Surabaya, Spiritualitas Indonesia

Mengingat perkembangan situasi dan kondisi Jakarta belakangan ini, saya mulai cari-cari kesempatan untuk bisa keluar dan pindah ke kota lain. Saya berharap spiritualitas saya makin berkembang di lingkungan yang lebih kondusif.

Sebenarnya Jakarta adalah kota yang tepat untuk mengolah dan menguji spiritualitas kita. Tapi sayangnya, ‘benteng pertahanan’ saya masih rendah. Saya masih mudah terdampak secara negatif oleh berita dan situasi yang terjadi di seputaran Jakarta. Pertanda jika saya mesti banyak belajar mengolah rasa di lingkungan yang lebih kondusif.

Benak saya langsung melayang ke Surabaya, kota dimana saya pernah menjalani penugasan selama sekitar 6 tahun. Kota yang sangat mengesankan dibanding kota-kota lainnya yang pernah saya singgahi ataupun dimana saya pernah bekerja.

Saya beruntung mengalami masa-masa transformasi sebelum dan sesudah Ibu Tri Rismaharini memimpin Surabaya. Saya merasakan perubahan pesat Surabaya dari kota yang panas dan cenderung semrawut menjadi kota yang lebih tertata, rapih, bersih dan adem.

Ibarat manusia, Surabaya adalah sosok yang telah mengalami perkembangan spiritualitas. Tidak saja lebih modern, melainkan juga lebih berorientasi pada keberlangsungan lingkungan hidup. Itu juga menurut saya adalah satu ciri utama perkembangan spiritualitas.

Kita tidak bisa mengaku sebagai seorang spiritualis, jika masih mempunyai perilaku yang merusak dan mengancam keberlangsungan lingkungan hidup dan segala isinya. Tidak ada gunanya kita rajin beribadah, bermeditasi, mendaraskan ayat-ayat suci, jika kita masih menjadi ancaman terhadap ekosistem di atas muka bumi. Itu hanya akan menunjukkan kemunafikan kita, ketidakselarasan antara perasaan, pikiran, ucapan dan tindakan kita.

Sosok yang spiritual oleh karenanya adalah sosok yang di satu sisi adalah maju dan modern. Oleh karena keterbukaan pikirannya, menerima perkembangan jaman dan teknologi. Sisi lain, adalah sosok yang merawat dan menjaga ekosistem serta meminimalisir ancaman terhadapnya akibat konflik dan kerakusan serta ketidakpedulian manusia.

Berangkat dari itulah, saya merasa Surabaya adalah kota yang mengalami perkembangan spiritual paling pesat di Indonesia. Jika bicara ketidaksempurnaan, tentu saja banyak yang harus dikerjakan, diperbaiki dan ditingkatkan. Namun kembali, Surabaya terus berkembang. Bukannya mandeg atau malah mundur, sebagaimana yang dialami Jakarta.

Saya berharap kota-kota lain di Indonesia juga akan terus berkembang seperti Surabaya. Ujud nyata perkembangan spiritualitas orang Indonesia. Sebelum itu terjadi, sepertinya mesti pindah dulu ke Surabaya.

 

Advertisements

Manusia Lebih Baik Daripada Hewan? Preeett…

Manusia lebih baik daripada hewan karena memiliki kemampuan berpikir, analisis dan kreatif. Demikian kau bilang padaku Bro.

Ya… Mereka (manusia) memang punya kemampuan itu, tapi lihatlah segala kerusakan dan ketidakharmonisan di sekeliling mereka. Kamu bisa saja menjawab: “Kan tidak semua orang begitu Bro.”

Ok, sekarang aku tanya, “Apakah bumi menjadi tempat yang lebih nyaman? Lebih baik untuk ditinggali? Atau sebaliknya, bumi semakin tidak nyaman untuk ditinggali. Lingkungan hidup semakin rusak. Konflik antar manusia semakin meluas dan kerusakan serta bencana alam semakin sering terjadi?”.

Kamu tahu jawabannya bukan? Kamu pun tahu apa dan siapa penyebabnya.

Manusia dengan kemampuan berpikirnya ibarat orang yang menyalakan api di atas perahu kayu yang tengah mengarungi lautan, dan mereka menyalakan api dengan mengambil kayu dari badan perahu. Sedikit demi sedikit, demi makanan mereka, demi kehangatan diri. Dan mereka tidak pernah berhenti mengambil kayu itu, tanpa berusaha mengganti.

Mereka, dalam rangka kelangsungan hidup, menghancurkan apa yang menjadi pondasi kehidupan mereka sendiri. Itu karena kemampuan berpikir mereka. Mengagumkan bukan? Lebih mengagumkan lagi, dengan segala kerusakan yang terjadi, manusia masih merasa mereka lebih baik daripada hewan. Adakah hewan yang merusak “tempat tinggal”-nya sendiri?

Ya.. Tidak seperti hewan, manusia memiliki kemampuan berpikir. Tapi apakah mereka menggunakan kemampuannya untuk membawa kebaikan bagi kelangsungan hidup di muka bumi?

Tulisan ini dibuat bersamaan dengan perayaan Hari Raya Nyepi. Hari dimana manusia menghentikan segala aktivitasnya. Ini adalah hari sesungguhnya dimana semua makhluk hidup kecuali manusia bersuka cita karena setan sesungguhnya sedang berdiam diri.

Buatlah “Nyepi” di atas bumi selama 2 hari sekali, maka kehidupan akan 50% lebih baik. Buatlah “Nyepi” setiap hari, maka kehidupan akan 100% lebih baik.

Apakah itu berarti kehidupan akan jauh lebih baik tanpa kehadiran manusia? Menurut Loo???

Tapi kan? Manusia sudah terlanjur hadir dan semakin berkembang biak. Oh.. Jangan kuatir! Hukum alam berlaku kok. Sama seperti ketika aku bertugas di Toko Buku. Buku-buku yang tidak memberikan kontribusi kepada penjualan, alias tidak terjual, tidak laku dijual, cepat atau lambat akan disingkirkan dari tempat pemajangan.

Karena apa? Tempat penjualan terbatas sementara buku-buku baru terus berdatangan dan membutuhkan tempat pemajangan. Selain itu, buku-buku yang tidak laku itu berarti tidak memberikan kontribusi kepada kelangsungan hidup toko buku tersebut. Jadi kenapa dipertahankan?

Itulah Hukum Alam yang juga akan berlaku bagi manusia. Sederhana dan tidak rumit seperti kitab suci namun juga merupakan sebuah kepastian. Cepat atau lambat.

Jadi, dalam lingkungan komunitas di atas bumi, siapa yang paling tidak memberikan kontribusi terhadap kelangsungan hidup komunitas itu dan bahkan mengancam kelangsungan hidup komunitas itu? Jawaban: Manusia.

Jadi, masih berpikir manusia lebih baik daripada hewan?

Selamat Hari Raya Nyepi!