Tentang Keras vs Lunak

Ah yaa…

Fungsi ereksi yang normal itu adalah keras dan lunak pada waktunya.
Orang yang berwatak keras bukanlah orang yang sepanjang waktu bersikap keras.
Dia tetap akan bisa bersikap lunak nan halus pada situasi dan waktu tertentu.

Demikian pula orang yang berwatak halus.
Kita mungkin hanya belum pernah melihat dia marah.

Yang penting, sama seperti ereksi, jangan sampai waktunya keras malah lunak.
Atau sebaliknya, jangan sampai waktunya melunak, malah mengeras.

Jadilah Ahok saat dibutuhkan, dan sebaliknya, jadilah Anies jika diperlukan.

 

Advertisements

Raungan Kebodohan

Sejak kemarin hingga pagi ini, berulang kali aku mendengar raungan suara knalpot sepeda motor menerjang air luapan Kali Pasanggrahan yang menggenangi jalan di depan rumah di kawasan Ulujami, Jakarta Selatan. Awalnya sangat menjengkelkan. Para pengemudi sepeda motor itu hampir selalu diingatkan warga sekitar bahwa genangan air terlalu tinggi untuk dilewati, namun, mereka selalu nekad menerobos berbekal persneling pada gigi satu dan putaran mesin yang tinggi secara konstan. Sebuah kombinasi yang selalu sukses membuat mata terbuka di tengah tidurku di malam hari karena mendengar kebisingan yang diciptakan.

Lambat laun rasa jengkel itu berubah menjadi rasa geli setelah aku menangkap “sebuah pola” dari suara yang aku dengar. Awalnya adalah suara peringatan warga sekitar kepada pengendara motor; “Banjir..! Banjir..!”. Setelah itu diikuti oleh suara “jeritan” konstan knalpot sepeda motor. Itu artinya si pengemudi motor mengabaikan peringatan warga. Tak lama kemudian setelah suara jeritan melintasi depan rumah, suara yang terdengar adalah suara mesin yang tersendat-sendat dan kemudian hening. Itu artinya, air sukses memasuki ruang mesin ketika motor melintasi genangan air yang semakin dalam, sekitar 30-50cm. Suara bagian terakhir dari pola tersebut, adalah suara “kegagalan” mesin yang berusaha dinyalakan berulang-ulang.

Jika aku sudah mendengar suara mesin yang tersendat- sendat, tak terhindarkan lagi bibirku membentuk senyum yang teramat manis meski mata masih terpejam dalam tidur yang tak nyenyak itu. “Semoga sukses mengatasi mesin yang mabuk air kali..” atau “Dikasih tau ngeyel sih!”, demikian batinku menanggapi pola suara yang berakhir pada kesia-siaan tersebut.

Aku berusaha memahami kenekadan para pengemudi sepeda motor itu. Tak peduli mereka melihat berapapun banyaknya motor-motor di pinggir jalan yang “kalah perang”, sebagian besar dari mereka selalu nekad menerobos meski hampir selalu menyusul motor-motor sebelumnya yang “kalah perang”.

Kebanyakan dari mereka merasa yakin motornya mampu menerobos genangan air, padahal mereka tak juga tahu seberapa dalam genangan air itu. Sisi lain, jika mereka menghindari genangan dan memilih jalan memutar, itu berarti mereka harus menempuh jarak 2-3 Km lebih jauh. Sepertinya, bagi pengendara-pengendara itu, mesin motor yang macet adalah resiko yang lebih layak dipilih ketimbang harus menempuh jarak yang lebih jauh (sebenarnya tidak terlalu jauh juga). Pada akhirnya, mereka menjadi jauh lebih lama mencapai tujuannya karena mesin yang macet kebanjiran ketimbang mengambil jalan memutar.

Seberapa banyakkah diantara kita yang memiliki pola pikir yang sama dengan para pengemudi motor nekad itu? Kebanyakan dari kita mungkin memiliki kecenderungan yang sama: mau cepat sampai tujuan dan lalu menggunakan cara- cara yang instan. Meski pada akhirnya cara-cara yang instan itu tidak berhasil membawa kita kemanapun jua.

Aku jadi ingat saat-saat mendaki gunung. Ada dua jalur: jalur “landai”, yang memutar dan membutuhkan waktu yang lebih lama, namun relatif lebih “aman” serta jalur “terjal”, dengan sudut kemiringan yang lebih besar, lebih terjal, lebih beresiko, namun lebih cepat untuk mencapai puncak. Selayaknya orang yang berakal, baiklah kita benar-benar mempertimbangkan kemampuan kita dan medan yang kita hadapi ketimbang sekedar mengandalkan keberuntungan, untuk memilih apapun jalur atau cara yang akan kita pilih.

Jadi, lain waktu ketika kamu hanya berbekal kenekadan untuk kemudian bernasib serupa seperti para pengemudi sepeda motor yang terhenti di tengah jalan, ingatlah selalu bahwa saat kamu sadar kamu telah salah memilih jalan, meski telah diingatkan, aku akan tersenyum sangat manis kepadamu.