Kenapa Harus Sama?

Aku engga inget kapan terakhir kali aku melihat iklan yang bener-bener menyentuh hati dan sekaligus menginspirasi sampai aku melihat sebuah iklan yang digunakan sebagai materi dalam seminar motivasi yang aku ikuti beberapa waktu lalu.

Aku kemudian mendapatkan video itu di Youtube dan inilah link-nya:

Kalau kamu tidak termotivasi untuk meng-klik link tersebut sebelum tahu apa isi ceritanya, baiklah aku ceritakan sedikit gambaran tentang video iklan itu. Klip video tersebut menggambarkan seorang gadis tuna rungu yang berkeinginan untuk bisa bermain musik biola setelah melihat seorang Pengamen tua yang bermain biola. Pengamen tua yang kemudian menjadi “Guru Biola” itu ternyata juga seorang penyandang tuna rungu.

Ada percakapan yang menyentuh ketika si Gadis tuna rungu sembari menangis bertanya kepada si Pengamen dengan bahasa simbol: “Kenapa aku berbeda dengan yang lain?”. Si Pengamen Tua menjawab: “Kenapa kamu harus sama dengan yang lain?”.

Seberapa seringkah kita berharap sama seperti atau bahkan menjadi orang lain? Setiap pagi, siang, sore atau malam? Sepanjang waktu? Ketimbang berjuang menjalani kehidupan untuk menjadi diri sendiri dengan cara sendiri, kebanyakan dari kita mungkin menjalani kehidupan untuk menjadi orang lain.

Aku tak berani mengatakan bahwa hal itu benar atau salah. Pada akhirnya, itu hanyalah pilihan bagaimana kita mendiskripsikan kebahagiaan yang kita ingin ujudkan dalam kehidupan kita.

Btw Bro, at the end of the Ad, si Gadis Tuna Rungu itu kemudian memainkan musik “Canon in D” komposisi Johann Pachelbel secara memukau. Kamu sungguh harus meluangkan waktu melihat klip video itu Bro. Jauh lebih bermanfaat ketimbang menonton sinetron.

Advertisements