Pemimpin di Jalan Sunyi

Menjadi Pemimpin yang membawa idealisme untuk perubahan itu mesti siap jalan sendirian, dimusuhi, sebelum kemudian jika gagal, disingkirkan dan diasingkan. Dimanapun juga, jauh lebih banyak cerita yang memilukan ketimbang yang menyenangkan bagi orang yang membawa perubahan demi idealisme.

Selalu ada resistensi dan perlawanan terhadap perubahan, karena perubahan seringkali menghadirkan ketidaknyamanan. Pragmatisme, apatisme, skeptisme, bahkan antipati adalah hal biasa dan mesti siap dihadapi dalam perubahan itu. Setiap orang pernah atau mencoba melakukan perubahan di lingkungannya, yang melibatkan banyak orang, pasti merasakannya.

Termasuk jika kita bicara pemimpin negeri ini, siapapun dia! Bahkan ketika dia memimpin karena meraih dukungan 100% suara. Penolakan, keengganan, ketidaksukaan, perlawanan akan tetap dia jumpai dan harus dia atasi jika dia memang menghendaki perubahan, sekali lagi, demi idealisme.

Itu adalah realita yang mesti disadari dan diterima. Lalu, jika resistensi sedemikian kuat, haruskah dia menyerah? Atau tetap lanjut dengan penyesuaian? Jawabannya adalah tergantung sejauh mana komitmen yang bersangkutan. Tergantung pula sejauh mana perubahan yang hendak diciptakan, sepenting apa perubahan itu.

Saya pernah mendengar kutipan: “In a matter of style, go with the flow. In the matter of principles, stand like a rock!”. Penyesuaian mungkin perlu dilakukan demi mencapai tujuan yang lebih besar, karena memang banyak jalan menuju Roma. Namun mestinya penyesuaian bukanlah pilihan untuk hal-hal yang bersifat prinsip, yang seringkali merupakan pondasi utama bagi tujuan yang jauh lebih besar.

Keteguhan dalam menjalankan prinsip, oleh karenanya adalah tantangan bagi setiap pemimpin yang ingin membawa perubahan. Adalah konyol, jika kemudian seorang pemimpin ditinggalkan justru karena ia tidak cukup teguh memegang prinsip. Ia menanggalkan idealismenya sendiri, agar dapat ‘beradaptasi’ dengan situasi yang ada.

Padahal, perubahan tidak akan pernah sungguh-sungguh terjadi, jika kita beradaptasi dengan situasi. Kita menyesuaikan diri dan toleran hampir dalam segala hal, termasuk hal-hal yang prinsip. Perubahan oleh karenanya hanya sekedar harapan, yang jauh dari kenyataan.

Demikianlah, kita membutuhkan pemimpin yang teguh pada komitmen perubahan, meski harus menyusuri jalan yang sepi nan sunyi.

Advertisements

I was Born This Way

“…I’m beautiful in my way,
‘Cause God makes no mistakes
I’m on the right track, baby
I was Born This Way

Don’t hide yourself in regret,
Just love yourself and you’re set
I’m on the right track, baby
I was Born This Way…”

Membaca kutipan syair lagu-nya Lady Gaga, “I Was Born This Way” di atas, aku jadi ingat pertanyaan seseorang kepada-ku: “Apa kunci sukses menurutmu?”. Tanpa keraguan aku menjawab: “Salah satu-nya adalah.. Aku tidak menghabiskan waktuku mendengarkan omongan orang yang tidak berguna tentang aku”.

My friend, aku dulu pernah mengikuti workshop Pengembangan SDM yang sungguh membantuku mengenali kecenderungan perilaku seseorang. Dalam workshop itu, aku mendapatkan pengetahuan bahwa ternyata, “kepribadian seseorang bisa berubah samasekali dan berlawanan dengan kepribadian sesungguhnya”.

Perubahan itu sebagai akibat dari proses adaptasi yang bersangkutan terhadap lingkungan dimana ia berada.
Sederhananya, kepribadian seseorang berbeda ketika ia di luar rumah dibandingan dengan ketika ia di rumah.

Pada saat aku menjalani penugasan yang mengharuskan aku untuk melakukan proses rekrutmen terhadap calon karyawan baru, aku pun menyadari sedemikian banyak di antara mereka, LEBIH DARI 95% calon karyawan baru, yang menunjukkan perbedaan kepribadian dan kecenderungan perilaku.

Ada yang “aslinya” penyediri, namun, kemudian menjadi orang yang suka berada di tengah banyak orang. Ada yang aslinya tipikal orang yang bersantai-santai dan cenderung ceroboh, “berubah” menjadi orang yang “ngotot” dan teliti, dan berbagai perubahan karakter dan kecenderungan perilaku lainnya.

Apakah itu menjadi masalah? Jawabannya akan menjadi relatif.
Kemungkinan-kemungkinan “buruk” yang bisa terjadi adalah yang bersangkutan tidak cukup jujur, dan itu beberapa kali terbukti, atau yang bersangkutan punya kecenderungan stress yang relatif lebih tinggi ketimbang mereka yang punya karakter yang steady, tetap pada situasi apapun.

Kemungkinan lain adalah, pada saat yang bersangkutan mengalami stress, kepribadian dan kecenderungan perilaku aslinya akan muncul dan itu bisa menjadi masalah jika tidak sesuai dengan tuntutan tugas dan tanggung jawabnya.

Aku mencoba mencari jawaban kenapa karakter orang bisa berubah. Salah satu dugaan yang bisa aku terima adalah seseorang tidak cukup memiliki kepercayaan diri sehingga merasa perlu untuk “berubah”.

Banyak loh diantara kita berubah agar bisa diterima di lingkungan dimana ia berada. Seseorang rela menjadi “orang lain” agar bisa diterima oleh orang lain, agar bisa diterima di sebuah lingkungan.

Well, untuk hal itu, aku teringat sebuah pesan: “Kamu harus bisa menerima dan mencintai dirimu terlebih dahulu, sebelum bisa diterima dan dicintai serta mencintai orang lain.”

Iyalah Bro! Kamu takkan bisa memberikan apa yang tidak kamu miliki, termasuk jika bicara soal cinta.

Bagaimana dengan aku? Hasil tes menunjukkan jika aku…

“…I’m beautiful in my way,
‘Cause God makes no mistakes
I’m on the Right Track, Baby
I was Born This Way.

Don’t hide Yourself in regret,
Just Love Yourself and You’re Set
I’m on the Right Track, Baby
I was Born This Way…”

Semoga kamu juga Bro!