Tentang Kelahiran

“Ada 2 hari yang paling penting dalam kehidupan manusia. Pertama adalah hari ketika  ia dilahirkan, dan hari saat ia mengetahui untuk apa ia dilahirkan.” 
~ Mark Twain

 Banyak orang yang bertanya-tanya apa hadiah yang akan mereka terima di hari kelahirannya, di hari ulang tahunnya. Banyak juga yang ragu jika mereka akan menerima hadiah ulang tahun.

Namun, seberapa banyakkah di antara kita yang mencari tahu sejauh mana kita menjadi “hadiah” bagi sesama?  Apakah kelahiran kita memberikan manfaat bagi orang lain?  Untuk apa ia dilahirkan?

Sebaliknya, apakah orang berterima kasih  atas kelahiran seseorang? Si A mengucapkan terima kasih kepada si B di hari ulang tahun si B, bahwa kelahiran dan si B telah memberikan arti bagi kehidupan si A.

Ulang tahun seringkali tidak lebih menjadi momen di mana orang yang berulang tahun mendapatkan dan atau mengharapkan ucapan selamat dan hadiah ulang tahun.  Sesuatu yang menurutku tidaklah esensial. Sesuatu yang jauh dari makna kelahiran seseorang.

Oleh karena itu, menyambut hari kelahiran istriku, Dini Savitri, pada hari Sabtu, 4 Oktober 2014 ini, baiklah aku mengucapkan syukur kepada Tuhan yang telah menghadirkan kamu ke dunia ini. Aku juga berterima kasih atas pendampinganmu selama ini. Atas kesediaanmu menemaniku menyusuri jalanan sunyi ini, dalam suka dan duka, dalam tawa dan tangis. 

Terima kasih, terima kasih dan terima kasih, karena kamu sudah berkenan memberikan bertahun-tahun dari kehidupanmu yang sangat berarti dengan melewati waktu bersamaku.

Advertisements

Gajah itu Bulat..

Beruntung sekali waktu konser Guns N Roses tanggal 16 Desember lalu kita dapat posisi di Tribun. Meski tentu saja mengingat tiket yang aku dan istriku pegang adalah tiket kelas Festival B yang harganya paling rendah, lokasi kami paling jauh dari panggung, tapi penonton kelas itu mendapatkan kursi. Berbeda dengan kelas VIP dan kelas Festival A yang penontonnya sangat berdesak-desakan dan harus terus berdiri (atau keluar dari kerumunan dan duduk di atas lantai), kami, para penonton kelas Kambing, bisa duduk di atas kursi yang nyaman.

Lebih dari itu, kami bisa mengamati panggung secara keseluruhan, dari sudut ke sudut, keseluruhan tata pencahayaannya, keramaian penontonnya dan performance masing-masing personil GNR dengan sangat jelas melalui layar lebar di atas kami. Permainan piano Axl Rose saat menyanyikan lagu “November Rain” pun terlihat dengan jelas melalui layar itu. Aku jadi merasa sangat menikmati konser GNR itu karena aku bisa melihat konser itu secara keseluruhan.

"From A Distance" Seorang penonton tengah mengamati panggung konser GNR di Ancol, Jakarta, 16 Desember 2012.

“From A Distance” Seorang penonton tengah mengamati panggung konser GNR di Ancol, Jakarta, 16 Desember 2012.

Aku tidak ingin cerita lebih panjang soal konser GNR. Konser itu hanya mengingatkan aku bahwasannya untuk memahami sesuatu aku harus memahami keseluruhan faktor-faktor yang terkait. Aku jadi ingat ketika menjalani penugasan dan harus mencapai target. Ketika kami harus memahami kenapa sebuah target bisa tercapai atau sebaliknya, tidak tercapai.

Sebuah pencapaian target menuntut terpenuhinya beberapa faktor; internal dan eksternal, yang masing-masing-masing bisa saling berpengaruh satu sama lain. Dari sisi internal, bagaimana kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusianya, timing? Bagaimana produknya itu sendiri; Kualitasnya, cita rasa, harga, penyajian, kemasannya, distribusinya, promosinya, paska penjualannya? Sementara dari kondisi eksternal, bagaimana dengan pasarnya, persaingannya, kondisi industri, kondisi perekonomian nasional dan atau global? Mungkin masih banyak lagi faktor-faktor yang harus dicermati untuk mengevaluasi pencapaian sebuah target.

Keberhasilan untuk mencermati keseluruhan faktor-faktor yang berperan dalam sebuah peristiwa akan menghadirkan pemahaman kenapa sebuah hal bisa terjadi, sekaligus apa-apa saja yang harus kita lakukan untuk menyikapinya.  Sebaliknya, kegagalan untuk mencermati keseluruhan faktor tersebut besar kemungkinan akan menyebabkan kekeliruan dalam memahami sebuah peristiwa sekaligus kekeliruan dalam menyikapinya.

Sama seperti beberapa orang yang berusaha memahami bentuk dan ukuran gajah tanpa melihat dan hanya memegang bagian-bagian tertentu dari gajah itu saja. Jangan heran ada yang bilang gajah itu bulat karena yang dipegang adalah buah zakar-nya.

Kenapa Harus Sama?

Aku engga inget kapan terakhir kali aku melihat iklan yang bener-bener menyentuh hati dan sekaligus menginspirasi sampai aku melihat sebuah iklan yang digunakan sebagai materi dalam seminar motivasi yang aku ikuti beberapa waktu lalu.

Aku kemudian mendapatkan video itu di Youtube dan inilah link-nya:

Kalau kamu tidak termotivasi untuk meng-klik link tersebut sebelum tahu apa isi ceritanya, baiklah aku ceritakan sedikit gambaran tentang video iklan itu. Klip video tersebut menggambarkan seorang gadis tuna rungu yang berkeinginan untuk bisa bermain musik biola setelah melihat seorang Pengamen tua yang bermain biola. Pengamen tua yang kemudian menjadi “Guru Biola” itu ternyata juga seorang penyandang tuna rungu.

Ada percakapan yang menyentuh ketika si Gadis tuna rungu sembari menangis bertanya kepada si Pengamen dengan bahasa simbol: “Kenapa aku berbeda dengan yang lain?”. Si Pengamen Tua menjawab: “Kenapa kamu harus sama dengan yang lain?”.

Seberapa seringkah kita berharap sama seperti atau bahkan menjadi orang lain? Setiap pagi, siang, sore atau malam? Sepanjang waktu? Ketimbang berjuang menjalani kehidupan untuk menjadi diri sendiri dengan cara sendiri, kebanyakan dari kita mungkin menjalani kehidupan untuk menjadi orang lain.

Aku tak berani mengatakan bahwa hal itu benar atau salah. Pada akhirnya, itu hanyalah pilihan bagaimana kita mendiskripsikan kebahagiaan yang kita ingin ujudkan dalam kehidupan kita.

Btw Bro, at the end of the Ad, si Gadis Tuna Rungu itu kemudian memainkan musik “Canon in D” komposisi Johann Pachelbel secara memukau. Kamu sungguh harus meluangkan waktu melihat klip video itu Bro. Jauh lebih bermanfaat ketimbang menonton sinetron.

Children of Tomorrow

Hai Bro! Apa kabar? Gimana masa kecilmu?

Minggu lalu aku bertugas dalam sebuah kegiatan Ramadhan di Masjid Al Huda, Batu Ceper, Tangerang, Banten. Aku terkesan oleh keceriaan anak-anak yang bermain di halaman Masjid. Begitu lepas dan bebas. Tiga gadis cilik di antaranya yang tahu aku memegang kamera, langsung menghampiriku dan bilang: “Om.. Foto donk!” Aku dengan senang hati memenuhi permintaan mereka yang segera berpose di bagian gagang sebuah mug raksasa milik sponsor kegiatan kami yang dipajang di halaman masjid.

 

 

Sebelum aku sempat mencatat nama-namanya, mereka langsung kembali menghampiri teman-teman mereka untuk melanjutkan permainan. “Hey! Tidak-kah kalian ingin melihat hasilnya? Tidak-kah kalian ingin bertanya kapan kalian akan mendapatkan fotonya?”, batinku. Mungkin bukan itu yang mereka mau. Mungkin, mereka hanya menginginkan sensasi berpose di depan kamera.

Well, that’s OK! Toh, aku sudah menyimpan senyum manis mereka dalam benak dan penyimpan file digital-ku. Semoga kalian tumbuh menjadi anak yang Sehat, Kuat, Cerdas, Ceria, Pemberani dan Berbudi Luhur. Kepada kalian-lah Indonesia akan bergantung di hari-hari yang akan datang.

Itulah doaku, namun, akan seperti apakah mereka nantinya? Mungkin hanya Tuhan dan orang tua mereka yang tahu.

Hmm.. Kamu tahu akan seperti apakah anakmu Bro? Mungkin lebih tepatnya, kamu tahu apa yang kamu inginkan akan seperti apakah anak-anakmu nantinya, tapi ketahuilah..

1. Setiap orang tua tahu apa yang mereka inginkan seperti apa anak-anak mereka nantinya. Namun, semakin sedikit orang tua yang..

2. Sungguh-sungguh mengetahui apa yang harus  dan perlu mereka lakukan, agar anak-anak mereka menjadi apa yang mereka inginkan, dan.. Hanya segelintir orang tua yang..

3. Sungguh-sungguh melakukan apa yang harus dan perlu mereka lakukan agar anak-anak mereka menjadi apa yang mereka inginkan.

Ini sama seperti halnya sebuah perjalanan.. Aku harus tahu apa tujuanku dan bagaimana aku mencapai tujuanku: Jalan-jalan yang harus aku lalui dan rute yang harus aku tempuh. Namun, paling penting adalah.. Aku harus mau melangkah menyusuri rute yang sudah aku tetapkan untuk mencapai tujuanku.

 

 

 

Janji Tinggal Janji

Hai Bro! Apa kabar? Lama sekali ya kita tidak berjumpa? Entah kenapa dalam satu waktu aku merasa sudah cukup banyak berkata-kata. Kamu tau apa masalahnya ketika kita berkata-kata? Semakin banyak kata-kata, semakin banyak janji yang kita lontarkan. Samasekali bukan masalah kalo kita bisa memenuhi keseluruhan janji yang sudah kita lontarkan yang otomatis terekam oleh pusat pendataan alam semesta itu.

So, untuk sekian waktu lamanya setelah tulisan terakhir-ku: “Bahagia Bisa Plung”, aku mencermati kembali janji-janji yang pernah aku lontarkan. Kepada siapa? Well, yang harus kamu pahami, tulisan-tulisan yang pernah dan aku sampaikan di sini aku tujukan lebih untuk diriku sendiri. Jadi, janji-janji yang terlontarkan adalah terutama janji untuk-ku sendiri.

Orang akan selalu bisa menilai, sejauh mana kita memenuhi janji kita. Sejauh mana keselarasan antara ucapan dan tindakan. Namun sesungguhnya menurutku yang paling penting adalah sejauh mana keselarasan antara apa yang ada dalam diri kita, dalam pikiran dan perasaan, dengan apa yang terucapkan dan terujud dalam tindakan kita.

Aku tidak akan ambil pusing dengan penilaian orang lain jika: “Apa yang aku ucapkan, berbeda dengan apa yang aku lakukan”. Orang bisa saja salah memahami apa yang aku sampaikan toh? Aku hanya perlu menjelaskan apa yang sesungguhnya aku maksudkan.

Hal yang perlu aku pusingkan adalah jika aku sendiri menyadari bahwa “Apa yang aku pikirkan dan rasakan, berbeda dengan apa yang aku ucapkan dan lakukan”. Itu artinya aku hidup dalam Kepalsuan Sejati.

Tulisan-tulisanku menjadi: “Aku berjanji, inilah yang ada dalam diriku, dalam pikiran dan perasaanku. Inilah aku sesungguhnya, seperti yang tercermin dalam ucapan dan tindakanku.”

Pada akhirnya, untuk menjadi diri sendiri hanyalah menyelaraskan apa yang ada dalam diri dengan apa yang nampak dari luar melalui ucapan dan tindakanku. Apakah aku sudah menjadi diriku sendiri, ataukah aku masih menjadi orang lain yang bahkan tidak dikenali oleh Orang Tua-ku.

Jadi Bro, tuliskanlah apa yang ada pikiran dan perasaanmu. Itu membantumu mengenali dan untuk menjadi diri sendiri. Tentu saja, kita semua selalu punya pilihan untuk memenuhi janji dan menjadi diri sendiri atau menjadi orang asing.

Menyambut Kehidupan yang Baru..

Hari ini, Ibu dari seorang kawanku berpulang ke Rahmatullah. Aku bersyukur bisa turut melayat dan melihat senyum tipis serta kedamaian dari wajah Almarhumah. Aku yakin Beliau berbahagia telah menjalani kehidupan yang penuh dengan Berkat dan Rahmat Ilahi, untuk kemudian siap menjalani kehidupan selanjutnya. Semoga temanku dan keluarga yang ditinggalkan Almarhumah tetap tabah dan bersyukur.

Kamu tahu Bro? Tidak ada yang lebih aku inginkan selain meninggalkan kehidupan dengan senyum kebahagiaan dan kedamaian. Tahu bahwa aku telah menjalankan semua yang harus aku jalankan selama kehidupan ini. Tahu bahwa Istri dan Anak-anak-ku akan baik-baik saja dan selalu baik-baik saja: Selamat, Sehat, Kuat, Sejahtera dan Bijaksana sepeninggalku.

Aku tidak tahu seberapa lama aku akan menjalani kehidupan ini, bagaimana kehidupanku saat ini akan berakhir serta seperti apa kehidupanku selanjutnya. Well, aku hanya peduli bahwa: cepat atau lambat jantungku kan berhenti berdetak, nadiku kan berhenti berdenyut, nafasku kan berhenti berhembus selamanya.

Kehidupan dan Kematian bagiku hanyalah tahapan-tahapan dari sebuah perjalanan. Tak jauh berbeda dengan hal-hal yang harus kita jalani sehari-hari, dalam pekerjaan, pergaulan kita, dalam aktivitas kita sehari-hari. Kadang-kadang, kita lagi sibuk dan perhatian pada satu pekerjaan, namun kemudian, atasan meminta kita untuk meninggalkan pekerjaan kita dan fokus pada pekerjaan lain.

Jika kita beruntung, atasan memberikan kita tugas yang baru, setelah kita menuntaskan sebuah tugas. Ketika kita sudah dalam posisi siap sepenuhnya untuk sebuah penugasan baru.
Tapi tentu saja, tidak setiap orang bisa menikmati keberuntungan itu.

Aku mungkin hanya bisa berharap, kehidupan baru datang menjemputku, saat aku telah menuntaskan tugas dan tanggung jawab utama-ku: memastikan anak-anakku mandiri dan hidup dengan nilai-nilai keutamaan sebagai seorang manusia, sebagai anggota masyarakat, warga negara, sebagai penghuni planet bumi ini.

Pun jika harapanku tidak terwujud. Aku hanya bisa berharap keluarga yang aku tinggalkan dapat menemukan jalan yang penuh Keselamatan, Kesejahteraan dan Kebijaksanaan. Apalagi yang bisa aku harapkan?

Aku pun tak ingin, ketika sudah tiba waktunya aku melanjutkan perjalanan, ketika sudah tiba waktunya aku menjalani sebuah penugasan baru, petualangan baru, pikiranku dan perasaanku masih melekat pada perjalanan, penugasan, dan petualangan yang telah lalu.

Aku tak ingin seperti orang yang sedemikian rupa menikmati suasana di sebuah tempat hiburan, hingga ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa tempat hiburan itu sudah harus tutup dan ia harus keluar dari tempat itu. Sedemikian rupa ia terikat pada pada tempat hiburan itu, bahkan ketika langkahnya sudah jauh meninggalkan tempat itu, pikiran dan perasaannya masih dipenuhi oleh tempat itu.

My friends, banyak di antara kita yang masih sedemikian eratnya melekatkan diri pada kehidupan ini.

Filosofi Buang Air Besar..

Buset dah! Beberapa hari terakhir ini, aku lancar sekali Buang Air Besar (BAB). Sehari bisa 2 – 3 kali. Lancar kali kan? Hasil dari over konsumsi makanan berserat kali yak?

Bicara soal BAB, aku jadi ingat apa yang pernah disampaikan oleh Mas Agung Adiprasetyo, CEO Kompas Gramedia, yang intinya kurang lebih adalah: “Kalau sudah BAB, orang akan lega dan tidak akan menyesali kotoran yang sudah dikeluarkan”.

Demikianlah tuntunan hidup hadir sepanjang waktu dalam kehidupan kita sehari-hari, tapi seberapa banyakkah di antara kita yang mau belajar dan memahaminya?

Pernahkah kau, sekali saja, menyesali sudah melepaskan kotoran saat BAB Bro? Tak sekalipun jua kan?

Pun demikian, banyak diantara kita yang memegang erat-erat “Kotoran” sepanjang waktu dan mungkin selama kehidupan kita. Kotoran-kotoran dalam bentuk: Kenangan Masa Lalu, Kejayaan Masa Lalu, Trauma Masa Lalu, Penyesalan akan Keputusan dan Tindakan yang telah Lalu.

Sedemikian erat kita memegang dan menyimpan “kotoran-kotoran” itu, sehingga kita lupa keberadaan kita saat ini dan di sini. Itu sama saja dengan menyimpan tinja dalam perut dengan tidak berak selama berhari-hari. Penyakit Bro!

Ketimbang belajar dari masa lalu dan menjadikan kita pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi, kita cenderung hanya mengenang, membicarakan, menangisi, membanggakan masa lalu. Kita abai untuk mendapatkan nilai lebih dari masa lalu pada kehidupan kita hari ini dan selanjutnya. Waktu sudah berubah Bro!

Masa lalu hanya membawa kita pada posisi, situasi dan kondisi kita saat ini, namun, apa yang akan terjadi selanjutnya, kita-lah yang menentukan. Berikanlah ruang yang lebih lega bagi kita bergerak dengan mengeluarkan “masa lalu” dari ruang kehidupan kita.

Rasakanlah kelegaan selepas BAB dengan hidup sepenuhnya saat ini, di sini. Setiap orang harus belajar dari masa lalu, namun apa gunanya hidup di bawah bayang-bayangnya?
Apa gunanya menyimpan tinja dalam perut berhari-hari?
Lepaskanlah, lepaskanlah..