Ngomong Doang..

“Papa kok enggak pake sandal?!” Teriak si bungsu, Bianca, saat melihat aku ada di halaman rumah. Aku segera sadar kalau apa yang aku lakukan berbeda dengan apa yang selalu aku pesankan ke anak-anakku.

My friends, hampir setiap hari kita menjumpai orang yang beda antara ucapan dan tindakan. Kalo kamu adalah orang tua, then you better be careful with that attitude; watch your mouth! Bianca adalah bocah perempuan yang baru berusia 3,5 tahun, tapi sikap kritis bocah itu mengingatkan aku, jika aku terus-terusan tidak konsisten dengan apa yang aku ucapkan, tidak akan butuh waktu lama sebelum dia sekedar mempertanyakan menjadi ikut-ikutan. Well, gimana anakmu adalah gimana kamu sebagai orang tua. Sesederhana itu.

Bianca, bocah 3,5 tahun yang suka protes

Bianca, bocah 3,5 tahun yang suka protes

Buat kamu yang mengaku atau menempati posisi pemimpin, hal yang sama juga berlaku: anak buah adalah cerminan pimpinan. Kurangnya anak buah adalah juga kurangnya pemimpin. Bisa jadi, kurangnya pemimpin karena apa yang diucapkan berbeda dengan apa yang dilakukan. So, jangan kesal kalau anak buahmu cuma pintar ngomong. Mereka belajar untuk cuma pintar ngomong dari guru yang terbaik: KAMU.

Aku sendiri belajar untuk menangkap pesannya, bukan siapa dan bagaimana si penyampai pesan. Sederhananya, ambil yang baik, buang yang buruk. Namun, mengingat kebanyakan dari kita lebih melihat siapa dan bagaimana penyampai pesan, so at least, aku hanya bisa menyampaikan pesan yang aku sendiri bisa jalankan. Aku tidak mungkin melarang orang lain untuk merokok, karena aku sendiri juga merokok. Paling tidak, merokoklah di tempat yang sudah disediakan; merokoklah setelah mampu membeli rokok sendiri; jangan nyesel kalo kena kanker gara-gara rokok.

Kalo aku bisa senantiasa melakukan apa yang aku ucapkan. Aku boleh berharap anak-anakku pun demikian.

Advertisements

Indonesia Tidak Butuh Pemimpin yang Utamakan Hati & Nilai Luhur!

Kaget ya baca judul tulisan ini? Aku juga kaget. Hehehe. Sesungguhnya judul tulisan ini merupakan ungkapan yang muncul di benakku sebagai respon  atas berita di Harian Kompas hari ini (31/01/12) yang berjudul: “Anwar Ibrahim: Pemimpin Harus Utamakan Rakyat”.

Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyebutkan kalau sosok pemimpin negara harus mengutamakan hati dan nilai luhur saat mengayomi rakyatnya. Dengan modal itu, seorang pemimpin diyakini mampu membawa masyarakat dan negara menuju kesejahteraan.

Hmm.. Kita mesti segera pasang pengumuman dan iklan: “Dicari manusia setengah dewa untuk jadi pemimpin Indonesia.”  Adapun nanti yang banyak melamar maksimal adalah manusia setengah dewa durjana.

Aku tidak ingin bersikap sinis, tapi, marilah kita lihat sekeliling kita. Let’s face the facts and be realistic. Selain itu, boro-boro mencari pemimpin yang memenuhi kriteria, kita bakal berdebat panjang lebar soal definisi hati dan nilai luhur, sikap seperti apa yang merupakan ujud hati dan nilai luhur.

Waduh Bro.. Aku lebih suka dengan analogi yang sederhana. Pemimpin adalah laksana Nahkoda Kapal. Dia harus tahu hendak kemana kapalnya akan berlayar,   lewat jalur apa, bagaimana kapalnya akan berlayar, berapa lama waktu yang dibutuhkan, dan memastikan orang-orang tepat menjalankan setiap tugas yang harus dilakukan agar kapal berikut seluruh penumpangnya tiba dengan selamat di tujuan.

Aku melihat intinya adalah  bagaimana kita bisa menciptakan keseimbangan. Hati nurani dan keluhuran adalah baik serta mulia  namun harus menunggu berapa abad untuk bisa mendapatkan pemimpin yang berhati dan bernilai luhur?

Keseimbangan

.