Ngomong Doang..

“Papa kok enggak pake sandal?!” Teriak si bungsu, Bianca, saat melihat aku ada di halaman rumah. Aku segera sadar kalau apa yang aku lakukan berbeda dengan apa yang selalu aku pesankan ke anak-anakku.

My friends, hampir setiap hari kita menjumpai orang yang beda antara ucapan dan tindakan. Kalo kamu adalah orang tua, then you better be careful with that attitude; watch your mouth! Bianca adalah bocah perempuan yang baru berusia 3,5 tahun, tapi sikap kritis bocah itu mengingatkan aku, jika aku terus-terusan tidak konsisten dengan apa yang aku ucapkan, tidak akan butuh waktu lama sebelum dia sekedar mempertanyakan menjadi ikut-ikutan. Well, gimana anakmu adalah gimana kamu sebagai orang tua. Sesederhana itu.

Bianca, bocah 3,5 tahun yang suka protes

Bianca, bocah 3,5 tahun yang suka protes

Buat kamu yang mengaku atau menempati posisi pemimpin, hal yang sama juga berlaku: anak buah adalah cerminan pimpinan. Kurangnya anak buah adalah juga kurangnya pemimpin. Bisa jadi, kurangnya pemimpin karena apa yang diucapkan berbeda dengan apa yang dilakukan. So, jangan kesal kalau anak buahmu cuma pintar ngomong. Mereka belajar untuk cuma pintar ngomong dari guru yang terbaik: KAMU.

Aku sendiri belajar untuk menangkap pesannya, bukan siapa dan bagaimana si penyampai pesan. Sederhananya, ambil yang baik, buang yang buruk. Namun, mengingat kebanyakan dari kita lebih melihat siapa dan bagaimana penyampai pesan, so at least, aku hanya bisa menyampaikan pesan yang aku sendiri bisa jalankan. Aku tidak mungkin melarang orang lain untuk merokok, karena aku sendiri juga merokok. Paling tidak, merokoklah di tempat yang sudah disediakan; merokoklah setelah mampu membeli rokok sendiri; jangan nyesel kalo kena kanker gara-gara rokok.

Kalo aku bisa senantiasa melakukan apa yang aku ucapkan. Aku boleh berharap anak-anakku pun demikian.

Advertisements

Masih Kurang Juga??

Baru saja aku lihat sepeda motor bebek Honda 70, yang kalau di Jogja kondang dengan “Si Pitung” (kependekan dari “Pitung Puluh” atau 70). Kalau lihat motor itu, aku jadi teringat Bapak Almarhum, yang pernah bertahun-tahun menggunakan motor itu sebagai kendaraan sehari-hari saat bertugas di Jogja, mulai sekitar tahun 1980 – 1995-an

Mungkin bukanlah hal yang istimewa buatmu Bro, tapi hal itu menjadi hal yang istimewa sekali buatku, khususnya dikaitkan dengan “gaya hidup” para pejabat di Republik ini.
Bapak Almarhum adalah purnawirawan perwira TNI, lulusan Akademi Militer Nasional (sekarang Akmil) tahun 1961, satu angkatan dengan mantan Panglima TNI, Faizal Tanjung.

Selama hidupnya, Beliau menekankan pada kedisiplinan, pembelajaran dan kesederhaan. Pada jaman aku SMA, Bapak membelikan aku sepeda sebagai alat transportasi ke sekolah, sementara anak-anak tentara lainnya, yang pangkatnya jauh lebih rendah, sudah mulai mengendarai sepeda motor sejak SMP. Hingga aku 3 tahun kuliah, pilihan untuk-ku adalah tetap mengendarai sepeda, naik angkutan umum atau pinjam motor kakakku yang nganggur.

Beliau menekankan pada kesederhanaan, karena kami adalah keluarga besar. Beliau harus menghidupi istri dan 8 anak dengan hanya mengandalkan penghasilannya sebagai anggota TNI. Hmm.. Aku jadi ingat salah satu alasan kenapa aku tidak meneruskan jejak Bapak masuk dinas TNI/Polri, yaitu.. Kalau jujur, tidak akan bisa kaya. Hehehe.. Waktu itu loh yaa…

Pun demikian, aku dan kakak-kakakku beruntung bisa menyelesaikan pendidikan tinggi tanpa sedikitpun mengecap uang haram. Bapak memang peduli pada pendidikan anak-anaknya. Beliau menekan pengeluaran untuk hal-hal yang tidak penting, agar bisa menyediakan dana lebih untuk pendidikan anak-anaknya.

Beliau tidak saja meminta anak-anaknya untuk hidup sederhana, namun juga memberi contoh nyata. Beliau selalu menggunakan sepeda motor untuk berangkat dan pulang kerja, bahkan ketika menjabat sebagai wakil rakyat.

Bapak pernah bercerita, suatu hari saat berangkat kerja, beliau pernah diberhentikan oleh polisi saat pemeriksaan surat-surat kendaraan. Salah satu polisi itu kemudian ditampar oleh Bapak, karena menuding Bapak, yang waktu itu mengenakan Pakaian Dinas Harian dibalik jaketnya, sebagai tentara gadungan. Aku berusaha memahami sikap polisi itu yang mungkin menilai bukanlah hal yang umum bagi seorang perwira TNI untuk mengendarai Si Pitung. Kasian juga si Pitung. Masa sih dia tidak layak dipakai oleh perwira tinggi TNI?

Menjelang akhir masa tugasnya sebagai wakil rakyat, Bapak sempat tidak lagi menggunakan si Pitung, namun penggantinya masih berupa motor. Kali itu, sebuah Suzuki Crystal-lah yang mendapat kehormatan untuk ditunggangi Bapak, hingga akhir hayatnya.

Berangkat dari pengalaman itu, aku tidak habis pikir bagaimana mungkin seorang perwira tinggi bintang tiga, Wakil Kepala Polisi Indonesia, Nanan Sukarna mengaku gajinya tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari (sumber: http://nasional.kompas.com/read/2012/10/11/16283040/Wakapolri.Siapa.yang.Bisa.Hidup.Hanya.dari.Gaji ). Ketika seorang perwira TNI/Polri mengeluhkan penghasilan resmi yang tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, kuat dugaanku, dia salah menetapkan kebutuhannya. Buatku sederhana saja, carilah pekerjaan lain yang penghasilannya bisa memenuhi kebutuhannya, atau kalau tidak, bersyukurlah!

Termasuk kamu Bro! Pengen kaya dengan cara jujur. Jangan jadi PNS. Jangan jadi anggota TNI/Polri! Semangat utama PNS/TNI/Polri adalah semangat Abdi Negara. Abdi loh ya, bukan Tuan. Jadi Abdi kok mau jadi kaya? Lupa ya? Bodoh ya?

My Dearest Mr. Susi.. (Surat Kepada Seorang Sahabat)

Dear Mr. Susilo Bambang Yudhoyono,

Sudah lama berlalu sejak terakhir kali aku menjumpaimu. Mungkin sekitar tahun 2005 atau 2006, saat aku meliput kunjunganmu ke Malaysia dan Singapura. Hmm.. Peliputan itu meninggalkan kenangan indah bagiku. Resepsionis hotel tempatku menginap di Singapura, sangat cantik dan bersikap manis kepadaku.

Tidak saja sekedar ramah, dia, yang namanya aku lupa, bahkan membuatkan aku bercangkir-cangkir kopi (FYI, for free) dan menemani aku ngobrol ngalor ngidul sepanjang malam hingga pagi hari. Pembicaraan hangat itu harus terhenti karena aku harus meliput kedatanganmu di Bandara Changi. Sungguh, bahwa aku harus menghentikan pembicaraanku dengannya demi dirimu adalah, di sisi lain, kenangan yang menyebalkan.

Anyway.. Cukup sudah dengan kenangan-kenangan masa lalu. Apa kabarmu? Sedang sibuk apa? Dimana? Sama siapa? Hehehe..

Mr. Susi, boleh aku panggil kamu dengan nama itu kan? Rasanya kok unik sekali, perpaduan antara Maskulin dan Feminin, and it’s sooo.. You! Aku rasa dirimu tidak akan membuang-buang waktu memikirkan hal sepele menyangkut bagaimana orang memanggilmu. Aku rasa kamu akan lebih memikirkan bangsa dan negara Indonesia kita yang tercinta ini. Aku yakin kamu akan lebih memikirkan, salah satunya, apa dan bagaimana solusi permanen atas situasi dan kondisi menyangkut hubungan KPK dengan Polisi Indonesia.

Hmm.. Semoga keyakinanku bukanlah angan-angan belaka, meski beberapa kali beberapa pihak menilai kalau dirimu seringkali “Diam ketika sebaiknya Berbicara” dan sebaliknya “Berbicara ketika sebaiknya Diam”.

Mr. Susi, let me be honest with you Sir. I am not a fan of you. Ketika banyak orang memilihmu saat pertama kali dirimu mencalonkan sebagai Presiden, aku samasekali tidak ingin dan bukan termasuk salah satu di antara mereka. Ketika dirimu kembali memenangkan pemilihan Presiden dan untuk kedua kalinya memimpin Republik ini, komentarku adalah: “Oh My God! Kok bisa??”

Well, bagaimana-pun juga kamu sudah menjadi dan adalah Presiden Republik Indonesia, yang berarti juga adalah Presiden-ku. Dengan segala perkembangan yang terjadi, dengan segala kritikan yang ditujukan kepadamu, dengan fakta bahwa aku samasekali bukan penggemarmu, aku tetap berharap dirimu mampu mengakhiri jabatan sebagai Presiden pada saatnya nanti di tahun 2014.

Bagaimana-pun juga, aku rasa itu tetap pilihan yang terbaik, jika, dengan segala keraguan dan kritikan atas dirimu, kamu memilih untuk tetap menduduki Kursi RI1. The best choice among the worst i might say.

Dear Mr. Susi..
Pertanyaannya kemudian adalah: ingin seperti apakah dirimu dikenal kemudian ketika tiba akhir masa jabatanmu tahun 2014? Seberapa besar keinginan itu mendorong sikap dan tindakanmu saat ini?

Aku kuatir, jika mencermati sikapmu belakangan ini, kamu tidak cukup punya keinginan yang kuat untuk meninggalkan kesan yang positif yang tidak terbantahkan sebagai Presiden Republik Indonesia.

You seems like a dying King Mr. Susi…
Kamu mengingatkan aku akan film-film yang menggambarkan seorang pemimpin tua, lemah dan sekarat di atas ranjang. Kamu seakan-akan sudah tidak peduli lagi dengan situasi dan kondisi bangsa ini. Tidak peduli lagi hendak kemana bangsa ini.
Tidak peduli lagi suara-suara anak bangsa.

Aku tak tahu, dan aku yakin banyak orang yang tidak tahu, apa yang sedang kamu pikirkan dan apa yang akan kamu perbuat.
Sungguh! Aku penasaran dengan apa yang ada di dalam benakmu.

Are you dying or you’re just preparing something big, that’s so big, something revolutionary? Something yang mematahkan semua pandangan negatif dan kritikan terhadapmu?

Dearest Mr. Susi,
Tak perlu-lah aku ingatkan bahwa sebagai Presiden Republik Indonesia, dirimu seharusnya adalah orang paling kuat di Indonesia, jika tidak mampu menjadi The Most Powerful Person in Asia or South East Asia.

Tapi lihatlah dirimu!
Kamu membuat Aburizal, Anas Urbaningrum terlihat lebih powerful daripadamu. Kini, kamu juga membuat Timur Pradopo terlihat lebih powerful daripadamu.

Tidak saja mereka, kamu juga membuat Abraham Samad dan Jokowi, nama yang baru belakangan ini terdengar di telingaku dan masuk ke dalam ruang perhatianku, juga terlihat jauh lebih powerful daripadamu, my Dear President, Mr. Susi.

Apakah mereka sungguh lebih powerful daripadamu?
Mestinya sih tidak.. Lalu kenapa kesan kuat yang kutangkap justru sebaliknya?

Ingin dikenang sebagai Pemimpin yang bagaimanakah nantinya dirimu Mr. Susi? Sungguh! Aku penasaran..