Filosofi Buang Air Besar..

Buset dah! Beberapa hari terakhir ini, aku lancar sekali Buang Air Besar (BAB). Sehari bisa 2 – 3 kali. Lancar kali kan? Hasil dari over konsumsi makanan berserat kali yak?

Bicara soal BAB, aku jadi ingat apa yang pernah disampaikan oleh Mas Agung Adiprasetyo, CEO Kompas Gramedia, yang intinya kurang lebih adalah: “Kalau sudah BAB, orang akan lega dan tidak akan menyesali kotoran yang sudah dikeluarkan”.

Demikianlah tuntunan hidup hadir sepanjang waktu dalam kehidupan kita sehari-hari, tapi seberapa banyakkah di antara kita yang mau belajar dan memahaminya?

Pernahkah kau, sekali saja, menyesali sudah melepaskan kotoran saat BAB Bro? Tak sekalipun jua kan?

Pun demikian, banyak diantara kita yang memegang erat-erat “Kotoran” sepanjang waktu dan mungkin selama kehidupan kita. Kotoran-kotoran dalam bentuk: Kenangan Masa Lalu, Kejayaan Masa Lalu, Trauma Masa Lalu, Penyesalan akan Keputusan dan Tindakan yang telah Lalu.

Sedemikian erat kita memegang dan menyimpan “kotoran-kotoran” itu, sehingga kita lupa keberadaan kita saat ini dan di sini. Itu sama saja dengan menyimpan tinja dalam perut dengan tidak berak selama berhari-hari. Penyakit Bro!

Ketimbang belajar dari masa lalu dan menjadikan kita pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi, kita cenderung hanya mengenang, membicarakan, menangisi, membanggakan masa lalu. Kita abai untuk mendapatkan nilai lebih dari masa lalu pada kehidupan kita hari ini dan selanjutnya. Waktu sudah berubah Bro!

Masa lalu hanya membawa kita pada posisi, situasi dan kondisi kita saat ini, namun, apa yang akan terjadi selanjutnya, kita-lah yang menentukan. Berikanlah ruang yang lebih lega bagi kita bergerak dengan mengeluarkan “masa lalu” dari ruang kehidupan kita.

Rasakanlah kelegaan selepas BAB dengan hidup sepenuhnya saat ini, di sini. Setiap orang harus belajar dari masa lalu, namun apa gunanya hidup di bawah bayang-bayangnya?
Apa gunanya menyimpan tinja dalam perut berhari-hari?
Lepaskanlah, lepaskanlah..