Kebisingan Dalam Diri

Kemarin dalam perjalanan menuju kantor seorang klien, mobil yang aku tumpangi nyaris ditabrak mobil lain. Salah kami benernya. Waktu itu di Bundaran Hotel Indonesia aku kurang jelas menunjukkan arah pada teman yang nyetir mobil. Dia lalu salah ambil lajur hingga harus dadakan berpindah lajur dan lalu mengagetkan pengemudi mobil di belakang kami. Si pengemudi yang jengkel kemudian menyalip dan memepet kami. Aku lalu membuka jendela dan melambaikan tangan sembari meminta maaf.

Tampak jelas si pengemudi itu sangat marah. Dibalik jendela yang tertutup rapat, wajah yang menegang, mata terlihat melotot, jarinya menuding-nuding ke arah kami, mulutnya terlihat komat – kamit.

Mulutnya komat – kamit? Aku tahu dia sedang berteriak – teriak. Penuh caci maki dan angkara murka mungkin. Namun, tidak sedikitpun suara yang terdengar dari balik jendela mobil yang tertutup rapat itu. Aku samasekali tidak menangkap pesan yang ia sampaikan selain dari ekspresi yang ia tunjukkan. Kenapa dia tidak membuka jendelanya untuk menyampaikan pesannya? Tidakkah ia ditelan kebisingannya sendiri?

Sejenak aku dalam situasi yang canggung antara merasa menyesal tapi juga ingin tertawa melihatnya. Aku seperti melihat adegan film bisu dimana para pemirsa hanya bisa menangkap pesan dari bahasa tubuh dan ekspresi wajah para pemainnya atau seperti ikan dalam akuarium dengan mulut yang komat – kamit.

Hal yang terjadi berikutnya setelah si pengemudi melanjutkan perjalanannya adalah kami menjadikan peristiwa dan khususnya tindakan dan ekspresi si pengemudi yang marah marah di balik jendela yang tertutup rapat sebagai bahan candaan dan bahan tertawaan.

Rasa menyesal berubah dalam sekejap menjadi rasa suka cita penuh kegirangan. Kami mengulangi ekspresi si pengemudi, menggerak – gerakkan bibir kami, seperti ikan di dalam akuarium; komat – kamit dalam kebisuan. Kami-pun tertawa terbahak – bahak melihat ekspresi kami masing – masing. Akupun langsung lupa bahwa saat itu aku nyaris membuat celaka orang.

Pagi ini aku mengenang kembali peristiwa itu. Selain mengingatkan diri untuk lebih berhati – hati dalam mengemudi dan lebih berempati, aku juga bertanya pada diri sendiri; seberapa seringkah aku “berteriak – teriak di balik jendela mobil yang tertutup rapat?”

Seberapa seringkah aku menjadi si pengemudi yang diliputi amarah itu?
Seberapa sering aku memilih untuk berteriak – teriak di dalam diri, membiarkan semua sel dalam diriku merasakan dan merekam semua kemarahanku?

Dalam hal itu, jika aku tidak bisa menetralisir emosi negatif, aku akan memilih untuk melepaskannya keluar ketimbang membiarkan emosi negatif itu menciptakan kebisingan dalam diri.

Advertisements

Masih Kurang Juga??

Baru saja aku lihat sepeda motor bebek Honda 70, yang kalau di Jogja kondang dengan “Si Pitung” (kependekan dari “Pitung Puluh” atau 70). Kalau lihat motor itu, aku jadi teringat Bapak Almarhum, yang pernah bertahun-tahun menggunakan motor itu sebagai kendaraan sehari-hari saat bertugas di Jogja, mulai sekitar tahun 1980 – 1995-an

Mungkin bukanlah hal yang istimewa buatmu Bro, tapi hal itu menjadi hal yang istimewa sekali buatku, khususnya dikaitkan dengan “gaya hidup” para pejabat di Republik ini.
Bapak Almarhum adalah purnawirawan perwira TNI, lulusan Akademi Militer Nasional (sekarang Akmil) tahun 1961, satu angkatan dengan mantan Panglima TNI, Faizal Tanjung.

Selama hidupnya, Beliau menekankan pada kedisiplinan, pembelajaran dan kesederhaan. Pada jaman aku SMA, Bapak membelikan aku sepeda sebagai alat transportasi ke sekolah, sementara anak-anak tentara lainnya, yang pangkatnya jauh lebih rendah, sudah mulai mengendarai sepeda motor sejak SMP. Hingga aku 3 tahun kuliah, pilihan untuk-ku adalah tetap mengendarai sepeda, naik angkutan umum atau pinjam motor kakakku yang nganggur.

Beliau menekankan pada kesederhanaan, karena kami adalah keluarga besar. Beliau harus menghidupi istri dan 8 anak dengan hanya mengandalkan penghasilannya sebagai anggota TNI. Hmm.. Aku jadi ingat salah satu alasan kenapa aku tidak meneruskan jejak Bapak masuk dinas TNI/Polri, yaitu.. Kalau jujur, tidak akan bisa kaya. Hehehe.. Waktu itu loh yaa…

Pun demikian, aku dan kakak-kakakku beruntung bisa menyelesaikan pendidikan tinggi tanpa sedikitpun mengecap uang haram. Bapak memang peduli pada pendidikan anak-anaknya. Beliau menekan pengeluaran untuk hal-hal yang tidak penting, agar bisa menyediakan dana lebih untuk pendidikan anak-anaknya.

Beliau tidak saja meminta anak-anaknya untuk hidup sederhana, namun juga memberi contoh nyata. Beliau selalu menggunakan sepeda motor untuk berangkat dan pulang kerja, bahkan ketika menjabat sebagai wakil rakyat.

Bapak pernah bercerita, suatu hari saat berangkat kerja, beliau pernah diberhentikan oleh polisi saat pemeriksaan surat-surat kendaraan. Salah satu polisi itu kemudian ditampar oleh Bapak, karena menuding Bapak, yang waktu itu mengenakan Pakaian Dinas Harian dibalik jaketnya, sebagai tentara gadungan. Aku berusaha memahami sikap polisi itu yang mungkin menilai bukanlah hal yang umum bagi seorang perwira TNI untuk mengendarai Si Pitung. Kasian juga si Pitung. Masa sih dia tidak layak dipakai oleh perwira tinggi TNI?

Menjelang akhir masa tugasnya sebagai wakil rakyat, Bapak sempat tidak lagi menggunakan si Pitung, namun penggantinya masih berupa motor. Kali itu, sebuah Suzuki Crystal-lah yang mendapat kehormatan untuk ditunggangi Bapak, hingga akhir hayatnya.

Berangkat dari pengalaman itu, aku tidak habis pikir bagaimana mungkin seorang perwira tinggi bintang tiga, Wakil Kepala Polisi Indonesia, Nanan Sukarna mengaku gajinya tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari (sumber: http://nasional.kompas.com/read/2012/10/11/16283040/Wakapolri.Siapa.yang.Bisa.Hidup.Hanya.dari.Gaji ). Ketika seorang perwira TNI/Polri mengeluhkan penghasilan resmi yang tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, kuat dugaanku, dia salah menetapkan kebutuhannya. Buatku sederhana saja, carilah pekerjaan lain yang penghasilannya bisa memenuhi kebutuhannya, atau kalau tidak, bersyukurlah!

Termasuk kamu Bro! Pengen kaya dengan cara jujur. Jangan jadi PNS. Jangan jadi anggota TNI/Polri! Semangat utama PNS/TNI/Polri adalah semangat Abdi Negara. Abdi loh ya, bukan Tuan. Jadi Abdi kok mau jadi kaya? Lupa ya? Bodoh ya?

Kenapa Harus Sama?

Aku engga inget kapan terakhir kali aku melihat iklan yang bener-bener menyentuh hati dan sekaligus menginspirasi sampai aku melihat sebuah iklan yang digunakan sebagai materi dalam seminar motivasi yang aku ikuti beberapa waktu lalu.

Aku kemudian mendapatkan video itu di Youtube dan inilah link-nya:

Kalau kamu tidak termotivasi untuk meng-klik link tersebut sebelum tahu apa isi ceritanya, baiklah aku ceritakan sedikit gambaran tentang video iklan itu. Klip video tersebut menggambarkan seorang gadis tuna rungu yang berkeinginan untuk bisa bermain musik biola setelah melihat seorang Pengamen tua yang bermain biola. Pengamen tua yang kemudian menjadi “Guru Biola” itu ternyata juga seorang penyandang tuna rungu.

Ada percakapan yang menyentuh ketika si Gadis tuna rungu sembari menangis bertanya kepada si Pengamen dengan bahasa simbol: “Kenapa aku berbeda dengan yang lain?”. Si Pengamen Tua menjawab: “Kenapa kamu harus sama dengan yang lain?”.

Seberapa seringkah kita berharap sama seperti atau bahkan menjadi orang lain? Setiap pagi, siang, sore atau malam? Sepanjang waktu? Ketimbang berjuang menjalani kehidupan untuk menjadi diri sendiri dengan cara sendiri, kebanyakan dari kita mungkin menjalani kehidupan untuk menjadi orang lain.

Aku tak berani mengatakan bahwa hal itu benar atau salah. Pada akhirnya, itu hanyalah pilihan bagaimana kita mendiskripsikan kebahagiaan yang kita ingin ujudkan dalam kehidupan kita.

Btw Bro, at the end of the Ad, si Gadis Tuna Rungu itu kemudian memainkan musik “Canon in D” komposisi Johann Pachelbel secara memukau. Kamu sungguh harus meluangkan waktu melihat klip video itu Bro. Jauh lebih bermanfaat ketimbang menonton sinetron.