Tentang Kelahiran

“Ada 2 hari yang paling penting dalam kehidupan manusia. Pertama adalah hari ketika  ia dilahirkan, dan hari saat ia mengetahui untuk apa ia dilahirkan.” 
~ Mark Twain

 Banyak orang yang bertanya-tanya apa hadiah yang akan mereka terima di hari kelahirannya, di hari ulang tahunnya. Banyak juga yang ragu jika mereka akan menerima hadiah ulang tahun.

Namun, seberapa banyakkah di antara kita yang mencari tahu sejauh mana kita menjadi “hadiah” bagi sesama?  Apakah kelahiran kita memberikan manfaat bagi orang lain?  Untuk apa ia dilahirkan?

Sebaliknya, apakah orang berterima kasih  atas kelahiran seseorang? Si A mengucapkan terima kasih kepada si B di hari ulang tahun si B, bahwa kelahiran dan si B telah memberikan arti bagi kehidupan si A.

Ulang tahun seringkali tidak lebih menjadi momen di mana orang yang berulang tahun mendapatkan dan atau mengharapkan ucapan selamat dan hadiah ulang tahun.  Sesuatu yang menurutku tidaklah esensial. Sesuatu yang jauh dari makna kelahiran seseorang.

Oleh karena itu, menyambut hari kelahiran istriku, Dini Savitri, pada hari Sabtu, 4 Oktober 2014 ini, baiklah aku mengucapkan syukur kepada Tuhan yang telah menghadirkan kamu ke dunia ini. Aku juga berterima kasih atas pendampinganmu selama ini. Atas kesediaanmu menemaniku menyusuri jalanan sunyi ini, dalam suka dan duka, dalam tawa dan tangis. 

Terima kasih, terima kasih dan terima kasih, karena kamu sudah berkenan memberikan bertahun-tahun dari kehidupanmu yang sangat berarti dengan melewati waktu bersamaku.

Advertisements

Raungan Kebodohan

Sejak kemarin hingga pagi ini, berulang kali aku mendengar raungan suara knalpot sepeda motor menerjang air luapan Kali Pasanggrahan yang menggenangi jalan di depan rumah di kawasan Ulujami, Jakarta Selatan. Awalnya sangat menjengkelkan. Para pengemudi sepeda motor itu hampir selalu diingatkan warga sekitar bahwa genangan air terlalu tinggi untuk dilewati, namun, mereka selalu nekad menerobos berbekal persneling pada gigi satu dan putaran mesin yang tinggi secara konstan. Sebuah kombinasi yang selalu sukses membuat mata terbuka di tengah tidurku di malam hari karena mendengar kebisingan yang diciptakan.

Lambat laun rasa jengkel itu berubah menjadi rasa geli setelah aku menangkap “sebuah pola” dari suara yang aku dengar. Awalnya adalah suara peringatan warga sekitar kepada pengendara motor; “Banjir..! Banjir..!”. Setelah itu diikuti oleh suara “jeritan” konstan knalpot sepeda motor. Itu artinya si pengemudi motor mengabaikan peringatan warga. Tak lama kemudian setelah suara jeritan melintasi depan rumah, suara yang terdengar adalah suara mesin yang tersendat-sendat dan kemudian hening. Itu artinya, air sukses memasuki ruang mesin ketika motor melintasi genangan air yang semakin dalam, sekitar 30-50cm. Suara bagian terakhir dari pola tersebut, adalah suara “kegagalan” mesin yang berusaha dinyalakan berulang-ulang.

Jika aku sudah mendengar suara mesin yang tersendat- sendat, tak terhindarkan lagi bibirku membentuk senyum yang teramat manis meski mata masih terpejam dalam tidur yang tak nyenyak itu. “Semoga sukses mengatasi mesin yang mabuk air kali..” atau “Dikasih tau ngeyel sih!”, demikian batinku menanggapi pola suara yang berakhir pada kesia-siaan tersebut.

Aku berusaha memahami kenekadan para pengemudi sepeda motor itu. Tak peduli mereka melihat berapapun banyaknya motor-motor di pinggir jalan yang “kalah perang”, sebagian besar dari mereka selalu nekad menerobos meski hampir selalu menyusul motor-motor sebelumnya yang “kalah perang”.

Kebanyakan dari mereka merasa yakin motornya mampu menerobos genangan air, padahal mereka tak juga tahu seberapa dalam genangan air itu. Sisi lain, jika mereka menghindari genangan dan memilih jalan memutar, itu berarti mereka harus menempuh jarak 2-3 Km lebih jauh. Sepertinya, bagi pengendara-pengendara itu, mesin motor yang macet adalah resiko yang lebih layak dipilih ketimbang harus menempuh jarak yang lebih jauh (sebenarnya tidak terlalu jauh juga). Pada akhirnya, mereka menjadi jauh lebih lama mencapai tujuannya karena mesin yang macet kebanjiran ketimbang mengambil jalan memutar.

Seberapa banyakkah diantara kita yang memiliki pola pikir yang sama dengan para pengemudi motor nekad itu? Kebanyakan dari kita mungkin memiliki kecenderungan yang sama: mau cepat sampai tujuan dan lalu menggunakan cara- cara yang instan. Meski pada akhirnya cara-cara yang instan itu tidak berhasil membawa kita kemanapun jua.

Aku jadi ingat saat-saat mendaki gunung. Ada dua jalur: jalur “landai”, yang memutar dan membutuhkan waktu yang lebih lama, namun relatif lebih “aman” serta jalur “terjal”, dengan sudut kemiringan yang lebih besar, lebih terjal, lebih beresiko, namun lebih cepat untuk mencapai puncak. Selayaknya orang yang berakal, baiklah kita benar-benar mempertimbangkan kemampuan kita dan medan yang kita hadapi ketimbang sekedar mengandalkan keberuntungan, untuk memilih apapun jalur atau cara yang akan kita pilih.

Jadi, lain waktu ketika kamu hanya berbekal kenekadan untuk kemudian bernasib serupa seperti para pengemudi sepeda motor yang terhenti di tengah jalan, ingatlah selalu bahwa saat kamu sadar kamu telah salah memilih jalan, meski telah diingatkan, aku akan tersenyum sangat manis kepadamu.

Ngomong Doang..

“Papa kok enggak pake sandal?!” Teriak si bungsu, Bianca, saat melihat aku ada di halaman rumah. Aku segera sadar kalau apa yang aku lakukan berbeda dengan apa yang selalu aku pesankan ke anak-anakku.

My friends, hampir setiap hari kita menjumpai orang yang beda antara ucapan dan tindakan. Kalo kamu adalah orang tua, then you better be careful with that attitude; watch your mouth! Bianca adalah bocah perempuan yang baru berusia 3,5 tahun, tapi sikap kritis bocah itu mengingatkan aku, jika aku terus-terusan tidak konsisten dengan apa yang aku ucapkan, tidak akan butuh waktu lama sebelum dia sekedar mempertanyakan menjadi ikut-ikutan. Well, gimana anakmu adalah gimana kamu sebagai orang tua. Sesederhana itu.

Bianca, bocah 3,5 tahun yang suka protes

Bianca, bocah 3,5 tahun yang suka protes

Buat kamu yang mengaku atau menempati posisi pemimpin, hal yang sama juga berlaku: anak buah adalah cerminan pimpinan. Kurangnya anak buah adalah juga kurangnya pemimpin. Bisa jadi, kurangnya pemimpin karena apa yang diucapkan berbeda dengan apa yang dilakukan. So, jangan kesal kalau anak buahmu cuma pintar ngomong. Mereka belajar untuk cuma pintar ngomong dari guru yang terbaik: KAMU.

Aku sendiri belajar untuk menangkap pesannya, bukan siapa dan bagaimana si penyampai pesan. Sederhananya, ambil yang baik, buang yang buruk. Namun, mengingat kebanyakan dari kita lebih melihat siapa dan bagaimana penyampai pesan, so at least, aku hanya bisa menyampaikan pesan yang aku sendiri bisa jalankan. Aku tidak mungkin melarang orang lain untuk merokok, karena aku sendiri juga merokok. Paling tidak, merokoklah di tempat yang sudah disediakan; merokoklah setelah mampu membeli rokok sendiri; jangan nyesel kalo kena kanker gara-gara rokok.

Kalo aku bisa senantiasa melakukan apa yang aku ucapkan. Aku boleh berharap anak-anakku pun demikian.

Keluar dari Penjara

Hai Bro! Gimana rasanya keluar dari penjara dan menghirup udara bebas? Lega donk? Senang donk? Pengen balik ke sana lagi? Atau malah betah di sana? Gila ya?

Emang cuma orang gila kali ya? Orang yang seneng masuk penjara dan bahkan betah tinggal di sana. But you know Bro? Banyak loh di antara kita dan aku mungkin, yang hidup dalam penjara. Tidak merasa nyaman, tapi toh, kita “betah” tinggal di dalamnya.

Photo Courtesy of Dini Savitri at Gili Trawangan.

Pernah donk ngerasain engga nyaman dengan situasi dimana kita berada, tapi toh, kita tetap bertahan di tengah situasi itu untuk waktu yang lama, dan bahkan pada akhirnya, kita menjadi bagian dari ketidaknyamanan itu.

Apa pasalnya kita tidak nyaman tapi tetap betah?

Penyebabnya adalah keluar dari sebuah ketidaknyaman, seringkali membawa kita masuk ke dalam wilayah ketidaknyamanan yang lain. Kita kuatir, ketika kita keluar dari ketidaknyamanan saat ini, kita akan masuk ke dalam situasi yang lebih buruk daripada situasi saat ini.

Kita abai adanya 2 kemungkinan yang akan terjadi. Situasi yang lebih buruk adalah memang salah satunya, namun, selalu ada kemungkinan bahwa situasi yang akan kita temui sesuai atau bahkan melampaui harapan kita.

Kita mungkin pernah mengetahui, mendengar, seorang perempuan yang mampu untuk sekian lamanya mendampingi seorang lelaki pasangannya yang tak segan-segan dan seringkali menyakitinya baik secara fisik maupun batin, melalui ucapan maupun tindakan,

Beberapa orang akan menilai itu sebagai sebuah kesetiaan, ketegaran atau bahkan pengabdian. Namun, sungguh-kah demikian? Jangan-jangan lebih karena ketakutan dan kekuatiran, karena itu tadi: “Jangan-jangan situasinya tidak lebih baik atau bahkan lebih buruk”.

Aku melihatnya lebih karena bagaimana kita melihat diri kita sendiri, bagaimana kita menghargai diri kita. Sejauh mana kepercayaan diri kita akan kemampuan kita mengatasi tantangan kehidupan di luar “penjara”.

Sayangnya kebanyakan dari kita tidak cukup punya kepercayaan diri untuk keluar dari penjara. Kita memilih untuk bertahan di dalamnya, sambil merutuki nasib dan segala sesuatunya yang tidak nyaman bagi kita.

Buatku sederhana saja. Jika kamu tidak nyaman dengan situasi yang kamu hadapi, maka ubahlah situasinya. Kamu tidak mampu mengubahnya, maka keluarlah dari situasi itu.

Tidak mampu atau tidak mau keluar?

Yah, tentu saja selalu ada pilihan ke-3 : beradaptasi dengan ketidaknyamanan sehingga lambat laut suasana batin dan pikiran kita juga akan berubah. Rutukan berubah menjadi rasa syukur penuh suka cita. “Terima kasih Tuhan! Engkau telah menempatkan aku ke dalam penjara ini. Maafkan aku yang membutuhkan waktu yang lama untuk menyadari nikmatnya hidup dalam penjara ini.”

Ketidaknyamanan berubah menjadi kenyamanan.
Itulah saat sesungguhnya kita sudah berubah menjadi bagian dari ketidaknyaman. Kita sudah menyatu dengan penjara itu. Rasanya, itu berari bahwa kita juga telah memutuskan untuk berhenti berkembang.

Setidaknya itu menurut pendapatku yaa.. Bahwa kita akan sulit berkembang di dalam penjara. So, jika kita ingin tetap berkembang, maka hanya ada 2 pilihan: Ubahlah situasinya atau keluarlah dari situasi yang ada. Untuk kedua pilihan itu, kita hanya perlu belajar dan belajar adalah cara kita untuk berkembang.

Cukup sudah aku bicara dan sekarang waktunya untuk keluar dari penjara.

Masih Kurang Juga??

Baru saja aku lihat sepeda motor bebek Honda 70, yang kalau di Jogja kondang dengan “Si Pitung” (kependekan dari “Pitung Puluh” atau 70). Kalau lihat motor itu, aku jadi teringat Bapak Almarhum, yang pernah bertahun-tahun menggunakan motor itu sebagai kendaraan sehari-hari saat bertugas di Jogja, mulai sekitar tahun 1980 – 1995-an

Mungkin bukanlah hal yang istimewa buatmu Bro, tapi hal itu menjadi hal yang istimewa sekali buatku, khususnya dikaitkan dengan “gaya hidup” para pejabat di Republik ini.
Bapak Almarhum adalah purnawirawan perwira TNI, lulusan Akademi Militer Nasional (sekarang Akmil) tahun 1961, satu angkatan dengan mantan Panglima TNI, Faizal Tanjung.

Selama hidupnya, Beliau menekankan pada kedisiplinan, pembelajaran dan kesederhaan. Pada jaman aku SMA, Bapak membelikan aku sepeda sebagai alat transportasi ke sekolah, sementara anak-anak tentara lainnya, yang pangkatnya jauh lebih rendah, sudah mulai mengendarai sepeda motor sejak SMP. Hingga aku 3 tahun kuliah, pilihan untuk-ku adalah tetap mengendarai sepeda, naik angkutan umum atau pinjam motor kakakku yang nganggur.

Beliau menekankan pada kesederhanaan, karena kami adalah keluarga besar. Beliau harus menghidupi istri dan 8 anak dengan hanya mengandalkan penghasilannya sebagai anggota TNI. Hmm.. Aku jadi ingat salah satu alasan kenapa aku tidak meneruskan jejak Bapak masuk dinas TNI/Polri, yaitu.. Kalau jujur, tidak akan bisa kaya. Hehehe.. Waktu itu loh yaa…

Pun demikian, aku dan kakak-kakakku beruntung bisa menyelesaikan pendidikan tinggi tanpa sedikitpun mengecap uang haram. Bapak memang peduli pada pendidikan anak-anaknya. Beliau menekan pengeluaran untuk hal-hal yang tidak penting, agar bisa menyediakan dana lebih untuk pendidikan anak-anaknya.

Beliau tidak saja meminta anak-anaknya untuk hidup sederhana, namun juga memberi contoh nyata. Beliau selalu menggunakan sepeda motor untuk berangkat dan pulang kerja, bahkan ketika menjabat sebagai wakil rakyat.

Bapak pernah bercerita, suatu hari saat berangkat kerja, beliau pernah diberhentikan oleh polisi saat pemeriksaan surat-surat kendaraan. Salah satu polisi itu kemudian ditampar oleh Bapak, karena menuding Bapak, yang waktu itu mengenakan Pakaian Dinas Harian dibalik jaketnya, sebagai tentara gadungan. Aku berusaha memahami sikap polisi itu yang mungkin menilai bukanlah hal yang umum bagi seorang perwira TNI untuk mengendarai Si Pitung. Kasian juga si Pitung. Masa sih dia tidak layak dipakai oleh perwira tinggi TNI?

Menjelang akhir masa tugasnya sebagai wakil rakyat, Bapak sempat tidak lagi menggunakan si Pitung, namun penggantinya masih berupa motor. Kali itu, sebuah Suzuki Crystal-lah yang mendapat kehormatan untuk ditunggangi Bapak, hingga akhir hayatnya.

Berangkat dari pengalaman itu, aku tidak habis pikir bagaimana mungkin seorang perwira tinggi bintang tiga, Wakil Kepala Polisi Indonesia, Nanan Sukarna mengaku gajinya tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari (sumber: http://nasional.kompas.com/read/2012/10/11/16283040/Wakapolri.Siapa.yang.Bisa.Hidup.Hanya.dari.Gaji ). Ketika seorang perwira TNI/Polri mengeluhkan penghasilan resmi yang tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, kuat dugaanku, dia salah menetapkan kebutuhannya. Buatku sederhana saja, carilah pekerjaan lain yang penghasilannya bisa memenuhi kebutuhannya, atau kalau tidak, bersyukurlah!

Termasuk kamu Bro! Pengen kaya dengan cara jujur. Jangan jadi PNS. Jangan jadi anggota TNI/Polri! Semangat utama PNS/TNI/Polri adalah semangat Abdi Negara. Abdi loh ya, bukan Tuan. Jadi Abdi kok mau jadi kaya? Lupa ya? Bodoh ya?

Kenapa Harus Sama?

Aku engga inget kapan terakhir kali aku melihat iklan yang bener-bener menyentuh hati dan sekaligus menginspirasi sampai aku melihat sebuah iklan yang digunakan sebagai materi dalam seminar motivasi yang aku ikuti beberapa waktu lalu.

Aku kemudian mendapatkan video itu di Youtube dan inilah link-nya:

Kalau kamu tidak termotivasi untuk meng-klik link tersebut sebelum tahu apa isi ceritanya, baiklah aku ceritakan sedikit gambaran tentang video iklan itu. Klip video tersebut menggambarkan seorang gadis tuna rungu yang berkeinginan untuk bisa bermain musik biola setelah melihat seorang Pengamen tua yang bermain biola. Pengamen tua yang kemudian menjadi “Guru Biola” itu ternyata juga seorang penyandang tuna rungu.

Ada percakapan yang menyentuh ketika si Gadis tuna rungu sembari menangis bertanya kepada si Pengamen dengan bahasa simbol: “Kenapa aku berbeda dengan yang lain?”. Si Pengamen Tua menjawab: “Kenapa kamu harus sama dengan yang lain?”.

Seberapa seringkah kita berharap sama seperti atau bahkan menjadi orang lain? Setiap pagi, siang, sore atau malam? Sepanjang waktu? Ketimbang berjuang menjalani kehidupan untuk menjadi diri sendiri dengan cara sendiri, kebanyakan dari kita mungkin menjalani kehidupan untuk menjadi orang lain.

Aku tak berani mengatakan bahwa hal itu benar atau salah. Pada akhirnya, itu hanyalah pilihan bagaimana kita mendiskripsikan kebahagiaan yang kita ingin ujudkan dalam kehidupan kita.

Btw Bro, at the end of the Ad, si Gadis Tuna Rungu itu kemudian memainkan musik “Canon in D” komposisi Johann Pachelbel secara memukau. Kamu sungguh harus meluangkan waktu melihat klip video itu Bro. Jauh lebih bermanfaat ketimbang menonton sinetron.

Lovely Punishment

Kalau kita dipukul orang, kita selalu punya pilihan: membiarkan karena kita merasa layak untuk mendapatkannya, atau membalas dengan serangan fisik pula atau mengajukan tuntutan hukum atau sekedar ngomel-ngomel saja. Beberapa waktu lalu, si sulung Alicia memukul adiknya, Bianca, karena kesal digangguin. Apa yang akan kamu lakukan Bro?

Dulu waktu kecil hingga remaja, kalo aku lagi bandelnya kumat, Bapak Almarhum juga suka menyabet punggungku dengan selang karet yang berdiameter lebih dari 10 cm. Selang yang biasa dipasang buat pompa air manual jaman dulu. Meski sudah berkali-kali merasakan, aku juga tak terbiasa. Sampai sekarang, mungkin hanya Bapak seorang, manusia yang aku takuti di atas bumi.

Dulu Bapakku mendidik kami anak-anaknya dengan menggunakan kekerasan fisik, sebagaimana umumnya anak-anak yang dibesarkan oleh tentara, agar kami mampu menghadapi kerasnya kehidupan. Sekarang, kehidupan yang akan dihadapi oleh anak-anakku mungkin jauh lebih keras daripada jamanku.

Apakah aku harus lebih keras dalam mendidik anakku ketimbang Bapak Almarhum mendidik anak-anaknya? Menggunakan kekerasan fisik yang lebih sering dan lebih kuat sebagai konsekuensi atas setiap kesalahan dan kelalaian anak-anakku?

Inilah yang akhirnya, aku pilih sebagai konsekuensi atas tindakan kekerasan Alicia kepada adiknya..

Tulisan tangan Sissy: “Sisi Janji Sayang Adik” sebanyak 100 kali karena telah memukul adiknya, Bianca.