Masih Kurang Juga??

Baru saja aku lihat sepeda motor bebek Honda 70, yang kalau di Jogja kondang dengan “Si Pitung” (kependekan dari “Pitung Puluh” atau 70). Kalau lihat motor itu, aku jadi teringat Bapak Almarhum, yang pernah bertahun-tahun menggunakan motor itu sebagai kendaraan sehari-hari saat bertugas di Jogja, mulai sekitar tahun 1980 – 1995-an

Mungkin bukanlah hal yang istimewa buatmu Bro, tapi hal itu menjadi hal yang istimewa sekali buatku, khususnya dikaitkan dengan “gaya hidup” para pejabat di Republik ini.
Bapak Almarhum adalah purnawirawan perwira TNI, lulusan Akademi Militer Nasional (sekarang Akmil) tahun 1961, satu angkatan dengan mantan Panglima TNI, Faizal Tanjung.

Selama hidupnya, Beliau menekankan pada kedisiplinan, pembelajaran dan kesederhaan. Pada jaman aku SMA, Bapak membelikan aku sepeda sebagai alat transportasi ke sekolah, sementara anak-anak tentara lainnya, yang pangkatnya jauh lebih rendah, sudah mulai mengendarai sepeda motor sejak SMP. Hingga aku 3 tahun kuliah, pilihan untuk-ku adalah tetap mengendarai sepeda, naik angkutan umum atau pinjam motor kakakku yang nganggur.

Beliau menekankan pada kesederhanaan, karena kami adalah keluarga besar. Beliau harus menghidupi istri dan 8 anak dengan hanya mengandalkan penghasilannya sebagai anggota TNI. Hmm.. Aku jadi ingat salah satu alasan kenapa aku tidak meneruskan jejak Bapak masuk dinas TNI/Polri, yaitu.. Kalau jujur, tidak akan bisa kaya. Hehehe.. Waktu itu loh yaa…

Pun demikian, aku dan kakak-kakakku beruntung bisa menyelesaikan pendidikan tinggi tanpa sedikitpun mengecap uang haram. Bapak memang peduli pada pendidikan anak-anaknya. Beliau menekan pengeluaran untuk hal-hal yang tidak penting, agar bisa menyediakan dana lebih untuk pendidikan anak-anaknya.

Beliau tidak saja meminta anak-anaknya untuk hidup sederhana, namun juga memberi contoh nyata. Beliau selalu menggunakan sepeda motor untuk berangkat dan pulang kerja, bahkan ketika menjabat sebagai wakil rakyat.

Bapak pernah bercerita, suatu hari saat berangkat kerja, beliau pernah diberhentikan oleh polisi saat pemeriksaan surat-surat kendaraan. Salah satu polisi itu kemudian ditampar oleh Bapak, karena menuding Bapak, yang waktu itu mengenakan Pakaian Dinas Harian dibalik jaketnya, sebagai tentara gadungan. Aku berusaha memahami sikap polisi itu yang mungkin menilai bukanlah hal yang umum bagi seorang perwira TNI untuk mengendarai Si Pitung. Kasian juga si Pitung. Masa sih dia tidak layak dipakai oleh perwira tinggi TNI?

Menjelang akhir masa tugasnya sebagai wakil rakyat, Bapak sempat tidak lagi menggunakan si Pitung, namun penggantinya masih berupa motor. Kali itu, sebuah Suzuki Crystal-lah yang mendapat kehormatan untuk ditunggangi Bapak, hingga akhir hayatnya.

Berangkat dari pengalaman itu, aku tidak habis pikir bagaimana mungkin seorang perwira tinggi bintang tiga, Wakil Kepala Polisi Indonesia, Nanan Sukarna mengaku gajinya tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari (sumber: http://nasional.kompas.com/read/2012/10/11/16283040/Wakapolri.Siapa.yang.Bisa.Hidup.Hanya.dari.Gaji ). Ketika seorang perwira TNI/Polri mengeluhkan penghasilan resmi yang tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, kuat dugaanku, dia salah menetapkan kebutuhannya. Buatku sederhana saja, carilah pekerjaan lain yang penghasilannya bisa memenuhi kebutuhannya, atau kalau tidak, bersyukurlah!

Termasuk kamu Bro! Pengen kaya dengan cara jujur. Jangan jadi PNS. Jangan jadi anggota TNI/Polri! Semangat utama PNS/TNI/Polri adalah semangat Abdi Negara. Abdi loh ya, bukan Tuan. Jadi Abdi kok mau jadi kaya? Lupa ya? Bodoh ya?

Advertisements

My Dearest Mr. Susi.. (Surat Kepada Seorang Sahabat)

Dear Mr. Susilo Bambang Yudhoyono,

Sudah lama berlalu sejak terakhir kali aku menjumpaimu. Mungkin sekitar tahun 2005 atau 2006, saat aku meliput kunjunganmu ke Malaysia dan Singapura. Hmm.. Peliputan itu meninggalkan kenangan indah bagiku. Resepsionis hotel tempatku menginap di Singapura, sangat cantik dan bersikap manis kepadaku.

Tidak saja sekedar ramah, dia, yang namanya aku lupa, bahkan membuatkan aku bercangkir-cangkir kopi (FYI, for free) dan menemani aku ngobrol ngalor ngidul sepanjang malam hingga pagi hari. Pembicaraan hangat itu harus terhenti karena aku harus meliput kedatanganmu di Bandara Changi. Sungguh, bahwa aku harus menghentikan pembicaraanku dengannya demi dirimu adalah, di sisi lain, kenangan yang menyebalkan.

Anyway.. Cukup sudah dengan kenangan-kenangan masa lalu. Apa kabarmu? Sedang sibuk apa? Dimana? Sama siapa? Hehehe..

Mr. Susi, boleh aku panggil kamu dengan nama itu kan? Rasanya kok unik sekali, perpaduan antara Maskulin dan Feminin, and it’s sooo.. You! Aku rasa dirimu tidak akan membuang-buang waktu memikirkan hal sepele menyangkut bagaimana orang memanggilmu. Aku rasa kamu akan lebih memikirkan bangsa dan negara Indonesia kita yang tercinta ini. Aku yakin kamu akan lebih memikirkan, salah satunya, apa dan bagaimana solusi permanen atas situasi dan kondisi menyangkut hubungan KPK dengan Polisi Indonesia.

Hmm.. Semoga keyakinanku bukanlah angan-angan belaka, meski beberapa kali beberapa pihak menilai kalau dirimu seringkali “Diam ketika sebaiknya Berbicara” dan sebaliknya “Berbicara ketika sebaiknya Diam”.

Mr. Susi, let me be honest with you Sir. I am not a fan of you. Ketika banyak orang memilihmu saat pertama kali dirimu mencalonkan sebagai Presiden, aku samasekali tidak ingin dan bukan termasuk salah satu di antara mereka. Ketika dirimu kembali memenangkan pemilihan Presiden dan untuk kedua kalinya memimpin Republik ini, komentarku adalah: “Oh My God! Kok bisa??”

Well, bagaimana-pun juga kamu sudah menjadi dan adalah Presiden Republik Indonesia, yang berarti juga adalah Presiden-ku. Dengan segala perkembangan yang terjadi, dengan segala kritikan yang ditujukan kepadamu, dengan fakta bahwa aku samasekali bukan penggemarmu, aku tetap berharap dirimu mampu mengakhiri jabatan sebagai Presiden pada saatnya nanti di tahun 2014.

Bagaimana-pun juga, aku rasa itu tetap pilihan yang terbaik, jika, dengan segala keraguan dan kritikan atas dirimu, kamu memilih untuk tetap menduduki Kursi RI1. The best choice among the worst i might say.

Dear Mr. Susi..
Pertanyaannya kemudian adalah: ingin seperti apakah dirimu dikenal kemudian ketika tiba akhir masa jabatanmu tahun 2014? Seberapa besar keinginan itu mendorong sikap dan tindakanmu saat ini?

Aku kuatir, jika mencermati sikapmu belakangan ini, kamu tidak cukup punya keinginan yang kuat untuk meninggalkan kesan yang positif yang tidak terbantahkan sebagai Presiden Republik Indonesia.

You seems like a dying King Mr. Susi…
Kamu mengingatkan aku akan film-film yang menggambarkan seorang pemimpin tua, lemah dan sekarat di atas ranjang. Kamu seakan-akan sudah tidak peduli lagi dengan situasi dan kondisi bangsa ini. Tidak peduli lagi hendak kemana bangsa ini.
Tidak peduli lagi suara-suara anak bangsa.

Aku tak tahu, dan aku yakin banyak orang yang tidak tahu, apa yang sedang kamu pikirkan dan apa yang akan kamu perbuat.
Sungguh! Aku penasaran dengan apa yang ada di dalam benakmu.

Are you dying or you’re just preparing something big, that’s so big, something revolutionary? Something yang mematahkan semua pandangan negatif dan kritikan terhadapmu?

Dearest Mr. Susi,
Tak perlu-lah aku ingatkan bahwa sebagai Presiden Republik Indonesia, dirimu seharusnya adalah orang paling kuat di Indonesia, jika tidak mampu menjadi The Most Powerful Person in Asia or South East Asia.

Tapi lihatlah dirimu!
Kamu membuat Aburizal, Anas Urbaningrum terlihat lebih powerful daripadamu. Kini, kamu juga membuat Timur Pradopo terlihat lebih powerful daripadamu.

Tidak saja mereka, kamu juga membuat Abraham Samad dan Jokowi, nama yang baru belakangan ini terdengar di telingaku dan masuk ke dalam ruang perhatianku, juga terlihat jauh lebih powerful daripadamu, my Dear President, Mr. Susi.

Apakah mereka sungguh lebih powerful daripadamu?
Mestinya sih tidak.. Lalu kenapa kesan kuat yang kutangkap justru sebaliknya?

Ingin dikenang sebagai Pemimpin yang bagaimanakah nantinya dirimu Mr. Susi? Sungguh! Aku penasaran..

Children of Tomorrow

Hai Bro! Apa kabar? Gimana masa kecilmu?

Minggu lalu aku bertugas dalam sebuah kegiatan Ramadhan di Masjid Al Huda, Batu Ceper, Tangerang, Banten. Aku terkesan oleh keceriaan anak-anak yang bermain di halaman Masjid. Begitu lepas dan bebas. Tiga gadis cilik di antaranya yang tahu aku memegang kamera, langsung menghampiriku dan bilang: “Om.. Foto donk!” Aku dengan senang hati memenuhi permintaan mereka yang segera berpose di bagian gagang sebuah mug raksasa milik sponsor kegiatan kami yang dipajang di halaman masjid.

 

 

Sebelum aku sempat mencatat nama-namanya, mereka langsung kembali menghampiri teman-teman mereka untuk melanjutkan permainan. “Hey! Tidak-kah kalian ingin melihat hasilnya? Tidak-kah kalian ingin bertanya kapan kalian akan mendapatkan fotonya?”, batinku. Mungkin bukan itu yang mereka mau. Mungkin, mereka hanya menginginkan sensasi berpose di depan kamera.

Well, that’s OK! Toh, aku sudah menyimpan senyum manis mereka dalam benak dan penyimpan file digital-ku. Semoga kalian tumbuh menjadi anak yang Sehat, Kuat, Cerdas, Ceria, Pemberani dan Berbudi Luhur. Kepada kalian-lah Indonesia akan bergantung di hari-hari yang akan datang.

Itulah doaku, namun, akan seperti apakah mereka nantinya? Mungkin hanya Tuhan dan orang tua mereka yang tahu.

Hmm.. Kamu tahu akan seperti apakah anakmu Bro? Mungkin lebih tepatnya, kamu tahu apa yang kamu inginkan akan seperti apakah anak-anakmu nantinya, tapi ketahuilah..

1. Setiap orang tua tahu apa yang mereka inginkan seperti apa anak-anak mereka nantinya. Namun, semakin sedikit orang tua yang..

2. Sungguh-sungguh mengetahui apa yang harus  dan perlu mereka lakukan, agar anak-anak mereka menjadi apa yang mereka inginkan, dan.. Hanya segelintir orang tua yang..

3. Sungguh-sungguh melakukan apa yang harus dan perlu mereka lakukan agar anak-anak mereka menjadi apa yang mereka inginkan.

Ini sama seperti halnya sebuah perjalanan.. Aku harus tahu apa tujuanku dan bagaimana aku mencapai tujuanku: Jalan-jalan yang harus aku lalui dan rute yang harus aku tempuh. Namun, paling penting adalah.. Aku harus mau melangkah menyusuri rute yang sudah aku tetapkan untuk mencapai tujuanku.

 

 

 

Cak Basuki yang Menyebalkan & Mengagumkan

Sudah sekitar 2 bulan aku meninggalkan Surabaya, tempatku bertugas selama sekitar 4,5 tahun. Salah satu hal yang sangat mengesankan dan aku syukuri dari penugasan itu adalah aku berkesempatan untuk mengenal secara pribadi dan bekerjasama dengan pribadi-pribadi yang istimewa di lingkungan Sonora FM Surabaya.

Salah satunya adalah Florianus Untung Basuki, atau akrab dipanggil Cak Bas. Aku sendiri biasa memanggil beliau dengan “Mas Ukky”. Usianya sekitar 40 tahunan, bertubuh tambun dengan tinggi sekitar 160-165 cm, berkulit hitam dan berjambang. Kalau kulitnya lebih putih, aku pasti akan menduganya sebagai Saudara-nya Elvis Presley.

Selain rekan kerja, Mas Ukky adalah teman sesama perokok (aku sering ngurangin rokoknya), teman berdiskusi dan berdebat serta bertengkar. Yup! Bertengkar. Teman-teman di Sonora Surabaya sudah terbiasa melihat pertengkaran kami, beradu mulut dengan nada tinggi seakan-akan sudah siap menghajar satu sama lain. Bisa dibilang tiada hari tanpa kami saling meledek dan beradu mulut. Apalagi kalau sudah menjelang pelaksanaan event dimana kami harus berkomunikasi secara intens. Ada saja perbedaan pandangan dan pendapat yang berujung pada adu mulut. Waah.. Beneran kayak anjing sama kucing.

Tapi Bro.. Jangan salah. Aku tidak tahu dengan beliau, tapi aku sendiri selalu berasa ada yang hilang jika satu hari tidak ketemu ama orang satu itu. Selain, pasangan debat, aku harus juga akui beliau adalah teman yang diskusi yang menyenangkan. Pengetahuan dan cara pandangnya seringkali mengejutkanku dan membuatku kagum.

Selain itu, jika kami berdebat hebat dan beradu mulut sengit, semua itu kami, mas Ukky dan aku, sadari sebagai sebuah proses untuk mendapatkan solusi dengan menguji sedemikian rupa setiap alternatifnya. Perdebatan semata-mata hanyalah untuk menguji kelayakan setiap alternatif solusi yang kami masing-masing kemukakan. So, setelah solusi ditemukan, kedamaian segera meliputi kami dan kami kembali bercanda seperti biasa.

Mas Ukky hanyalah lulusan SMA, namun, sejak mengenal beliau dan beberapa teman di Surabaya yang juga hanya lulusan SMA & STM, insyaallah, latar belakang pendidikan seseorang menjadi hal yang tidak signifikan bagiku. Oiya Bro, sebaliknya malah, kamu akan kecewa jika mengharapkan sesuatu dari seseorang mengacu pada latar belakang pendidikannya semata.

Mas Ukky awalnya bertugas di bagian rumah tangga Sonora Surabaya. Awalnya, tugas-tugas sehari-hari Mas Ukky adalah membersihkan ruangan kantor, menyiapkan minuman, menerima tamu, mengantar surat dan tugas-tugas umum rumah tangga lainnya. Oiya, kalau ada kerusakan infrastruktur dan peralatan kantor: atap bocor, AC dan genset ngadat, air mampet, keramik lantai pecah, beliau juga-lah yang juga akan membantu mengatasi.

Kecanduan kami pada rokok menjadikan kami sering bertemu di waktu senggang pada jam istirahat atau selepas jam kantor. Biasanya kita merokok bareng di sebuah meja bundar di halaman parkir belakang Sonora Surabaya. Dalam kesempatan itu, kita sering bercerita dan berdiskusi satu sama lain menyangkut bermacam-macam hal. Mulai dari pengalaman masa kecil hingga soal pekerjaan.  Salah satu hal yang sering diceritakan Mas Ukky adalah pengalamannya di organisasi kepemudaan keagamaan tempat dia berkiprah di luar kantor. Hal-hal yang dia jumpai, masalah-masalah yang dia temui dan coba atasi, orang-orang dengan siapa dia bekerjasama dan sebagainya.

Tidak butuh waktu lama bagiku untuk menyadari kemampuannya di bidang organisasi, dan akhirnya, dengan pertimbangan matang, aku mempercayakan penyelenggaraan Sarasehan Nasional Spiritual Indonesia di Surabaya menjelang akhir tahun 2009. Sebuah kegiatan yang mempertemukan anggota sebuah milis yang menaruh perhatian dan minat pada spiritualitas dan datang dari “Sabang hingga Merauke”. Jelas, sebuah kegiatan yang skalanya jauh lebih besar daripada pertemuan RT dan organisasi kepemudaan keagamaan yang biasa diikuti.

Aku masih ingat ada salah satu teman yang mempertanyakan sekaligus mencibir keputusanku untuk menunjuk Mas Ukky sebagai Ketua Panitia Sarasehan Nasional tersebut. But you know what Bro? Sesuai dengan dugaan dan harapanku, kegiatan berlangsung dengan baik dan lancar. Salah satunya berkat kemampuan Mas Ukky mengkoordinir rekan-rekan satu timnya dalam mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan.

Sejak saat itu, tidak terhitung lagi kegiatan-kegiatan Sonora Surabaya yang berlangsung dengan lancar dibawah kordinasi Mas Ukky, hingga kemudian, beliau dalam hubungan eksternal Sonora Surabaya bertindak sebagai Event Coordinator. Event terakhir yang menjadi tanggung jawabnya (saat tulisan ini dibuat) adalah nonton bareng Final Sepakbola Indonesia VS Malaysia akhir November 2011 lalu.

Aku ingat waktu itu, sekitar jam makan siang, aku kembali lagi ngobrol santai dengan Mas Ukky di Meja Bundar, bicara soal bagaimana Timnas Indonesia berhasil masuk ke babak final Sepakbola di arena Sea Games. Semula kita tidak, dan terutama aku, tidak menduga kalau Indonesia bakal lolos. Diskusi itu akhirnya memunculkan gagasan untuk menyelenggarakan even Nonton Bareng yang AKAN BERLANGSUNG SEKITAR 6 JAM LAGI (sekitar 4 jam efektif). Akhirnya, even itu menjadi even yang terselenggara dengan baik dengan persiapan yang teramat singkat dan dihadiri oleh lebih dari 1000 penonton.

Keberhasilan penyelenggaraan even tersebut dan even-even Sonora Surabaya sebelumnya jelas merupakan keberhasilan tim. Tapi Bro, kamu juga mesti pahami, keberhasilan itu berawal dari kesediaan Mas Ukky untuk menerima tantangan dan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya. Semua keberhasilan, selalu berawal dari kesediaan bagi kita untuk menerima sebuah tantangan dan tanggung jawab serta memenuhinya sebaik mungkin.

Aku tidak tahu apakah aku akan berkesempatan untuk berjumpa dan bekerja sama lagi dengan Mas Ukky.  Tuhan tahu aku akan selalu mengingat dan merindukannya. Semoga Tuhan selalu melimpahkan Keselamatan, Kesejahteraan dan Kebijaksanaan baginya sekeluarga. Amin!

Cak Basuki : Jangan pernah menilai seseorang dari penampilannya