Kiamat dan Indonesia yang Usang

Ada satu topik yang dulu sering jadi bahan obrolan dengan teman-teman yang menaruh minat pada spiritualitas. Topik itu adalah “Kiamat”, kapan dan bagaimana terjadinya, apa tanda-tandanya, siapa saja yang bertahan dan siapa yang tidak.

Semakin mendekati tahun 2012, Kiamat semakin sering jadi bahan obrolan. Ya, kiamat dipercaya oleh sebagian orang akan terjadi pada tahun 2012. Setiap ada peristiwa yang menonjol, sebagian dari kami langsung mengaitkan dengan tanda-tanda kiamat. Film Amerika yang berjudul “2012” adalah satu film yang paling ditunggu-tunggu oleh kalangan pemerhati Kiamat. Beberapa teman selepas menonton film itu semakin rajin berdoa dan atau bermeditasi, setidaknya untuk beberapa waktu setelah film itu beredar.

Lima tahun berlalu sudah, dan kiamat yang konon menjadi akhir peradaban manusia, tak kunjung tiba. Siapa yang tahu jika kiamat batal terjadi, tinggal sebentar lagi, atau mungkin baru akan terjadi pada generasi cucu kita atau setelahnya? Pastinya akupun tidak tahu.

Agak berbeda dengan beberapa teman waktu itu, aku tidak kuatir dengan kiamat. Setiap orang pada akhirnya akan mati juga bukan? Aku malah bertanya-tanya jika ada orang yang berharap bisa bertahan hidup setelah kiamat. Yakin?? Jika kiamat memang seperti yang digambarkan dalam 2012, aku pribadi tidak ada hasrat samasekali untuk bisa bertahan darinya. Apes banget bisa bertahan hidup ketika yang lain pada mati.

Tapi memang, tak jarang aku berpikir dan berharap akan tibanya kiamat. Bagiku kiamat adalah keniscayaan dalam proses restorasi, diperlukan dalam sebuah pembenahan, perkembangan.

Bayangkan sebuah rumah yang sudah rapuh. Dindinganya sudah retak, pilar sudah goyah, kerangka atap sudah lapuk. Atau bayangkan jika desain arsitektur rumah jauh dari harapan kita atau kita mengharapkan sebuah rumah yang sangat jauh berbeda dengan rumah yang ada saat ini. Merombak total rumah itu dengan merobohkannya terlebih dahulu adalah sebuah kewajaran. Sangat wajar.

Pikiran akan kiamat semakin sering terlintas di benakku belakangan ini jika melihat situasi dan kondisi Indonesia. Aku melihat Indonesia seperti sebuah rumah yang pondasi, pilar dan dindingnya keropos nan rapuh. Tinggal menunggu waktu sebelum akhirnya roboh. Dan itu bukanlah pengalaman pertama bagi Indonesia.

Sejarah nusantara telah mencatat betapa berbagai kerajaan silih berganti lahir, berkembang dan runtuh. Sebagian besar melalui pemberontakan. Paska kemerdekaan, kita juga telah mengetahui, tidak hanya sekali dua kali saja, pemberontakan terjadi di negeri ini. Melihat situasi dan kondisi saat ini, aku rasa kita kembali tinggal menghitung waktu sebelum kemudian rumah bernama Indonesia ini rubuh sebagaimana kerajaan-kerajaan yang sudah mendahuluinya.

Dalam usianya yang mencapai 72 tahun di tahun 2017 ini, tidak ada keyakinan sedikitpun dalam diriku bahwa Indonesia akan tumbuh menjadi negara yang besar dan kokoh tanpa melewati kiamat, tanpa melewati perombakan yang fundamental, yang mendasar dan besar-besaran. Sama seperti kita tidak mungkin mengharapkan sebuah rumah dapat berdiri kokoh di atas pondasi, dinding dan pilar yang keropos dan rapuh.

Ya, Indonesia telah menjadi rumah yang usang di usianya yang masih belia.

Para pendiri negara ini telah memiliki cita-cita mulia akan Indonesia sebagai sebuah negara yang besar dan kokoh. Mereka menjadi arsitek yang handal yang telah merancang bagaimana rumah yang bernama Indonesia ini berdiri menjadi rumah yang megah dan kokoh bagi seluruh anak bangsa yang sangat beragam, baik dari suku, ras maupun agama dan yang tersebar di ribuan pulau dari Sumatera hingga Papua.

Namun sayangnya, pemimpin Indonesia mulai dari Soekarno dan setelahnya, gagal membangun pondasi yang kokoh bagi rumah Indonesia. Pondasi yang hanya akan kokoh dengan penegakan hukum dan perundang-undangan yang menjamin persamaan hak dan kewajiban bagi setiap anak bangsa, apapun suku, agama dan rasnya serta dimanapun mereka berada. Para pemimpin terlalu toleran dan melakukan pembiaran terhadap tikus, rayap dan jamur yang menggerogoti dan merapuhkan pondasi, dinding dan pilar rumah Indonesia, dalam bentuk korupsi, diskriminasi SARA serta fundamentalisme dan radikalisme.

Pancasila dan UUD 1945 yang mestinya menjadi dasar dan konstitusi negara yang menjiwai kehidupan sehari-hari anak bangsa hanya menjadi slogan semata, yang nyaris tidak ada gaungnya. Mereka seperti plakat visi dan misi yang menempel di dinding-dinding utama perkantoran, terlihat jelas, mudah dibaca, namun hanya sebagai hiasan.

Ya, Indonesia telah menjadi rumah yang usang di usianya yang masih belia.

Ketika masih banyak orang melihat pentingnya memperkuat rasa kebangsaan di tengah situasi dan kondisi yang memprihatinkan saat ini, aku melihatnya tidak ada cara lain untuk sungguh-sungguh memperkuat rasa kebangsaan ini tanpa mempertanyakan kembali konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dan jika perlu, mengubahnya. 

Sederhana saja, jika kita tidak bisa menjalankan suatu aturan secara konsisten, ya sudah, tidak masalah. Ubah saja aturannya menjadi aturan yang bisa kita jalankan secara konsisten.

Apa gunanya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 jika Papua yang kaya raya sumber daya alamnya masih tertinggal dibanding wilayah lainnya di Indonesia? Apa gunanya jika suku, dan atau agama, dan atau ras seorang anak bangsa menjadi pertimbangan apakah ia layak atau tidak layak menjadi seorang pemimpin? Apa gunanya jika pembangunan tempat ibadah dipersulit, lebih sulit ketimbang membangun tempat hiburan dan maksiat? Apa gunanya jika kebencian terhadap anak bangsa yang lain, karena suku atau agama atau ras-nya, dianggap sebagai sebuah kewajaran?

Apa gunanya selain menjadi pembenaran bagi negara untuk memeras sumber daya sebuah wilayah dan atau semua penduduknya?  Adalah kewajiban setiap anak bangsa untuk bersedia diperas sumber dayanya namun  negara tidak berkewajiban untuk memenuhi dan menjamin persamaan hak setiap anak bangsa? Tidakkah itu bentuk penjajahan juga?

Teman-teman..
Kita tidak mungkin bicara tentang rumah yang kokoh tanpa pondasi yang kokoh. Dan kita jangan bicara soal negara yang besar dan kokoh tanpa bicara penegakan hukum, tanpa bicara persamaan hak dan kewajiban seluruh anak bangsa.

Oleh karena itu, bicara Indonesia yang kuat dan kokoh, tidaklah berguna tanpa merestorasi dan jika perlu mendesain ulang Indonesia.

Wilayah Indonesia sepertinya terlalu luas dan penduduknya terlalu beragam bagi konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita juga terlalu luas dan terlalu beragam bagi konsistensi dalam penegakan hukum serta persamaan dalam pemenuhan hak dan kewajiban seluruh anak bangsanya.  

Semakin kemari, semakin kuat kesan bahwa konsep NKRI terlalu dipaksakan.

Kita mengabaikan fakta bahwa kita adalah negara dengan banyak kepulauan dan bahwa kita terlalu beragam.  Kita juga mengabaikan fakta bahwa kita tidak mampu konsisten menerapkan dasar dan konstitusi negara serta menjamin persamaan hak dan kewajiban setiap anak bangsanya.

Apa yang terjadi ketika kita terlalu memaksakan? Kiamat.

Manusia Lebih Baik Daripada Hewan? Preeett…

Manusia lebih baik daripada hewan karena memiliki kemampuan berpikir, analisis dan kreatif. Demikian kau bilang padaku Bro.

Ya… Mereka (manusia) memang punya kemampuan itu, tapi lihatlah segala kerusakan dan ketidakharmonisan di sekeliling mereka. Kamu bisa saja menjawab: “Kan tidak semua orang begitu Bro.”

Ok, sekarang aku tanya, “Apakah bumi menjadi tempat yang lebih nyaman? Lebih baik untuk ditinggali? Atau sebaliknya, bumi semakin tidak nyaman untuk ditinggali. Lingkungan hidup semakin rusak. Konflik antar manusia semakin meluas dan kerusakan serta bencana alam semakin sering terjadi?”.

Kamu tahu jawabannya bukan? Kamu pun tahu apa dan siapa penyebabnya.

Manusia dengan kemampuan berpikirnya ibarat orang yang menyalakan api di atas perahu kayu yang tengah mengarungi lautan, dan mereka menyalakan api dengan mengambil kayu dari badan perahu. Sedikit demi sedikit, demi makanan mereka, demi kehangatan diri. Dan mereka tidak pernah berhenti mengambil kayu itu, tanpa berusaha mengganti.

Mereka, dalam rangka kelangsungan hidup, menghancurkan apa yang menjadi pondasi kehidupan mereka sendiri. Itu karena kemampuan berpikir mereka. Mengagumkan bukan? Lebih mengagumkan lagi, dengan segala kerusakan yang terjadi, manusia masih merasa mereka lebih baik daripada hewan. Adakah hewan yang merusak “tempat tinggal”-nya sendiri?

Ya.. Tidak seperti hewan, manusia memiliki kemampuan berpikir. Tapi apakah mereka menggunakan kemampuannya untuk membawa kebaikan bagi kelangsungan hidup di muka bumi?

Tulisan ini dibuat bersamaan dengan perayaan Hari Raya Nyepi. Hari dimana manusia menghentikan segala aktivitasnya. Ini adalah hari sesungguhnya dimana semua makhluk hidup kecuali manusia bersuka cita karena setan sesungguhnya sedang berdiam diri.

Buatlah “Nyepi” di atas bumi selama 2 hari sekali, maka kehidupan akan 50% lebih baik. Buatlah “Nyepi” setiap hari, maka kehidupan akan 100% lebih baik.

Apakah itu berarti kehidupan akan jauh lebih baik tanpa kehadiran manusia? Menurut Loo???

Tapi kan? Manusia sudah terlanjur hadir dan semakin berkembang biak. Oh.. Jangan kuatir! Hukum alam berlaku kok. Sama seperti ketika aku bertugas di Toko Buku. Buku-buku yang tidak memberikan kontribusi kepada penjualan, alias tidak terjual, tidak laku dijual, cepat atau lambat akan disingkirkan dari tempat pemajangan.

Karena apa? Tempat penjualan terbatas sementara buku-buku baru terus berdatangan dan membutuhkan tempat pemajangan. Selain itu, buku-buku yang tidak laku itu berarti tidak memberikan kontribusi kepada kelangsungan hidup toko buku tersebut. Jadi kenapa dipertahankan?

Itulah Hukum Alam yang juga akan berlaku bagi manusia. Sederhana dan tidak rumit seperti kitab suci namun juga merupakan sebuah kepastian. Cepat atau lambat.

Jadi, dalam lingkungan komunitas di atas bumi, siapa yang paling tidak memberikan kontribusi terhadap kelangsungan hidup komunitas itu dan bahkan mengancam kelangsungan hidup komunitas itu? Jawaban: Manusia.

Jadi, masih berpikir manusia lebih baik daripada hewan?

Selamat Hari Raya Nyepi!

We Know it, We Just Don’t Care About It..

Adzan Subuh belum juga berkumandang saat Bapak membangunkan dini hari tadi karena genangan air memasuki halaman sekitar pukul 03.00 WIB.

Itu berarti air sudah mencapai ketinggian paha orang dewasa di rumah-rumah tetangga di seberang tempat tinggal kami yang masih termasuk kawasan tepian Kali Pesanggrahan Jakarta.

Aku segera bergegas bangun dan mulai memindahkan kendaraan ke pinggir jalan masuk kampung kami yang lebih tinggi untuk mengantisipasi datangnya banjir sebagaimana Tahun 2007 lalu.

Waduh Bro, aku masih ingat betapa waktu itu, sekitar pukul 02.00 dini hari, ketika kebanyakan warga Jakarta masih terlelap dibuai oleh mimpi, kami harus tergopoh-gopoh memindahkan semua barang-barang ke tempat yang lebih tinggi karena Kali Pesanggrahan meluap dengan cepat. Aku bahkan harus mengungsikan istri dan anak-ku ke tempat Kakak.

Semoga kali ini hanya sekedar peringatan Kali Pesanggrahan kepada kami untuk senantiasa mawas diri. Hujan bahkan hanya mengguyur kawasan tempat tinggal kami sejenak saja tadi malam. Jadi, luapan Kali Pesanggrahan ini jelas akibat curah hujan yang tinggi di kawasan hulu di Bogor.

Sampai kapankah kami harus hidup di bawah ancaman banjir setiap kali musim penghujan? Sudah pasti selama kami memperlakukan alam dengan buruk, selama itu-lah kami harus selalu siap sedia atas datangnya bumerang yang kami lemparkan sendiri.

Setiap orang sudah tahu ini: alam selalu memantulkan kembali setiap perlakuan kita. Jika kita menjaga dan memelihara alam, maka alam akan membalasnya dengan bumi yang ijo royo-royo, panen yang berlimpah, musim yang datang bergantian secara teratur, air yang jernih dan menyehatkan.

Namun sebaliknya, jika kita merusak alam, usah-lah kita kaget dan ketakutan ketika tanah longsor menimbun rumah-rumah kita, ketika air yang coklat dan kotor dengan cepat memasuki rumah-rumah kita laksana serombongan perampok yang haus dan kelaparan.

Usah menangisi Saudara-saudara kita yang dijemput maut oleh karenanya. Air mata buaya! Karena kita tahu dan sadar bahwa kita sendiri yang membunuh mereka. Untuk apa menangisi kebodohan dan ketololan kita sendiri? Hanya supaya orang lain melihat kesedihan kita ditinggal pergi oleh orang-orang yang kita cintai? Kebodohan dan ketololan kita-lah yang membuat mereka pergi selama-lamanya.

Bukan Bro, bukan kebodohan dan ketololan, namun ketidakpedulian. Ya, kita semua tahu apa akibatnya jika kita terus merusak alam, namun kita tetap melakukannya. Pun ketika, alam meminta Saudara-saudara kita sebagai tumbalnya, kita masih terus melakukannya. Kita mungkin akan terus melakukannya sampai manusia terakhir yang hidup di atas muka bumi.

Jadi Bro, lakukanlah apa yang kau sukai, apa saja dan biarkan alam bertindak sesuka hatinya pula. Ketika manusia tak lagi peduli atas bumi yang menghidupinya, kenapa juga bumi harus terus menghidupi manusia?

Seberapa Lalat – kah Kamu?

Pagi Bro! Suasana yang indah pagi ini, dan aku mengawalinya dengan melanjutkan membaca buku “Syukur Tiada Akhir: Jejak Langkah Jakob Oetama”. Sebuah buku yang diterbitkan oleh Kompas untuk menyambut Ulang Tahun ke-80 Co-Founder Kompas Gramedia Inc., Bapak Jakob Oetama.

Memasuki lembar halaman ke 381 dari total 659 halaman, pandanganku mulai terganggu oleh kerubungan lalat di lantai teras tempatku membaca buku. Entah apa yang mereka kerubungi, aku tidak melihat sesuatu hal yang mereka kerubungi.

Sejenak kemudian, jiwa algojoku muncul dan akupun mulai mengambil sandal Eiger-ku yang ulet nan berat itu. Sekejap aku mengambil posisi, membidik dan selanjutnya secepat kilat aku melemparkan sandal itu sekuat tenaga. Aku sukses menghadirkan maut bagi 8 ekor lalat diantaranya.

Tak lama kemudian, aku mengulangi lagi hal yang sama setelah lalat-lalat yang semula kabur beterbangan kembali datang dan kali ini mengerubungi bangkai-bangkai sesamanya hasil perbuatanku. Total lebih dari 15 ekor lalat yang aku lepaskan dari penderitaan duniawi pagi ini.

Sejenak aku merenung, merekonstruksi kejadian yang mungkin akan dikenang oleh warga lalat di lingkungan tempat tinggal sebagai hari yang kelam. Ketika untuk pertama kalinya dalam sejarah suku bangsa mereka tinggal di kawasan tempat tinggalku, dalam hitungan menit, belasan warga mereka meregang nyawa. “Black February” mungkin akan jadi sebutan oleh mereka untuk mengenang peristiwa berdarah hari ini.

Aku membantai para lalat itu semata-mata karena gangguan terhadap pandanganku. Pun mereka tak akan menghadirkan gangguan jika aku menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggalku.

Sisi lain, aku mencoba mencermati makhluk segala medan satu itu. Membayangkan berada di posisi mereka di saat-saat akhir kehidupan mereka. Aku sedang bersuka cita berkumpul bersama keluarga dan handai taulan, pesta makanan ringan, ngerumpi, bergosip ria.

Sedemikian asiknya sampai kami tidak sadar Malaikat Maut sembari nyengir happy kegirangan menghampiri kami bersamaan dan menarik kami semua ke dimensi kehidupan yang lain. Sedemikian cepat & tak terduga di tengah-tengah suka cita kami berkumpul.

Pun bagi kami yang selamat, kepergian 8 ekor saudara & handai taulan kami dengan cara yang tragispun tidak terlalu menggoncang iman dan jiwa kami. Sebaliknya malah, kami bersuka cita di atas bangkai saudara-saudara kami. Sungguh, tiada santapan yang lebih nikmat dibanding tubuh saudara-saudara kami.

Keasyikan kami di atas penderitaan saudara-saudara kamipun membuat kami tak sadar jika malaikat maut masih berada di dekat dan mengincar kami. Kami-pun ikut menyusul saudara-saudara kami ke alam baka. Kali ini lebih konyol karena seharusnya musibah yang terjadi pertama kali menjadikan kami lebih mawas diri. Kami menjadi korban dari kelalaian dan ketidakpedulian kami sendiri.

Nah Bro, aku yakin kamu pun akan sepakat dengan-ku, banyak di antara kita yang tidak berbeda jauh dengan lalat-lalat yang naas itu. Kebanyakan dari antara kita terlalu sibuk dan asik dengan dunia kita, dengan diri kita sendiri, serta tidak peduli dengan lingkungan, tidak peduli dengan sesama di sekitar kita.

Musibah yang dialami oleh sesama kita diartikan sebagai: “Ah, itu berarti lebih banyak jatah makanan bagiku, lebih banyak rejeki bagiku. Untunglah kalau begitu!”

Then, sebagaimana lalat, maka orang-orang seperti kita ini Bro, dengan watak yang jauh dari kepekaan dan mawas diri, matinya pun akan mengenaskan. Bukan karena caranya, akan tetapi kita mati seakan-akan kita tidak pernah hidup, karena kita tidak memberi arti bagi kehidupan itu sendiri.

Seberapa banyak orang yang akan mengenangmu, 1 hari? 7 hari? 1 bulan? 1 tahun? 5 tahun? 10 tahun? 20 tahun? 50 tahun? 100 tahun? 1000 tahun? Setelah kematianmu?
Mari kita hidup seperti lalat lagiii…

Setolol Itukah Kamu?

Hai Bro! Dah pernah lihat Forrest Gump (FG) donk? Lum pernah? Terlalu… FG adalah film drama Amerika tahun 1994, dan dibintangi oleh Tom Hanks ini, memenangkan 6 Oscar termasuk Film, Sutradara dan Aktor Terbaik. Biar kamu punya sedikit bayangan soal film ini, kamu bisa lihat sinopsisnya di: id.wikipedia.org/wiki/Forrest_Gump

FG’s one of my favourite movies. I can hardly remember how many times i watched this movie. Lebih dari 10 kali aku rasa. Film yang paling sering aku tonton, jauh lebih sering ketimbang Film favoritmu Bro: Tarzan XXX. Bener-bener FG adalah film yang wajib ditonton.

Dalam film itu, Tom Hanks dengan sangat baik berperan sebagai FG yang memiliki kecerdasan di bawah rata-rata, namun juga seorang tentara yang berani dan setia kawan, pengusaha yang sukses, anak yang berbakti pada orang tuanya (dia langsung terjun ke laut meninggalkan kapalnya dan berenang menuju daratan untuk menjumpai ibunya, sekejap setelah mendapat kabar kalau ibunya sakit kritis).

FG juga seorang atlit yang handal, Juara Dunia Ping Pong, dan pelari yang luar biasa. Dia berlari mengelilingi Amerika selama 3,5 tahun setelah ditinggal pergi kekasihnya Jenny (perempuan yang dicintai FG sejak kecil), pagi-pagi setelah mereka berhubungan intim. Hubungan itu ternyata membuahkan seorang anak laki-laki yang kemudian menjadikan  FG tidak saja seorang kekasih dan suami yang baik, namun juga seorang ayah yang luar biasa.

Lebih dari itu Bro, sungguh aku melihat FG adalah
manusia setengah dewa, yang aku ragu eksistensinya di kehidupan nyata. Sosok yang polos, luar biasa baiknya, sangat sederhana meski hartanya berlimpah. Oiya, selain membangun tempat ibadah, FG juga bersedia rutin membersihkan dan memotong rumput tanpa dibayar.

Kembali, sungguhkah ada manusia seperti itu dalam kehidupan sehari-hari kita. Aku ragu kamu pernah ketemu orang seperti FG Bro. Kerasnya kehidupan rasanya akan menelan bulat-bulat orang – orang seperti FG.

Aku orang yang realistik Bro, hanya saja sering aku berpikir apakah kita harus menjadi seseorang seperti FG , yang memiliki kecerdasan jauh di bawah rata-rata (IQ-nya 75) untuk menjadi pribadi yang mulia?

Kita terbiasa membenci ketimbang mengasihi, menindas ketimbang melindungi, meminta dan mencuri ketimbang memberi. Kita adalah manusia-manusia pragmatis, yang hanya berpikir kepentingan dan keuntungannya sendiri dalam waktu sesingkat-singkatnya. Kita, kamu dan aku Bro, tidak cukup punya waktu untuk hal-hal beginian: jujur dan peduli terhadap sesama tanpa memandang latar belakangnya.

Kita jelas bukan dan bertolak belakang dengan Forrest Gump. Dunia jelas akan lebih baik tanpa kita.

image