CEMEN

Aku paling engga tahan dikerokin.
Rasanya jauh lebih sakit ketimbang ditato.
Selama dikerokin bini, aku pasti bolak-balik merintih dan mengerang.
Kesakitan Cuk!

Kalo dah gitu, Bini juga pasti komentar: “Halah! Gitu aja!”
Kata-kata yang tidak terucapkan adalah “Cemet banget seehh..!”
Trus aku curiga dia semakin kasih tekanan.
Aku pun semakin kesakitan. Eh, semakin ditekan.

Begitulah nasib orang “cemen”.
Makin gampang ngeluh, makin dilecehkan, ditekan dan atau tertekan.

“Modaro wae Su!”, gitu pesannya orang Jogja buat orang cemen.
Kesannya, hidupnya orang cemen engga bawa manfaat, dan malah lebih bermanfaat kalo engga hidup.

Mungkin karena orang cemen dianggap bertentangan dengan kodrat manusia yang mestinya makhluk pejuang. Kita makhluk pejuang bukan? Hampir segala sesuatu yang kita lakukan berangkat dari hasrat untuk bertahan hidup bukan?

Oleh karenanya pula, kecenderungan manusia untuk lakuin segala hal untuk survive mungkin bikin kita relatif lebih gampang nerima mereka yang “kurang” tapi mampu atasi “kekurangannya”.

Kita relatif lebih gampang kagum dan atau naruh hormat ke orang yang tidak memiliki tangan tapi mampu berkarya hanya dengan kakinya atau manusia-manusia lainnya, yang mampu mengatasi kekurangan atau ketidakmampuan fisiknya. Ya, mereka sungguh mencerminkan karakter manusia sesungguhnya yang makhluk pejuang.

Sebaliknya, sebagian dari kita jadi lebih gampang kesel, gemes & gregetan atau bahkan jijik kalo liat orang ngeluh inilah, itulah. Seakan-akan hidup engga ada nikmatnya samasekali dan berharap orang lain ngerasain penderitaannya. Enak aja! Giliran susah aja ngajak-ajak.

Buat aku sih, yaahh.. selama Bini masih mau ngerokin, engga masalah dibilang cemen. “Aduh, aduh, aduh.. Sakiiit.. Jangan keras-keras”. Hmm.. Masih untung engga dikerokin pake clurit.

Ngomong Doang..

“Papa kok enggak pake sandal?!” Teriak si bungsu, Bianca, saat melihat aku ada di halaman rumah. Aku segera sadar kalau apa yang aku lakukan berbeda dengan apa yang selalu aku pesankan ke anak-anakku.

My friends, hampir setiap hari kita menjumpai orang yang beda antara ucapan dan tindakan. Kalo kamu adalah orang tua, then you better be careful with that attitude; watch your mouth! Bianca adalah bocah perempuan yang baru berusia 3,5 tahun, tapi sikap kritis bocah itu mengingatkan aku, jika aku terus-terusan tidak konsisten dengan apa yang aku ucapkan, tidak akan butuh waktu lama sebelum dia sekedar mempertanyakan menjadi ikut-ikutan. Well, gimana anakmu adalah gimana kamu sebagai orang tua. Sesederhana itu.

Bianca, bocah 3,5 tahun yang suka protes

Bianca, bocah 3,5 tahun yang suka protes

Buat kamu yang mengaku atau menempati posisi pemimpin, hal yang sama juga berlaku: anak buah adalah cerminan pimpinan. Kurangnya anak buah adalah juga kurangnya pemimpin. Bisa jadi, kurangnya pemimpin karena apa yang diucapkan berbeda dengan apa yang dilakukan. So, jangan kesal kalau anak buahmu cuma pintar ngomong. Mereka belajar untuk cuma pintar ngomong dari guru yang terbaik: KAMU.

Aku sendiri belajar untuk menangkap pesannya, bukan siapa dan bagaimana si penyampai pesan. Sederhananya, ambil yang baik, buang yang buruk. Namun, mengingat kebanyakan dari kita lebih melihat siapa dan bagaimana penyampai pesan, so at least, aku hanya bisa menyampaikan pesan yang aku sendiri bisa jalankan. Aku tidak mungkin melarang orang lain untuk merokok, karena aku sendiri juga merokok. Paling tidak, merokoklah di tempat yang sudah disediakan; merokoklah setelah mampu membeli rokok sendiri; jangan nyesel kalo kena kanker gara-gara rokok.

Kalo aku bisa senantiasa melakukan apa yang aku ucapkan. Aku boleh berharap anak-anakku pun demikian.

Lovely Punishment

Kalau kita dipukul orang, kita selalu punya pilihan: membiarkan karena kita merasa layak untuk mendapatkannya, atau membalas dengan serangan fisik pula atau mengajukan tuntutan hukum atau sekedar ngomel-ngomel saja. Beberapa waktu lalu, si sulung Alicia memukul adiknya, Bianca, karena kesal digangguin. Apa yang akan kamu lakukan Bro?

Dulu waktu kecil hingga remaja, kalo aku lagi bandelnya kumat, Bapak Almarhum juga suka menyabet punggungku dengan selang karet yang berdiameter lebih dari 10 cm. Selang yang biasa dipasang buat pompa air manual jaman dulu. Meski sudah berkali-kali merasakan, aku juga tak terbiasa. Sampai sekarang, mungkin hanya Bapak seorang, manusia yang aku takuti di atas bumi.

Dulu Bapakku mendidik kami anak-anaknya dengan menggunakan kekerasan fisik, sebagaimana umumnya anak-anak yang dibesarkan oleh tentara, agar kami mampu menghadapi kerasnya kehidupan. Sekarang, kehidupan yang akan dihadapi oleh anak-anakku mungkin jauh lebih keras daripada jamanku.

Apakah aku harus lebih keras dalam mendidik anakku ketimbang Bapak Almarhum mendidik anak-anaknya? Menggunakan kekerasan fisik yang lebih sering dan lebih kuat sebagai konsekuensi atas setiap kesalahan dan kelalaian anak-anakku?

Inilah yang akhirnya, aku pilih sebagai konsekuensi atas tindakan kekerasan Alicia kepada adiknya..

Tulisan tangan Sissy: “Sisi Janji Sayang Adik” sebanyak 100 kali karena telah memukul adiknya, Bianca.

 

 

Janji Tinggal Janji

Hai Bro! Apa kabar? Lama sekali ya kita tidak berjumpa? Entah kenapa dalam satu waktu aku merasa sudah cukup banyak berkata-kata. Kamu tau apa masalahnya ketika kita berkata-kata? Semakin banyak kata-kata, semakin banyak janji yang kita lontarkan. Samasekali bukan masalah kalo kita bisa memenuhi keseluruhan janji yang sudah kita lontarkan yang otomatis terekam oleh pusat pendataan alam semesta itu.

So, untuk sekian waktu lamanya setelah tulisan terakhir-ku: “Bahagia Bisa Plung”, aku mencermati kembali janji-janji yang pernah aku lontarkan. Kepada siapa? Well, yang harus kamu pahami, tulisan-tulisan yang pernah dan aku sampaikan di sini aku tujukan lebih untuk diriku sendiri. Jadi, janji-janji yang terlontarkan adalah terutama janji untuk-ku sendiri.

Orang akan selalu bisa menilai, sejauh mana kita memenuhi janji kita. Sejauh mana keselarasan antara ucapan dan tindakan. Namun sesungguhnya menurutku yang paling penting adalah sejauh mana keselarasan antara apa yang ada dalam diri kita, dalam pikiran dan perasaan, dengan apa yang terucapkan dan terujud dalam tindakan kita.

Aku tidak akan ambil pusing dengan penilaian orang lain jika: “Apa yang aku ucapkan, berbeda dengan apa yang aku lakukan”. Orang bisa saja salah memahami apa yang aku sampaikan toh? Aku hanya perlu menjelaskan apa yang sesungguhnya aku maksudkan.

Hal yang perlu aku pusingkan adalah jika aku sendiri menyadari bahwa “Apa yang aku pikirkan dan rasakan, berbeda dengan apa yang aku ucapkan dan lakukan”. Itu artinya aku hidup dalam Kepalsuan Sejati.

Tulisan-tulisanku menjadi: “Aku berjanji, inilah yang ada dalam diriku, dalam pikiran dan perasaanku. Inilah aku sesungguhnya, seperti yang tercermin dalam ucapan dan tindakanku.”

Pada akhirnya, untuk menjadi diri sendiri hanyalah menyelaraskan apa yang ada dalam diri dengan apa yang nampak dari luar melalui ucapan dan tindakanku. Apakah aku sudah menjadi diriku sendiri, ataukah aku masih menjadi orang lain yang bahkan tidak dikenali oleh Orang Tua-ku.

Jadi Bro, tuliskanlah apa yang ada pikiran dan perasaanmu. Itu membantumu mengenali dan untuk menjadi diri sendiri. Tentu saja, kita semua selalu punya pilihan untuk memenuhi janji dan menjadi diri sendiri atau menjadi orang asing.

Baik itu Relatif, Buruk itu Mutlak

Hai Bro! Barusan aku baca sebuah tulisan di sebuah mailing list yang aku ikuti. Isinya tentang “Menjadi Orang Baik”. You know what Bro? Aku dah lupa kapan terakhir kali aku berusaha mendefinisikan ataupun memperdebatkan apa itu baik atau buruk dan bagaimanakah orang baik itu.

Ketika pemakaman seorang pembunuh massal-pun dihadiri ratusan pelayat yang menangisi kepergiannya, aku tahu tidak ada gunanya kita berdebat tentang baik atau buruk.

Kita semua tahu betapa satu hal bisa mendapatkan dua penilaian yang sangat bertolak belakang. Segala hal menjadi sangat tergantung pada sudut pandang seseorang dalam melihatnya dan menilainya.

Pun sudah bertahun-tahun lamanya, aku tak lagi melakukan suatu hal dengan alasan demi melakukan sebuah kebaikan. Kebaikan menurut siapa? Menurut apa?

Kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang terbiasa melihat satu hal dari satu sudut pandang. Kau tentu pernah mendengar kisah tentang beberapa orang buta yang berusaha menggambarkan seekor gajah dari satu bagian tubuhnya yang dipegang oleh masing-masing orang itu. Tidak akan sama.

Bisa jadi dan sangat mungkin, segala “keburukan” yang terjadi di sekeliling kita karena masing-masing orang berusaha melakukan segala sesuatu berdasarkan kebaikan menurut mereka masing-masing.

Untuk segala kekacauan itu, aku teringat sebuah hukum sederhana yang melampaui ajaran akan kebaikan manapun juga: “Lakukanlah apa yang kamu ingin orang lain lakukan, dan jangan lakukan apa yang kamu tidak ingin orang lain lakukan terhadapmu.”

Terapkan hukum itu, dan kita tidak akan membutuhkan lagi segala omong kosong tentang kebaikan, karena segalanya akan baik-baik saja.

Apa Tujuan Hidup-mu?

My friends, banyak loh diantara kita yang belum tau untuk apa tujuan hidup ini? Pun aku pernah mengalaminya. Belasan tahun aku menjalani meditasi, berpuasa dan berpantang, ziarah ke makam leluhur, berendam di telaga selepas tengah malam hingga dini hari demi mencari jati diri dan tujuan hidup sejati.

Pun akhirnya, kutetapkan bahwa tujuan hidupku adalah memastikan kemandirian anak-anakku sebagai pribadi-pribadi yang sehat, kuat, cerdas, ceria, pemberani dan berbudi luhur dengan menjalankan sebaik-baiknya peranku sebagai orang tua, karyawan serta warga masyarakat dan bangsa Indonesia.

Samasekali mungkin bukanlah tujuan hidup yang aku harapkan akan aku dapatkan melalui serangkaian lelaku di masa lalu. Pun kalau aku menunggu dari hasil lelaku, bisa jadi hingga saat ini aku takkan jua mendapatkan petunjuk akan tujuan hidupku, dan itu berarti aku sama saja dengan sekian tahun jalan mondar-mandir tak tahu hendak kemana.

Banyak orang yang tidak tahu apa tujuan hidupnya, atau sebaliknya menetapkan tujuan hidup yang fantastis. Aku pribadi lebih baik punya tujuan hidup yang fantastis ketimbang tidak punya tujuan hidup samasekali.

Imagine a Life without A Purpose, bayangkan hidup tanpa tujuan. Samasaja dengan kita berdiri di sebuah terminal bis, tapi kita hanya bisa melihat bis-bis hilir mudik di hadapan kita dan tak tahu mana yang hendak kita pilih. Begitu menyedihkan..

Jika menetapkan sebuah tujuan menjadi hal yang sangat sulit bagimu, mulai-lah dengan menyadari peran yang bisa kamu jalankan saat ini dengan menyadari pengetahuan dan kemampuanmu. Inilah yang akhirnya aku lakukan.

Sebagai orang tua, aku berperan dan bertanggung jawab mendidik dan mengembangkan anak-anakku agar di kemudian hari, anak-anakku dapat secara mandiri menghadapi dan mengatasi tantangan kehidupan.

Sebagai seorang profesional, aku berperan mengoptimalkan pengetahuan dan kemampuanku untuk mendorong perkembangan perusahaan dimana aku bekerja. Menjadi solusi dan bukannya permasalahan. Memastikan tumbuh kembangnya perusahaan yang menghidupi aku dan keluargaku.

Sebagai seorang warga masyarakat dan warga negara, pun aku berperan untuk tumbuh kembangnya masyarakat dan negara-ku. Mendarmabaktikan pengetahuan dan kemampuanku bagi masyarakat, bangsa dan negaraku. Kembali, menjadi solusi dan bukannya masalah apalagi sampah masyarakat.

Apalagi? Tidak usah banyak-banyak.. Tiga hal tersebut di atas pun belum pula aku jalankan secara maksimal, tapi paling tidak, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Bagaimana dengan kamu?

My friends, ketika setiap orang sudah menetapkan tujuan hidup, selanjutnya yang dibutuhkan adalah tuntunan hidup. Semacam panduan bagaimana kita bisa menjalani hidup sehari-hari untuk mencapai tujuan hidup yang sudah kita tetapkan.

Beberapa orang menggunakan agama sebagai tuntunan moral dan perilaku. Bagaimana dengan aku? Well, to be honest, aku menjadikan Nilai-nilai Keutamaan perusahaan tempatku bekerja sebagai tuntunan hidupku, yaitu:

1. Caring, Peduli terhadap Sesama.
2. Credible, Jujur dan terpercaya
3. Competent, ber-Pengetahuan, ber-Kemampuan, ber-Kemauan.
4. Competitive, ber-Daya Saing, lebih baik dari waktu ke waktu
5. Customer Delight, peduli dan mewujudkan Kebahagiaan Pelanggan.

Sederhana sekali bukan? But trust me, aku-pun belum maksimal dalam menjalankan, pun demikian dengan sebagian besar orang-orang di lingkungan pekerjaanku.
Boleh percaya, boleh tidak, masih banyak juga yang belum hapal Nilai-nilai Keutamaan tersebut. Buatku sederhana, kalau tahu saja tidak, bagaimana akan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari?

Lain jika aku sudah memahami dan menyadari, namun tak jua menerapkannya, maka itu sama saja dengan manusia bebal.
Aku punya pemahaman, jika nilai-nilai keutamaan itu mampu sepenuhnya menjiwai Sikapku, setiap pikiran, ucapan, tindakanku, maka aku rasa pencapaian tujuan hidupku hanya masalah waktu semata.

Jadi, sadari peran yang bisa kamu jalankan dan tetapkanlah tujuan hidupmu. Tetapkanlah pula, acuan-acuan yang akan menjadi peganganmu dalam mencapai tujuanmu. Apapun peganganmu, tak jadi masalah, selama kamu bisa memastikan keselarasan antara acuan-acuan tersebut dengan tujuan hidupmu.