Indonesia Tidak Butuh Pemimpin yang Utamakan Hati & Nilai Luhur!

Kaget ya baca judul tulisan ini? Aku juga kaget. Hehehe. Sesungguhnya judul tulisan ini merupakan ungkapan yang muncul di benakku sebagai respon  atas berita di Harian Kompas hari ini (31/01/12) yang berjudul: “Anwar Ibrahim: Pemimpin Harus Utamakan Rakyat”.

Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyebutkan kalau sosok pemimpin negara harus mengutamakan hati dan nilai luhur saat mengayomi rakyatnya. Dengan modal itu, seorang pemimpin diyakini mampu membawa masyarakat dan negara menuju kesejahteraan.

Hmm.. Kita mesti segera pasang pengumuman dan iklan: “Dicari manusia setengah dewa untuk jadi pemimpin Indonesia.”  Adapun nanti yang banyak melamar maksimal adalah manusia setengah dewa durjana.

Aku tidak ingin bersikap sinis, tapi, marilah kita lihat sekeliling kita. Let’s face the facts and be realistic. Selain itu, boro-boro mencari pemimpin yang memenuhi kriteria, kita bakal berdebat panjang lebar soal definisi hati dan nilai luhur, sikap seperti apa yang merupakan ujud hati dan nilai luhur.

Waduh Bro.. Aku lebih suka dengan analogi yang sederhana. Pemimpin adalah laksana Nahkoda Kapal. Dia harus tahu hendak kemana kapalnya akan berlayar,   lewat jalur apa, bagaimana kapalnya akan berlayar, berapa lama waktu yang dibutuhkan, dan memastikan orang-orang tepat menjalankan setiap tugas yang harus dilakukan agar kapal berikut seluruh penumpangnya tiba dengan selamat di tujuan.

Aku melihat intinya adalah  bagaimana kita bisa menciptakan keseimbangan. Hati nurani dan keluhuran adalah baik serta mulia  namun harus menunggu berapa abad untuk bisa mendapatkan pemimpin yang berhati dan bernilai luhur?

Keseimbangan

.

Advertisements

Indonesia Disalip Myanmar?

Presiden Myanmar Thein Sein berkunjung ke Singapura untuk minta bantuan pakar sekaligus belajar soal keberhasilan Singapura mengelola urusan bisnis. Ini dilakukan untuk mendukung Myanmar yang sedang menggeliat (Kompas, 31/01/12).   Kompas juga menyebutkan, setelah lima dekade terakhir dikuasai militer, Myanmar telah berubah secara signifikan dan mengejutkan jika melihat proses percepatannya.

Aku jadi ingat bagaimana Cina juga seakan-akan, seolah-olah, sekejap saja berubah dari negara komunis yang tertinggal menjadi negara yang sangat powerful dan disegani oleh negara-negara di dunia.

Bagaimana dengan Indonesia? Yah.. bertanyalah pada diri sendiri, sudah bahagiakah kamu dengan kondisi Indonesia saat ini? Mungkin semua pihak berbahagia dengan kondisi Indonesia saat ini kecuali orang Indonesia sendiri.

Iyalah.. Setiap negara akan senang punya negara tetangga yang lemah, yang selalu ribut sendiri di dalam negerinya, yang warganya selalu berkonflik satu sama lain.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, jika kamu tidak puas dengan kondisi saat ini, lalu apa yang hendak kamu lakukan? Tetap mengeluh namun tak jua bertindak untuk mengubahnya ataukah segera tetapkan langkah-langkah perubahan?

Dalam kehidupan sehari-hari, di lingkungan keluarga, pergaulan dan pekerjaanpun, aku rasa kitapun sering menjumpai orang-orang yang mengeluhkan kondisi yang dihadapinya tapi tidak melakukan apapun juga untuk merubah kondisi yang ada.

Jika ada orang lain yang mencapai sebuah keberhasilan, yang bersangkutan bukannya belajar untuk kemudian mencapai keberhasilan yang serupa tetapi malah iri dan dengki semata.  Jika kebanyakan orang Indonesia memiliki sikap yang sama, maka tidak butuh waktu lama buat Myanmar untuk menyalip Indonesia.  Oiya, Indonesia sudah disalip Vietnam belum ya?

Myanmar President Thein Sein. Photographed by Stephen Morrison/AFP/Getty Images