Gara – gara Munarman Aku ingin Masuk Islam

Munarman.. Munarman.. Sungguh melihat makhluk satu ini, aku langsung menyadari Tuhan punya selera humor yang aneh dalam setiap penciptaan-Nya. Betapa kita seringkali harus berpikir keras untuk memahami karakter dan tabiat makhluk – makhluk ciptaan-Nya. Betapa tabiat itu bisa berubah 180 derajat, tanpa kita menyadari apa yang sesungguhnya menciptakan perubahan itu.

Munarman mengingatkan aku akan salah satu kakakku dalam versi yang bertolak belakang. Salah satu kakakku pernah sedemikian rupa menggoncangkan sendi – sendi kehidupan keluarga kami. Kenakalan pada masa kecil yang berkembang menjadi kejahatan pada masa remaja dan dewasa. Satu hal tidak mengenakkan yang seringkali harus dilakukan oleh orang tua dan saudara – saudaranya adalah menjenguk dia di kantor polisi dan di lembaga pemasyarakatan.

Penjara seakan – akan menjadi rumah kedua bagi kakakku satu itu. Kekerasan demi kekerasan, kejahatan demi kejahatan, seakan – akan menjadi jalan yang dicarinya untuk pulang ke rumah keduanya itu. Terlalu sering dan terlalu banyak yang sudah dikorbankan hingga kami semua hanya bisa berpasrah bahwa sudah menjadi kehendak Ilahi, demikianlah ia akan menjalani kehidupannya.

Hingga suatu waktu, aku menjemputnya di hari pembebasannya pada kali terakhir ia menjalani kehidupan di penjara selama lebih dari 3 tahun. Sejenak aku melihat raut wajahnya saat melangkah keluar dari gedung LP, aku tahu segalanya akan berbeda. Aku tahu kakakku sudah menjadi sosok yang sama sekali berbeda; wajah yang bersih dan bersinar terang yang dengan kencang mewartakan pertobatannya.

Itu terjadi sekitar 13 tahun lalu, dan kini kami sekeluarga tidak perlu lagi menguatirkan masa – masa ujian itu akan terulang kembali. Kakakku sungguh telah menjadi sosok yang berbeda. Sungguh Tuhan Maha Besar!

Sementara Munarman? Semula aku mengenalnya sebagai sosok yang berjuang bagi mereka yang lemah. Sosok yang membela mereka – mereka yang tertindas. Aku beberapa kali menjumpainya saat aku menjalani penugasan sebagai wartawan dan saat ia bergabung dengan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Saat itu, aku merasa bersyukur kepada Tuhan yang telah menciptakan sosok – sosok seperti Munarman, tempat bagi mereka yang miskin dan tertindas untuk berlindung.

Namun, Tuhan kembali menunjukkan selera humor-Nya yang aneh. Suatu saat, beberapa tahun lalu, aku terkaget – kaget ketika mendengar ia bergabung dengan Front Pembela Islam (FPI). Sejak itu, matanya yang melotot dengan raut wajah penuh amarah menjadi hal yang sering terlihat darinya, mengingatkanku akan raut wajah kakakku di masa jahiliyahnya.

Puncaknya adalah hari Jumat (28/6/13), ketika ia menyiramkan minumannya ke wajah orang yang sudah tua renta dalam sebuah diskusi. Munarman sungguh sudah menjadi sosok yang berbeda dan yang bertolak belakang dengan sosok yang aku kenal saat masih bergabung di YLBHI.

Sungguh seperti itukah perilaku yang pantas ditunjukkan oleh seorang Munarman? Apa yang membuatmu berubah Munarman? Apakah FPI yang merubahmu ataukah kau hanya menunggu waktu dan momen yang tepat untuk menunjukkan jati dirimu? Ataukah kau dengan sengaja mendorong eskalasi hingga habis kesabaran orang – orang untuk kemudian melakukan tindakan terhadap orang – orang seperti kamu?

Satu hal yang pasti, Munarman telah sukses membuatku ingin memeluk agama Islam, hanya untuk memerangi orang – orang seperti Munarman yang menurutku hanya menodai ajaran Islam. Aku sudah menyiapkan sebuah nama yang akan aku gunakan nantinya jika memang aku harus memeluk agama Islam untuk mewujudkan keinginanku itu. Nama itu adalah: Umar Khattab.

Advertisements

Lovely Punishment

Kalau kita dipukul orang, kita selalu punya pilihan: membiarkan karena kita merasa layak untuk mendapatkannya, atau membalas dengan serangan fisik pula atau mengajukan tuntutan hukum atau sekedar ngomel-ngomel saja. Beberapa waktu lalu, si sulung Alicia memukul adiknya, Bianca, karena kesal digangguin. Apa yang akan kamu lakukan Bro?

Dulu waktu kecil hingga remaja, kalo aku lagi bandelnya kumat, Bapak Almarhum juga suka menyabet punggungku dengan selang karet yang berdiameter lebih dari 10 cm. Selang yang biasa dipasang buat pompa air manual jaman dulu. Meski sudah berkali-kali merasakan, aku juga tak terbiasa. Sampai sekarang, mungkin hanya Bapak seorang, manusia yang aku takuti di atas bumi.

Dulu Bapakku mendidik kami anak-anaknya dengan menggunakan kekerasan fisik, sebagaimana umumnya anak-anak yang dibesarkan oleh tentara, agar kami mampu menghadapi kerasnya kehidupan. Sekarang, kehidupan yang akan dihadapi oleh anak-anakku mungkin jauh lebih keras daripada jamanku.

Apakah aku harus lebih keras dalam mendidik anakku ketimbang Bapak Almarhum mendidik anak-anaknya? Menggunakan kekerasan fisik yang lebih sering dan lebih kuat sebagai konsekuensi atas setiap kesalahan dan kelalaian anak-anakku?

Inilah yang akhirnya, aku pilih sebagai konsekuensi atas tindakan kekerasan Alicia kepada adiknya..

Tulisan tangan Sissy: “Sisi Janji Sayang Adik” sebanyak 100 kali karena telah memukul adiknya, Bianca.