TERUS ATAU PUTAR HALUAN?

Aku mendadak teringat pendakian Gunung Sindoro (3.155 mdpl), Temanggung, Jawa Tengah sekitar tahun 1995 lalu. Pendakian itu aku lakukan berdua bersama Sonson Baroto, seorang seniorku di organisasi pecinta alam FISIPOL UGM.

Cuaca yang bersahabat dan menyenangkan saat kami mengawali pendakian, berubah drastis menjadi hujan badai ketika kami mulai mendekati puncak.

Aku masih ingat, betapa angin bertiup sangat kencang. Begitu kencang hingga setiap kali aku pipis, air seni-ku beterbangan kemana-mana.

Hujan dan angin kencang terus menemani kami hingga saat kami mencapai dan meninggalkan puncak Sindoro untuk kembali turun sekitar tengah hari.

Kami memutuskan untuk terus berjalan agar sebelum matahari terbenam, kami sudah tiba di desa awal pendakian. Tidak butuh waktu lama sebelum kekuatan fisik dan mentalku mulai turun drastis.

Baju yang tetap basah kuyup meski aku mengenakan mantel, hawa dingin yang mengerutkan kulit dan jalan tanah setapak yang licin, yang membuatku berulang kali terpeleset jatuh dan terbanting. Samasekali bukan pendakian yang menyenangkanku.

Kami terus berjalan tertatih – tatih dan sesekali mengaduh dan mengumpat saat terpeleset jatuh. Hingga kemudian aku terkaget – kaget ketika kami mendapati diri berada di pinggir tebing yang curam.

Sebentar kemudian kami menyadari kami sudah keluar jalur. Rasanya campur aduk saat aku melihat ke belakang, dan mataku menyusuri jalan setapak yang membawa kami ke tempat itu.

Rasa letih membuat kami tidak menyadari kami keluar jalur untuk kemudian mengikuti jalan setapak atau lebih tepatnya “selokan” air hujan yang curam. Rasa geram, kecewa, letih bercampur jadi satu ketika menyadari pilihannya adalah kembali mendaki ke atas untuk kembali ke jalur yang benar atau nekad menuruni jalur air yang lumayan curam.

Untuk pilihan terakhir pastinya kami mesti “buka jalur”, menyusuri jalur yang belum pernah dilalui dan tidak diketahui kemana ujungnya. Keenggananku untuk kembali ke atas sempat membuat kami berdua berdebat, ketika seniorku beranggapan dalam kondisi tersebut jauh lebih baik dan lebih aman jika kami kembali ke atas untuk menemukan jalur yang benar.

“Halah, nanggung, dah telanjur juga. Mending terusin aja ke bawah, serong ke kiri, paling ketemu lagi ama jalur yang tadi,” demikianlah aku bersikukuh.

Aku ingat, bukan karena pilihanku masuk akal dan lebih baik yang membuat aku ngotot, melainkan karena aku sudah mulai tidak peduli. Aku tidak peduli lagi akan resiko yang jauh lebih besar jika kami meneruskan ketersesatan itu.

Aku sudah merasa sangat letih dan aku terlalu sombong mengakui jika aku sudah lemah, secara mental, untuk kembali mengeluarkan tenaga lagi untuk kembali berjalan ke atas, kembali ke jalur yang benar.

Tidakkah banyak di antara kita yang seperti itu? Kita sudah melakukan banyak hal, menghabiskan banyak waktu, tenaga dan pikiran untuk mencapai sebuah tujuan dengan sebuah cara atau jalan yang kita pilih.

Sedemikian banyak yang sudah dikorbankan, kita menjadi sulit menerima kenyataan bahwa kita telah salah mengambil keputusan atau pilihan.

“Sudah kepalang basah, berenang sekalian,” demikianlah apa yang akan dilakukan oleh kebanyakan dari kita.

Kita lupa bahwa tidak peduli seberapa jauh, seberapa letih kita telah berjalan, tapi jika itu tidak membawa kita ke tujuan,ya kita harus mau putar haluan. Tapi kembali, kebanyakan dari kita mungkin akan terus berjalan. Beberapa karena berkeyakinan akan: banyak jalan menuju ke Roma, beberapa lainnya karena alasan yang absurd.

Hmm.. Jika waktu itu aku tetap ngotot untuk keluar jalur, mungkin saat ini aku tidak bisa lagi mengingatkan kalian untuk: “Demi sebuah tujuan, jika kita sadar bahwa kita telah salah mengambil keputusan, tak peduli seberapa jauh kita sudah melangkah, baiklah kita kembali ke jalur yang benar.”

Advertisements

Raungan Kebodohan

Sejak kemarin hingga pagi ini, berulang kali aku mendengar raungan suara knalpot sepeda motor menerjang air luapan Kali Pasanggrahan yang menggenangi jalan di depan rumah di kawasan Ulujami, Jakarta Selatan. Awalnya sangat menjengkelkan. Para pengemudi sepeda motor itu hampir selalu diingatkan warga sekitar bahwa genangan air terlalu tinggi untuk dilewati, namun, mereka selalu nekad menerobos berbekal persneling pada gigi satu dan putaran mesin yang tinggi secara konstan. Sebuah kombinasi yang selalu sukses membuat mata terbuka di tengah tidurku di malam hari karena mendengar kebisingan yang diciptakan.

Lambat laun rasa jengkel itu berubah menjadi rasa geli setelah aku menangkap “sebuah pola” dari suara yang aku dengar. Awalnya adalah suara peringatan warga sekitar kepada pengendara motor; “Banjir..! Banjir..!”. Setelah itu diikuti oleh suara “jeritan” konstan knalpot sepeda motor. Itu artinya si pengemudi motor mengabaikan peringatan warga. Tak lama kemudian setelah suara jeritan melintasi depan rumah, suara yang terdengar adalah suara mesin yang tersendat-sendat dan kemudian hening. Itu artinya, air sukses memasuki ruang mesin ketika motor melintasi genangan air yang semakin dalam, sekitar 30-50cm. Suara bagian terakhir dari pola tersebut, adalah suara “kegagalan” mesin yang berusaha dinyalakan berulang-ulang.

Jika aku sudah mendengar suara mesin yang tersendat- sendat, tak terhindarkan lagi bibirku membentuk senyum yang teramat manis meski mata masih terpejam dalam tidur yang tak nyenyak itu. “Semoga sukses mengatasi mesin yang mabuk air kali..” atau “Dikasih tau ngeyel sih!”, demikian batinku menanggapi pola suara yang berakhir pada kesia-siaan tersebut.

Aku berusaha memahami kenekadan para pengemudi sepeda motor itu. Tak peduli mereka melihat berapapun banyaknya motor-motor di pinggir jalan yang “kalah perang”, sebagian besar dari mereka selalu nekad menerobos meski hampir selalu menyusul motor-motor sebelumnya yang “kalah perang”.

Kebanyakan dari mereka merasa yakin motornya mampu menerobos genangan air, padahal mereka tak juga tahu seberapa dalam genangan air itu. Sisi lain, jika mereka menghindari genangan dan memilih jalan memutar, itu berarti mereka harus menempuh jarak 2-3 Km lebih jauh. Sepertinya, bagi pengendara-pengendara itu, mesin motor yang macet adalah resiko yang lebih layak dipilih ketimbang harus menempuh jarak yang lebih jauh (sebenarnya tidak terlalu jauh juga). Pada akhirnya, mereka menjadi jauh lebih lama mencapai tujuannya karena mesin yang macet kebanjiran ketimbang mengambil jalan memutar.

Seberapa banyakkah diantara kita yang memiliki pola pikir yang sama dengan para pengemudi motor nekad itu? Kebanyakan dari kita mungkin memiliki kecenderungan yang sama: mau cepat sampai tujuan dan lalu menggunakan cara- cara yang instan. Meski pada akhirnya cara-cara yang instan itu tidak berhasil membawa kita kemanapun jua.

Aku jadi ingat saat-saat mendaki gunung. Ada dua jalur: jalur “landai”, yang memutar dan membutuhkan waktu yang lebih lama, namun relatif lebih “aman” serta jalur “terjal”, dengan sudut kemiringan yang lebih besar, lebih terjal, lebih beresiko, namun lebih cepat untuk mencapai puncak. Selayaknya orang yang berakal, baiklah kita benar-benar mempertimbangkan kemampuan kita dan medan yang kita hadapi ketimbang sekedar mengandalkan keberuntungan, untuk memilih apapun jalur atau cara yang akan kita pilih.

Jadi, lain waktu ketika kamu hanya berbekal kenekadan untuk kemudian bernasib serupa seperti para pengemudi sepeda motor yang terhenti di tengah jalan, ingatlah selalu bahwa saat kamu sadar kamu telah salah memilih jalan, meski telah diingatkan, aku akan tersenyum sangat manis kepadamu.