Tentang Keras vs Lunak

Ah yaa…

Fungsi ereksi yang normal itu adalah keras dan lunak pada waktunya.
Orang yang berwatak keras bukanlah orang yang sepanjang waktu bersikap keras.
Dia tetap akan bisa bersikap lunak nan halus pada situasi dan waktu tertentu.

Demikian pula orang yang berwatak halus.
Kita mungkin hanya belum pernah melihat dia marah.

Yang penting, sama seperti ereksi, jangan sampai waktunya keras malah lunak.
Atau sebaliknya, jangan sampai waktunya melunak, malah mengeras.

Jadilah Ahok saat dibutuhkan, dan sebaliknya, jadilah Anies jika diperlukan.

 

Orang – orang yang “Kebelet Ngising” di Jalanan Jogja

Barusan tadi pagi sekitar jam 8 tiba di Jogja dalam rangka tugas. Dalam perjalanan menuju kantor dari bandara, taksi yang aku tumpangi nyaris banget nabrak pengendara sepeda motor yang mendadak nyelonong dan motong jalan kami di dekat layang Janti. Bener-bener nyaris. Supir taksi menginjak rem dalam-dalam hingga terdengar bunyi ban berdecit, dan akupun sampai terlontar ke depan. Untung pakai sabuk pengaman.

Belum juga hilang, ketegangan karena cuaca yang kurang bersahabat saat penerbangan, dan harus melihat kelakuan pengendara motor seperti itu. Spontan aku langsung buka pintu dan beranjak keluar. Dengan histeris, aku “kontol-kontolin” bangsat keparat satu itu. Tuhan masih sayang aku, si bangsat memilih untuk terus melanjutkan perjalanannya sembari mengacungkan tangan kirinya yang tergenggam. Setelah itu, aku gantian marahin si supir, “Bapak mestinya tabrak saja kontol satu itu, biar dia belajar!”.

“Urusan bisa jadi panjang Mas”, timpal si Bapak.
Sadar engga ada gunanya terus meributkan, aku tidak membalas dan berdiam diri.
Tapi pengalaman tadi sungguh menguakkan kembali pengalaman-pengalaman buruk serupa yang mengingatkan aku betapa Jogja tidak senyaman yang banyak orang bilang.

Mulai sekitar tahun 2005, setiap aku kembali ke Jogja, aku merasa kelakuan pengendara kendaraan bermotor di Jogja makin bertolak belakang dengan nilai-nilai yang sering diklaim akrab dengan masyarakat Jogja: Tepo sliro, ramah dan santun. Lihat saja, sangat-sangat jarang pengendara yang mau segera mendahulukan penyeberang jalan atau kendaraan yang mau keluar dari gang.

Jika aku tidak bisa menahan diri, sangat mungkin aku akan menabrak atau ditabrak pengendara motor setiap hari setiap aku mau keluar gang depan rumah di ring road utara, Condong Catur. Meski jaraknya masih lebih dari 100 meter, sangat-sangat jarang pengendara mulai mengurangi kecepatan untuk memberikan kesempatan aku yang sudah keluar duluan dari gang dan memasuki jalan.

Paling sering terjadi adalah para pengendara malah semakin memacu kendaraannya. Untuk apa coba? Apakah mereka kebelet ngising (ingin segera BAB)? Dengan kebiasaan sebagian (untuk tidak mengatakan mayoritas) orang Jogja yang jauh dari kedisiplinan, kebelet ngising adalah satu-satunya alasan yang paling pas yang mendasari perilaku seperti itu tadi. Tapi tentunya hanya segelintir di antara mereka yang sungguh kebelet ngising untuk kemudian mengendarai kendaraannya seperti dikejar setan.

Lainnya? Pengendara di Jogja bukanlah pengendara di Jakarta yang seringkali harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dalam kurun waktu yang terbatas. Misalnya; Depok – Jakarta, Bekasi – Jakarta, Tangerang – Jakarta, atau sebaliknya. Pengendara Jogja bukanlah tipikal orang yang diburu waktu lalu cenderung ceroboh dan sembrono dalam berkendara. Toh, bagi yang bekerja selain di perbankan, sepertinya pengendara Jogja cenderung santai, dan mungkin biasa datang terlambat di tempat tujuan.

Lalu apa?
Apa yang menyebabkan para pengendara di Jogja ceroboh dan sembrono?
Kesadaran yang rendah itu sudah pasti.

Analisa goblok-ku mengatakan para pengendara di Jogja adalah manusia-manusia yang mengalami hambatan untuk aktualisasi diri. Mereka terhimpit dalam kehidupannya, di lingkungan sekolah, pergaulan, rumah dan tempat kerja. Himpitan itu mendorong mereka untuk mencari kelonggaran, dan kelonggaran itu mereka jumpai di jalanan.

Mereka sungguh seperti orang yang kebelet ngising, yang butuh privasi, ruang gerak pribadi yang longgar. Dalam hal ngising, siapa yang mau berbagi kakus dalam waktu bersamaan? Demikianlah siapa yang cepat, dia dapat. Bayangkan jalanan jogja dipenuhi oleh orang-orang yang kebelet ngising. Orang-orang yang mengutamakan dirinya sendiri, dan sulit berbagi dengan yang lain.

Celaka…

Raungan Kebodohan

Sejak kemarin hingga pagi ini, berulang kali aku mendengar raungan suara knalpot sepeda motor menerjang air luapan Kali Pasanggrahan yang menggenangi jalan di depan rumah di kawasan Ulujami, Jakarta Selatan. Awalnya sangat menjengkelkan. Para pengemudi sepeda motor itu hampir selalu diingatkan warga sekitar bahwa genangan air terlalu tinggi untuk dilewati, namun, mereka selalu nekad menerobos berbekal persneling pada gigi satu dan putaran mesin yang tinggi secara konstan. Sebuah kombinasi yang selalu sukses membuat mata terbuka di tengah tidurku di malam hari karena mendengar kebisingan yang diciptakan.

Lambat laun rasa jengkel itu berubah menjadi rasa geli setelah aku menangkap “sebuah pola” dari suara yang aku dengar. Awalnya adalah suara peringatan warga sekitar kepada pengendara motor; “Banjir..! Banjir..!”. Setelah itu diikuti oleh suara “jeritan” konstan knalpot sepeda motor. Itu artinya si pengemudi motor mengabaikan peringatan warga. Tak lama kemudian setelah suara jeritan melintasi depan rumah, suara yang terdengar adalah suara mesin yang tersendat-sendat dan kemudian hening. Itu artinya, air sukses memasuki ruang mesin ketika motor melintasi genangan air yang semakin dalam, sekitar 30-50cm. Suara bagian terakhir dari pola tersebut, adalah suara “kegagalan” mesin yang berusaha dinyalakan berulang-ulang.

Jika aku sudah mendengar suara mesin yang tersendat- sendat, tak terhindarkan lagi bibirku membentuk senyum yang teramat manis meski mata masih terpejam dalam tidur yang tak nyenyak itu. “Semoga sukses mengatasi mesin yang mabuk air kali..” atau “Dikasih tau ngeyel sih!”, demikian batinku menanggapi pola suara yang berakhir pada kesia-siaan tersebut.

Aku berusaha memahami kenekadan para pengemudi sepeda motor itu. Tak peduli mereka melihat berapapun banyaknya motor-motor di pinggir jalan yang “kalah perang”, sebagian besar dari mereka selalu nekad menerobos meski hampir selalu menyusul motor-motor sebelumnya yang “kalah perang”.

Kebanyakan dari mereka merasa yakin motornya mampu menerobos genangan air, padahal mereka tak juga tahu seberapa dalam genangan air itu. Sisi lain, jika mereka menghindari genangan dan memilih jalan memutar, itu berarti mereka harus menempuh jarak 2-3 Km lebih jauh. Sepertinya, bagi pengendara-pengendara itu, mesin motor yang macet adalah resiko yang lebih layak dipilih ketimbang harus menempuh jarak yang lebih jauh (sebenarnya tidak terlalu jauh juga). Pada akhirnya, mereka menjadi jauh lebih lama mencapai tujuannya karena mesin yang macet kebanjiran ketimbang mengambil jalan memutar.

Seberapa banyakkah diantara kita yang memiliki pola pikir yang sama dengan para pengemudi motor nekad itu? Kebanyakan dari kita mungkin memiliki kecenderungan yang sama: mau cepat sampai tujuan dan lalu menggunakan cara- cara yang instan. Meski pada akhirnya cara-cara yang instan itu tidak berhasil membawa kita kemanapun jua.

Aku jadi ingat saat-saat mendaki gunung. Ada dua jalur: jalur “landai”, yang memutar dan membutuhkan waktu yang lebih lama, namun relatif lebih “aman” serta jalur “terjal”, dengan sudut kemiringan yang lebih besar, lebih terjal, lebih beresiko, namun lebih cepat untuk mencapai puncak. Selayaknya orang yang berakal, baiklah kita benar-benar mempertimbangkan kemampuan kita dan medan yang kita hadapi ketimbang sekedar mengandalkan keberuntungan, untuk memilih apapun jalur atau cara yang akan kita pilih.

Jadi, lain waktu ketika kamu hanya berbekal kenekadan untuk kemudian bernasib serupa seperti para pengemudi sepeda motor yang terhenti di tengah jalan, ingatlah selalu bahwa saat kamu sadar kamu telah salah memilih jalan, meski telah diingatkan, aku akan tersenyum sangat manis kepadamu.

Ngomong Doang..

“Papa kok enggak pake sandal?!” Teriak si bungsu, Bianca, saat melihat aku ada di halaman rumah. Aku segera sadar kalau apa yang aku lakukan berbeda dengan apa yang selalu aku pesankan ke anak-anakku.

My friends, hampir setiap hari kita menjumpai orang yang beda antara ucapan dan tindakan. Kalo kamu adalah orang tua, then you better be careful with that attitude; watch your mouth! Bianca adalah bocah perempuan yang baru berusia 3,5 tahun, tapi sikap kritis bocah itu mengingatkan aku, jika aku terus-terusan tidak konsisten dengan apa yang aku ucapkan, tidak akan butuh waktu lama sebelum dia sekedar mempertanyakan menjadi ikut-ikutan. Well, gimana anakmu adalah gimana kamu sebagai orang tua. Sesederhana itu.

Bianca, bocah 3,5 tahun yang suka protes

Bianca, bocah 3,5 tahun yang suka protes

Buat kamu yang mengaku atau menempati posisi pemimpin, hal yang sama juga berlaku: anak buah adalah cerminan pimpinan. Kurangnya anak buah adalah juga kurangnya pemimpin. Bisa jadi, kurangnya pemimpin karena apa yang diucapkan berbeda dengan apa yang dilakukan. So, jangan kesal kalau anak buahmu cuma pintar ngomong. Mereka belajar untuk cuma pintar ngomong dari guru yang terbaik: KAMU.

Aku sendiri belajar untuk menangkap pesannya, bukan siapa dan bagaimana si penyampai pesan. Sederhananya, ambil yang baik, buang yang buruk. Namun, mengingat kebanyakan dari kita lebih melihat siapa dan bagaimana penyampai pesan, so at least, aku hanya bisa menyampaikan pesan yang aku sendiri bisa jalankan. Aku tidak mungkin melarang orang lain untuk merokok, karena aku sendiri juga merokok. Paling tidak, merokoklah di tempat yang sudah disediakan; merokoklah setelah mampu membeli rokok sendiri; jangan nyesel kalo kena kanker gara-gara rokok.

Kalo aku bisa senantiasa melakukan apa yang aku ucapkan. Aku boleh berharap anak-anakku pun demikian.

My Dearest Mr. Susi.. (Surat Kepada Seorang Sahabat)

Dear Mr. Susilo Bambang Yudhoyono,

Sudah lama berlalu sejak terakhir kali aku menjumpaimu. Mungkin sekitar tahun 2005 atau 2006, saat aku meliput kunjunganmu ke Malaysia dan Singapura. Hmm.. Peliputan itu meninggalkan kenangan indah bagiku. Resepsionis hotel tempatku menginap di Singapura, sangat cantik dan bersikap manis kepadaku.

Tidak saja sekedar ramah, dia, yang namanya aku lupa, bahkan membuatkan aku bercangkir-cangkir kopi (FYI, for free) dan menemani aku ngobrol ngalor ngidul sepanjang malam hingga pagi hari. Pembicaraan hangat itu harus terhenti karena aku harus meliput kedatanganmu di Bandara Changi. Sungguh, bahwa aku harus menghentikan pembicaraanku dengannya demi dirimu adalah, di sisi lain, kenangan yang menyebalkan.

Anyway.. Cukup sudah dengan kenangan-kenangan masa lalu. Apa kabarmu? Sedang sibuk apa? Dimana? Sama siapa? Hehehe..

Mr. Susi, boleh aku panggil kamu dengan nama itu kan? Rasanya kok unik sekali, perpaduan antara Maskulin dan Feminin, and it’s sooo.. You! Aku rasa dirimu tidak akan membuang-buang waktu memikirkan hal sepele menyangkut bagaimana orang memanggilmu. Aku rasa kamu akan lebih memikirkan bangsa dan negara Indonesia kita yang tercinta ini. Aku yakin kamu akan lebih memikirkan, salah satunya, apa dan bagaimana solusi permanen atas situasi dan kondisi menyangkut hubungan KPK dengan Polisi Indonesia.

Hmm.. Semoga keyakinanku bukanlah angan-angan belaka, meski beberapa kali beberapa pihak menilai kalau dirimu seringkali “Diam ketika sebaiknya Berbicara” dan sebaliknya “Berbicara ketika sebaiknya Diam”.

Mr. Susi, let me be honest with you Sir. I am not a fan of you. Ketika banyak orang memilihmu saat pertama kali dirimu mencalonkan sebagai Presiden, aku samasekali tidak ingin dan bukan termasuk salah satu di antara mereka. Ketika dirimu kembali memenangkan pemilihan Presiden dan untuk kedua kalinya memimpin Republik ini, komentarku adalah: “Oh My God! Kok bisa??”

Well, bagaimana-pun juga kamu sudah menjadi dan adalah Presiden Republik Indonesia, yang berarti juga adalah Presiden-ku. Dengan segala perkembangan yang terjadi, dengan segala kritikan yang ditujukan kepadamu, dengan fakta bahwa aku samasekali bukan penggemarmu, aku tetap berharap dirimu mampu mengakhiri jabatan sebagai Presiden pada saatnya nanti di tahun 2014.

Bagaimana-pun juga, aku rasa itu tetap pilihan yang terbaik, jika, dengan segala keraguan dan kritikan atas dirimu, kamu memilih untuk tetap menduduki Kursi RI1. The best choice among the worst i might say.

Dear Mr. Susi..
Pertanyaannya kemudian adalah: ingin seperti apakah dirimu dikenal kemudian ketika tiba akhir masa jabatanmu tahun 2014? Seberapa besar keinginan itu mendorong sikap dan tindakanmu saat ini?

Aku kuatir, jika mencermati sikapmu belakangan ini, kamu tidak cukup punya keinginan yang kuat untuk meninggalkan kesan yang positif yang tidak terbantahkan sebagai Presiden Republik Indonesia.

You seems like a dying King Mr. Susi…
Kamu mengingatkan aku akan film-film yang menggambarkan seorang pemimpin tua, lemah dan sekarat di atas ranjang. Kamu seakan-akan sudah tidak peduli lagi dengan situasi dan kondisi bangsa ini. Tidak peduli lagi hendak kemana bangsa ini.
Tidak peduli lagi suara-suara anak bangsa.

Aku tak tahu, dan aku yakin banyak orang yang tidak tahu, apa yang sedang kamu pikirkan dan apa yang akan kamu perbuat.
Sungguh! Aku penasaran dengan apa yang ada di dalam benakmu.

Are you dying or you’re just preparing something big, that’s so big, something revolutionary? Something yang mematahkan semua pandangan negatif dan kritikan terhadapmu?

Dearest Mr. Susi,
Tak perlu-lah aku ingatkan bahwa sebagai Presiden Republik Indonesia, dirimu seharusnya adalah orang paling kuat di Indonesia, jika tidak mampu menjadi The Most Powerful Person in Asia or South East Asia.

Tapi lihatlah dirimu!
Kamu membuat Aburizal, Anas Urbaningrum terlihat lebih powerful daripadamu. Kini, kamu juga membuat Timur Pradopo terlihat lebih powerful daripadamu.

Tidak saja mereka, kamu juga membuat Abraham Samad dan Jokowi, nama yang baru belakangan ini terdengar di telingaku dan masuk ke dalam ruang perhatianku, juga terlihat jauh lebih powerful daripadamu, my Dear President, Mr. Susi.

Apakah mereka sungguh lebih powerful daripadamu?
Mestinya sih tidak.. Lalu kenapa kesan kuat yang kutangkap justru sebaliknya?

Ingin dikenang sebagai Pemimpin yang bagaimanakah nantinya dirimu Mr. Susi? Sungguh! Aku penasaran..

Lovely Punishment

Kalau kita dipukul orang, kita selalu punya pilihan: membiarkan karena kita merasa layak untuk mendapatkannya, atau membalas dengan serangan fisik pula atau mengajukan tuntutan hukum atau sekedar ngomel-ngomel saja. Beberapa waktu lalu, si sulung Alicia memukul adiknya, Bianca, karena kesal digangguin. Apa yang akan kamu lakukan Bro?

Dulu waktu kecil hingga remaja, kalo aku lagi bandelnya kumat, Bapak Almarhum juga suka menyabet punggungku dengan selang karet yang berdiameter lebih dari 10 cm. Selang yang biasa dipasang buat pompa air manual jaman dulu. Meski sudah berkali-kali merasakan, aku juga tak terbiasa. Sampai sekarang, mungkin hanya Bapak seorang, manusia yang aku takuti di atas bumi.

Dulu Bapakku mendidik kami anak-anaknya dengan menggunakan kekerasan fisik, sebagaimana umumnya anak-anak yang dibesarkan oleh tentara, agar kami mampu menghadapi kerasnya kehidupan. Sekarang, kehidupan yang akan dihadapi oleh anak-anakku mungkin jauh lebih keras daripada jamanku.

Apakah aku harus lebih keras dalam mendidik anakku ketimbang Bapak Almarhum mendidik anak-anaknya? Menggunakan kekerasan fisik yang lebih sering dan lebih kuat sebagai konsekuensi atas setiap kesalahan dan kelalaian anak-anakku?

Inilah yang akhirnya, aku pilih sebagai konsekuensi atas tindakan kekerasan Alicia kepada adiknya..

Tulisan tangan Sissy: “Sisi Janji Sayang Adik” sebanyak 100 kali karena telah memukul adiknya, Bianca.

 

 

Janji Tinggal Janji

Hai Bro! Apa kabar? Lama sekali ya kita tidak berjumpa? Entah kenapa dalam satu waktu aku merasa sudah cukup banyak berkata-kata. Kamu tau apa masalahnya ketika kita berkata-kata? Semakin banyak kata-kata, semakin banyak janji yang kita lontarkan. Samasekali bukan masalah kalo kita bisa memenuhi keseluruhan janji yang sudah kita lontarkan yang otomatis terekam oleh pusat pendataan alam semesta itu.

So, untuk sekian waktu lamanya setelah tulisan terakhir-ku: “Bahagia Bisa Plung”, aku mencermati kembali janji-janji yang pernah aku lontarkan. Kepada siapa? Well, yang harus kamu pahami, tulisan-tulisan yang pernah dan aku sampaikan di sini aku tujukan lebih untuk diriku sendiri. Jadi, janji-janji yang terlontarkan adalah terutama janji untuk-ku sendiri.

Orang akan selalu bisa menilai, sejauh mana kita memenuhi janji kita. Sejauh mana keselarasan antara ucapan dan tindakan. Namun sesungguhnya menurutku yang paling penting adalah sejauh mana keselarasan antara apa yang ada dalam diri kita, dalam pikiran dan perasaan, dengan apa yang terucapkan dan terujud dalam tindakan kita.

Aku tidak akan ambil pusing dengan penilaian orang lain jika: “Apa yang aku ucapkan, berbeda dengan apa yang aku lakukan”. Orang bisa saja salah memahami apa yang aku sampaikan toh? Aku hanya perlu menjelaskan apa yang sesungguhnya aku maksudkan.

Hal yang perlu aku pusingkan adalah jika aku sendiri menyadari bahwa “Apa yang aku pikirkan dan rasakan, berbeda dengan apa yang aku ucapkan dan lakukan”. Itu artinya aku hidup dalam Kepalsuan Sejati.

Tulisan-tulisanku menjadi: “Aku berjanji, inilah yang ada dalam diriku, dalam pikiran dan perasaanku. Inilah aku sesungguhnya, seperti yang tercermin dalam ucapan dan tindakanku.”

Pada akhirnya, untuk menjadi diri sendiri hanyalah menyelaraskan apa yang ada dalam diri dengan apa yang nampak dari luar melalui ucapan dan tindakanku. Apakah aku sudah menjadi diriku sendiri, ataukah aku masih menjadi orang lain yang bahkan tidak dikenali oleh Orang Tua-ku.

Jadi Bro, tuliskanlah apa yang ada pikiran dan perasaanmu. Itu membantumu mengenali dan untuk menjadi diri sendiri. Tentu saja, kita semua selalu punya pilihan untuk memenuhi janji dan menjadi diri sendiri atau menjadi orang asing.