Gajah itu Bulat..

Beruntung sekali waktu konser Guns N Roses tanggal 16 Desember lalu kita dapat posisi di Tribun. Meski tentu saja mengingat tiket yang aku dan istriku pegang adalah tiket kelas Festival B yang harganya paling rendah, lokasi kami paling jauh dari panggung, tapi penonton kelas itu mendapatkan kursi. Berbeda dengan kelas VIP dan kelas Festival A yang penontonnya sangat berdesak-desakan dan harus terus berdiri (atau keluar dari kerumunan dan duduk di atas lantai), kami, para penonton kelas Kambing, bisa duduk di atas kursi yang nyaman.

Lebih dari itu, kami bisa mengamati panggung secara keseluruhan, dari sudut ke sudut, keseluruhan tata pencahayaannya, keramaian penontonnya dan performance masing-masing personil GNR dengan sangat jelas melalui layar lebar di atas kami. Permainan piano Axl Rose saat menyanyikan lagu “November Rain” pun terlihat dengan jelas melalui layar itu. Aku jadi merasa sangat menikmati konser GNR itu karena aku bisa melihat konser itu secara keseluruhan.

"From A Distance" Seorang penonton tengah mengamati panggung konser GNR di Ancol, Jakarta, 16 Desember 2012.

“From A Distance” Seorang penonton tengah mengamati panggung konser GNR di Ancol, Jakarta, 16 Desember 2012.

Aku tidak ingin cerita lebih panjang soal konser GNR. Konser itu hanya mengingatkan aku bahwasannya untuk memahami sesuatu aku harus memahami keseluruhan faktor-faktor yang terkait. Aku jadi ingat ketika menjalani penugasan dan harus mencapai target. Ketika kami harus memahami kenapa sebuah target bisa tercapai atau sebaliknya, tidak tercapai.

Sebuah pencapaian target menuntut terpenuhinya beberapa faktor; internal dan eksternal, yang masing-masing-masing bisa saling berpengaruh satu sama lain. Dari sisi internal, bagaimana kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusianya, timing? Bagaimana produknya itu sendiri; Kualitasnya, cita rasa, harga, penyajian, kemasannya, distribusinya, promosinya, paska penjualannya? Sementara dari kondisi eksternal, bagaimana dengan pasarnya, persaingannya, kondisi industri, kondisi perekonomian nasional dan atau global? Mungkin masih banyak lagi faktor-faktor yang harus dicermati untuk mengevaluasi pencapaian sebuah target.

Keberhasilan untuk mencermati keseluruhan faktor-faktor yang berperan dalam sebuah peristiwa akan menghadirkan pemahaman kenapa sebuah hal bisa terjadi, sekaligus apa-apa saja yang harus kita lakukan untuk menyikapinya.  Sebaliknya, kegagalan untuk mencermati keseluruhan faktor tersebut besar kemungkinan akan menyebabkan kekeliruan dalam memahami sebuah peristiwa sekaligus kekeliruan dalam menyikapinya.

Sama seperti beberapa orang yang berusaha memahami bentuk dan ukuran gajah tanpa melihat dan hanya memegang bagian-bagian tertentu dari gajah itu saja. Jangan heran ada yang bilang gajah itu bulat karena yang dipegang adalah buah zakar-nya.

Advertisements

Ngomong Doang..

“Papa kok enggak pake sandal?!” Teriak si bungsu, Bianca, saat melihat aku ada di halaman rumah. Aku segera sadar kalau apa yang aku lakukan berbeda dengan apa yang selalu aku pesankan ke anak-anakku.

My friends, hampir setiap hari kita menjumpai orang yang beda antara ucapan dan tindakan. Kalo kamu adalah orang tua, then you better be careful with that attitude; watch your mouth! Bianca adalah bocah perempuan yang baru berusia 3,5 tahun, tapi sikap kritis bocah itu mengingatkan aku, jika aku terus-terusan tidak konsisten dengan apa yang aku ucapkan, tidak akan butuh waktu lama sebelum dia sekedar mempertanyakan menjadi ikut-ikutan. Well, gimana anakmu adalah gimana kamu sebagai orang tua. Sesederhana itu.

Bianca, bocah 3,5 tahun yang suka protes

Bianca, bocah 3,5 tahun yang suka protes

Buat kamu yang mengaku atau menempati posisi pemimpin, hal yang sama juga berlaku: anak buah adalah cerminan pimpinan. Kurangnya anak buah adalah juga kurangnya pemimpin. Bisa jadi, kurangnya pemimpin karena apa yang diucapkan berbeda dengan apa yang dilakukan. So, jangan kesal kalau anak buahmu cuma pintar ngomong. Mereka belajar untuk cuma pintar ngomong dari guru yang terbaik: KAMU.

Aku sendiri belajar untuk menangkap pesannya, bukan siapa dan bagaimana si penyampai pesan. Sederhananya, ambil yang baik, buang yang buruk. Namun, mengingat kebanyakan dari kita lebih melihat siapa dan bagaimana penyampai pesan, so at least, aku hanya bisa menyampaikan pesan yang aku sendiri bisa jalankan. Aku tidak mungkin melarang orang lain untuk merokok, karena aku sendiri juga merokok. Paling tidak, merokoklah di tempat yang sudah disediakan; merokoklah setelah mampu membeli rokok sendiri; jangan nyesel kalo kena kanker gara-gara rokok.

Kalo aku bisa senantiasa melakukan apa yang aku ucapkan. Aku boleh berharap anak-anakku pun demikian.

Keluar dari Penjara

Hai Bro! Gimana rasanya keluar dari penjara dan menghirup udara bebas? Lega donk? Senang donk? Pengen balik ke sana lagi? Atau malah betah di sana? Gila ya?

Emang cuma orang gila kali ya? Orang yang seneng masuk penjara dan bahkan betah tinggal di sana. But you know Bro? Banyak loh di antara kita dan aku mungkin, yang hidup dalam penjara. Tidak merasa nyaman, tapi toh, kita “betah” tinggal di dalamnya.

Photo Courtesy of Dini Savitri at Gili Trawangan.

Pernah donk ngerasain engga nyaman dengan situasi dimana kita berada, tapi toh, kita tetap bertahan di tengah situasi itu untuk waktu yang lama, dan bahkan pada akhirnya, kita menjadi bagian dari ketidaknyamanan itu.

Apa pasalnya kita tidak nyaman tapi tetap betah?

Penyebabnya adalah keluar dari sebuah ketidaknyaman, seringkali membawa kita masuk ke dalam wilayah ketidaknyamanan yang lain. Kita kuatir, ketika kita keluar dari ketidaknyamanan saat ini, kita akan masuk ke dalam situasi yang lebih buruk daripada situasi saat ini.

Kita abai adanya 2 kemungkinan yang akan terjadi. Situasi yang lebih buruk adalah memang salah satunya, namun, selalu ada kemungkinan bahwa situasi yang akan kita temui sesuai atau bahkan melampaui harapan kita.

Kita mungkin pernah mengetahui, mendengar, seorang perempuan yang mampu untuk sekian lamanya mendampingi seorang lelaki pasangannya yang tak segan-segan dan seringkali menyakitinya baik secara fisik maupun batin, melalui ucapan maupun tindakan,

Beberapa orang akan menilai itu sebagai sebuah kesetiaan, ketegaran atau bahkan pengabdian. Namun, sungguh-kah demikian? Jangan-jangan lebih karena ketakutan dan kekuatiran, karena itu tadi: “Jangan-jangan situasinya tidak lebih baik atau bahkan lebih buruk”.

Aku melihatnya lebih karena bagaimana kita melihat diri kita sendiri, bagaimana kita menghargai diri kita. Sejauh mana kepercayaan diri kita akan kemampuan kita mengatasi tantangan kehidupan di luar “penjara”.

Sayangnya kebanyakan dari kita tidak cukup punya kepercayaan diri untuk keluar dari penjara. Kita memilih untuk bertahan di dalamnya, sambil merutuki nasib dan segala sesuatunya yang tidak nyaman bagi kita.

Buatku sederhana saja. Jika kamu tidak nyaman dengan situasi yang kamu hadapi, maka ubahlah situasinya. Kamu tidak mampu mengubahnya, maka keluarlah dari situasi itu.

Tidak mampu atau tidak mau keluar?

Yah, tentu saja selalu ada pilihan ke-3 : beradaptasi dengan ketidaknyamanan sehingga lambat laut suasana batin dan pikiran kita juga akan berubah. Rutukan berubah menjadi rasa syukur penuh suka cita. “Terima kasih Tuhan! Engkau telah menempatkan aku ke dalam penjara ini. Maafkan aku yang membutuhkan waktu yang lama untuk menyadari nikmatnya hidup dalam penjara ini.”

Ketidaknyamanan berubah menjadi kenyamanan.
Itulah saat sesungguhnya kita sudah berubah menjadi bagian dari ketidaknyaman. Kita sudah menyatu dengan penjara itu. Rasanya, itu berari bahwa kita juga telah memutuskan untuk berhenti berkembang.

Setidaknya itu menurut pendapatku yaa.. Bahwa kita akan sulit berkembang di dalam penjara. So, jika kita ingin tetap berkembang, maka hanya ada 2 pilihan: Ubahlah situasinya atau keluarlah dari situasi yang ada. Untuk kedua pilihan itu, kita hanya perlu belajar dan belajar adalah cara kita untuk berkembang.

Cukup sudah aku bicara dan sekarang waktunya untuk keluar dari penjara.

Masih Kurang Juga??

Baru saja aku lihat sepeda motor bebek Honda 70, yang kalau di Jogja kondang dengan “Si Pitung” (kependekan dari “Pitung Puluh” atau 70). Kalau lihat motor itu, aku jadi teringat Bapak Almarhum, yang pernah bertahun-tahun menggunakan motor itu sebagai kendaraan sehari-hari saat bertugas di Jogja, mulai sekitar tahun 1980 – 1995-an

Mungkin bukanlah hal yang istimewa buatmu Bro, tapi hal itu menjadi hal yang istimewa sekali buatku, khususnya dikaitkan dengan “gaya hidup” para pejabat di Republik ini.
Bapak Almarhum adalah purnawirawan perwira TNI, lulusan Akademi Militer Nasional (sekarang Akmil) tahun 1961, satu angkatan dengan mantan Panglima TNI, Faizal Tanjung.

Selama hidupnya, Beliau menekankan pada kedisiplinan, pembelajaran dan kesederhaan. Pada jaman aku SMA, Bapak membelikan aku sepeda sebagai alat transportasi ke sekolah, sementara anak-anak tentara lainnya, yang pangkatnya jauh lebih rendah, sudah mulai mengendarai sepeda motor sejak SMP. Hingga aku 3 tahun kuliah, pilihan untuk-ku adalah tetap mengendarai sepeda, naik angkutan umum atau pinjam motor kakakku yang nganggur.

Beliau menekankan pada kesederhanaan, karena kami adalah keluarga besar. Beliau harus menghidupi istri dan 8 anak dengan hanya mengandalkan penghasilannya sebagai anggota TNI. Hmm.. Aku jadi ingat salah satu alasan kenapa aku tidak meneruskan jejak Bapak masuk dinas TNI/Polri, yaitu.. Kalau jujur, tidak akan bisa kaya. Hehehe.. Waktu itu loh yaa…

Pun demikian, aku dan kakak-kakakku beruntung bisa menyelesaikan pendidikan tinggi tanpa sedikitpun mengecap uang haram. Bapak memang peduli pada pendidikan anak-anaknya. Beliau menekan pengeluaran untuk hal-hal yang tidak penting, agar bisa menyediakan dana lebih untuk pendidikan anak-anaknya.

Beliau tidak saja meminta anak-anaknya untuk hidup sederhana, namun juga memberi contoh nyata. Beliau selalu menggunakan sepeda motor untuk berangkat dan pulang kerja, bahkan ketika menjabat sebagai wakil rakyat.

Bapak pernah bercerita, suatu hari saat berangkat kerja, beliau pernah diberhentikan oleh polisi saat pemeriksaan surat-surat kendaraan. Salah satu polisi itu kemudian ditampar oleh Bapak, karena menuding Bapak, yang waktu itu mengenakan Pakaian Dinas Harian dibalik jaketnya, sebagai tentara gadungan. Aku berusaha memahami sikap polisi itu yang mungkin menilai bukanlah hal yang umum bagi seorang perwira TNI untuk mengendarai Si Pitung. Kasian juga si Pitung. Masa sih dia tidak layak dipakai oleh perwira tinggi TNI?

Menjelang akhir masa tugasnya sebagai wakil rakyat, Bapak sempat tidak lagi menggunakan si Pitung, namun penggantinya masih berupa motor. Kali itu, sebuah Suzuki Crystal-lah yang mendapat kehormatan untuk ditunggangi Bapak, hingga akhir hayatnya.

Berangkat dari pengalaman itu, aku tidak habis pikir bagaimana mungkin seorang perwira tinggi bintang tiga, Wakil Kepala Polisi Indonesia, Nanan Sukarna mengaku gajinya tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari (sumber: http://nasional.kompas.com/read/2012/10/11/16283040/Wakapolri.Siapa.yang.Bisa.Hidup.Hanya.dari.Gaji ). Ketika seorang perwira TNI/Polri mengeluhkan penghasilan resmi yang tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, kuat dugaanku, dia salah menetapkan kebutuhannya. Buatku sederhana saja, carilah pekerjaan lain yang penghasilannya bisa memenuhi kebutuhannya, atau kalau tidak, bersyukurlah!

Termasuk kamu Bro! Pengen kaya dengan cara jujur. Jangan jadi PNS. Jangan jadi anggota TNI/Polri! Semangat utama PNS/TNI/Polri adalah semangat Abdi Negara. Abdi loh ya, bukan Tuan. Jadi Abdi kok mau jadi kaya? Lupa ya? Bodoh ya?

Kenapa Harus Sama?

Aku engga inget kapan terakhir kali aku melihat iklan yang bener-bener menyentuh hati dan sekaligus menginspirasi sampai aku melihat sebuah iklan yang digunakan sebagai materi dalam seminar motivasi yang aku ikuti beberapa waktu lalu.

Aku kemudian mendapatkan video itu di Youtube dan inilah link-nya:

Kalau kamu tidak termotivasi untuk meng-klik link tersebut sebelum tahu apa isi ceritanya, baiklah aku ceritakan sedikit gambaran tentang video iklan itu. Klip video tersebut menggambarkan seorang gadis tuna rungu yang berkeinginan untuk bisa bermain musik biola setelah melihat seorang Pengamen tua yang bermain biola. Pengamen tua yang kemudian menjadi “Guru Biola” itu ternyata juga seorang penyandang tuna rungu.

Ada percakapan yang menyentuh ketika si Gadis tuna rungu sembari menangis bertanya kepada si Pengamen dengan bahasa simbol: “Kenapa aku berbeda dengan yang lain?”. Si Pengamen Tua menjawab: “Kenapa kamu harus sama dengan yang lain?”.

Seberapa seringkah kita berharap sama seperti atau bahkan menjadi orang lain? Setiap pagi, siang, sore atau malam? Sepanjang waktu? Ketimbang berjuang menjalani kehidupan untuk menjadi diri sendiri dengan cara sendiri, kebanyakan dari kita mungkin menjalani kehidupan untuk menjadi orang lain.

Aku tak berani mengatakan bahwa hal itu benar atau salah. Pada akhirnya, itu hanyalah pilihan bagaimana kita mendiskripsikan kebahagiaan yang kita ingin ujudkan dalam kehidupan kita.

Btw Bro, at the end of the Ad, si Gadis Tuna Rungu itu kemudian memainkan musik “Canon in D” komposisi Johann Pachelbel secara memukau. Kamu sungguh harus meluangkan waktu melihat klip video itu Bro. Jauh lebih bermanfaat ketimbang menonton sinetron.

Janji Tinggal Janji

Hai Bro! Apa kabar? Lama sekali ya kita tidak berjumpa? Entah kenapa dalam satu waktu aku merasa sudah cukup banyak berkata-kata. Kamu tau apa masalahnya ketika kita berkata-kata? Semakin banyak kata-kata, semakin banyak janji yang kita lontarkan. Samasekali bukan masalah kalo kita bisa memenuhi keseluruhan janji yang sudah kita lontarkan yang otomatis terekam oleh pusat pendataan alam semesta itu.

So, untuk sekian waktu lamanya setelah tulisan terakhir-ku: “Bahagia Bisa Plung”, aku mencermati kembali janji-janji yang pernah aku lontarkan. Kepada siapa? Well, yang harus kamu pahami, tulisan-tulisan yang pernah dan aku sampaikan di sini aku tujukan lebih untuk diriku sendiri. Jadi, janji-janji yang terlontarkan adalah terutama janji untuk-ku sendiri.

Orang akan selalu bisa menilai, sejauh mana kita memenuhi janji kita. Sejauh mana keselarasan antara ucapan dan tindakan. Namun sesungguhnya menurutku yang paling penting adalah sejauh mana keselarasan antara apa yang ada dalam diri kita, dalam pikiran dan perasaan, dengan apa yang terucapkan dan terujud dalam tindakan kita.

Aku tidak akan ambil pusing dengan penilaian orang lain jika: “Apa yang aku ucapkan, berbeda dengan apa yang aku lakukan”. Orang bisa saja salah memahami apa yang aku sampaikan toh? Aku hanya perlu menjelaskan apa yang sesungguhnya aku maksudkan.

Hal yang perlu aku pusingkan adalah jika aku sendiri menyadari bahwa “Apa yang aku pikirkan dan rasakan, berbeda dengan apa yang aku ucapkan dan lakukan”. Itu artinya aku hidup dalam Kepalsuan Sejati.

Tulisan-tulisanku menjadi: “Aku berjanji, inilah yang ada dalam diriku, dalam pikiran dan perasaanku. Inilah aku sesungguhnya, seperti yang tercermin dalam ucapan dan tindakanku.”

Pada akhirnya, untuk menjadi diri sendiri hanyalah menyelaraskan apa yang ada dalam diri dengan apa yang nampak dari luar melalui ucapan dan tindakanku. Apakah aku sudah menjadi diriku sendiri, ataukah aku masih menjadi orang lain yang bahkan tidak dikenali oleh Orang Tua-ku.

Jadi Bro, tuliskanlah apa yang ada pikiran dan perasaanmu. Itu membantumu mengenali dan untuk menjadi diri sendiri. Tentu saja, kita semua selalu punya pilihan untuk memenuhi janji dan menjadi diri sendiri atau menjadi orang asing.

We Know it, We Just Don’t Care About It..

Adzan Subuh belum juga berkumandang saat Bapak membangunkan dini hari tadi karena genangan air memasuki halaman sekitar pukul 03.00 WIB.

Itu berarti air sudah mencapai ketinggian paha orang dewasa di rumah-rumah tetangga di seberang tempat tinggal kami yang masih termasuk kawasan tepian Kali Pesanggrahan Jakarta.

Aku segera bergegas bangun dan mulai memindahkan kendaraan ke pinggir jalan masuk kampung kami yang lebih tinggi untuk mengantisipasi datangnya banjir sebagaimana Tahun 2007 lalu.

Waduh Bro, aku masih ingat betapa waktu itu, sekitar pukul 02.00 dini hari, ketika kebanyakan warga Jakarta masih terlelap dibuai oleh mimpi, kami harus tergopoh-gopoh memindahkan semua barang-barang ke tempat yang lebih tinggi karena Kali Pesanggrahan meluap dengan cepat. Aku bahkan harus mengungsikan istri dan anak-ku ke tempat Kakak.

Semoga kali ini hanya sekedar peringatan Kali Pesanggrahan kepada kami untuk senantiasa mawas diri. Hujan bahkan hanya mengguyur kawasan tempat tinggal kami sejenak saja tadi malam. Jadi, luapan Kali Pesanggrahan ini jelas akibat curah hujan yang tinggi di kawasan hulu di Bogor.

Sampai kapankah kami harus hidup di bawah ancaman banjir setiap kali musim penghujan? Sudah pasti selama kami memperlakukan alam dengan buruk, selama itu-lah kami harus selalu siap sedia atas datangnya bumerang yang kami lemparkan sendiri.

Setiap orang sudah tahu ini: alam selalu memantulkan kembali setiap perlakuan kita. Jika kita menjaga dan memelihara alam, maka alam akan membalasnya dengan bumi yang ijo royo-royo, panen yang berlimpah, musim yang datang bergantian secara teratur, air yang jernih dan menyehatkan.

Namun sebaliknya, jika kita merusak alam, usah-lah kita kaget dan ketakutan ketika tanah longsor menimbun rumah-rumah kita, ketika air yang coklat dan kotor dengan cepat memasuki rumah-rumah kita laksana serombongan perampok yang haus dan kelaparan.

Usah menangisi Saudara-saudara kita yang dijemput maut oleh karenanya. Air mata buaya! Karena kita tahu dan sadar bahwa kita sendiri yang membunuh mereka. Untuk apa menangisi kebodohan dan ketololan kita sendiri? Hanya supaya orang lain melihat kesedihan kita ditinggal pergi oleh orang-orang yang kita cintai? Kebodohan dan ketololan kita-lah yang membuat mereka pergi selama-lamanya.

Bukan Bro, bukan kebodohan dan ketololan, namun ketidakpedulian. Ya, kita semua tahu apa akibatnya jika kita terus merusak alam, namun kita tetap melakukannya. Pun ketika, alam meminta Saudara-saudara kita sebagai tumbalnya, kita masih terus melakukannya. Kita mungkin akan terus melakukannya sampai manusia terakhir yang hidup di atas muka bumi.

Jadi Bro, lakukanlah apa yang kau sukai, apa saja dan biarkan alam bertindak sesuka hatinya pula. Ketika manusia tak lagi peduli atas bumi yang menghidupinya, kenapa juga bumi harus terus menghidupi manusia?