Pemimpin di Jalan Sunyi

Menjadi Pemimpin yang membawa idealisme untuk perubahan itu mesti siap jalan sendirian, dimusuhi, sebelum kemudian jika gagal, disingkirkan dan diasingkan. Dimanapun juga, jauh lebih banyak cerita yang memilukan ketimbang yang menyenangkan bagi orang yang membawa perubahan demi idealisme.

Selalu ada resistensi dan perlawanan terhadap perubahan, karena perubahan seringkali menghadirkan ketidaknyamanan. Pragmatisme, apatisme, skeptisme, bahkan antipati adalah hal biasa dan mesti siap dihadapi dalam perubahan itu. Setiap orang pernah atau mencoba melakukan perubahan di lingkungannya, yang melibatkan banyak orang, pasti merasakannya.

Termasuk jika kita bicara pemimpin negeri ini, siapapun dia! Bahkan ketika dia memimpin karena meraih dukungan 100% suara. Penolakan, keengganan, ketidaksukaan, perlawanan akan tetap dia jumpai dan harus dia atasi jika dia memang menghendaki perubahan, sekali lagi, demi idealisme.

Itu adalah realita yang mesti disadari dan diterima. Lalu, jika resistensi sedemikian kuat, haruskah dia menyerah? Atau tetap lanjut dengan penyesuaian? Jawabannya adalah tergantung sejauh mana komitmen yang bersangkutan. Tergantung pula sejauh mana perubahan yang hendak diciptakan, sepenting apa perubahan itu.

Saya pernah mendengar kutipan: “In a matter of style, go with the flow. In the matter of principles, stand like a rock!”. Penyesuaian mungkin perlu dilakukan demi mencapai tujuan yang lebih besar, karena memang banyak jalan menuju Roma. Namun mestinya penyesuaian bukanlah pilihan untuk hal-hal yang bersifat prinsip, yang seringkali merupakan pondasi utama bagi tujuan yang jauh lebih besar.

Keteguhan dalam menjalankan prinsip, oleh karenanya adalah tantangan bagi setiap pemimpin yang ingin membawa perubahan. Adalah konyol, jika kemudian seorang pemimpin ditinggalkan justru karena ia tidak cukup teguh memegang prinsip. Ia menanggalkan idealismenya sendiri, agar dapat ‘beradaptasi’ dengan situasi yang ada.

Padahal, perubahan tidak akan pernah sungguh-sungguh terjadi, jika kita beradaptasi dengan situasi. Kita menyesuaikan diri dan toleran hampir dalam segala hal, termasuk hal-hal yang prinsip. Perubahan oleh karenanya hanya sekedar harapan, yang jauh dari kenyataan.

Demikianlah, kita membutuhkan pemimpin yang teguh pada komitmen perubahan, meski harus menyusuri jalan yang sepi nan sunyi.

Advertisements

TERUS ATAU PUTAR HALUAN?

Aku mendadak teringat pendakian Gunung Sindoro (3.155 mdpl), Temanggung, Jawa Tengah sekitar tahun 1995 lalu. Pendakian itu aku lakukan berdua bersama Sonson Baroto, seorang seniorku di organisasi pecinta alam FISIPOL UGM.

Cuaca yang bersahabat dan menyenangkan saat kami mengawali pendakian, berubah drastis menjadi hujan badai ketika kami mulai mendekati puncak.

Aku masih ingat, betapa angin bertiup sangat kencang. Begitu kencang hingga setiap kali aku pipis, air seni-ku beterbangan kemana-mana.

Hujan dan angin kencang terus menemani kami hingga saat kami mencapai dan meninggalkan puncak Sindoro untuk kembali turun sekitar tengah hari.

Kami memutuskan untuk terus berjalan agar sebelum matahari terbenam, kami sudah tiba di desa awal pendakian. Tidak butuh waktu lama sebelum kekuatan fisik dan mentalku mulai turun drastis.

Baju yang tetap basah kuyup meski aku mengenakan mantel, hawa dingin yang mengerutkan kulit dan jalan tanah setapak yang licin, yang membuatku berulang kali terpeleset jatuh dan terbanting. Samasekali bukan pendakian yang menyenangkanku.

Kami terus berjalan tertatih – tatih dan sesekali mengaduh dan mengumpat saat terpeleset jatuh. Hingga kemudian aku terkaget – kaget ketika kami mendapati diri berada di pinggir tebing yang curam.

Sebentar kemudian kami menyadari kami sudah keluar jalur. Rasanya campur aduk saat aku melihat ke belakang, dan mataku menyusuri jalan setapak yang membawa kami ke tempat itu.

Rasa letih membuat kami tidak menyadari kami keluar jalur untuk kemudian mengikuti jalan setapak atau lebih tepatnya “selokan” air hujan yang curam. Rasa geram, kecewa, letih bercampur jadi satu ketika menyadari pilihannya adalah kembali mendaki ke atas untuk kembali ke jalur yang benar atau nekad menuruni jalur air yang lumayan curam.

Untuk pilihan terakhir pastinya kami mesti “buka jalur”, menyusuri jalur yang belum pernah dilalui dan tidak diketahui kemana ujungnya. Keenggananku untuk kembali ke atas sempat membuat kami berdua berdebat, ketika seniorku beranggapan dalam kondisi tersebut jauh lebih baik dan lebih aman jika kami kembali ke atas untuk menemukan jalur yang benar.

“Halah, nanggung, dah telanjur juga. Mending terusin aja ke bawah, serong ke kiri, paling ketemu lagi ama jalur yang tadi,” demikianlah aku bersikukuh.

Aku ingat, bukan karena pilihanku masuk akal dan lebih baik yang membuat aku ngotot, melainkan karena aku sudah mulai tidak peduli. Aku tidak peduli lagi akan resiko yang jauh lebih besar jika kami meneruskan ketersesatan itu.

Aku sudah merasa sangat letih dan aku terlalu sombong mengakui jika aku sudah lemah, secara mental, untuk kembali mengeluarkan tenaga lagi untuk kembali berjalan ke atas, kembali ke jalur yang benar.

Tidakkah banyak di antara kita yang seperti itu? Kita sudah melakukan banyak hal, menghabiskan banyak waktu, tenaga dan pikiran untuk mencapai sebuah tujuan dengan sebuah cara atau jalan yang kita pilih.

Sedemikian banyak yang sudah dikorbankan, kita menjadi sulit menerima kenyataan bahwa kita telah salah mengambil keputusan atau pilihan.

“Sudah kepalang basah, berenang sekalian,” demikianlah apa yang akan dilakukan oleh kebanyakan dari kita.

Kita lupa bahwa tidak peduli seberapa jauh, seberapa letih kita telah berjalan, tapi jika itu tidak membawa kita ke tujuan,ya kita harus mau putar haluan. Tapi kembali, kebanyakan dari kita mungkin akan terus berjalan. Beberapa karena berkeyakinan akan: banyak jalan menuju ke Roma, beberapa lainnya karena alasan yang absurd.

Hmm.. Jika waktu itu aku tetap ngotot untuk keluar jalur, mungkin saat ini aku tidak bisa lagi mengingatkan kalian untuk: “Demi sebuah tujuan, jika kita sadar bahwa kita telah salah mengambil keputusan, tak peduli seberapa jauh kita sudah melangkah, baiklah kita kembali ke jalur yang benar.”

Saya bukanlah Pemimpin yang Baik

Saya bukanlah pemimpin yang baik, karena:

1. Saya tidak tahu apa tujuan yang ingin dicapai. Itu seperti nahkoda kapal yang tidak tahu hendak kemana.

2. Saya tidak tahu apa- apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, siapa yang harus saya libatkan dan apa-apa saja peran mereka, serta dalam jangka berapa lama setiap tahapan yang harus dilalui untuk mencapai sebuah tujuan.

3. Pun saya tahu, tapi saya tidak cukup kemauan untuk mewujudkan dan menjalankan hal – hal yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan itu.

4. Saya tidak cukup punya integritas; kesatuan dan keselarasan antara pikiran, ucapan dan tindakan.

Saya bukan orang yang jujur, dan oleh karenanya, orang tidak bisa mengharapkan saya akan melakukan apa yang persis seperti yang saya ucapkan.

5. Saya bukan orang yang bisa menjadi teladan yang baik bagi orang lain. Dunia akan semakin kacau jika setiap orang melakukan apa yang saya lakukan. Saya hanya bisa menyuruh dan memerintah.

6. Saya tidak peduli dengan orang lain, dan saya juga tidak memiliki empati terhadap orang lain.

Hal terpenting bagi saya adalah mendapatkan apa yang saya mau dengan cara apapun, termasuk jika saya harus melangkahi hak – hak orang lain.

Oleh karenanya, saya juga bukan pendengar yang baik. Orang lain yang harus mendengarkan saya. Bukan sebaliknya!

7. Saya tidak bisa membuat orang lain melakukan apa yang saya inginkan selain karena kekuatan dan kekuasaan yang saya miliki. Saya tidak cukup komunikatif dan inspiratif untuk membuat orang lain antusias mengusung nilai – nilai yang sama dan melakukan hal – hal yang saya kehendaki.

8. Saya tidak bisa meyakinkan orang lain untuk mencapai sebuah tujuan; kenapa mereka harus mencapai tujuan itu,untuk kemudian bersama – sama, secara selaras bersinergi mencapai sebuah tujuan.

9. Saya tidak tahu siapa yang sebaiknya melakukan apa untuk mencapai sebuah tujuan.

10. Saya juga tidak bisa memberikan motivasi dan semangat bagi yang lain agar tetap optimal dalam pencapaian sebuah tujuan. Saya tidak cukup bisa mengapresiasi pencapaian orang lain.

11. Saya menolak untuk turut bertanggung jawab atas kesalahan dan atau kegagalan orang – orang yang saya pimpin. Saya juga enggan terlibat dalam atau mengikuti sebuah proses untuk meminimalisir terjadinya kesalahan atau kegagalan.

Dengan demikian, jika terjadi kesalahan atau kegagalan, itu bukanlah tanggung jawab saya.

Saya juga hanya bisa menyalahkan orang lain tanpa kemudian mencarikan jalan pemecahan atas sebuah permasalahan.

12. Saya tidak cukup peduli dengan perkembangan orang lain. Perkembangan pengetahuan, kemampuan serta kemauan orang lain bisa menjadi ancaman bagi saya.
Selama mereka mau tunduk pada kehendak saya, tak masalah jika selamanya mereka bodoh.

13. Saya menolak tanggung jawab seorang pemimpin untuk menyiapkan pemimpin selanjutnya. Jika penerus saya gagal, itu semata – mata karena ketidakmampuannya.

Indonesia Tidak Butuh Pemimpin yang Utamakan Hati & Nilai Luhur!

Kaget ya baca judul tulisan ini? Aku juga kaget. Hehehe. Sesungguhnya judul tulisan ini merupakan ungkapan yang muncul di benakku sebagai respon  atas berita di Harian Kompas hari ini (31/01/12) yang berjudul: “Anwar Ibrahim: Pemimpin Harus Utamakan Rakyat”.

Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyebutkan kalau sosok pemimpin negara harus mengutamakan hati dan nilai luhur saat mengayomi rakyatnya. Dengan modal itu, seorang pemimpin diyakini mampu membawa masyarakat dan negara menuju kesejahteraan.

Hmm.. Kita mesti segera pasang pengumuman dan iklan: “Dicari manusia setengah dewa untuk jadi pemimpin Indonesia.”  Adapun nanti yang banyak melamar maksimal adalah manusia setengah dewa durjana.

Aku tidak ingin bersikap sinis, tapi, marilah kita lihat sekeliling kita. Let’s face the facts and be realistic. Selain itu, boro-boro mencari pemimpin yang memenuhi kriteria, kita bakal berdebat panjang lebar soal definisi hati dan nilai luhur, sikap seperti apa yang merupakan ujud hati dan nilai luhur.

Waduh Bro.. Aku lebih suka dengan analogi yang sederhana. Pemimpin adalah laksana Nahkoda Kapal. Dia harus tahu hendak kemana kapalnya akan berlayar,   lewat jalur apa, bagaimana kapalnya akan berlayar, berapa lama waktu yang dibutuhkan, dan memastikan orang-orang tepat menjalankan setiap tugas yang harus dilakukan agar kapal berikut seluruh penumpangnya tiba dengan selamat di tujuan.

Aku melihat intinya adalah  bagaimana kita bisa menciptakan keseimbangan. Hati nurani dan keluhuran adalah baik serta mulia  namun harus menunggu berapa abad untuk bisa mendapatkan pemimpin yang berhati dan bernilai luhur?

Keseimbangan

.