah, lokasi kami paling jauh dari panggung, tapi penonton kelas itu mendapatkan kursi. Berbeda dengan kelas VIP dan kelas Festival A yang penontonnya sangat berdesak-desakan dan harus terus berdiri (atau keluar dari kerumunan dan duduk di atas lantai), kami, para penonton kelas Kambing, bisa duduk di atas kursi yang nyaman.

Lebih dari itu, kami bisa mengamati panggung secara keseluruhan, dari sudut ke sudut, keseluruhan tata pencahayaannya, keramaian penontonnya dan performance masing-masing personil GNR dengan sangat jelas melalui layar lebar di atas kami. Permainan piano Axl Rose saat menyanyikan lagu “November Rain” pun terlihat dengan jelas melalui layar itu. Aku jadi merasa sangat menikmati konser GNR itu karena aku bisa melihat konser itu secara keseluruhan.

"From A Distance" Seorang penonton tengah mengamati panggung konser GNR di Ancol, Jakarta, 16 Desember 2012.

“From A Distance” Seorang penonton tengah mengamati panggung konser GNR di Ancol, Jakarta, 16 Desember 2012.

Aku tidak ingin cerita lebih panjang soal konser GNR. Konser itu hanya mengingatkan aku bahwasannya untuk memahami sesuatu aku harus memahami keseluruhan faktor-faktor yang terkait. Aku jadi ingat ketika menjalani penugasan dan harus mencapai target. Ketika kami harus memahami kenapa sebuah target bisa tercapai atau sebaliknya, tidak tercapai.

Sebuah pencapaian target menuntut terpenuhinya beberapa faktor; internal dan eksternal, yang masing-masing-masing bisa saling berpengaruh satu sama lain. Dari sisi internal, bagaimana kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusianya, timing? Bagaimana produknya itu sendiri; Kualitasnya, cita rasa, harga, penyajian, kemasannya, distribusinya, promosinya, paska penjualannya? Sementara dari kondisi eksternal, bagaimana dengan pasarnya, persaingannya, kondisi industri, kondisi perekonomian nasional dan atau global? Mungkin masih banyak lagi faktor-faktor yang harus dicermati untuk mengevaluasi pencapaian sebuah target.

Keberhasilan untuk mencermati keseluruhan faktor-faktor yang berperan dalam sebuah peristiwa akan menghadirkan pemahaman kenapa sebuah hal bisa terjadi, sekaligus apa-apa saja yang harus kita lakukan untuk menyikapinya.  Sebaliknya, kegagalan untuk mencermati keseluruhan faktor tersebut besar kemungkinan akan menyebabkan kekeliruan dalam memahami sebuah peristiwa sekaligus kekeliruan dalam menyikapinya.

Sama seperti beberapa orang yang berusaha memahami bentuk dan ukuran gajah tanpa melihat dan hanya memegang bagian-bagian tertentu dari gajah itu saja. Jangan heran ada yang bilang gajah itu bulat karena yang dipegang adalah buah zakar-nya.

Bahagia Bisa Plung!

Salah satu hal yang sulit aku lakukan ketika rumah terendam air adalah BAB. Seperti yang aku alami saat ini, ketika WC terendam air, sementara perut sudah ingin melepaskan beban.

Temenku berkomentar: “Bukannya kalo air dimana-mana, kita tinggal pipis ato jongkok ya?”. Hmm.. Aku menduga dia kalau di kolam renang dan kebelet pipis, dia tidak akan ragu-ragu untuk melakukan hal yang sama. Oh.. Mai god!

Bukan pertama kalinya, aku menahan rasa untuk memenuhi panggilan alam alias kebelet pipis dan atau pup. Dalam kondisi itu, tiada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan saat bisa menjumpai toilet yang bersih dan bisa memenuhi panggilan alam. Pun kalau toiletnya tidak memenuhi harapanku, rasanya aku akan tetap bahagia jika bisa memenuhi panggilan alam.

Seringkali aku berpikir, adakah kebahagiaan yang melampaui kebahagiaan bisa pipis dan pup ketika tiba waktunya. Pengalamanku sih membuktikan ketika aku sudah memenuhi panggilan alam, aku tak pernah, dalam waktu bersamaan, memikirkan hal-hal lain: proyek milyaran rupiah, janjian ketemuan ama Presiden Amerika yang bentar lagi terlewati, utang, perut yang lapar, dan lain-lain.

Tiada hal lain yang memenuhi diri selain kelegaan. Jika ada yang bilang tiada kebahagiaan selain punya Harta, Tahta dan Wanita, maka aku doakan agar yang bersangkutan terpenuhi semua keinginannya itu KECUALI bisa pipis dan pup dengan lancar. Silahkan membayangkan betapa harta, tahta dan wanita tiada artinya jika kita tidak bisa pipis dan pup dengan lancar.

Maksud yang hendak aku sampaikan adalah.. Sungguh! Kita mesti mensyukuri segala sesuatunya terlepas apapun yang orang lain bilang. Pun ketika kita sudah memiliki segala sesuatunya yang kita inginkan, akankah kita abai untuk mensyukuri hal-hal yang “kecil” dan “sepele” seperti pipis dan pup dengan lancar. Jika kita abai, tunggu saja sampai kita mengalami kesulitan-kesulitan yang “kecil” dan “sepele” itu.

Bisa jadi dan sangat mungkin, segala kesusahan yang kita alami saat ini karena kita tidak cukup mensyukuri hal-hal yang terkesan kecil dan sepele. Oleh karena itu, Berbahagia dan Bersyukur-lah bisa Plung!

Accept The Unacceptable..

Akhirnya banjir itu datang juga. Sejak sekitar pukul 01.00 dini hari tadi (Selasa, 3/4/12), air dari luapan Kali Pesanggrahan, dengan perlahan namun pasti, merambat memasuki halaman, teras dan ruangan di kediaman kami di wilayah Ulujami, Jakarta Selatan. Genangan air sukses mencapai ketinggian pantat orang dewasa saat tulisan ini aku buat, hampir 12 jam setelah air memasuki rumah.

Kami patut bersyukur, kami masih sempat menyelamatkan sebagian besar barang-barang kami. Berbeda dengan musibah banjir tahun 2007, air masuk dengan cepat dan hanya dalam waktu kurang dari 4 jam, air mencapai ketinggian pantatnya Hulk. Sekitar 2 meteran lah yaa.., dan mencapai ketinggian maksimal sekitar 3 meter pada musim banjir tahun 2007 itu.

Listrik yang padam saat kami baru memulai untuk memindahkan barang-barang. Istri dan anak harus mengungsi. Buang Air Besar harus berenang dulu ke mulut gang dan lanjut ke SPBU terdekat. Wah! Sungguh pengalaman yang mengesankan, namun semoga cukup sekali saja kami alami.

Semoga banjir kali ini segera berlalu. Air segera surut, dan kami bisa segera membersihkan dan membereskan rumah sebelum kemudian beraktivitas seperti sedia kala. Anak-anak bisa bermain bebas kembali. Selain itu, aku juga belum bisa membayangkan seberapa lama aku bisa menahan sakit perut ini. Hehehe. Oh Nooo!! Sungguh bukan bayangan ideal akan situasi dan kondisi yang aku harapkan.

My friends, seringkali aku harus menghadapi situasi dan kondisi yang tidak sesuai dengan harapanku. Bukankah kebanyakan dari kita pun demikian? Bukankah demikianlah kehidupan?

Setiap orang tahu bahwa kehidupan tidak selalu dan bahkan mungkin samasekali tidak berjalan sesuai harapan, namun, mengetahui dan menerima adalah 2 hal yang samasekali berbeda, Kebanyakan kita tahu namun banyak pula yang sulit untuk menerima kenyataan yang tak sesuai bayangan kita.

Banjir, diputus pacar, dipecat dari pekerjaan, kehilangan barang, ditimpa musibah adalah hal-hal yang berbeda, namun sama-sama tidak diharapkan. Apa sikapmu jika satu atau beberapa hal itu menimpamu Bro?

Kebanyakan bergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi. Buat beberapa orang, kehilangan barang kesayangan lebih buruk daripada diputus pacar. Ada pula yang memilih sakit gigi daripada “sakit hati”. Aku sih lebih memilih sakit hati daripada sakit gigi. Sakit gigi bisa membuatku sedemikian emosional ketimbang sakit hati, tapi banyak orang yang mengalami sebaliknya.

Intinya, penerimaan orang akan satu hal bisa berbeda-beda, tapi tidakkah itu membuat kita berpikir: “Jika dia bisa, kenapa aku tidak?” Lagipula toh, menolak sebuah fakta sama dengan memalingkan muka ketika banjir bandang menerjang persis ke arah kita? Apakah itu membantu? Kita tetap di tempat dan tetap berkutat dengan masalah.

Banyak di antara kita yang sekedar “memalingkan muka” ketika menghadapi situasi dan kondisi yang tidak sesuai harapan: kita mengeluh, mengumpat, murka dan kehilangan semangat. Mungkin membuat kita merasa lebih baik, namun, jelas tidak membuat segalanya menjadi lebih baik.

Dulu waktu masih aktif mendaki gunung, aku ingat sebuah pesan jika kita tersesat yaitu: STOP; Sit, Think, Observe and Plan. Duduk/Diam, Pikirkan, Amati, dan Rencanakan.

Segala hal yang tidak berujung pada pikiran dan pengamatan jernih serta perencanaan yang matang berikut pelaksanaannya, jelas tidak akan membuat segalanya lebih baik. Termasuk dalam hal ini adalah: kebingungan, kemarahan, kesedihan, kegelisahan dan segala bentuk emosi negatif lainnya.

Untuk itulah, kenapa duduk/diam menjadi hal yang penting untuk mengawali langkah keluar dari “ketersesatan”. Diam tidak saja menyangkut tubuh fisikal yang tidak bergerak, namun juga pikiran yang berkecamuk saat menghadapi situasi atau kondisi yang tidak diharapkan.

Pikiran yang “diam” menjadi kaca yang bersih nan bening yang membantu kita mengamati segala hal lebih jelas. Perencanaan yang matang jelas membutuhkan pengamatan yang jernih.
Awal yang tepat untuk keluar dengan selamat dari segala permasalahan yang kita hadapi.

Tapi Bro! Tapi.. Untuk keluar dari ketersesatan saat menjelajah rimba gunung, terutama sekali aku harus menyadari kalau aku tersesat. Aku tak mungkin bisa menemukan jalan yang benar keluar dari ketersesatan, jika aku tidak menyadari kalau aku tersesat. Tanpa kesadaran itu, aku justru mungkin akan tetap menyusuri sebuah jalan yang semakin menyesatkanku.

Persis itulah yang aku alami belasan tahun lalu saat mendaki Gunung Sindoro di Jawa Tengah, berdua dengan seorang Sahabat. Kami berdua baru tersadar jika kami telah tersesat setelah di depan kami terbentang jurang yang curam dan dalam, yang mestinya tidak kami jumpai jika menempuh jalur yang benar.

Menyadari dan menerima fakta bahwa kami telah keluar jalur, untuk kemudian istirahat sejenak dan berpikir untuk menyusun rencana menemukan kembali jalur yang benar adalah hal yang kami lakukan. Well, itu adalah prosedur yang sudah terbukti sahih untuk keluar dari permasalahan.

Jadi Bro, untuk setiap situasi dan kondisi yang tidak nyaman, yang tidak sesuai harapan, awal dari segala awal yang harus kita lakukan adalah menerimanya sebagai sebuah fakta: “OK, jadi inilah situasi yang harus aku hadapi dan atasi”.

Seperti yang aku hadapi saat ini: “OK, rumah sudah direndam air, dan aku tidak bisa kemana-mana. Well, ini jadi salah satu cara untuk berkumpul bersama istri dan anak. Asiiikk..”

image

Tiga Anjing yang Terkepung Banjir. Ada yang mengamati dan meratapi, namun ada pula yang mencari jalan keluar.

Belajar Dari Dini Sejak Dini

Baru saja aku nyampe rumah dan mendapat kabar dari istriku, Dini Savitri, kalau dia baru saja mendapatkan penugasan baru di tempatnya bekerja. Saat ini dia bertugas sebagai Asisten Produser di Trans 7 untuk program Laptop Si Unyil dan program Buku Harian Si Unyil. Dalam waktu dekat, Dini akan mendapatkan penugasan sebagai Kordinator Liputan Redaksi Trans 7. Tugas yang tidak sepenuhnya baru sih. Sepanjang karirnya, ini adalah kali ke-3 Dini bertugas sebagai Kordinator Liputan.

Aku cerita sedikit, yah, agak panjang lebar deh soal si Dini satu itu. Aku pertama kali mengenal dia saat aku mendapatkan tugas peliputan Bom Bali I sekitar bulan Oktober 2002. Saat itu, aku adalah reporter Radio Sonora Jakarta, sementara Dini adalah reporter TV 7, sekarang Trans 7. Dia juga mendapat penugasan yang sama untuk meliput kasus Bom Bali I.

Kebetulan waktu itu kita menginap di hotel yang sama, Santika, Denpasar, Bali. Jadinya, waktu sarapan ketemu, liputan ketemu dan malam hari ketika kembali ke hotel juga ketemu.

Dalam kesempatan-kesempatan pertemuan, kita sering ngobrol bareng dan dengan cepat karena keluwesan, keceriwisan dan keceriaannya, kami menjadi akrab. Keakraban itu berlanjut ketika kita kembali ke Jakarta, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk menikahinya dan menjadikannya Ibu bagi anak-anakku.

Kalau kamu dah pernah ketemu Dini, kamu akan melihatnya sebagai sosok yang mungil, lincah dan ceriwis. Besar kemungkinan, kamu tidak akan menduga kalau dia adalah juga Ibu dari 2 anak perempuan yang tomboy. Besar kemungkinan juga, kamu tidak akan menduga dibalik kemungilan tubuhnya, tersimpan enerji yang luar biasa. Kamu bisa menangkap enerji itu di tulisan-tulisan yang dia muat di webblog pribadinya: dinisavitri.net.

Enerji yang juga tercermin saat dia menjalani tugasnya dengan mobilitas yang tinggi, tak pandang situasi dan kondisi. Aku masih ingat ketika dia sudah hamil tua anak pertama kami, dia masih berlarian penuh semangat mengejar narasumber, dan meliput peristiwa kriminal. Aku jadi paham kenapa 2 anak perempuan kami jadi tomboy.

Oiya, Dini adalah juga Video Journalist (VJ) perempuan pertama di Trans 7. Untuk jadi VJ, kamu harus punya kemampuan yang OK sebagai reporter dan juru kamera. Tidak terlalu banyak rasanya orang yang punya kemampuan itu.

Dini mampu menjalankan tugasnya dengan baik sebelum kemudian dia menjalani berbagai penugasan di lingkungan Trans 7. Rasa-rasanya, dia termasuk salah satu dari sedikit orang yang berkesempatan menjalani berbagai penugasan.

Dalam kurun waktu sekitar 10 tahun kariernya, Dini sudah pernah merasakan tugas sebagai Reporter, VJ, Korlip, Pemangku Program Kriminalitas “TKP”. Setelah itu, balik lagi jadi Korlip di Redaksi Trans 7, sebelum kemudian jadi salah satu Pemangku Program “Jejak Petualang” selama sekitar 1,5 tahun.

Selanjutnya, Dini mendapatkan tanggung jawab memangku program “Peri Gigi” dan “Geony Si Kembara”. Baru aja mulai menikmati, eh, setelah 1 bulan berjalan, Dini sudah harus pindah ke program “Dunia Air” dan “Dunia Binatang” selama sekitar 2,5 bulan sebelum akhirnya pindah lagi ke Program “Laptop Si Unyil” dan “Buku Harian Si Unyil” selama sekitar 9 bulan hingga sekarang menerima penugasan sebagai Kordinator Liputan. Sungguh kaya pengalamannya.

Kamu tau Bro? Perjalanan karir si Dini memberikan gambaran yang sangat jelas akan kehidupan ini, bahwa Kehidupan ini sangatlah dinamis. Hari ini berbeda dengan kemarin, dan jangan terlalu berharap esok akan sama dengan hari ini.

Pun sebaiknya kamu mawas diri dan introspeksi ketika kamu merasa bahwa “hidup hanyalah begini-begini saja”. Sudah pasti ada cara pandang, dan sikap yang mesti dikoreksi ketika kehidupan sangat dinamis, tapi kamu mengeluhkan kebosanan akibat rutinitas sehari-hari.

Ah ya, kebanyakan dari kita hanya bisa mengeluh dan mengeluh, tanpa mau berusaha mengubah situasi dan kondisi yang memicu keluhan-keluhan itu.

Aku sendiri berusaha menikmati dan mensyukuri kehidupan ini karena tiga alasan utama. Pertama, karena kehidupan ini memang luar biasa. Menegangkan sekaligus mengasyikkan karena kita tahu tidak semua keinginan kita terpenuhi, dan tidak semuanya berjalan sesuai keinginan kita. Bahwa kita harus berjuang untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Kedua, sebelum mengeluh, aku berusaha untuk menyadari bahwa masih banyak orang yang tidak seberuntung aku. Malu donk kalo mengeluh.

Ketiga, kalau kamu punya istri seperti istriku. Kamu juga akan kehilangan alasan untuk mengeluh. Oh iya, aku belum cerita ya, aku sempet menjalani Long Distance Relationship selama 4,5 tahun dengan Dini. Kita harus menjalani kehidupan terpisah saat aku bertugas di Surabaya, sementara Dini dan anak-anak tetap tinggal di Jakarta.

Selama 4,5 tahun Dini harus menjalani peran laksana Single Parent. Mengerjakan segala-galanya nyaris tanpa kehadiranku, yang hanya bisa pulang ke rumah selama 2 – 3 bulan sekali.. Menjaga dan merawat 2 anak perempuan yang tomboy dan sangat aktif serta masih harus menjalani tugas sehari-hari sebagai seorang karyawan, yang berdedikasi dan memiliki integritas yang tinggi.

Dimana aku harus menaruh muka-ku, ketika aku melihat contoh akan sebuah perjuangan hidup seorang manusia yang secara fisik lebih lemah daripada aku, dan aku masih juga mengeluh?

Pun jika kamu tidak mempunyai istri seperti Dini, kamu akan selalu dengan mudah menjumpai contoh-contoh serupa. Puji Tuhan, kita masih bisa menjumpai orang-orang Indonesia yang bisa menjadi teladan, meski jumlahnya mungkin tidak seberapa banyak.

Pun jika kamu merasa tidak menemukan atau menjumpai satu-pun contoh untuk dijadikan teladan, aku percaya setiap orang masih punya hati nurani untuk jadi pemandu. So, ketika hanya ada contoh buruk di sekeliling kamu, kamu tetap punya pilihan untuk tidak mengikutinya.

Dini Savitri: Istri, Ibu dan Jurnalis

Apa Tujuan Hidup-mu?

My friends, banyak loh diantara kita yang belum tau untuk apa tujuan hidup ini? Pun aku pernah mengalaminya. Belasan tahun aku menjalani meditasi, berpuasa dan berpantang, ziarah ke makam leluhur, berendam di telaga selepas tengah malam hingga dini hari demi mencari jati diri dan tujuan hidup sejati.

Pun akhirnya, kutetapkan bahwa tujuan hidupku adalah memastikan kemandirian anak-anakku sebagai pribadi-pribadi yang sehat, kuat, cerdas, ceria, pemberani dan berbudi luhur dengan menjalankan sebaik-baiknya peranku sebagai orang tua, karyawan serta warga masyarakat dan bangsa Indonesia.

Samasekali mungkin bukanlah tujuan hidup yang aku harapkan akan aku dapatkan melalui serangkaian lelaku di masa lalu. Pun kalau aku menunggu dari hasil lelaku, bisa jadi hingga saat ini aku takkan jua mendapatkan petunjuk akan tujuan hidupku, dan itu berarti aku sama saja dengan sekian tahun jalan mondar-mandir tak tahu hendak kemana.

Banyak orang yang tidak tahu apa tujuan hidupnya, atau sebaliknya menetapkan tujuan hidup yang fantastis. Aku pribadi lebih baik punya tujuan hidup yang fantastis ketimbang tidak punya tujuan hidup samasekali.

Imagine a Life without A Purpose, bayangkan hidup tanpa tujuan. Samasaja dengan kita berdiri di sebuah terminal bis, tapi kita hanya bisa melihat bis-bis hilir mudik di hadapan kita dan tak tahu mana yang hendak kita pilih. Begitu menyedihkan..

Jika menetapkan sebuah tujuan menjadi hal yang sangat sulit bagimu, mulai-lah dengan menyadari peran yang bisa kamu jalankan saat ini dengan menyadari pengetahuan dan kemampuanmu. Inilah yang akhirnya aku lakukan.

Sebagai orang tua, aku berperan dan bertanggung jawab mendidik dan mengembangkan anak-anakku agar di kemudian hari, anak-anakku dapat secara mandiri menghadapi dan mengatasi tantangan kehidupan.

Sebagai seorang profesional, aku berperan mengoptimalkan pengetahuan dan kemampuanku untuk mendorong perkembangan perusahaan dimana aku bekerja. Menjadi solusi dan bukannya permasalahan. Memastikan tumbuh kembangnya perusahaan yang menghidupi aku dan keluargaku.

Sebagai seorang warga masyarakat dan warga negara, pun aku berperan untuk tumbuh kembangnya masyarakat dan negara-ku. Mendarmabaktikan pengetahuan dan kemampuanku bagi masyarakat, bangsa dan negaraku. Kembali, menjadi solusi dan bukannya masalah apalagi sampah masyarakat.

Apalagi? Tidak usah banyak-banyak.. Tiga hal tersebut di atas pun belum pula aku jalankan secara maksimal, tapi paling tidak, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Bagaimana dengan kamu?

My friends, ketika setiap orang sudah menetapkan tujuan hidup, selanjutnya yang dibutuhkan adalah tuntunan hidup. Semacam panduan bagaimana kita bisa menjalani hidup sehari-hari untuk mencapai tujuan hidup yang sudah kita tetapkan.

Beberapa orang menggunakan agama sebagai tuntunan moral dan perilaku. Bagaimana dengan aku? Well, to be honest, aku menjadikan Nilai-nilai Keutamaan perusahaan tempatku bekerja sebagai tuntunan hidupku, yaitu:

1. Caring, Peduli terhadap Sesama.
2. Credible, Jujur dan terpercaya
3. Competent, ber-Pengetahuan, ber-Kemampuan, ber-Kemauan.
4. Competitive, ber-Daya Saing, lebih baik dari waktu ke waktu
5. Customer Delight, peduli dan mewujudkan Kebahagiaan Pelanggan.

Sederhana sekali bukan? But trust me, aku-pun belum maksimal dalam menjalankan, pun demikian dengan sebagian besar orang-orang di lingkungan pekerjaanku.
Boleh percaya, boleh tidak, masih banyak juga yang belum hapal Nilai-nilai Keutamaan tersebut. Buatku sederhana, kalau tahu saja tidak, bagaimana akan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari?

Lain jika aku sudah memahami dan menyadari, namun tak jua menerapkannya, maka itu sama saja dengan manusia bebal.
Aku punya pemahaman, jika nilai-nilai keutamaan itu mampu sepenuhnya menjiwai Sikapku, setiap pikiran, ucapan, tindakanku, maka aku rasa pencapaian tujuan hidupku hanya masalah waktu semata.

Jadi, sadari peran yang bisa kamu jalankan dan tetapkanlah tujuan hidupmu. Tetapkanlah pula, acuan-acuan yang akan menjadi peganganmu dalam mencapai tujuanmu. Apapun peganganmu, tak jadi masalah, selama kamu bisa memastikan keselarasan antara acuan-acuan tersebut dengan tujuan hidupmu.