Saya bukanlah Pemimpin yang Baik

Saya bukanlah pemimpin yang baik, karena:

1. Saya tidak tahu apa tujuan yang ingin dicapai. Itu seperti nahkoda kapal yang tidak tahu hendak kemana.

2. Saya tidak tahu apa- apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, siapa yang harus saya libatkan dan apa-apa saja peran mereka, serta dalam jangka berapa lama setiap tahapan yang harus dilalui untuk mencapai sebuah tujuan.

3. Pun saya tahu, tapi saya tidak cukup kemauan untuk mewujudkan dan menjalankan hal – hal yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan itu.

4. Saya tidak cukup punya integritas; kesatuan dan keselarasan antara pikiran, ucapan dan tindakan.

Saya bukan orang yang jujur, dan oleh karenanya, orang tidak bisa mengharapkan saya akan melakukan apa yang persis seperti yang saya ucapkan.

5. Saya bukan orang yang bisa menjadi teladan yang baik bagi orang lain. Dunia akan semakin kacau jika setiap orang melakukan apa yang saya lakukan. Saya hanya bisa menyuruh dan memerintah.

6. Saya tidak peduli dengan orang lain, dan saya juga tidak memiliki empati terhadap orang lain.

Hal terpenting bagi saya adalah mendapatkan apa yang saya mau dengan cara apapun, termasuk jika saya harus melangkahi hak – hak orang lain.

Oleh karenanya, saya juga bukan pendengar yang baik. Orang lain yang harus mendengarkan saya. Bukan sebaliknya!

7. Saya tidak bisa membuat orang lain melakukan apa yang saya inginkan selain karena kekuatan dan kekuasaan yang saya miliki. Saya tidak cukup komunikatif dan inspiratif untuk membuat orang lain antusias mengusung nilai – nilai yang sama dan melakukan hal – hal yang saya kehendaki.

8. Saya tidak bisa meyakinkan orang lain untuk mencapai sebuah tujuan; kenapa mereka harus mencapai tujuan itu,untuk kemudian bersama – sama, secara selaras bersinergi mencapai sebuah tujuan.

9. Saya tidak tahu siapa yang sebaiknya melakukan apa untuk mencapai sebuah tujuan.

10. Saya juga tidak bisa memberikan motivasi dan semangat bagi yang lain agar tetap optimal dalam pencapaian sebuah tujuan. Saya tidak cukup bisa mengapresiasi pencapaian orang lain.

11. Saya menolak untuk turut bertanggung jawab atas kesalahan dan atau kegagalan orang – orang yang saya pimpin. Saya juga enggan terlibat dalam atau mengikuti sebuah proses untuk meminimalisir terjadinya kesalahan atau kegagalan.

Dengan demikian, jika terjadi kesalahan atau kegagalan, itu bukanlah tanggung jawab saya.

Saya juga hanya bisa menyalahkan orang lain tanpa kemudian mencarikan jalan pemecahan atas sebuah permasalahan.

12. Saya tidak cukup peduli dengan perkembangan orang lain. Perkembangan pengetahuan, kemampuan serta kemauan orang lain bisa menjadi ancaman bagi saya.
Selama mereka mau tunduk pada kehendak saya, tak masalah jika selamanya mereka bodoh.

13. Saya menolak tanggung jawab seorang pemimpin untuk menyiapkan pemimpin selanjutnya. Jika penerus saya gagal, itu semata – mata karena ketidakmampuannya.

Gajah itu Bulat..

Beruntung sekali waktu konser Guns N Roses tanggal 16 Desember lalu kita dapat posisi di Tribun. Meski tentu saja mengingat tiket yang aku dan istriku pegang adalah tiket kelas Festival B yang harganya paling rendah, lokasi kami paling jauh dari panggung, tapi penonton kelas itu mendapatkan kursi. Berbeda dengan kelas VIP dan kelas Festival A yang penontonnya sangat berdesak-desakan dan harus terus berdiri (atau keluar dari kerumunan dan duduk di atas lantai), kami, para penonton kelas Kambing, bisa duduk di atas kursi yang nyaman.

Lebih dari itu, kami bisa mengamati panggung secara keseluruhan, dari sudut ke sudut, keseluruhan tata pencahayaannya, keramaian penontonnya dan performance masing-masing personil GNR dengan sangat jelas melalui layar lebar di atas kami. Permainan piano Axl Rose saat menyanyikan lagu “November Rain” pun terlihat dengan jelas melalui layar itu. Aku jadi merasa sangat menikmati konser GNR itu karena aku bisa melihat konser itu secara keseluruhan.

"From A Distance" Seorang penonton tengah mengamati panggung konser GNR di Ancol, Jakarta, 16 Desember 2012.

“From A Distance” Seorang penonton tengah mengamati panggung konser GNR di Ancol, Jakarta, 16 Desember 2012.

Aku tidak ingin cerita lebih panjang soal konser GNR. Konser itu hanya mengingatkan aku bahwasannya untuk memahami sesuatu aku harus memahami keseluruhan faktor-faktor yang terkait. Aku jadi ingat ketika menjalani penugasan dan harus mencapai target. Ketika kami harus memahami kenapa sebuah target bisa tercapai atau sebaliknya, tidak tercapai.

Sebuah pencapaian target menuntut terpenuhinya beberapa faktor; internal dan eksternal, yang masing-masing-masing bisa saling berpengaruh satu sama lain. Dari sisi internal, bagaimana kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusianya, timing? Bagaimana produknya itu sendiri; Kualitasnya, cita rasa, harga, penyajian, kemasannya, distribusinya, promosinya, paska penjualannya? Sementara dari kondisi eksternal, bagaimana dengan pasarnya, persaingannya, kondisi industri, kondisi perekonomian nasional dan atau global? Mungkin masih banyak lagi faktor-faktor yang harus dicermati untuk mengevaluasi pencapaian sebuah target.

Keberhasilan untuk mencermati keseluruhan faktor-faktor yang berperan dalam sebuah peristiwa akan menghadirkan pemahaman kenapa sebuah hal bisa terjadi, sekaligus apa-apa saja yang harus kita lakukan untuk menyikapinya.  Sebaliknya, kegagalan untuk mencermati keseluruhan faktor tersebut besar kemungkinan akan menyebabkan kekeliruan dalam memahami sebuah peristiwa sekaligus kekeliruan dalam menyikapinya.

Sama seperti beberapa orang yang berusaha memahami bentuk dan ukuran gajah tanpa melihat dan hanya memegang bagian-bagian tertentu dari gajah itu saja. Jangan heran ada yang bilang gajah itu bulat karena yang dipegang adalah buah zakar-nya.

Ngomong Doang..

“Papa kok enggak pake sandal?!” Teriak si bungsu, Bianca, saat melihat aku ada di halaman rumah. Aku segera sadar kalau apa yang aku lakukan berbeda dengan apa yang selalu aku pesankan ke anak-anakku.

My friends, hampir setiap hari kita menjumpai orang yang beda antara ucapan dan tindakan. Kalo kamu adalah orang tua, then you better be careful with that attitude; watch your mouth! Bianca adalah bocah perempuan yang baru berusia 3,5 tahun, tapi sikap kritis bocah itu mengingatkan aku, jika aku terus-terusan tidak konsisten dengan apa yang aku ucapkan, tidak akan butuh waktu lama sebelum dia sekedar mempertanyakan menjadi ikut-ikutan. Well, gimana anakmu adalah gimana kamu sebagai orang tua. Sesederhana itu.

Bianca, bocah 3,5 tahun yang suka protes

Bianca, bocah 3,5 tahun yang suka protes

Buat kamu yang mengaku atau menempati posisi pemimpin, hal yang sama juga berlaku: anak buah adalah cerminan pimpinan. Kurangnya anak buah adalah juga kurangnya pemimpin. Bisa jadi, kurangnya pemimpin karena apa yang diucapkan berbeda dengan apa yang dilakukan. So, jangan kesal kalau anak buahmu cuma pintar ngomong. Mereka belajar untuk cuma pintar ngomong dari guru yang terbaik: KAMU.

Aku sendiri belajar untuk menangkap pesannya, bukan siapa dan bagaimana si penyampai pesan. Sederhananya, ambil yang baik, buang yang buruk. Namun, mengingat kebanyakan dari kita lebih melihat siapa dan bagaimana penyampai pesan, so at least, aku hanya bisa menyampaikan pesan yang aku sendiri bisa jalankan. Aku tidak mungkin melarang orang lain untuk merokok, karena aku sendiri juga merokok. Paling tidak, merokoklah di tempat yang sudah disediakan; merokoklah setelah mampu membeli rokok sendiri; jangan nyesel kalo kena kanker gara-gara rokok.

Kalo aku bisa senantiasa melakukan apa yang aku ucapkan. Aku boleh berharap anak-anakku pun demikian.

Janji Tinggal Janji

Hai Bro! Apa kabar? Lama sekali ya kita tidak berjumpa? Entah kenapa dalam satu waktu aku merasa sudah cukup banyak berkata-kata. Kamu tau apa masalahnya ketika kita berkata-kata? Semakin banyak kata-kata, semakin banyak janji yang kita lontarkan. Samasekali bukan masalah kalo kita bisa memenuhi keseluruhan janji yang sudah kita lontarkan yang otomatis terekam oleh pusat pendataan alam semesta itu.

So, untuk sekian waktu lamanya setelah tulisan terakhir-ku: “Bahagia Bisa Plung”, aku mencermati kembali janji-janji yang pernah aku lontarkan. Kepada siapa? Well, yang harus kamu pahami, tulisan-tulisan yang pernah dan aku sampaikan di sini aku tujukan lebih untuk diriku sendiri. Jadi, janji-janji yang terlontarkan adalah terutama janji untuk-ku sendiri.

Orang akan selalu bisa menilai, sejauh mana kita memenuhi janji kita. Sejauh mana keselarasan antara ucapan dan tindakan. Namun sesungguhnya menurutku yang paling penting adalah sejauh mana keselarasan antara apa yang ada dalam diri kita, dalam pikiran dan perasaan, dengan apa yang terucapkan dan terujud dalam tindakan kita.

Aku tidak akan ambil pusing dengan penilaian orang lain jika: “Apa yang aku ucapkan, berbeda dengan apa yang aku lakukan”. Orang bisa saja salah memahami apa yang aku sampaikan toh? Aku hanya perlu menjelaskan apa yang sesungguhnya aku maksudkan.

Hal yang perlu aku pusingkan adalah jika aku sendiri menyadari bahwa “Apa yang aku pikirkan dan rasakan, berbeda dengan apa yang aku ucapkan dan lakukan”. Itu artinya aku hidup dalam Kepalsuan Sejati.

Tulisan-tulisanku menjadi: “Aku berjanji, inilah yang ada dalam diriku, dalam pikiran dan perasaanku. Inilah aku sesungguhnya, seperti yang tercermin dalam ucapan dan tindakanku.”

Pada akhirnya, untuk menjadi diri sendiri hanyalah menyelaraskan apa yang ada dalam diri dengan apa yang nampak dari luar melalui ucapan dan tindakanku. Apakah aku sudah menjadi diriku sendiri, ataukah aku masih menjadi orang lain yang bahkan tidak dikenali oleh Orang Tua-ku.

Jadi Bro, tuliskanlah apa yang ada pikiran dan perasaanmu. Itu membantumu mengenali dan untuk menjadi diri sendiri. Tentu saja, kita semua selalu punya pilihan untuk memenuhi janji dan menjadi diri sendiri atau menjadi orang asing.

They Don’t Talk Much, but Endless..

Hai Bro! Sori, kalo dalam beberapa hari terakhir perjalanan ini kita lalui dalam keheningan. Aku masih harus berusaha memulihkan diri sejak dihajar Nyamuk pembawa Demam Berdarah Dengue (DBD).

Sungguh, gara-gara makhluk kecil mungil seiprit satu itu dan entah dimana ia menjumpaiku, seumur-umur, baru kali aku sampai harus menjalani rawat inap di Rumah Sakit. Jadi ingatlah ini: “Janganlah membesar-besarkan masalah, namun, pastikan kita mencermati sebuah masalah sekecil apapun berikut solusinya”.

Pun demikian, momen ini aku maknai sebagai sebuah pertanda bahwa segala sesuatu ada batasnya. Segala sesuatu ada masanya. Keputusan harus ditetapkan, Pilihan harus diambil, Konsekuensi harus dijalankan. Jika aku selalu bicara soal itu, maka sepanjang waktu aku akan dituntut untuk menjalankan apa yang aku bicarakan. That’s it.

Lanjut! Kamu tahu Bro? Pengalaman dirawat inap selama 2 hari di Rumah Sakit cukup menarik bagiku. Pertama kali masuk, aku merasa sangat letih sekali. Seakan-akan aku habis menempuh perjalananan dari Surabaya-Jakarta dengan berlari non stop. Luar biasa bukan?

Begitu berkesempatan berbaring di atas ranjang. Aku langsung merasakan kedamaian. Oh, ternyata rawat inap tidak terlalu buruk juga. Aku masuk di sebuah kamar perawatan bersama 3 orang pasien lainnya. Tak lama kemudian, aku mulai mengantuk dan akhirnya aku mulai tertidur. Saat itu sekitar pk. 18.00 WIB.

Sayup-sayup, aku mulai mendengar orang-orang bercakap-cakap dalam bahasa Jawa. Ah, mimpi membawaku pulang ke Jogja, Tanah 1001 Impian. Lambat-laun suara percakapan makin keras & akhirnya aku tersadar & terbangun. Oh, ternyata itu adalah percakapan antara tamu dengan salah satu pasien.
Hmm.. Baguslah! Biar sakit tapi masih semangat berbicara, batinku bicara. Pastilah Bapak akan lekas sembuh.

Sungguh, mereka bercakap & berbicara dengan penuh semangat. Pun ketika waktu sudah menunjukkan sekitar Pk. 22.00 WIB. Hmm.. Untung Bini dah pulang sekitar 1 jam lalu, kalau tidak bakalan ngamuk dia. Jika Satpam, yang beberapa kali masuk dan menegur agar mereka lebih tenang, tidak berhasil menghentikan percakapan secara permanen, maka Bini akan secara efektif mengakhirinya secara permanen namun dengan cara yang dramatis yang aku yakin tak seorangpun di atas bumi ini yang menghendakinya.

Aku memutuskan untuk membiasakan dan menemukan keheningan di tengah kebisingan suasana malam itu, dan akhirnya, menurut Suster, aku sukses melalui malam itu dengan mengeluarkan dengkuran laksana Semboyan 35 yang biasa diteriakkan Lokomotif.

Malam kedua aku lalui di kamar yang berbeda, karena di kamar sebelumnya, para pasiennya sudah pada pulang di pagi hingga siang harinya yang menjadikan aku sendirian dan akhirnya digabungkan dengan pasien lainnya lagi di kamar yang berbeda.

Sayang sekali, padahal aku dah membayangkan betapa nikmatnya melalui waktu di kamar sendirian sepanjang waktu tanpa kehadiran pasien lain. Bener-bener serasa di Ruang Perawatan Kelas I. Jika Bini bisa ikut menginap malam itu, kayaknya si Kecil boleh berharap bakal dapat adek baru sekitar 9 bulan mendatang. Nama si adek baru yang terbayang adalah: Hospitalita Angela Brahma. Sayangnya, perpindahan kamar meruntuhkan semua konstruksi imaji itu.

Kalau di kamar yang lama aku bergabung dengan pasien Bapak-bapak yang usianya lebih dari 50 tahun, di kamar yang baru ini, aku bersama 3 orang pasien yang usianya relatif sebaya dengan aku sekitar 30 – 35 tahun.

Mereka sudah pada tidur saat aku masuk kamar itu sekitar Pk. 21.30 WIB. Aseekk.. Malam yang indah dan menyenangkan. Sekejap setelah bersih-bersih dan mengheningkan cipta, aku pun mulai membaringkan badan dan menggelar meeting dengan mimpi.

Aih, tak lama kemudian, aku mendengar suara seseorang memasuki ruangan dan menghampiri pasien di sebelahku yang hanya terpisahkan oleh selembar tirai. Ternyata orang yang baru masuk itu adalah teman si pasien yang membawakan pesanan makanan.

Suara orang bercakap-cakap dan kecapan mulut mengunyah makanan segera mengisi atmosfer ruangan rawat dan gendang telingaku. Suara itu, tampaknya juga membangunkan 2 pasien lainnya yang hebatnya lagi segera bergabung merapat di ranjang pasien di sebelahku yang kemudian kuketahui namanya X.

Percakapan semakin berkembang dinamis ketika X bercerita dia sedang kebingungan mengatur jadwal kunjungan 6 orang pacarnya. Oohh.. Aku ikut prihatin mendengarnya. Seandainya aku bisa turut membantu pengaturan jadwalnya. Hmm.. Sebelum pacar 1 pulang, pacar 2 boleh nunggu di ranjangku. Begitu seterusnya. Senang bisa membantu!

Si X, kemudian bercerita dengan penuh antusias satu per satu pacar-pacarnya itu. Aku akhirnya menyimak dengan penuh perhatian kuliah asmara tengah malam itu. Yup! Percakapan itu berlangsung dari sekitar Pk. 21.30 hingga sekitar Pk. 24.00, saat akhirnya keisenganku muncul setelah mendengar si X mengaku sebagai Polisi.
To be honest Bro! Tidak semua Polisi yang bisa membangkitkan simpati, kebanyakan hanya membangkitkan keisengan.

Aku kemudian melangkah ke kamar mandi yang melewati ranjang si X. Usai pipis, aku cuci tangan di depan wastafel kamar mandi yang persis di samping ranjang si X dan kemudian menyapa mereka: “Malam Pak! Apa kabar semuanya” dan segera dibalas satu per satu.
Ada 5 orang, si X dan 2 temannya + 2 orang pasien lainnya.

Aku lalu mengajukan pertanyaan singkat soal pada sakit apa dan sejak kapan kemudian dirawat sebelum kemudian aku menatap si X lekat-lekat dan bertanya: “Oiya, Bapak anggota Polisi ya? Bertugas dimana?”

Si X, dengan wajah yang memang cukup bisa menghanyutkan 6 perawan anak orang, bercambang lebat, bertubuh tambun 155 – 165 cm/ 90 – 100 kg, sejenak terdiam dan balas memperhatikan aku dan kedua tanganku yang bertato. Hehehe.. Aku tahu dia tengah berpikir apakah aku seorang intel polisi yang tengah menyamar ataukah bandit yang punya dendam kesumat dengan polisi.

Hmm.. Belum pernah ada yang sukses mengetahui bahwa aku adalah seorang banci dengan bodi & penampilan yang selalu sukses membuat tikus pada lari.

“Lagi menunggu penempatan Pak, masih non job” jawabnya kemudian sambil tersenyum malu-malu. Aku pun menjawab: “oohh..” sambil memberikan senyumku yang paling manis.

Aku kemudian berpamitan untuk melanjutkan tidur, dan ternyata, mereka pun memutuskan untuk mengakhiri percakapan dan kembali tidur di ranjang masing-masing.
Keheningan-pun kembali menyeruak. Sungguh aku menyukainya.