Manusia Lebih Baik Daripada Hewan? Preeett…

Manusia lebih baik daripada hewan karena memiliki kemampuan berpikir, analisis dan kreatif. Demikian kau bilang padaku Bro.

Ya… Mereka (manusia) memang punya kemampuan itu, tapi lihatlah segala kerusakan dan ketidakharmonisan di sekeliling mereka. Kamu bisa saja menjawab: “Kan tidak semua orang begitu Bro.”

Ok, sekarang aku tanya, “Apakah bumi menjadi tempat yang lebih nyaman? Lebih baik untuk ditinggali? Atau sebaliknya, bumi semakin tidak nyaman untuk ditinggali. Lingkungan hidup semakin rusak. Konflik antar manusia semakin meluas dan kerusakan serta bencana alam semakin sering terjadi?”.

Kamu tahu jawabannya bukan? Kamu pun tahu apa dan siapa penyebabnya.

Manusia dengan kemampuan berpikirnya ibarat orang yang menyalakan api di atas perahu kayu yang tengah mengarungi lautan, dan mereka menyalakan api dengan mengambil kayu dari badan perahu. Sedikit demi sedikit, demi makanan mereka, demi kehangatan diri. Dan mereka tidak pernah berhenti mengambil kayu itu, tanpa berusaha mengganti.

Mereka, dalam rangka kelangsungan hidup, menghancurkan apa yang menjadi pondasi kehidupan mereka sendiri. Itu karena kemampuan berpikir mereka. Mengagumkan bukan? Lebih mengagumkan lagi, dengan segala kerusakan yang terjadi, manusia masih merasa mereka lebih baik daripada hewan. Adakah hewan yang merusak “tempat tinggal”-nya sendiri?

Ya.. Tidak seperti hewan, manusia memiliki kemampuan berpikir. Tapi apakah mereka menggunakan kemampuannya untuk membawa kebaikan bagi kelangsungan hidup di muka bumi?

Tulisan ini dibuat bersamaan dengan perayaan Hari Raya Nyepi. Hari dimana manusia menghentikan segala aktivitasnya. Ini adalah hari sesungguhnya dimana semua makhluk hidup kecuali manusia bersuka cita karena setan sesungguhnya sedang berdiam diri.

Buatlah “Nyepi” di atas bumi selama 2 hari sekali, maka kehidupan akan 50% lebih baik. Buatlah “Nyepi” setiap hari, maka kehidupan akan 100% lebih baik.

Apakah itu berarti kehidupan akan jauh lebih baik tanpa kehadiran manusia? Menurut Loo???

Tapi kan? Manusia sudah terlanjur hadir dan semakin berkembang biak. Oh.. Jangan kuatir! Hukum alam berlaku kok. Sama seperti ketika aku bertugas di Toko Buku. Buku-buku yang tidak memberikan kontribusi kepada penjualan, alias tidak terjual, tidak laku dijual, cepat atau lambat akan disingkirkan dari tempat pemajangan.

Karena apa? Tempat penjualan terbatas sementara buku-buku baru terus berdatangan dan membutuhkan tempat pemajangan. Selain itu, buku-buku yang tidak laku itu berarti tidak memberikan kontribusi kepada kelangsungan hidup toko buku tersebut. Jadi kenapa dipertahankan?

Itulah Hukum Alam yang juga akan berlaku bagi manusia. Sederhana dan tidak rumit seperti kitab suci namun juga merupakan sebuah kepastian. Cepat atau lambat.

Jadi, dalam lingkungan komunitas di atas bumi, siapa yang paling tidak memberikan kontribusi terhadap kelangsungan hidup komunitas itu dan bahkan mengancam kelangsungan hidup komunitas itu? Jawaban: Manusia.

Jadi, masih berpikir manusia lebih baik daripada hewan?

Selamat Hari Raya Nyepi!

My Dearest Mr. Susi.. (Surat Kepada Seorang Sahabat)

Dear Mr. Susilo Bambang Yudhoyono,

Sudah lama berlalu sejak terakhir kali aku menjumpaimu. Mungkin sekitar tahun 2005 atau 2006, saat aku meliput kunjunganmu ke Malaysia dan Singapura. Hmm.. Peliputan itu meninggalkan kenangan indah bagiku. Resepsionis hotel tempatku menginap di Singapura, sangat cantik dan bersikap manis kepadaku.

Tidak saja sekedar ramah, dia, yang namanya aku lupa, bahkan membuatkan aku bercangkir-cangkir kopi (FYI, for free) dan menemani aku ngobrol ngalor ngidul sepanjang malam hingga pagi hari. Pembicaraan hangat itu harus terhenti karena aku harus meliput kedatanganmu di Bandara Changi. Sungguh, bahwa aku harus menghentikan pembicaraanku dengannya demi dirimu adalah, di sisi lain, kenangan yang menyebalkan.

Anyway.. Cukup sudah dengan kenangan-kenangan masa lalu. Apa kabarmu? Sedang sibuk apa? Dimana? Sama siapa? Hehehe..

Mr. Susi, boleh aku panggil kamu dengan nama itu kan? Rasanya kok unik sekali, perpaduan antara Maskulin dan Feminin, and it’s sooo.. You! Aku rasa dirimu tidak akan membuang-buang waktu memikirkan hal sepele menyangkut bagaimana orang memanggilmu. Aku rasa kamu akan lebih memikirkan bangsa dan negara Indonesia kita yang tercinta ini. Aku yakin kamu akan lebih memikirkan, salah satunya, apa dan bagaimana solusi permanen atas situasi dan kondisi menyangkut hubungan KPK dengan Polisi Indonesia.

Hmm.. Semoga keyakinanku bukanlah angan-angan belaka, meski beberapa kali beberapa pihak menilai kalau dirimu seringkali “Diam ketika sebaiknya Berbicara” dan sebaliknya “Berbicara ketika sebaiknya Diam”.

Mr. Susi, let me be honest with you Sir. I am not a fan of you. Ketika banyak orang memilihmu saat pertama kali dirimu mencalonkan sebagai Presiden, aku samasekali tidak ingin dan bukan termasuk salah satu di antara mereka. Ketika dirimu kembali memenangkan pemilihan Presiden dan untuk kedua kalinya memimpin Republik ini, komentarku adalah: “Oh My God! Kok bisa??”

Well, bagaimana-pun juga kamu sudah menjadi dan adalah Presiden Republik Indonesia, yang berarti juga adalah Presiden-ku. Dengan segala perkembangan yang terjadi, dengan segala kritikan yang ditujukan kepadamu, dengan fakta bahwa aku samasekali bukan penggemarmu, aku tetap berharap dirimu mampu mengakhiri jabatan sebagai Presiden pada saatnya nanti di tahun 2014.

Bagaimana-pun juga, aku rasa itu tetap pilihan yang terbaik, jika, dengan segala keraguan dan kritikan atas dirimu, kamu memilih untuk tetap menduduki Kursi RI1. The best choice among the worst i might say.

Dear Mr. Susi..
Pertanyaannya kemudian adalah: ingin seperti apakah dirimu dikenal kemudian ketika tiba akhir masa jabatanmu tahun 2014? Seberapa besar keinginan itu mendorong sikap dan tindakanmu saat ini?

Aku kuatir, jika mencermati sikapmu belakangan ini, kamu tidak cukup punya keinginan yang kuat untuk meninggalkan kesan yang positif yang tidak terbantahkan sebagai Presiden Republik Indonesia.

You seems like a dying King Mr. Susi…
Kamu mengingatkan aku akan film-film yang menggambarkan seorang pemimpin tua, lemah dan sekarat di atas ranjang. Kamu seakan-akan sudah tidak peduli lagi dengan situasi dan kondisi bangsa ini. Tidak peduli lagi hendak kemana bangsa ini.
Tidak peduli lagi suara-suara anak bangsa.

Aku tak tahu, dan aku yakin banyak orang yang tidak tahu, apa yang sedang kamu pikirkan dan apa yang akan kamu perbuat.
Sungguh! Aku penasaran dengan apa yang ada di dalam benakmu.

Are you dying or you’re just preparing something big, that’s so big, something revolutionary? Something yang mematahkan semua pandangan negatif dan kritikan terhadapmu?

Dearest Mr. Susi,
Tak perlu-lah aku ingatkan bahwa sebagai Presiden Republik Indonesia, dirimu seharusnya adalah orang paling kuat di Indonesia, jika tidak mampu menjadi The Most Powerful Person in Asia or South East Asia.

Tapi lihatlah dirimu!
Kamu membuat Aburizal, Anas Urbaningrum terlihat lebih powerful daripadamu. Kini, kamu juga membuat Timur Pradopo terlihat lebih powerful daripadamu.

Tidak saja mereka, kamu juga membuat Abraham Samad dan Jokowi, nama yang baru belakangan ini terdengar di telingaku dan masuk ke dalam ruang perhatianku, juga terlihat jauh lebih powerful daripadamu, my Dear President, Mr. Susi.

Apakah mereka sungguh lebih powerful daripadamu?
Mestinya sih tidak.. Lalu kenapa kesan kuat yang kutangkap justru sebaliknya?

Ingin dikenang sebagai Pemimpin yang bagaimanakah nantinya dirimu Mr. Susi? Sungguh! Aku penasaran..

Lovely Punishment

Kalau kita dipukul orang, kita selalu punya pilihan: membiarkan karena kita merasa layak untuk mendapatkannya, atau membalas dengan serangan fisik pula atau mengajukan tuntutan hukum atau sekedar ngomel-ngomel saja. Beberapa waktu lalu, si sulung Alicia memukul adiknya, Bianca, karena kesal digangguin. Apa yang akan kamu lakukan Bro?

Dulu waktu kecil hingga remaja, kalo aku lagi bandelnya kumat, Bapak Almarhum juga suka menyabet punggungku dengan selang karet yang berdiameter lebih dari 10 cm. Selang yang biasa dipasang buat pompa air manual jaman dulu. Meski sudah berkali-kali merasakan, aku juga tak terbiasa. Sampai sekarang, mungkin hanya Bapak seorang, manusia yang aku takuti di atas bumi.

Dulu Bapakku mendidik kami anak-anaknya dengan menggunakan kekerasan fisik, sebagaimana umumnya anak-anak yang dibesarkan oleh tentara, agar kami mampu menghadapi kerasnya kehidupan. Sekarang, kehidupan yang akan dihadapi oleh anak-anakku mungkin jauh lebih keras daripada jamanku.

Apakah aku harus lebih keras dalam mendidik anakku ketimbang Bapak Almarhum mendidik anak-anaknya? Menggunakan kekerasan fisik yang lebih sering dan lebih kuat sebagai konsekuensi atas setiap kesalahan dan kelalaian anak-anakku?

Inilah yang akhirnya, aku pilih sebagai konsekuensi atas tindakan kekerasan Alicia kepada adiknya..

Tulisan tangan Sissy: “Sisi Janji Sayang Adik” sebanyak 100 kali karena telah memukul adiknya, Bianca.

 

 

Children of Tomorrow

Hai Bro! Apa kabar? Gimana masa kecilmu?

Minggu lalu aku bertugas dalam sebuah kegiatan Ramadhan di Masjid Al Huda, Batu Ceper, Tangerang, Banten. Aku terkesan oleh keceriaan anak-anak yang bermain di halaman Masjid. Begitu lepas dan bebas. Tiga gadis cilik di antaranya yang tahu aku memegang kamera, langsung menghampiriku dan bilang: “Om.. Foto donk!” Aku dengan senang hati memenuhi permintaan mereka yang segera berpose di bagian gagang sebuah mug raksasa milik sponsor kegiatan kami yang dipajang di halaman masjid.

 

 

Sebelum aku sempat mencatat nama-namanya, mereka langsung kembali menghampiri teman-teman mereka untuk melanjutkan permainan. “Hey! Tidak-kah kalian ingin melihat hasilnya? Tidak-kah kalian ingin bertanya kapan kalian akan mendapatkan fotonya?”, batinku. Mungkin bukan itu yang mereka mau. Mungkin, mereka hanya menginginkan sensasi berpose di depan kamera.

Well, that’s OK! Toh, aku sudah menyimpan senyum manis mereka dalam benak dan penyimpan file digital-ku. Semoga kalian tumbuh menjadi anak yang Sehat, Kuat, Cerdas, Ceria, Pemberani dan Berbudi Luhur. Kepada kalian-lah Indonesia akan bergantung di hari-hari yang akan datang.

Itulah doaku, namun, akan seperti apakah mereka nantinya? Mungkin hanya Tuhan dan orang tua mereka yang tahu.

Hmm.. Kamu tahu akan seperti apakah anakmu Bro? Mungkin lebih tepatnya, kamu tahu apa yang kamu inginkan akan seperti apakah anak-anakmu nantinya, tapi ketahuilah..

1. Setiap orang tua tahu apa yang mereka inginkan seperti apa anak-anak mereka nantinya. Namun, semakin sedikit orang tua yang..

2. Sungguh-sungguh mengetahui apa yang harus  dan perlu mereka lakukan, agar anak-anak mereka menjadi apa yang mereka inginkan, dan.. Hanya segelintir orang tua yang..

3. Sungguh-sungguh melakukan apa yang harus dan perlu mereka lakukan agar anak-anak mereka menjadi apa yang mereka inginkan.

Ini sama seperti halnya sebuah perjalanan.. Aku harus tahu apa tujuanku dan bagaimana aku mencapai tujuanku: Jalan-jalan yang harus aku lalui dan rute yang harus aku tempuh. Namun, paling penting adalah.. Aku harus mau melangkah menyusuri rute yang sudah aku tetapkan untuk mencapai tujuanku.

 

 

 

Janji Tinggal Janji

Hai Bro! Apa kabar? Lama sekali ya kita tidak berjumpa? Entah kenapa dalam satu waktu aku merasa sudah cukup banyak berkata-kata. Kamu tau apa masalahnya ketika kita berkata-kata? Semakin banyak kata-kata, semakin banyak janji yang kita lontarkan. Samasekali bukan masalah kalo kita bisa memenuhi keseluruhan janji yang sudah kita lontarkan yang otomatis terekam oleh pusat pendataan alam semesta itu.

So, untuk sekian waktu lamanya setelah tulisan terakhir-ku: “Bahagia Bisa Plung”, aku mencermati kembali janji-janji yang pernah aku lontarkan. Kepada siapa? Well, yang harus kamu pahami, tulisan-tulisan yang pernah dan aku sampaikan di sini aku tujukan lebih untuk diriku sendiri. Jadi, janji-janji yang terlontarkan adalah terutama janji untuk-ku sendiri.

Orang akan selalu bisa menilai, sejauh mana kita memenuhi janji kita. Sejauh mana keselarasan antara ucapan dan tindakan. Namun sesungguhnya menurutku yang paling penting adalah sejauh mana keselarasan antara apa yang ada dalam diri kita, dalam pikiran dan perasaan, dengan apa yang terucapkan dan terujud dalam tindakan kita.

Aku tidak akan ambil pusing dengan penilaian orang lain jika: “Apa yang aku ucapkan, berbeda dengan apa yang aku lakukan”. Orang bisa saja salah memahami apa yang aku sampaikan toh? Aku hanya perlu menjelaskan apa yang sesungguhnya aku maksudkan.

Hal yang perlu aku pusingkan adalah jika aku sendiri menyadari bahwa “Apa yang aku pikirkan dan rasakan, berbeda dengan apa yang aku ucapkan dan lakukan”. Itu artinya aku hidup dalam Kepalsuan Sejati.

Tulisan-tulisanku menjadi: “Aku berjanji, inilah yang ada dalam diriku, dalam pikiran dan perasaanku. Inilah aku sesungguhnya, seperti yang tercermin dalam ucapan dan tindakanku.”

Pada akhirnya, untuk menjadi diri sendiri hanyalah menyelaraskan apa yang ada dalam diri dengan apa yang nampak dari luar melalui ucapan dan tindakanku. Apakah aku sudah menjadi diriku sendiri, ataukah aku masih menjadi orang lain yang bahkan tidak dikenali oleh Orang Tua-ku.

Jadi Bro, tuliskanlah apa yang ada pikiran dan perasaanmu. Itu membantumu mengenali dan untuk menjadi diri sendiri. Tentu saja, kita semua selalu punya pilihan untuk memenuhi janji dan menjadi diri sendiri atau menjadi orang asing.

I was Born This Way

“…I’m beautiful in my way,
‘Cause God makes no mistakes
I’m on the right track, baby
I was Born This Way

Don’t hide yourself in regret,
Just love yourself and you’re set
I’m on the right track, baby
I was Born This Way…”

Membaca kutipan syair lagu-nya Lady Gaga, “I Was Born This Way” di atas, aku jadi ingat pertanyaan seseorang kepada-ku: “Apa kunci sukses menurutmu?”. Tanpa keraguan aku menjawab: “Salah satu-nya adalah.. Aku tidak menghabiskan waktuku mendengarkan omongan orang yang tidak berguna tentang aku”.

My friend, aku dulu pernah mengikuti workshop Pengembangan SDM yang sungguh membantuku mengenali kecenderungan perilaku seseorang. Dalam workshop itu, aku mendapatkan pengetahuan bahwa ternyata, “kepribadian seseorang bisa berubah samasekali dan berlawanan dengan kepribadian sesungguhnya”.

Perubahan itu sebagai akibat dari proses adaptasi yang bersangkutan terhadap lingkungan dimana ia berada.
Sederhananya, kepribadian seseorang berbeda ketika ia di luar rumah dibandingan dengan ketika ia di rumah.

Pada saat aku menjalani penugasan yang mengharuskan aku untuk melakukan proses rekrutmen terhadap calon karyawan baru, aku pun menyadari sedemikian banyak di antara mereka, LEBIH DARI 95% calon karyawan baru, yang menunjukkan perbedaan kepribadian dan kecenderungan perilaku.

Ada yang “aslinya” penyediri, namun, kemudian menjadi orang yang suka berada di tengah banyak orang. Ada yang aslinya tipikal orang yang bersantai-santai dan cenderung ceroboh, “berubah” menjadi orang yang “ngotot” dan teliti, dan berbagai perubahan karakter dan kecenderungan perilaku lainnya.

Apakah itu menjadi masalah? Jawabannya akan menjadi relatif.
Kemungkinan-kemungkinan “buruk” yang bisa terjadi adalah yang bersangkutan tidak cukup jujur, dan itu beberapa kali terbukti, atau yang bersangkutan punya kecenderungan stress yang relatif lebih tinggi ketimbang mereka yang punya karakter yang steady, tetap pada situasi apapun.

Kemungkinan lain adalah, pada saat yang bersangkutan mengalami stress, kepribadian dan kecenderungan perilaku aslinya akan muncul dan itu bisa menjadi masalah jika tidak sesuai dengan tuntutan tugas dan tanggung jawabnya.

Aku mencoba mencari jawaban kenapa karakter orang bisa berubah. Salah satu dugaan yang bisa aku terima adalah seseorang tidak cukup memiliki kepercayaan diri sehingga merasa perlu untuk “berubah”.

Banyak loh diantara kita berubah agar bisa diterima di lingkungan dimana ia berada. Seseorang rela menjadi “orang lain” agar bisa diterima oleh orang lain, agar bisa diterima di sebuah lingkungan.

Well, untuk hal itu, aku teringat sebuah pesan: “Kamu harus bisa menerima dan mencintai dirimu terlebih dahulu, sebelum bisa diterima dan dicintai serta mencintai orang lain.”

Iyalah Bro! Kamu takkan bisa memberikan apa yang tidak kamu miliki, termasuk jika bicara soal cinta.

Bagaimana dengan aku? Hasil tes menunjukkan jika aku…

“…I’m beautiful in my way,
‘Cause God makes no mistakes
I’m on the Right Track, Baby
I was Born This Way.

Don’t hide Yourself in regret,
Just Love Yourself and You’re Set
I’m on the Right Track, Baby
I was Born This Way…”

Semoga kamu juga Bro!

Filosofi Buang Air Besar..

Buset dah! Beberapa hari terakhir ini, aku lancar sekali Buang Air Besar (BAB). Sehari bisa 2 – 3 kali. Lancar kali kan? Hasil dari over konsumsi makanan berserat kali yak?

Bicara soal BAB, aku jadi ingat apa yang pernah disampaikan oleh Mas Agung Adiprasetyo, CEO Kompas Gramedia, yang intinya kurang lebih adalah: “Kalau sudah BAB, orang akan lega dan tidak akan menyesali kotoran yang sudah dikeluarkan”.

Demikianlah tuntunan hidup hadir sepanjang waktu dalam kehidupan kita sehari-hari, tapi seberapa banyakkah di antara kita yang mau belajar dan memahaminya?

Pernahkah kau, sekali saja, menyesali sudah melepaskan kotoran saat BAB Bro? Tak sekalipun jua kan?

Pun demikian, banyak diantara kita yang memegang erat-erat “Kotoran” sepanjang waktu dan mungkin selama kehidupan kita. Kotoran-kotoran dalam bentuk: Kenangan Masa Lalu, Kejayaan Masa Lalu, Trauma Masa Lalu, Penyesalan akan Keputusan dan Tindakan yang telah Lalu.

Sedemikian erat kita memegang dan menyimpan “kotoran-kotoran” itu, sehingga kita lupa keberadaan kita saat ini dan di sini. Itu sama saja dengan menyimpan tinja dalam perut dengan tidak berak selama berhari-hari. Penyakit Bro!

Ketimbang belajar dari masa lalu dan menjadikan kita pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi, kita cenderung hanya mengenang, membicarakan, menangisi, membanggakan masa lalu. Kita abai untuk mendapatkan nilai lebih dari masa lalu pada kehidupan kita hari ini dan selanjutnya. Waktu sudah berubah Bro!

Masa lalu hanya membawa kita pada posisi, situasi dan kondisi kita saat ini, namun, apa yang akan terjadi selanjutnya, kita-lah yang menentukan. Berikanlah ruang yang lebih lega bagi kita bergerak dengan mengeluarkan “masa lalu” dari ruang kehidupan kita.

Rasakanlah kelegaan selepas BAB dengan hidup sepenuhnya saat ini, di sini. Setiap orang harus belajar dari masa lalu, namun apa gunanya hidup di bawah bayang-bayangnya?
Apa gunanya menyimpan tinja dalam perut berhari-hari?
Lepaskanlah, lepaskanlah..