Makin Sayang, Makin Garang

Ketika sebagian orang cenderung toleran terhadap orang-orang yang terdekat, saya cenderung sebaliknya. Saya cenderung minim toleran kepada orang-orang yang saya anggap dekat.

Orang-orang yang saya anggap dekat, adalah kepada siapa saya menaruh kepercayaan dan harapan yang relatif lebih tinggi ketimbang orang lain. Jadi, ketika performa orang-orang tersebut tidak sesuai harapan, respon saya kepada yang bersangkutan relatif lebih keras.

Sederhana saja. ‘Ditusuk’ oleh orang yang kita percaya akan terasa lebih menyakitkan ketimbang ditusuk oleh orang yang tidak atau kurang kita percaya bukan?

Jadi aneh, ketika orang cenderung permisif, toleran, terhadap sikap dan perilaku orang-orang terdekat yang tidak sesuai dengan harapan, atau bahkan melanggar kepercayaan. Bukankah mereka justru mestinya lebih merasa dikhianati?

Dalam hal itu juga, para pendukung seorang tokoh mestinya bersikap jauh lebih kritis terhadap tokoh itu ketimbang kaum oposisi. Di mata para pendukung, mestinya bukan “Si Tokoh selalu benar”, tapi mestinya “Si Tokoh tidak boleh salah”. Kesalahan kecil saja tidak boleh, apalagi kesalahan yg besar.

Sedikit saja lalai, lupa, salah, para pendukung mestinya langsung bereaksi negatif. Lebih cepat, lebih keras ketimbang mereka yang tidak mendukungnya, yang tidak mempercayainya. Tujuannya jelas agar si Tokoh tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama, tidak lagi melanggar kepercayaan atau nilai-nilai yang telah disepakati.

Sikap kritis ini juga jadi problem di masyarakat kita. Para pendukung tidak cukup bisa bersikap kritis terhadap sosok yang didukungnya.

Mestinya kita bisa sepakat bahwa kita tidak lagi hidup di jaman kerajaan. Bahwa sebuah jabatan (pemimpin) tidak lagi turun dari langit, melainkan diserahkan sebagai bentuk kepercayaan dari warganya. Bahwa warga pendukung bukanlah budak yang akan berdiam diri atas atau bahkan membela kesalahan-kesalahan majikannya.

Bahwa kritik adalah bagian dari alat kendali agar pemimpin, pemerintah, selalu berada di jalurnya, selalu bisa menjaga kepercayaan. Jangan sedikitpun juga melenceng.

Tak perlu kita berdebat soal memberi dukungan. Jelas para pendukung wajib memberikan dukungan kepada orang yang dipercayainya agar mampu menuntaskan tugas dan tanggung jawab yang telah dipercayakan kepadanya. Membela sikap dan tindakan yang memang sudah sesuai nilai-nilai dan tujuan yang sudah disepakati.

Tapi jelas! Berdiam diri ketika ada kesalahan dan kelalaian bukanlah sikap pendukung, apalagi membela mati-matian sebuah ketidakmampuan. Itu hanyalah bentuk feodalisme yang hanya akan memunculkan dan menguatkan tirani, pemimpin yang ‘semau Gue’.

Kalau sudah begitu, rasa sayangmu akan membunuhmu.

Advertisements

Tentang Kelahiran

“Ada 2 hari yang paling penting dalam kehidupan manusia. Pertama adalah hari ketika  ia dilahirkan, dan hari saat ia mengetahui untuk apa ia dilahirkan.” 
~ Mark Twain

 Banyak orang yang bertanya-tanya apa hadiah yang akan mereka terima di hari kelahirannya, di hari ulang tahunnya. Banyak juga yang ragu jika mereka akan menerima hadiah ulang tahun.

Namun, seberapa banyakkah di antara kita yang mencari tahu sejauh mana kita menjadi “hadiah” bagi sesama?  Apakah kelahiran kita memberikan manfaat bagi orang lain?  Untuk apa ia dilahirkan?

Sebaliknya, apakah orang berterima kasih  atas kelahiran seseorang? Si A mengucapkan terima kasih kepada si B di hari ulang tahun si B, bahwa kelahiran dan si B telah memberikan arti bagi kehidupan si A.

Ulang tahun seringkali tidak lebih menjadi momen di mana orang yang berulang tahun mendapatkan dan atau mengharapkan ucapan selamat dan hadiah ulang tahun.  Sesuatu yang menurutku tidaklah esensial. Sesuatu yang jauh dari makna kelahiran seseorang.

Oleh karena itu, menyambut hari kelahiran istriku, Dini Savitri, pada hari Sabtu, 4 Oktober 2014 ini, baiklah aku mengucapkan syukur kepada Tuhan yang telah menghadirkan kamu ke dunia ini. Aku juga berterima kasih atas pendampinganmu selama ini. Atas kesediaanmu menemaniku menyusuri jalanan sunyi ini, dalam suka dan duka, dalam tawa dan tangis. 

Terima kasih, terima kasih dan terima kasih, karena kamu sudah berkenan memberikan bertahun-tahun dari kehidupanmu yang sangat berarti dengan melewati waktu bersamaku.

Kebisingan Dalam Diri

Kemarin dalam perjalanan menuju kantor seorang klien, mobil yang aku tumpangi nyaris ditabrak mobil lain. Salah kami benernya. Waktu itu di Bundaran Hotel Indonesia aku kurang jelas menunjukkan arah pada teman yang nyetir mobil. Dia lalu salah ambil lajur hingga harus dadakan berpindah lajur dan lalu mengagetkan pengemudi mobil di belakang kami. Si pengemudi yang jengkel kemudian menyalip dan memepet kami. Aku lalu membuka jendela dan melambaikan tangan sembari meminta maaf.

Tampak jelas si pengemudi itu sangat marah. Dibalik jendela yang tertutup rapat, wajah yang menegang, mata terlihat melotot, jarinya menuding-nuding ke arah kami, mulutnya terlihat komat – kamit.

Mulutnya komat – kamit? Aku tahu dia sedang berteriak – teriak. Penuh caci maki dan angkara murka mungkin. Namun, tidak sedikitpun suara yang terdengar dari balik jendela mobil yang tertutup rapat itu. Aku samasekali tidak menangkap pesan yang ia sampaikan selain dari ekspresi yang ia tunjukkan. Kenapa dia tidak membuka jendelanya untuk menyampaikan pesannya? Tidakkah ia ditelan kebisingannya sendiri?

Sejenak aku dalam situasi yang canggung antara merasa menyesal tapi juga ingin tertawa melihatnya. Aku seperti melihat adegan film bisu dimana para pemirsa hanya bisa menangkap pesan dari bahasa tubuh dan ekspresi wajah para pemainnya atau seperti ikan dalam akuarium dengan mulut yang komat – kamit.

Hal yang terjadi berikutnya setelah si pengemudi melanjutkan perjalanannya adalah kami menjadikan peristiwa dan khususnya tindakan dan ekspresi si pengemudi yang marah marah di balik jendela yang tertutup rapat sebagai bahan candaan dan bahan tertawaan.

Rasa menyesal berubah dalam sekejap menjadi rasa suka cita penuh kegirangan. Kami mengulangi ekspresi si pengemudi, menggerak – gerakkan bibir kami, seperti ikan di dalam akuarium; komat – kamit dalam kebisuan. Kami-pun tertawa terbahak – bahak melihat ekspresi kami masing – masing. Akupun langsung lupa bahwa saat itu aku nyaris membuat celaka orang.

Pagi ini aku mengenang kembali peristiwa itu. Selain mengingatkan diri untuk lebih berhati – hati dalam mengemudi dan lebih berempati, aku juga bertanya pada diri sendiri; seberapa seringkah aku “berteriak – teriak di balik jendela mobil yang tertutup rapat?”

Seberapa seringkah aku menjadi si pengemudi yang diliputi amarah itu?
Seberapa sering aku memilih untuk berteriak – teriak di dalam diri, membiarkan semua sel dalam diriku merasakan dan merekam semua kemarahanku?

Dalam hal itu, jika aku tidak bisa menetralisir emosi negatif, aku akan memilih untuk melepaskannya keluar ketimbang membiarkan emosi negatif itu menciptakan kebisingan dalam diri.

Manusia Lebih Baik Daripada Hewan? Preeett…

Manusia lebih baik daripada hewan karena memiliki kemampuan berpikir, analisis dan kreatif. Demikian kau bilang padaku Bro.

Ya… Mereka (manusia) memang punya kemampuan itu, tapi lihatlah segala kerusakan dan ketidakharmonisan di sekeliling mereka. Kamu bisa saja menjawab: “Kan tidak semua orang begitu Bro.”

Ok, sekarang aku tanya, “Apakah bumi menjadi tempat yang lebih nyaman? Lebih baik untuk ditinggali? Atau sebaliknya, bumi semakin tidak nyaman untuk ditinggali. Lingkungan hidup semakin rusak. Konflik antar manusia semakin meluas dan kerusakan serta bencana alam semakin sering terjadi?”.

Kamu tahu jawabannya bukan? Kamu pun tahu apa dan siapa penyebabnya.

Manusia dengan kemampuan berpikirnya ibarat orang yang menyalakan api di atas perahu kayu yang tengah mengarungi lautan, dan mereka menyalakan api dengan mengambil kayu dari badan perahu. Sedikit demi sedikit, demi makanan mereka, demi kehangatan diri. Dan mereka tidak pernah berhenti mengambil kayu itu, tanpa berusaha mengganti.

Mereka, dalam rangka kelangsungan hidup, menghancurkan apa yang menjadi pondasi kehidupan mereka sendiri. Itu karena kemampuan berpikir mereka. Mengagumkan bukan? Lebih mengagumkan lagi, dengan segala kerusakan yang terjadi, manusia masih merasa mereka lebih baik daripada hewan. Adakah hewan yang merusak “tempat tinggal”-nya sendiri?

Ya.. Tidak seperti hewan, manusia memiliki kemampuan berpikir. Tapi apakah mereka menggunakan kemampuannya untuk membawa kebaikan bagi kelangsungan hidup di muka bumi?

Tulisan ini dibuat bersamaan dengan perayaan Hari Raya Nyepi. Hari dimana manusia menghentikan segala aktivitasnya. Ini adalah hari sesungguhnya dimana semua makhluk hidup kecuali manusia bersuka cita karena setan sesungguhnya sedang berdiam diri.

Buatlah “Nyepi” di atas bumi selama 2 hari sekali, maka kehidupan akan 50% lebih baik. Buatlah “Nyepi” setiap hari, maka kehidupan akan 100% lebih baik.

Apakah itu berarti kehidupan akan jauh lebih baik tanpa kehadiran manusia? Menurut Loo???

Tapi kan? Manusia sudah terlanjur hadir dan semakin berkembang biak. Oh.. Jangan kuatir! Hukum alam berlaku kok. Sama seperti ketika aku bertugas di Toko Buku. Buku-buku yang tidak memberikan kontribusi kepada penjualan, alias tidak terjual, tidak laku dijual, cepat atau lambat akan disingkirkan dari tempat pemajangan.

Karena apa? Tempat penjualan terbatas sementara buku-buku baru terus berdatangan dan membutuhkan tempat pemajangan. Selain itu, buku-buku yang tidak laku itu berarti tidak memberikan kontribusi kepada kelangsungan hidup toko buku tersebut. Jadi kenapa dipertahankan?

Itulah Hukum Alam yang juga akan berlaku bagi manusia. Sederhana dan tidak rumit seperti kitab suci namun juga merupakan sebuah kepastian. Cepat atau lambat.

Jadi, dalam lingkungan komunitas di atas bumi, siapa yang paling tidak memberikan kontribusi terhadap kelangsungan hidup komunitas itu dan bahkan mengancam kelangsungan hidup komunitas itu? Jawaban: Manusia.

Jadi, masih berpikir manusia lebih baik daripada hewan?

Selamat Hari Raya Nyepi!

Raungan Kebodohan

Sejak kemarin hingga pagi ini, berulang kali aku mendengar raungan suara knalpot sepeda motor menerjang air luapan Kali Pasanggrahan yang menggenangi jalan di depan rumah di kawasan Ulujami, Jakarta Selatan. Awalnya sangat menjengkelkan. Para pengemudi sepeda motor itu hampir selalu diingatkan warga sekitar bahwa genangan air terlalu tinggi untuk dilewati, namun, mereka selalu nekad menerobos berbekal persneling pada gigi satu dan putaran mesin yang tinggi secara konstan. Sebuah kombinasi yang selalu sukses membuat mata terbuka di tengah tidurku di malam hari karena mendengar kebisingan yang diciptakan.

Lambat laun rasa jengkel itu berubah menjadi rasa geli setelah aku menangkap “sebuah pola” dari suara yang aku dengar. Awalnya adalah suara peringatan warga sekitar kepada pengendara motor; “Banjir..! Banjir..!”. Setelah itu diikuti oleh suara “jeritan” konstan knalpot sepeda motor. Itu artinya si pengemudi motor mengabaikan peringatan warga. Tak lama kemudian setelah suara jeritan melintasi depan rumah, suara yang terdengar adalah suara mesin yang tersendat-sendat dan kemudian hening. Itu artinya, air sukses memasuki ruang mesin ketika motor melintasi genangan air yang semakin dalam, sekitar 30-50cm. Suara bagian terakhir dari pola tersebut, adalah suara “kegagalan” mesin yang berusaha dinyalakan berulang-ulang.

Jika aku sudah mendengar suara mesin yang tersendat- sendat, tak terhindarkan lagi bibirku membentuk senyum yang teramat manis meski mata masih terpejam dalam tidur yang tak nyenyak itu. “Semoga sukses mengatasi mesin yang mabuk air kali..” atau “Dikasih tau ngeyel sih!”, demikian batinku menanggapi pola suara yang berakhir pada kesia-siaan tersebut.

Aku berusaha memahami kenekadan para pengemudi sepeda motor itu. Tak peduli mereka melihat berapapun banyaknya motor-motor di pinggir jalan yang “kalah perang”, sebagian besar dari mereka selalu nekad menerobos meski hampir selalu menyusul motor-motor sebelumnya yang “kalah perang”.

Kebanyakan dari mereka merasa yakin motornya mampu menerobos genangan air, padahal mereka tak juga tahu seberapa dalam genangan air itu. Sisi lain, jika mereka menghindari genangan dan memilih jalan memutar, itu berarti mereka harus menempuh jarak 2-3 Km lebih jauh. Sepertinya, bagi pengendara-pengendara itu, mesin motor yang macet adalah resiko yang lebih layak dipilih ketimbang harus menempuh jarak yang lebih jauh (sebenarnya tidak terlalu jauh juga). Pada akhirnya, mereka menjadi jauh lebih lama mencapai tujuannya karena mesin yang macet kebanjiran ketimbang mengambil jalan memutar.

Seberapa banyakkah diantara kita yang memiliki pola pikir yang sama dengan para pengemudi motor nekad itu? Kebanyakan dari kita mungkin memiliki kecenderungan yang sama: mau cepat sampai tujuan dan lalu menggunakan cara- cara yang instan. Meski pada akhirnya cara-cara yang instan itu tidak berhasil membawa kita kemanapun jua.

Aku jadi ingat saat-saat mendaki gunung. Ada dua jalur: jalur “landai”, yang memutar dan membutuhkan waktu yang lebih lama, namun relatif lebih “aman” serta jalur “terjal”, dengan sudut kemiringan yang lebih besar, lebih terjal, lebih beresiko, namun lebih cepat untuk mencapai puncak. Selayaknya orang yang berakal, baiklah kita benar-benar mempertimbangkan kemampuan kita dan medan yang kita hadapi ketimbang sekedar mengandalkan keberuntungan, untuk memilih apapun jalur atau cara yang akan kita pilih.

Jadi, lain waktu ketika kamu hanya berbekal kenekadan untuk kemudian bernasib serupa seperti para pengemudi sepeda motor yang terhenti di tengah jalan, ingatlah selalu bahwa saat kamu sadar kamu telah salah memilih jalan, meski telah diingatkan, aku akan tersenyum sangat manis kepadamu.

Gajah itu Bulat..

Beruntung sekali waktu konser Guns N Roses tanggal 16 Desember lalu kita dapat posisi di Tribun. Meski tentu saja mengingat tiket yang aku dan istriku pegang adalah tiket kelas Festival B yang harganya paling rendah, lokasi kami paling jauh dari panggung, tapi penonton kelas itu mendapatkan kursi. Berbeda dengan kelas VIP dan kelas Festival A yang penontonnya sangat berdesak-desakan dan harus terus berdiri (atau keluar dari kerumunan dan duduk di atas lantai), kami, para penonton kelas Kambing, bisa duduk di atas kursi yang nyaman.

Lebih dari itu, kami bisa mengamati panggung secara keseluruhan, dari sudut ke sudut, keseluruhan tata pencahayaannya, keramaian penontonnya dan performance masing-masing personil GNR dengan sangat jelas melalui layar lebar di atas kami. Permainan piano Axl Rose saat menyanyikan lagu “November Rain” pun terlihat dengan jelas melalui layar itu. Aku jadi merasa sangat menikmati konser GNR itu karena aku bisa melihat konser itu secara keseluruhan.

"From A Distance" Seorang penonton tengah mengamati panggung konser GNR di Ancol, Jakarta, 16 Desember 2012.

“From A Distance” Seorang penonton tengah mengamati panggung konser GNR di Ancol, Jakarta, 16 Desember 2012.

Aku tidak ingin cerita lebih panjang soal konser GNR. Konser itu hanya mengingatkan aku bahwasannya untuk memahami sesuatu aku harus memahami keseluruhan faktor-faktor yang terkait. Aku jadi ingat ketika menjalani penugasan dan harus mencapai target. Ketika kami harus memahami kenapa sebuah target bisa tercapai atau sebaliknya, tidak tercapai.

Sebuah pencapaian target menuntut terpenuhinya beberapa faktor; internal dan eksternal, yang masing-masing-masing bisa saling berpengaruh satu sama lain. Dari sisi internal, bagaimana kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusianya, timing? Bagaimana produknya itu sendiri; Kualitasnya, cita rasa, harga, penyajian, kemasannya, distribusinya, promosinya, paska penjualannya? Sementara dari kondisi eksternal, bagaimana dengan pasarnya, persaingannya, kondisi industri, kondisi perekonomian nasional dan atau global? Mungkin masih banyak lagi faktor-faktor yang harus dicermati untuk mengevaluasi pencapaian sebuah target.

Keberhasilan untuk mencermati keseluruhan faktor-faktor yang berperan dalam sebuah peristiwa akan menghadirkan pemahaman kenapa sebuah hal bisa terjadi, sekaligus apa-apa saja yang harus kita lakukan untuk menyikapinya.  Sebaliknya, kegagalan untuk mencermati keseluruhan faktor tersebut besar kemungkinan akan menyebabkan kekeliruan dalam memahami sebuah peristiwa sekaligus kekeliruan dalam menyikapinya.

Sama seperti beberapa orang yang berusaha memahami bentuk dan ukuran gajah tanpa melihat dan hanya memegang bagian-bagian tertentu dari gajah itu saja. Jangan heran ada yang bilang gajah itu bulat karena yang dipegang adalah buah zakar-nya.

Keluar dari Penjara

Hai Bro! Gimana rasanya keluar dari penjara dan menghirup udara bebas? Lega donk? Senang donk? Pengen balik ke sana lagi? Atau malah betah di sana? Gila ya?

Emang cuma orang gila kali ya? Orang yang seneng masuk penjara dan bahkan betah tinggal di sana. But you know Bro? Banyak loh di antara kita dan aku mungkin, yang hidup dalam penjara. Tidak merasa nyaman, tapi toh, kita “betah” tinggal di dalamnya.

Photo Courtesy of Dini Savitri at Gili Trawangan.

Pernah donk ngerasain engga nyaman dengan situasi dimana kita berada, tapi toh, kita tetap bertahan di tengah situasi itu untuk waktu yang lama, dan bahkan pada akhirnya, kita menjadi bagian dari ketidaknyamanan itu.

Apa pasalnya kita tidak nyaman tapi tetap betah?

Penyebabnya adalah keluar dari sebuah ketidaknyaman, seringkali membawa kita masuk ke dalam wilayah ketidaknyamanan yang lain. Kita kuatir, ketika kita keluar dari ketidaknyamanan saat ini, kita akan masuk ke dalam situasi yang lebih buruk daripada situasi saat ini.

Kita abai adanya 2 kemungkinan yang akan terjadi. Situasi yang lebih buruk adalah memang salah satunya, namun, selalu ada kemungkinan bahwa situasi yang akan kita temui sesuai atau bahkan melampaui harapan kita.

Kita mungkin pernah mengetahui, mendengar, seorang perempuan yang mampu untuk sekian lamanya mendampingi seorang lelaki pasangannya yang tak segan-segan dan seringkali menyakitinya baik secara fisik maupun batin, melalui ucapan maupun tindakan,

Beberapa orang akan menilai itu sebagai sebuah kesetiaan, ketegaran atau bahkan pengabdian. Namun, sungguh-kah demikian? Jangan-jangan lebih karena ketakutan dan kekuatiran, karena itu tadi: “Jangan-jangan situasinya tidak lebih baik atau bahkan lebih buruk”.

Aku melihatnya lebih karena bagaimana kita melihat diri kita sendiri, bagaimana kita menghargai diri kita. Sejauh mana kepercayaan diri kita akan kemampuan kita mengatasi tantangan kehidupan di luar “penjara”.

Sayangnya kebanyakan dari kita tidak cukup punya kepercayaan diri untuk keluar dari penjara. Kita memilih untuk bertahan di dalamnya, sambil merutuki nasib dan segala sesuatunya yang tidak nyaman bagi kita.

Buatku sederhana saja. Jika kamu tidak nyaman dengan situasi yang kamu hadapi, maka ubahlah situasinya. Kamu tidak mampu mengubahnya, maka keluarlah dari situasi itu.

Tidak mampu atau tidak mau keluar?

Yah, tentu saja selalu ada pilihan ke-3 : beradaptasi dengan ketidaknyamanan sehingga lambat laut suasana batin dan pikiran kita juga akan berubah. Rutukan berubah menjadi rasa syukur penuh suka cita. “Terima kasih Tuhan! Engkau telah menempatkan aku ke dalam penjara ini. Maafkan aku yang membutuhkan waktu yang lama untuk menyadari nikmatnya hidup dalam penjara ini.”

Ketidaknyamanan berubah menjadi kenyamanan.
Itulah saat sesungguhnya kita sudah berubah menjadi bagian dari ketidaknyaman. Kita sudah menyatu dengan penjara itu. Rasanya, itu berari bahwa kita juga telah memutuskan untuk berhenti berkembang.

Setidaknya itu menurut pendapatku yaa.. Bahwa kita akan sulit berkembang di dalam penjara. So, jika kita ingin tetap berkembang, maka hanya ada 2 pilihan: Ubahlah situasinya atau keluarlah dari situasi yang ada. Untuk kedua pilihan itu, kita hanya perlu belajar dan belajar adalah cara kita untuk berkembang.

Cukup sudah aku bicara dan sekarang waktunya untuk keluar dari penjara.