Tentang Hukum Moral

Sun Tzu pernah mengatakan, kurang lebih, salah satu faktor penentu kemenangan adalah tegaknya Hukum Moral. Itulah yang akan membuat rakyat sepenuhnya patuh dan selaras dengan penguasanya.

Dengan tegaknya hukum moral, rakyat akan mengikuti penguasanya, tak peduli jika harus mempertaruhkan nyawa menghadapi bahaya.

Jadi jelas ya? Kalau penguasa, pemimpin, tidak bisa menegakkan hukum, moralitas, ya jangan harap akan diikuti. Jangan harap rakyatnya akan berjuang untuk meraih kemenangan.

Advertisements

Saya bukanlah Pemimpin yang Baik

Saya bukanlah pemimpin yang baik, karena:

1. Saya tidak tahu apa tujuan yang ingin dicapai. Itu seperti nahkoda kapal yang tidak tahu hendak kemana.

2. Saya tidak tahu apa- apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, siapa yang harus saya libatkan dan apa-apa saja peran mereka, serta dalam jangka berapa lama setiap tahapan yang harus dilalui untuk mencapai sebuah tujuan.

3. Pun saya tahu, tapi saya tidak cukup kemauan untuk mewujudkan dan menjalankan hal – hal yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan itu.

4. Saya tidak cukup punya integritas; kesatuan dan keselarasan antara pikiran, ucapan dan tindakan.

Saya bukan orang yang jujur, dan oleh karenanya, orang tidak bisa mengharapkan saya akan melakukan apa yang persis seperti yang saya ucapkan.

5. Saya bukan orang yang bisa menjadi teladan yang baik bagi orang lain. Dunia akan semakin kacau jika setiap orang melakukan apa yang saya lakukan. Saya hanya bisa menyuruh dan memerintah.

6. Saya tidak peduli dengan orang lain, dan saya juga tidak memiliki empati terhadap orang lain.

Hal terpenting bagi saya adalah mendapatkan apa yang saya mau dengan cara apapun, termasuk jika saya harus melangkahi hak – hak orang lain.

Oleh karenanya, saya juga bukan pendengar yang baik. Orang lain yang harus mendengarkan saya. Bukan sebaliknya!

7. Saya tidak bisa membuat orang lain melakukan apa yang saya inginkan selain karena kekuatan dan kekuasaan yang saya miliki. Saya tidak cukup komunikatif dan inspiratif untuk membuat orang lain antusias mengusung nilai – nilai yang sama dan melakukan hal – hal yang saya kehendaki.

8. Saya tidak bisa meyakinkan orang lain untuk mencapai sebuah tujuan; kenapa mereka harus mencapai tujuan itu,untuk kemudian bersama – sama, secara selaras bersinergi mencapai sebuah tujuan.

9. Saya tidak tahu siapa yang sebaiknya melakukan apa untuk mencapai sebuah tujuan.

10. Saya juga tidak bisa memberikan motivasi dan semangat bagi yang lain agar tetap optimal dalam pencapaian sebuah tujuan. Saya tidak cukup bisa mengapresiasi pencapaian orang lain.

11. Saya menolak untuk turut bertanggung jawab atas kesalahan dan atau kegagalan orang – orang yang saya pimpin. Saya juga enggan terlibat dalam atau mengikuti sebuah proses untuk meminimalisir terjadinya kesalahan atau kegagalan.

Dengan demikian, jika terjadi kesalahan atau kegagalan, itu bukanlah tanggung jawab saya.

Saya juga hanya bisa menyalahkan orang lain tanpa kemudian mencarikan jalan pemecahan atas sebuah permasalahan.

12. Saya tidak cukup peduli dengan perkembangan orang lain. Perkembangan pengetahuan, kemampuan serta kemauan orang lain bisa menjadi ancaman bagi saya.
Selama mereka mau tunduk pada kehendak saya, tak masalah jika selamanya mereka bodoh.

13. Saya menolak tanggung jawab seorang pemimpin untuk menyiapkan pemimpin selanjutnya. Jika penerus saya gagal, itu semata – mata karena ketidakmampuannya.

Ngomong Doang..

“Papa kok enggak pake sandal?!” Teriak si bungsu, Bianca, saat melihat aku ada di halaman rumah. Aku segera sadar kalau apa yang aku lakukan berbeda dengan apa yang selalu aku pesankan ke anak-anakku.

My friends, hampir setiap hari kita menjumpai orang yang beda antara ucapan dan tindakan. Kalo kamu adalah orang tua, then you better be careful with that attitude; watch your mouth! Bianca adalah bocah perempuan yang baru berusia 3,5 tahun, tapi sikap kritis bocah itu mengingatkan aku, jika aku terus-terusan tidak konsisten dengan apa yang aku ucapkan, tidak akan butuh waktu lama sebelum dia sekedar mempertanyakan menjadi ikut-ikutan. Well, gimana anakmu adalah gimana kamu sebagai orang tua. Sesederhana itu.

Bianca, bocah 3,5 tahun yang suka protes

Bianca, bocah 3,5 tahun yang suka protes

Buat kamu yang mengaku atau menempati posisi pemimpin, hal yang sama juga berlaku: anak buah adalah cerminan pimpinan. Kurangnya anak buah adalah juga kurangnya pemimpin. Bisa jadi, kurangnya pemimpin karena apa yang diucapkan berbeda dengan apa yang dilakukan. So, jangan kesal kalau anak buahmu cuma pintar ngomong. Mereka belajar untuk cuma pintar ngomong dari guru yang terbaik: KAMU.

Aku sendiri belajar untuk menangkap pesannya, bukan siapa dan bagaimana si penyampai pesan. Sederhananya, ambil yang baik, buang yang buruk. Namun, mengingat kebanyakan dari kita lebih melihat siapa dan bagaimana penyampai pesan, so at least, aku hanya bisa menyampaikan pesan yang aku sendiri bisa jalankan. Aku tidak mungkin melarang orang lain untuk merokok, karena aku sendiri juga merokok. Paling tidak, merokoklah di tempat yang sudah disediakan; merokoklah setelah mampu membeli rokok sendiri; jangan nyesel kalo kena kanker gara-gara rokok.

Kalo aku bisa senantiasa melakukan apa yang aku ucapkan. Aku boleh berharap anak-anakku pun demikian.

Masih Kurang Juga??

Baru saja aku lihat sepeda motor bebek Honda 70, yang kalau di Jogja kondang dengan “Si Pitung” (kependekan dari “Pitung Puluh” atau 70). Kalau lihat motor itu, aku jadi teringat Bapak Almarhum, yang pernah bertahun-tahun menggunakan motor itu sebagai kendaraan sehari-hari saat bertugas di Jogja, mulai sekitar tahun 1980 – 1995-an

Mungkin bukanlah hal yang istimewa buatmu Bro, tapi hal itu menjadi hal yang istimewa sekali buatku, khususnya dikaitkan dengan “gaya hidup” para pejabat di Republik ini.
Bapak Almarhum adalah purnawirawan perwira TNI, lulusan Akademi Militer Nasional (sekarang Akmil) tahun 1961, satu angkatan dengan mantan Panglima TNI, Faizal Tanjung.

Selama hidupnya, Beliau menekankan pada kedisiplinan, pembelajaran dan kesederhaan. Pada jaman aku SMA, Bapak membelikan aku sepeda sebagai alat transportasi ke sekolah, sementara anak-anak tentara lainnya, yang pangkatnya jauh lebih rendah, sudah mulai mengendarai sepeda motor sejak SMP. Hingga aku 3 tahun kuliah, pilihan untuk-ku adalah tetap mengendarai sepeda, naik angkutan umum atau pinjam motor kakakku yang nganggur.

Beliau menekankan pada kesederhanaan, karena kami adalah keluarga besar. Beliau harus menghidupi istri dan 8 anak dengan hanya mengandalkan penghasilannya sebagai anggota TNI. Hmm.. Aku jadi ingat salah satu alasan kenapa aku tidak meneruskan jejak Bapak masuk dinas TNI/Polri, yaitu.. Kalau jujur, tidak akan bisa kaya. Hehehe.. Waktu itu loh yaa…

Pun demikian, aku dan kakak-kakakku beruntung bisa menyelesaikan pendidikan tinggi tanpa sedikitpun mengecap uang haram. Bapak memang peduli pada pendidikan anak-anaknya. Beliau menekan pengeluaran untuk hal-hal yang tidak penting, agar bisa menyediakan dana lebih untuk pendidikan anak-anaknya.

Beliau tidak saja meminta anak-anaknya untuk hidup sederhana, namun juga memberi contoh nyata. Beliau selalu menggunakan sepeda motor untuk berangkat dan pulang kerja, bahkan ketika menjabat sebagai wakil rakyat.

Bapak pernah bercerita, suatu hari saat berangkat kerja, beliau pernah diberhentikan oleh polisi saat pemeriksaan surat-surat kendaraan. Salah satu polisi itu kemudian ditampar oleh Bapak, karena menuding Bapak, yang waktu itu mengenakan Pakaian Dinas Harian dibalik jaketnya, sebagai tentara gadungan. Aku berusaha memahami sikap polisi itu yang mungkin menilai bukanlah hal yang umum bagi seorang perwira TNI untuk mengendarai Si Pitung. Kasian juga si Pitung. Masa sih dia tidak layak dipakai oleh perwira tinggi TNI?

Menjelang akhir masa tugasnya sebagai wakil rakyat, Bapak sempat tidak lagi menggunakan si Pitung, namun penggantinya masih berupa motor. Kali itu, sebuah Suzuki Crystal-lah yang mendapat kehormatan untuk ditunggangi Bapak, hingga akhir hayatnya.

Berangkat dari pengalaman itu, aku tidak habis pikir bagaimana mungkin seorang perwira tinggi bintang tiga, Wakil Kepala Polisi Indonesia, Nanan Sukarna mengaku gajinya tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari (sumber: http://nasional.kompas.com/read/2012/10/11/16283040/Wakapolri.Siapa.yang.Bisa.Hidup.Hanya.dari.Gaji ). Ketika seorang perwira TNI/Polri mengeluhkan penghasilan resmi yang tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, kuat dugaanku, dia salah menetapkan kebutuhannya. Buatku sederhana saja, carilah pekerjaan lain yang penghasilannya bisa memenuhi kebutuhannya, atau kalau tidak, bersyukurlah!

Termasuk kamu Bro! Pengen kaya dengan cara jujur. Jangan jadi PNS. Jangan jadi anggota TNI/Polri! Semangat utama PNS/TNI/Polri adalah semangat Abdi Negara. Abdi loh ya, bukan Tuan. Jadi Abdi kok mau jadi kaya? Lupa ya? Bodoh ya?

My Dearest Mr. Susi.. (Surat Kepada Seorang Sahabat)

Dear Mr. Susilo Bambang Yudhoyono,

Sudah lama berlalu sejak terakhir kali aku menjumpaimu. Mungkin sekitar tahun 2005 atau 2006, saat aku meliput kunjunganmu ke Malaysia dan Singapura. Hmm.. Peliputan itu meninggalkan kenangan indah bagiku. Resepsionis hotel tempatku menginap di Singapura, sangat cantik dan bersikap manis kepadaku.

Tidak saja sekedar ramah, dia, yang namanya aku lupa, bahkan membuatkan aku bercangkir-cangkir kopi (FYI, for free) dan menemani aku ngobrol ngalor ngidul sepanjang malam hingga pagi hari. Pembicaraan hangat itu harus terhenti karena aku harus meliput kedatanganmu di Bandara Changi. Sungguh, bahwa aku harus menghentikan pembicaraanku dengannya demi dirimu adalah, di sisi lain, kenangan yang menyebalkan.

Anyway.. Cukup sudah dengan kenangan-kenangan masa lalu. Apa kabarmu? Sedang sibuk apa? Dimana? Sama siapa? Hehehe..

Mr. Susi, boleh aku panggil kamu dengan nama itu kan? Rasanya kok unik sekali, perpaduan antara Maskulin dan Feminin, and it’s sooo.. You! Aku rasa dirimu tidak akan membuang-buang waktu memikirkan hal sepele menyangkut bagaimana orang memanggilmu. Aku rasa kamu akan lebih memikirkan bangsa dan negara Indonesia kita yang tercinta ini. Aku yakin kamu akan lebih memikirkan, salah satunya, apa dan bagaimana solusi permanen atas situasi dan kondisi menyangkut hubungan KPK dengan Polisi Indonesia.

Hmm.. Semoga keyakinanku bukanlah angan-angan belaka, meski beberapa kali beberapa pihak menilai kalau dirimu seringkali “Diam ketika sebaiknya Berbicara” dan sebaliknya “Berbicara ketika sebaiknya Diam”.

Mr. Susi, let me be honest with you Sir. I am not a fan of you. Ketika banyak orang memilihmu saat pertama kali dirimu mencalonkan sebagai Presiden, aku samasekali tidak ingin dan bukan termasuk salah satu di antara mereka. Ketika dirimu kembali memenangkan pemilihan Presiden dan untuk kedua kalinya memimpin Republik ini, komentarku adalah: “Oh My God! Kok bisa??”

Well, bagaimana-pun juga kamu sudah menjadi dan adalah Presiden Republik Indonesia, yang berarti juga adalah Presiden-ku. Dengan segala perkembangan yang terjadi, dengan segala kritikan yang ditujukan kepadamu, dengan fakta bahwa aku samasekali bukan penggemarmu, aku tetap berharap dirimu mampu mengakhiri jabatan sebagai Presiden pada saatnya nanti di tahun 2014.

Bagaimana-pun juga, aku rasa itu tetap pilihan yang terbaik, jika, dengan segala keraguan dan kritikan atas dirimu, kamu memilih untuk tetap menduduki Kursi RI1. The best choice among the worst i might say.

Dear Mr. Susi..
Pertanyaannya kemudian adalah: ingin seperti apakah dirimu dikenal kemudian ketika tiba akhir masa jabatanmu tahun 2014? Seberapa besar keinginan itu mendorong sikap dan tindakanmu saat ini?

Aku kuatir, jika mencermati sikapmu belakangan ini, kamu tidak cukup punya keinginan yang kuat untuk meninggalkan kesan yang positif yang tidak terbantahkan sebagai Presiden Republik Indonesia.

You seems like a dying King Mr. Susi…
Kamu mengingatkan aku akan film-film yang menggambarkan seorang pemimpin tua, lemah dan sekarat di atas ranjang. Kamu seakan-akan sudah tidak peduli lagi dengan situasi dan kondisi bangsa ini. Tidak peduli lagi hendak kemana bangsa ini.
Tidak peduli lagi suara-suara anak bangsa.

Aku tak tahu, dan aku yakin banyak orang yang tidak tahu, apa yang sedang kamu pikirkan dan apa yang akan kamu perbuat.
Sungguh! Aku penasaran dengan apa yang ada di dalam benakmu.

Are you dying or you’re just preparing something big, that’s so big, something revolutionary? Something yang mematahkan semua pandangan negatif dan kritikan terhadapmu?

Dearest Mr. Susi,
Tak perlu-lah aku ingatkan bahwa sebagai Presiden Republik Indonesia, dirimu seharusnya adalah orang paling kuat di Indonesia, jika tidak mampu menjadi The Most Powerful Person in Asia or South East Asia.

Tapi lihatlah dirimu!
Kamu membuat Aburizal, Anas Urbaningrum terlihat lebih powerful daripadamu. Kini, kamu juga membuat Timur Pradopo terlihat lebih powerful daripadamu.

Tidak saja mereka, kamu juga membuat Abraham Samad dan Jokowi, nama yang baru belakangan ini terdengar di telingaku dan masuk ke dalam ruang perhatianku, juga terlihat jauh lebih powerful daripadamu, my Dear President, Mr. Susi.

Apakah mereka sungguh lebih powerful daripadamu?
Mestinya sih tidak.. Lalu kenapa kesan kuat yang kutangkap justru sebaliknya?

Ingin dikenang sebagai Pemimpin yang bagaimanakah nantinya dirimu Mr. Susi? Sungguh! Aku penasaran..

Lovely Punishment

Kalau kita dipukul orang, kita selalu punya pilihan: membiarkan karena kita merasa layak untuk mendapatkannya, atau membalas dengan serangan fisik pula atau mengajukan tuntutan hukum atau sekedar ngomel-ngomel saja. Beberapa waktu lalu, si sulung Alicia memukul adiknya, Bianca, karena kesal digangguin. Apa yang akan kamu lakukan Bro?

Dulu waktu kecil hingga remaja, kalo aku lagi bandelnya kumat, Bapak Almarhum juga suka menyabet punggungku dengan selang karet yang berdiameter lebih dari 10 cm. Selang yang biasa dipasang buat pompa air manual jaman dulu. Meski sudah berkali-kali merasakan, aku juga tak terbiasa. Sampai sekarang, mungkin hanya Bapak seorang, manusia yang aku takuti di atas bumi.

Dulu Bapakku mendidik kami anak-anaknya dengan menggunakan kekerasan fisik, sebagaimana umumnya anak-anak yang dibesarkan oleh tentara, agar kami mampu menghadapi kerasnya kehidupan. Sekarang, kehidupan yang akan dihadapi oleh anak-anakku mungkin jauh lebih keras daripada jamanku.

Apakah aku harus lebih keras dalam mendidik anakku ketimbang Bapak Almarhum mendidik anak-anaknya? Menggunakan kekerasan fisik yang lebih sering dan lebih kuat sebagai konsekuensi atas setiap kesalahan dan kelalaian anak-anakku?

Inilah yang akhirnya, aku pilih sebagai konsekuensi atas tindakan kekerasan Alicia kepada adiknya..

Tulisan tangan Sissy: “Sisi Janji Sayang Adik” sebanyak 100 kali karena telah memukul adiknya, Bianca.

 

 

Belajar Dari Dini Sejak Dini

Baru saja aku nyampe rumah dan mendapat kabar dari istriku, Dini Savitri, kalau dia baru saja mendapatkan penugasan baru di tempatnya bekerja. Saat ini dia bertugas sebagai Asisten Produser di Trans 7 untuk program Laptop Si Unyil dan program Buku Harian Si Unyil. Dalam waktu dekat, Dini akan mendapatkan penugasan sebagai Kordinator Liputan Redaksi Trans 7. Tugas yang tidak sepenuhnya baru sih. Sepanjang karirnya, ini adalah kali ke-3 Dini bertugas sebagai Kordinator Liputan.

Aku cerita sedikit, yah, agak panjang lebar deh soal si Dini satu itu. Aku pertama kali mengenal dia saat aku mendapatkan tugas peliputan Bom Bali I sekitar bulan Oktober 2002. Saat itu, aku adalah reporter Radio Sonora Jakarta, sementara Dini adalah reporter TV 7, sekarang Trans 7. Dia juga mendapat penugasan yang sama untuk meliput kasus Bom Bali I.

Kebetulan waktu itu kita menginap di hotel yang sama, Santika, Denpasar, Bali. Jadinya, waktu sarapan ketemu, liputan ketemu dan malam hari ketika kembali ke hotel juga ketemu.

Dalam kesempatan-kesempatan pertemuan, kita sering ngobrol bareng dan dengan cepat karena keluwesan, keceriwisan dan keceriaannya, kami menjadi akrab. Keakraban itu berlanjut ketika kita kembali ke Jakarta, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk menikahinya dan menjadikannya Ibu bagi anak-anakku.

Kalau kamu dah pernah ketemu Dini, kamu akan melihatnya sebagai sosok yang mungil, lincah dan ceriwis. Besar kemungkinan, kamu tidak akan menduga kalau dia adalah juga Ibu dari 2 anak perempuan yang tomboy. Besar kemungkinan juga, kamu tidak akan menduga dibalik kemungilan tubuhnya, tersimpan enerji yang luar biasa. Kamu bisa menangkap enerji itu di tulisan-tulisan yang dia muat di webblog pribadinya: dinisavitri.net.

Enerji yang juga tercermin saat dia menjalani tugasnya dengan mobilitas yang tinggi, tak pandang situasi dan kondisi. Aku masih ingat ketika dia sudah hamil tua anak pertama kami, dia masih berlarian penuh semangat mengejar narasumber, dan meliput peristiwa kriminal. Aku jadi paham kenapa 2 anak perempuan kami jadi tomboy.

Oiya, Dini adalah juga Video Journalist (VJ) perempuan pertama di Trans 7. Untuk jadi VJ, kamu harus punya kemampuan yang OK sebagai reporter dan juru kamera. Tidak terlalu banyak rasanya orang yang punya kemampuan itu.

Dini mampu menjalankan tugasnya dengan baik sebelum kemudian dia menjalani berbagai penugasan di lingkungan Trans 7. Rasa-rasanya, dia termasuk salah satu dari sedikit orang yang berkesempatan menjalani berbagai penugasan.

Dalam kurun waktu sekitar 10 tahun kariernya, Dini sudah pernah merasakan tugas sebagai Reporter, VJ, Korlip, Pemangku Program Kriminalitas “TKP”. Setelah itu, balik lagi jadi Korlip di Redaksi Trans 7, sebelum kemudian jadi salah satu Pemangku Program “Jejak Petualang” selama sekitar 1,5 tahun.

Selanjutnya, Dini mendapatkan tanggung jawab memangku program “Peri Gigi” dan “Geony Si Kembara”. Baru aja mulai menikmati, eh, setelah 1 bulan berjalan, Dini sudah harus pindah ke program “Dunia Air” dan “Dunia Binatang” selama sekitar 2,5 bulan sebelum akhirnya pindah lagi ke Program “Laptop Si Unyil” dan “Buku Harian Si Unyil” selama sekitar 9 bulan hingga sekarang menerima penugasan sebagai Kordinator Liputan. Sungguh kaya pengalamannya.

Kamu tau Bro? Perjalanan karir si Dini memberikan gambaran yang sangat jelas akan kehidupan ini, bahwa Kehidupan ini sangatlah dinamis. Hari ini berbeda dengan kemarin, dan jangan terlalu berharap esok akan sama dengan hari ini.

Pun sebaiknya kamu mawas diri dan introspeksi ketika kamu merasa bahwa “hidup hanyalah begini-begini saja”. Sudah pasti ada cara pandang, dan sikap yang mesti dikoreksi ketika kehidupan sangat dinamis, tapi kamu mengeluhkan kebosanan akibat rutinitas sehari-hari.

Ah ya, kebanyakan dari kita hanya bisa mengeluh dan mengeluh, tanpa mau berusaha mengubah situasi dan kondisi yang memicu keluhan-keluhan itu.

Aku sendiri berusaha menikmati dan mensyukuri kehidupan ini karena tiga alasan utama. Pertama, karena kehidupan ini memang luar biasa. Menegangkan sekaligus mengasyikkan karena kita tahu tidak semua keinginan kita terpenuhi, dan tidak semuanya berjalan sesuai keinginan kita. Bahwa kita harus berjuang untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Kedua, sebelum mengeluh, aku berusaha untuk menyadari bahwa masih banyak orang yang tidak seberuntung aku. Malu donk kalo mengeluh.

Ketiga, kalau kamu punya istri seperti istriku. Kamu juga akan kehilangan alasan untuk mengeluh. Oh iya, aku belum cerita ya, aku sempet menjalani Long Distance Relationship selama 4,5 tahun dengan Dini. Kita harus menjalani kehidupan terpisah saat aku bertugas di Surabaya, sementara Dini dan anak-anak tetap tinggal di Jakarta.

Selama 4,5 tahun Dini harus menjalani peran laksana Single Parent. Mengerjakan segala-galanya nyaris tanpa kehadiranku, yang hanya bisa pulang ke rumah selama 2 – 3 bulan sekali.. Menjaga dan merawat 2 anak perempuan yang tomboy dan sangat aktif serta masih harus menjalani tugas sehari-hari sebagai seorang karyawan, yang berdedikasi dan memiliki integritas yang tinggi.

Dimana aku harus menaruh muka-ku, ketika aku melihat contoh akan sebuah perjuangan hidup seorang manusia yang secara fisik lebih lemah daripada aku, dan aku masih juga mengeluh?

Pun jika kamu tidak mempunyai istri seperti Dini, kamu akan selalu dengan mudah menjumpai contoh-contoh serupa. Puji Tuhan, kita masih bisa menjumpai orang-orang Indonesia yang bisa menjadi teladan, meski jumlahnya mungkin tidak seberapa banyak.

Pun jika kamu merasa tidak menemukan atau menjumpai satu-pun contoh untuk dijadikan teladan, aku percaya setiap orang masih punya hati nurani untuk jadi pemandu. So, ketika hanya ada contoh buruk di sekeliling kamu, kamu tetap punya pilihan untuk tidak mengikutinya.

Dini Savitri: Istri, Ibu dan Jurnalis