Tentang Hukum Moral

Sun Tzu pernah mengatakan, kurang lebih, salah satu faktor penentu kemenangan adalah tegaknya Hukum Moral. Itulah yang akan membuat rakyat sepenuhnya patuh dan selaras dengan penguasanya.

Dengan tegaknya hukum moral, rakyat akan mengikuti penguasanya, tak peduli jika harus mempertaruhkan nyawa menghadapi bahaya.

Jadi jelas ya? Kalau penguasa, pemimpin, tidak bisa menegakkan hukum, moralitas, ya jangan harap akan diikuti. Jangan harap rakyatnya akan berjuang untuk meraih kemenangan.

Advertisements

Aku Biarkan Anakku Menempuh Jalan Sunyi

“I do not live for what the heaven thinks of me but for what i think of my self. I shall then live a life of a freeman.”

Anak-anak saya menikmati sepenuhnya “kebebasan beragama” di lingkungan rumah. Ibadah dan belajar agama bukanlah kewajiban yang saya tuntut dari mereka.

Jauh lebih penting bagi saya adalah pendidikan moral dan humanisme bagi anak-anak saya. Itulah pendidikan yang akan membentuk seorang manusia menjadi manusia sesungguhnya, IMHO.

Saya tidak terganggu dengan kemungkinan mereka akan tumbuh menjadi manusia yang beragama sebatas tersebut di KTP. Sebaliknya, saya akan sangat terganggu dan sangat sedih jika mereka tumbuh menjadi manusia yang tidak cukup berkemanusiaan.

Sama seperti yang ditunjukkan oleh sebagian umat manusia saat ini: mengaku beragama tapi tidak cukup berkemanusiaan. Sialnya lagi jika seseorang tidak cukup berkemanusiaan karena mengacu pada apa yang tertulis di kitab sucinya.

Tidak tertutup kemungkinan jika anak-anak saya nantinya akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan dalam diri mereka tentang eksistensi manusia dan tuhan. Itupun saya juga alami dulu.

Dan sebagaimana yang saya jalani, saya akan biarkan anak-anak saya mencari jawabannya sendiri. Toh, pilihan-pilihannya banyak “tersedia di pasaran”. Ada yang jawaban ala agama, ala ilmu pengetahuan, bahkan ada juga juga jawaban ala diri sendiri.

Apapun jawaban yang dipilih, tidak akan menjadi masalah selama anak-anak saya sudah memiliki nalar dan nurani untuk memilih dan memilah jawaban yang paling tepat untuk dirinya. Bahkan termasuk jika dia tidak mendapatkan jawaban yang pas dari yang tersedia di pasaran, atau malah samasekali tidak berusaha mencari.

Saya yang sudah siap menyongsong usia senja-pun belum menemukan jawaban yang paling pas di sanubari. Saya sudah lama lepas dari kegelisahan dalam proses pencarian Tuhan.

Kebebasan dan kemandirian dalam berpikir jauh lebih bernilai ketimbang menemukan jawaban-jawaban yang tidak terlalu relevan dalam peningkatan kualitas kehidupan manusia.

Bahwa dengan kebebasan dan kemandirian dalam berpikir menjadikan anak-anak saya berbeda dengan anak-anak yang lain pada umumnya? Hmmm.. Saya tidak pernah berpikir bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi seragam.

Bagaimanapun juga keberanian sesungguhnya adalah kemauan dan kemampuan untuk menempuh jalan sunyi. Jalan yang jarang dilewati. Bisa jadi dan sangat mungkin, kebenaran Ilahi tersembunyi di jalan sepi itu.