Kepemimpinan Militer

Banyak orang punya pemikiran bahwa seorang pemimpin berlatar belakang militer akan lebih kuat. Tapi banyak pula yg lupa jika kekuatan seorang pemimpin militer juga amat didukung oleh doktrin komando, kepatuhan yang tinggi oleh anak buah kepada komandan adalah salah satunya.

Lalu bagaimana dengan Prabowo? Saat ini dia adalah masyarakat sipil. Kepemimpinannya di tengah masyarakat sipil belum lagi teruji. Semasa menjabat sebagai Pangkostrad, Prabowo memimpin berapa banyak anggota? Rasanya kurang dari 50 ribu personel, yg semuanya terikat oleh doktrin komando.

Mestinya dia mencoba dulu kapasitasnya sbg pemimpin sipil di negara demokratis utk level bupati/walikota. Bisa mencoba ngerasain gimana caranya mimpin orang dengan berbagai karakter yg tidak terikat dg doktrin komando.

Tapi sebenarnya, kita bisa menilai kualitas kepemimpinannya dari kualitas orang-orang di Partai Gerindra. Apakah secara umum perilaku para pengurus Partai Gerindra sudah sejalan dengan visi dan misi serta nilai-nilai Partai?

Saya rasa kepemimpinan SBY di Partai Demokrat masih jauh lebih menunjukkan kualitasnya sebagai pemimpin sipil.

Itu kenapa saya tidak pernah terkesan dengan calon pemimpin sipil dengan latar belakang militer. Tapi memang saya harus mengakui Prabowo itu jaman mudanya ganteng banget.

Mirip-mirip saya dikit.

Advertisements

Collateral Damage

Sekitar 2002 saya pernah meliput kegiatan Dubes Amerika. Waktu itu, saya lihat seorang rekan wartawan dihentikan seorang pengawal Dubes untuk kemudian digeledah badan dan tasnya. Si bule pengawal tidak menggubris komplain si wartawan, kenapa hanya dia yang digeledah.

Iseng, saya minta si bule itu untuk sekalian cek sepatu si teman. “Siapa tahu ada bom di sana”, ujar saya sambil ketawa. Bukannya ketawa, ya iyalah, si bule langsung menatap tajam saya dan membalas: “Saya sedang menjalankan tugas saya. Kamu pikir lucu?”.

Ya, saya tahu dia sekedar menjalankan tugasnya. Saya juga tahu polisi, yang menghentikan seorang santri dengan kotak kardus dan ransel di sebuah terminal di Solo paska teror di Surabaya, juga sekedar menjalankan tugasnya.

Saya hanya merasa tidak nyaman melihat tindakan yang sebenarnya untuk menciptakan rasa aman dan demi kenyamanan bersama. Paradoks.

Sejak serangan 9/11, segalanya tidak pernah sama lagi. Bahkan bagi saya, seorang warga sipil biasa. Saya tidak lagi memakai safety boot kesukaan saya, karena malas harus melepasnya dalam pemeriksaan di bandara-bandara. Itu baru hal yang remeh temeh saja.

Sayangnya, jauh lebih besar daripada itu, radikalisme dan teror telah mengubah tatanan dan perilaku sosial. Cara pandang dan interaksi kita terhadap sesama tidak lagi sama. Kita memasukkan variabel preferensi politik dan agama, yang sifatnya pribadi, dalam persepsi kita terhadap orang lain dan dalam membangun interaksi dengan yang lain.

Dulu, orang mungkin relatif mudah berprasangka buruk ketika melihat saya yang bertato. Tapi kini, sebagian orang jauh lebih mudah dan lebih berprasangka buruk hanya karena melihat perempuan mengenakan niqab dan atau pria dengan jenggot, titik hitam dan celana cingkrang.

Kita memberikan ruang lebih besar lagi terhadap kebencian, kekuatiran, ketakutan dan ketidakpercayaan terhadap orang lain. Kita semua sudah menjadi korban dari radikalisme dan teror di Indonesia.

Ironisnya adalah, kita tidak saja menjadi korban, tapi kemudian tanpa disadari kita mengintegrasikan diri dengan radikalisme dan terorisme itu sendiri. Kita berubah menjadi zombie. Korban yang kemudian berubah menjadi pelaku. Kita berubah menjadi sesuatu yang kita benci.

Jika sudah demikian, apa yang bisa menghentikan radikalisme dan terorisme ketika kita semua sudah menjadi bagian darinya?

Kaum Moderat dalam Perang melawan Radikalisme

Indonesia berkenalan pertama kali dengan bom bunuh diri pada Tragedi Bom Bali I, tahun 2002. Saat melakukan tugas jurnalistik tentang peristiwa itu dan juga berbagai liputan terkait, saya mendapatkan pemahaman bahwa pemerintah sudah menyadari ancaman radikalisme jauh sebelum itu.

Saya masih ingat, salah satu solusi mendasar menghadapi ancaman radikalisme, adalah melibatkan kelompok-kelompok moderat. Ide dasarnya adalah meminimalisir penyebaran dan perkembangan ideologi radikal dengan ‘memasok pasar’ dengan ideologi moderat, dengan kelompok dan organisasi moderat sebagai ujung tombaknya.

Itu disebutkan sebagai solusi yang mendasar, dalam artian jika itu tidak dilakukan atau kurang dilakukan, maka mustahil radikalisme di Indonesia bisa dikikis hanya dengan mengandalkan pencegahan atau penindakan aksi teror oleh aparat penegak hukum. Jadi, saya menilai ujung tombak perlawanan terhadap radikalisme dan terorisme sebenarnya bukan aparat negara penegak hukum, melainkan kelompok dan organisasi moderat.

Kalaupun aparat penegak hukum, satuan-satuan anti teror, terlibat, mestinya fokus hanya pada ‘menebas’ cabang dan ranting-ranting radikalisme yang sudah terlanjur tumbuh. Sementara kelompok-kelompok moderat fokus pada pencegahan bertumbuhnya radikalisme.

Sudah lebih dari 15 tahun berlalu sejak Tragedi Bom I berlalu, kini bahkan terorisme di Indonesia mencapai level baru: melibatkan dan mengorbankan anak-anak. Tindakan yang semakin radikal, hanya dimungkinkan oleh pikiran yang semakin radikal. Radikalisme sudah ‘naik kelas’.

Itu hanya menunjukkan satu hal: upaya-upaya mendasar untuk mencegah radikalisme tidak atau belum dilakukan secara maksimal. Nampaknya pemerintah belum menjadikan isu radikalisme dan terorisme sebagai prioritas, meski nyata-nyata mengancam sendi-sendi kehidupan bangsa.

Badan Nasional Penanggulan Terorisme (BNPT) yang dibentuk tahun 2010, baru melakukan pembahasan secara intensif menyangkut program deradikalisasi dengan belasan kementrian tahun 2016 lalu. Tidak tahu sejauhmana perkembangannya hingga saat ini. Masalah anggaran disebutkan sebagai salah satu kendalanya.

Akhirnya, peran penegakan hukum yang merupakan aktivitas ‘pemadaman kebakaran’ masih terlihat sangat jauh lebih menonjol. Sementara aktivitas yang sama-sama fundamental terkesan terabaikan. Padahal, jika diabaikan radikalisme bisa menjadi api yang membakar markas pemadam kebakaran itu sendiri.

Saya masih ingat obrolan dengan satu saudara yang bertugas di sebuah lembaga negara yang juga berperan dalam pencegahan terorisme. Dia menceritakan beberapa kasus dimana anggota-anggota mereka yang disusupkan dalam kelompok-kelompok radikal itu kemudian sungguh-sungguh berubah menjadi bagian dari kelompok itu. Gambaran kasarnya, niatnya memberantas narkoba, tapi kemudian menjadi pelaku utama penyebaran narkoba setelah menyusup ke jaringan penyebar narkoba.

Tidak tahu, apakah indoktrinasi untuk menjadi anggota lembaga negara itu sangat lemah, ataukah indoktrinasi di lingkungan kelompok radikal itu yang sangat kuat. Sehingga siapapun orang yang bergabung dengan tujuan apapun dengan cepat menjadi bagian dari kelompok itu.

Penyebaran doktrin itulah yang juga mesti jadi fokus. Membersihkan dan membentengi tempat-tempat, media dan sarana yang digunakan untuk penyebaran doktrin ektrem itu, dan kemudian menggantikan aktor-aktor penyebaran doktrin dengan sosok-sosok dari kelompok dan organisasi yang moderat, yang sepenuhnya percaya pada dan ikut menguatkan nilai-nilai kebangsaan Indonesia.

Sementara, yang terjadi saat ini, jika merujuk pada tokoh-tokoh moderat, aktivitas meredam radikalisme baru sebatas inisiatif dari kelompok atau organisasi moderat, dan itu pun masih bersifat mandiri. Sinergi dan dukungan pemerintah samasekali belum maksimal, baru sebatas penandatanganan nota-nota kesepahamanan.

Tidak heran jika kemudian muncul tudingan jika pemerintah ikut memelihara kelompok radikal. Hingga belakangan ini orang masih relatif mudah mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang terkait radikalisme atau intoleransi yang disebarkan melalui berbagai media: mulai dari baliho di persimpangan jalan, kelompok-kelompok aktivitas doa bersama, hingga media-media massa yang menjadi corong bagi kelompok-kelompok radikal.

Membiarkan dan memelihara memang beda tipis.

Kidung Anak Negeri Pengusir Pencuri

Bagaimana lagi jika 2 panutannya pengecut tak punya nyali. Dua-duanya kabur keluar negeri, lari dari proses yustisi. Satu karena kasus Mei, satu lagi karena peli tak terkendali.

Bagi bangsa pencuri, merekalah pemimpin sejati, yang dipuja sampai mati. Diikuti dan dipatuhi, sampai lupa jati diri. Tak peduli busuknya hati dan baunya mulut seperti tai serta tangan yang berlumuran darah anak negeri.

Lalu, kita berharap para pemujanya akan bertindak bak lelaki sejati? Seperti Bruce Lee yang tak jeri berdiri sendiri membela hati nurani dan budi pekerti?

Itu mah mimpi di siang hari. Tak mungkin bakal terjadi.

Hati-hati, Putra-putri sejati Ibu Pertiwi! Tetaplah mawas diri!
Bangsa pencuri yang penuh iri dengki, tidak akan pernah berhenti mengejar ilusi, meski harus mengorbankan keutuhan negeri.

Siapa lagi yang akan mengusir para pencuri di malam hari selain kita para pemilik negeri? Kitalah penjaga Ibu Pertiwi.

Bersatulah sepenuh hati, bercerailah hanya oleh karena mati. Hidup hanya sekali, jadikanlah penuh arti bagi martabat diri, karena sekali lagi, kita bukan bangsa pencuri, apalagi pengecut tak tahu diri.

My Dearest Mr. Susi.. (Surat Kepada Seorang Sahabat)

Dear Mr. Susilo Bambang Yudhoyono,

Sudah lama berlalu sejak terakhir kali aku menjumpaimu. Mungkin sekitar tahun 2005 atau 2006, saat aku meliput kunjunganmu ke Malaysia dan Singapura. Hmm.. Peliputan itu meninggalkan kenangan indah bagiku. Resepsionis hotel tempatku menginap di Singapura, sangat cantik dan bersikap manis kepadaku.

Tidak saja sekedar ramah, dia, yang namanya aku lupa, bahkan membuatkan aku bercangkir-cangkir kopi (FYI, for free) dan menemani aku ngobrol ngalor ngidul sepanjang malam hingga pagi hari. Pembicaraan hangat itu harus terhenti karena aku harus meliput kedatanganmu di Bandara Changi. Sungguh, bahwa aku harus menghentikan pembicaraanku dengannya demi dirimu adalah, di sisi lain, kenangan yang menyebalkan.

Anyway.. Cukup sudah dengan kenangan-kenangan masa lalu. Apa kabarmu? Sedang sibuk apa? Dimana? Sama siapa? Hehehe..

Mr. Susi, boleh aku panggil kamu dengan nama itu kan? Rasanya kok unik sekali, perpaduan antara Maskulin dan Feminin, and it’s sooo.. You! Aku rasa dirimu tidak akan membuang-buang waktu memikirkan hal sepele menyangkut bagaimana orang memanggilmu. Aku rasa kamu akan lebih memikirkan bangsa dan negara Indonesia kita yang tercinta ini. Aku yakin kamu akan lebih memikirkan, salah satunya, apa dan bagaimana solusi permanen atas situasi dan kondisi menyangkut hubungan KPK dengan Polisi Indonesia.

Hmm.. Semoga keyakinanku bukanlah angan-angan belaka, meski beberapa kali beberapa pihak menilai kalau dirimu seringkali “Diam ketika sebaiknya Berbicara” dan sebaliknya “Berbicara ketika sebaiknya Diam”.

Mr. Susi, let me be honest with you Sir. I am not a fan of you. Ketika banyak orang memilihmu saat pertama kali dirimu mencalonkan sebagai Presiden, aku samasekali tidak ingin dan bukan termasuk salah satu di antara mereka. Ketika dirimu kembali memenangkan pemilihan Presiden dan untuk kedua kalinya memimpin Republik ini, komentarku adalah: “Oh My God! Kok bisa??”

Well, bagaimana-pun juga kamu sudah menjadi dan adalah Presiden Republik Indonesia, yang berarti juga adalah Presiden-ku. Dengan segala perkembangan yang terjadi, dengan segala kritikan yang ditujukan kepadamu, dengan fakta bahwa aku samasekali bukan penggemarmu, aku tetap berharap dirimu mampu mengakhiri jabatan sebagai Presiden pada saatnya nanti di tahun 2014.

Bagaimana-pun juga, aku rasa itu tetap pilihan yang terbaik, jika, dengan segala keraguan dan kritikan atas dirimu, kamu memilih untuk tetap menduduki Kursi RI1. The best choice among the worst i might say.

Dear Mr. Susi..
Pertanyaannya kemudian adalah: ingin seperti apakah dirimu dikenal kemudian ketika tiba akhir masa jabatanmu tahun 2014? Seberapa besar keinginan itu mendorong sikap dan tindakanmu saat ini?

Aku kuatir, jika mencermati sikapmu belakangan ini, kamu tidak cukup punya keinginan yang kuat untuk meninggalkan kesan yang positif yang tidak terbantahkan sebagai Presiden Republik Indonesia.

You seems like a dying King Mr. Susi…
Kamu mengingatkan aku akan film-film yang menggambarkan seorang pemimpin tua, lemah dan sekarat di atas ranjang. Kamu seakan-akan sudah tidak peduli lagi dengan situasi dan kondisi bangsa ini. Tidak peduli lagi hendak kemana bangsa ini.
Tidak peduli lagi suara-suara anak bangsa.

Aku tak tahu, dan aku yakin banyak orang yang tidak tahu, apa yang sedang kamu pikirkan dan apa yang akan kamu perbuat.
Sungguh! Aku penasaran dengan apa yang ada di dalam benakmu.

Are you dying or you’re just preparing something big, that’s so big, something revolutionary? Something yang mematahkan semua pandangan negatif dan kritikan terhadapmu?

Dearest Mr. Susi,
Tak perlu-lah aku ingatkan bahwa sebagai Presiden Republik Indonesia, dirimu seharusnya adalah orang paling kuat di Indonesia, jika tidak mampu menjadi The Most Powerful Person in Asia or South East Asia.

Tapi lihatlah dirimu!
Kamu membuat Aburizal, Anas Urbaningrum terlihat lebih powerful daripadamu. Kini, kamu juga membuat Timur Pradopo terlihat lebih powerful daripadamu.

Tidak saja mereka, kamu juga membuat Abraham Samad dan Jokowi, nama yang baru belakangan ini terdengar di telingaku dan masuk ke dalam ruang perhatianku, juga terlihat jauh lebih powerful daripadamu, my Dear President, Mr. Susi.

Apakah mereka sungguh lebih powerful daripadamu?
Mestinya sih tidak.. Lalu kenapa kesan kuat yang kutangkap justru sebaliknya?

Ingin dikenang sebagai Pemimpin yang bagaimanakah nantinya dirimu Mr. Susi? Sungguh! Aku penasaran..